NovelToon NovelToon
Rebirth Of The Duke'S Daughter

Rebirth Of The Duke'S Daughter

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Fantasi / Petualangan / Tamat
Popularitas:2.1M
Nilai: 4.8
Nama Author: Pelangizigzag

Putri bodoh yang satu ini berubah total dalam waktu semalam! Setelah ini dia bertekad untuk membalaskan semua rasa sakitnya satu-persatu. Lalu ditakdirkan hidup sebagai permaisuri? oh, tidak masalah karena ada pria tampan berkuasa yang akan membantunya sampai akhir.

NO PLAGIAT!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelangizigzag, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Maid Maid Maid

"Apa yang barusan kau lakukan, bersenang-senang? Lupakan , lebih baik sekarang kau antarkan teh hijau ini!"

Mikayla belum sembuh dari keterkejutannya ketika seorang pelayan pria menarik dirinya dengan kasar menuju dapur. Memang, pelayan itu hanya menyentuhnya lewat kain putih yang ia kenakan, tapi tetap saja Aidenloz tak bisa menerima hal tersebut.

"Jangan biarkan dia disentuh orang lain termasuk dirimu sendiri."

Bak terhipnotis, pria yang menariknya tadi kini mengangguk takut. Aidenloz ini benar-benar ... Lagi-lagi dia menggunakan sihir?

Belum sempat Mikayla menanyakan hal tersebut, lagi-lagi pria yang bisa disebut kepala pelayan di kediaman Raja Eliot itu menyuruhnya bergegas. Mikayla hanya bisa pasrah. Entah bagaimana selanjutnya, hanya dewa yang tahu.

Tak seperti kebanyakan para bangsawan atau keluarga kerajaan yang selalu lewat pintu depan, para pelayan hanya diperbolehkan masuk lewat pintu belakang. Sama seperti peraturan di Armovin. Besi ulir bersusun rapi menghiasi setiap gerbang belakang dipenuhi dengan tanaman hias dan tanaman perdu.

Mikayla memperhatikan sekeliling. Tidak buruk, bangunan istana Aldergo dari belakang tampak seperti taman pada umumnya. Kepala pelayan tadi membawanya melewati jalan tengah menuju ke kediaman Raja, bisa Mikayla lihat samping kanan dan kiri dipenuhi banyak pelayan yang sibuk hilir mudik dengan tugas masing-masing.

"Kemana saja kau pergi? Dari tadi kami mencari mu!" Ucap salah seorang pelayan wanita yang menghadang jalan mereka. Matanya melotot ke arah Mikayla dengan sebuah baki berisikan banyak teko hangat dan beberapa cangkir bersih.

"Em, aku sibuk di taman," kilah Mikayla. Ia tak mau memperpanjang topik ini. "Ada apa?"

"Ini, antarkan teh hijau untuk Raja. Jangan terlambat!"

"B-baik." Mikayla buru-buru mengambil alih baki yang tadi dibawakan pelayan wanita. Kepala pelayan sudah pergi, sekarang Mikayla bingung. Dimanakah letak kediaman Raja Eliot?

Semua orang berjalan cepat. Tak ada seorangpun yang sepertinya dapat dimintai bantuan. Mikayla menghela nafas, apa ia akan membuat masalah dengan Raja Aldergo di hari pertamanya bekerja?

Mikayla memutuskan untuk berjalan lurus dari arah dapur. Sebuah pintu ganda yang tingginya mencapai ujung lelangitan ruangan menjadi pertanda bahwa ia akan keluar dari area koki. Berjalan lurus, sekarang lagi-lagi Mikayla dibingungkan dengan banyaknya lorong-lorong istana. Ah, Mikayla semakin kesal saja dibuatnya.

Mikayla memilih lorong sebelah kanan yang menunjukkan ruangan terbuka. Cahaya matahari memantul di balik atap kaca yang menerangi seisi ruangan. Mikayla meletakkan baki minuman yang ia bawa di atas meja. Sebuah pintu besar berwarna putih lagi-lagi mengajak dirinya untuk mengetahui hal lebih.

Tanpa takut, ia mendorong pelan pintu tersebut, dan benar saja pintu sama sekali tak dikunci. Ruangan tersebut bisa Mikayla taksir memiliki luas sebesar aula istana namun dipenuhi oleh pedang-pedang serta senjata lain dari yang biasa, unik, hingga barang langka terpajang apik.

