MARVA RAVARA adalah seorang pemuda miskin yang hidup di dunia yang memuja status dan kekayaan. Berkat jalur beasiswa, ia dapat bersekolah di sebuah sekolah elit berskala internasional—tempat yang seharusnya membuka jalan untuk masa depannya, justru berubah menjadi neraka baginya.
Di sana, Marva dipandang sebagai noda: dihina, dikucilkan, dan menjadi sasaran perundungan oleh mereka yang merasa lebih “Layak”.
Segalanya berubah ketika Portal Misterius muncul dan menyeret semuanya ke dunia lain. Di hadapan mereka berdiri sebuah Menara Tinggi dan sebuah suara misterius menggema: Siapa pun yang mencapai puncak menara ini akan memperoleh kekuasaan serta keabadian.
Di dalam menara, para siswa dipaksa memilih peran—menjadi Seorang Player yang bertarung demi naik ke puncak, atau menjadi Seorang Guardian yang terikat pada sistem. Demi meraih kebebasan, Marva memilih jalan paling berisiko: Menjadi Seorang Player.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rein.Unknown, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lantai 9, Part 1 [UPSIDE DOWN VOLCANO]
--- GUNUNG API TERBALIK ---
Setelah menyebrangi jalan batu itu, mereka sampai diujung jalan. Terlihat gerbang megah yang dipenuhi obor dengan nyala api besar menggantung disekitar nya.
“Lead, coba liat gerbang nya. Begitu megah, apakah dibalik nya adalah Bos lantai?” kata Meriel pelan.
“Sejauh yang kutahu, GOF seharusnya berada dilantai 10, sama seperti Minotaur yang ada dilantai 5. Kalau didalam game, bos lantai seharus ada dilantai 5, 10, 15, 20 dan seterusnya. Jika asumsi ku benar, Guardian of Floor ada di lantai yang bekelipatan 5,” ucap Marva.
“Ya, itu masuk akal Lead. Tapi bagaimana kalau menara memberikan kita kejutan? Kamu tahukan Lead, kita selalu menemui situasi yang pelik,” lanjut Meriel.
“Kamu benar Meriel, kita harus selalu waspada. Bagaimana dengan potion kita?” tanya Marva.
“Masih banyak Lead, persediaan kita seharusnya cukup untuk 4 orang. Tapi karna Red dan Kaela tidak ada, maka jatah mereka untuk kita,” jawab Meriel.
Marva tertawa kecil, mengingat Red dan Kaela, terutama Kaela, sang pujaan hatinya. Saat seperti ini, dialah yang biasa memberikan saran ataupun kritikan. Kini Meriel yang menjadi teman berfikirnya sekarang.
Setelah mengecek semua persiapan dan meminum potion untuk mengisi HP serta MP sampai penuh. Mereka lalu siap membuka gerbang itu.
“Kamu siap Meriel!” tanya Marva sambil memegang pedangnya.
“Siap Lead!” jawab Meriel yang juga sudah memegang palunya.
Mereka sudah siap bertempur, kalau-kalau monster Bos Lantai muncul atau mereka disergap. Saat pintu perlahan dibuka ......
CRAK!!!!!
Marva lalu berteriak. “Serang.....!!!!!!”
Krik.... Krik.... Krik.....
Ternyata dibalik gerbang megah yangnmengintimidasi serta penuh misteri itu, tidak ada apa-apa.
“Loh, serius! Ini nggak ada apa-apa?” tanya Meriel keheranan.
“Menara ini betul-betul mengerjai kita!” ucap Marva dongkol.
Sementara mereka lagi menggerutu, Leo nyeletuk.
“Bos… coba perhatikan disebelah kananmu. Aku merasakan energi panas yang sangat kuat dari sumur itu.”
Mereka lalu menoleh ke kanan. Disana terlihat sebuah sumur yang tampak kumuh. Tapi diatas nya tertulis:
[PATH TO FLOOR 9]
Marva tambah kaget. “Serius itu jalan menuju lantai 9?”
“Bukan nya menaiki menara, kita malah menuruni menara,” ucap Meriel yang juga heran.
Mereka lalu duduk sebentar dan mulai berdiskusi sejenak.
Leo yang masih dalam bentuk pedang, berkata: “Siapa dulu nhe, yang mau masuk kedalam sumur itu?”
Marva lalu tertawa licik. “Hohohohoo, tentu kamu sudah tahu donk siapa yang duluan Meriel?”
Mata Marva menatap licik Meriel. Tatapan itu seketika buat bulu kuduk Meriel naik.
“Sabar Bos, sabar Bos. Memang aku baru 3 bulan bergabung dengan guild ini, tapi lv. ku yang paling rendah, tentu aku akan mati konyol kalau deluan masuk ke lantai 9,” ucap Meriel ketakutan.
“Tenang ada aku Meriel, kamu bisa menggunakan ku kok!”
Marva tambah kaget. “Heh! Kamu bisa digunakan oleh orang lain Leo?”
“Ya bisa Bos.”
“Kok kamu nggak pernah bilang si?”
“Ya Bos, nggak pernah nanya.”
Saat Marva dan Leo lanjut bertengkar, Meriel mengambil kesempatan untuk lari agar Marva bisa deluan masuk kedalam sumur.
“Eiittssss, mau kemana kamu Meriel?” ucap Marva sambil menarik kerah bajunya.
“Anuh Lead, itu aku mau pipis tadi. Soalnya, disana......”
Belum sempat menyelesaikan perkataan nya, Marva menendang pantat Meriel dan langsung masuk kedalam sumur itu.
“Tidak........!!!!!!!” teriak Meriel.
“Kejadian ini seperti tidak asing ya Bos.”
“Kenapa? Mau ku lempar kedalam inventory?” Marva menatap sinis Leo.
“Hehehehehe, Si Bos bisa aja. Ya jangan donk Bos”
“Kalau gitu, nyusul Meriel sekarang!”
“Siap Bos! Meluncur tanpa bantahan.”
Marva lalu terduduk setelah mereka pergi. Ternyata rasa trauma, dari Event Secret Room masih terbawa sampai saat ini. Setiap kali Marva masuk atau pergi ke area baru, trauma dimasa lalu, selalu menghantui nya. Itulah kenapa, Marva selalu ngotot untuk terus menaiki menara dan tidak bisa stay di satu tempat karena dia ingin menekan rasa trauma nya. Terlepas bahwa Marva nanti akan ketemu dengan tempat baru lagi maka disitu lah, dia akan bertarung dengan rasa trauma nya.
“Ayok Marva, kamu pasti bisa! Kamu sudah melalui banyak hal, melewati sumur itu pasti tidaklah sulit,” Marva terus bergumam sambil menguatkan tekadnya.
Setelah cukup lama bergelut dengan mentalnya, akhirnya Marva menarik nafas panjang lalu terjun kedalam sumur itu.
“Fire in the Hole.......!!!!!!”
BLLLLUUUFFFFFF.......
Mereka semua, akhirnya masuk kedalam sumur itu. Aneh nya, saat akan mencapai ujung dari sumur. Jarak antara Meriel, Leo dengan Marva tidak terlalu jauh. Padahal Marva cukup lama mengambil waktu sebelum masuk kedalam sumur.
“Meriel! Leo!” panggil Marva.
“Hey Lead,” Meriel menjawab sambil terus terjun kebawah.
“Hallo juga Bos.”
“Harusnya, kalian deluan sampai kan. Kok masih ngambang aja,” ucap Marva penasaran.
“Seperti nya ini efek sihir Lantai 9 Bos.”
Saat mereka masih berbicara dengan kondisi melayang, cahaya yang berada di dasar sumur semakin terang. Menandakan mereka sudah dekat dan .........
BLLLLUUUFFFFFF.......
Marva keluar, Meriel keluar, Leo keluar.
Pemandangan yang sangat menakjubkan tersaji di hadapan mereka. Puluhan, ratusan bahkan mungkin ribuan Gunung Berapi menghiasi Lantai 9. Saat akan mendarat tiba-tiba mereka ditarik kembali keatas.
BUUUKKKK!!!!
Satu persatu, menghantam lantai. Marva kebingungan, Meriel juga. Yang awalnya mereka pikir lantai bawah adalah tempat mereka akan mendarat. Semua nya menjadi terbalik, ternyata diatas adalah bawah dan dibawah adalah atas.
Situasi itu sungguh membanggong kan. Tanah tempat mereka berdiri hitam pekat. Bukan pasir. Bukan pula batu biasa. Hitam legam, seperti arang raksasa yang membentang sejauh mata memandang. Permukaannya tidak rata, bergelombang seperti ombak yang membeku.
Udara nya masih tetap panas. Tapi kali ini, lebih kering dari lantai 8.
Tapi bukan itu yang membuat mereka terpaku.
Di atas mereka… menggantung gunung-gunung berapi.
Sebagian besar, sebagian nya lagi kecil. Terbalik. Ujung kawahnya menghadap ke bawah. Tubuhnya tertanam di “langit” seperti stalaktit raksasa.
Dan dari beberapa kawah itu—menetes.
Bukan naik tapi turun. Layaknya, seperti hujan tapi berwarna merah dan panas.
Meriel berdiri perlahan di sampingnya. “Lead…”
Marva tidak langsung menjawab.
“Ya,” katanya pelan. “Aku juga lihat.”
Notifikasi muncul, merah gelap.
"WELCOME TO FLOOR 9 — INVERTED VOLCANIC FIELD"
[BERSAMBUNG]