Berjalan penuh kehati-hatian, Mikayla memutuskan untuk melihat-lihat pedang yang dikoleksi oleh penghuni tempat ini. Bukankah ini juga salah satu peluang untuk mendapatkan kembali pedang Phoenix? Bisa saja pedang miliknya disimpan disini.

"Jangan bergerak."

Sebuah pedang lancip diarahkan ke lehernya. Mikayla sebenarnya tidak takut sama sekali, namun ia merasa bahwa orang yang telah menodongkan pedang dilehernya bukanlah orang biasa.

"Saya sudah tidak bergerak lagi," sahutnya malas.

"Siapa kau? Lancang sekali telah memasuki ruangan ini."

Mikayla tak tahan. Ia mengambil belati yang tersimpan di balik sepatu boots putihnya. Berbalik, lalu dengan sigap menangkis pedang yang sempat dilayangkan padanya.

Seorang pria dengan surai indigo menyambutnya tatkala berbalik. Mikayla akui bahwa pria ini tampan sekaligus menguarkan aura berbahaya.

"Hanya pelayan, uh? Bagaimana jika kita bermain sebentar?" Ajak pria itu dengan tatapan menilai dari atas ke bawah. "Mudah saja. Yang kalah harus menuangkan minum untuk pemenang."

"Siapa takut?" Mikayla tetap pada belatinya. Tak ada senyum, hanya aura permusuhan yang ia berikan sejak tadi.

Pria indigo itu juga mengganti pedangnya dengan belati agar permainan terkesan adil. Tak beberapa lama kemudian, pria itu menyerangnya dari arah depan.

Pertarungan berlangsung sengit, tak ada yang mau mengalah. Awalnya Mikayla tak ingin bermasalah dengan Aldergo, jadi ia memutuskan untuk menghindari tebasan pedang si indigo. Namun lama-kelamaan ia kesal lantaran permainan pedang Indigo memancing emosinya. Masa bodoh dengan niat awalnya, Mikayla memutuskan untuk melawan musuhnya yang satu ini dengan adil.

Mikayla mengecoh pergerakan pedangnya dengan bergerak ke kanan, namun berbeda dengan mata pedang yang mengarah ke kiri. Begitu juga dengan Indigo yang ikut memainkan cara berpedangnya yang belum pernah Mikayla temui di daratan Armovin. Tak masalah, Mikayla masih mampu menangkis dan membalas serangan musuh.

"Paduka, maafkan saya karena— Ya ampun, siapa yang berani menyerang Raja!"

Seruan keras dari arah pintu mengejutkan Mikayla dan memecahkan konsentrasinya. Dan disaat ia lengah, maka si indigo pun mendapatkan celah untuk mengalahkan Mikayla hingga belati perempuan itu jatuh ke atas lantai.

"Kau terlalu lama sampai-sampai aku harus latihan dengannya," sahut si Indigo yang masih terengah-engah setelah selesai latihan yang lebih terlihat seperti bertarung sungguhan. Pria itu pun meletakkan pedang yang tadi ia pakai di atas meja panjang di sudut ruangan. "Kau bisa pergi. Jangan khawatirkan aku."

Pria yang berada di ambang pintu mengangguk kecil karena tak berani melawan, sempat melirik ke arah Mikayla. Lantas ia kembali ke luar ruangan, rencananya ia akan melatih permainan pedang Raja Eliot di jam yang sudah ditentukan sebelumnya. Namun karena sebentar lagi festival akan dilaksanakan dengan kesiapan yang hampir rampung, maka hari ini ia terlambat untuk datang ke arena pelatihan tersebut.

"Ah, mana tehku? Lama sekali," gerutu Indigo dan ia memutuskan untuk duduk di kursi yang terbuat dari rotan di sudut ruangan.

Mikayla menepuk keningnya. Kenapa ia bisa lupa? "Tunggu sebentar," sahutnya lalu bergegas ke luar ruangan tempat dimana ia meletakkan sebuah baki teh hijau milik Raja Eliot.

Tunggu, kalau teh ini milik raja Eliot, berarti yang menjadi lawannya tadi...

Mikayla terbelalak. Kenapa ia begitu bodoh. Ah, menyebalkan.

Menarik napas canggung. Mikayla memutuskan untuk kembali masuk ke dalam ruangan latihan sang Raja dengan baki berisikan teh hijau di kedua tangannya.

"Silahkan diminum."

Pria yang bisa Mikayla akui sebagai raja Aldergo itu mengernyit. "Kau lupa perjanjian awal kita?"

Hah, terkutuk lah raja Aldergo yang satu ini.

Dengan malas Mikayla menuangkan secangkir teh hijau untuk tuannya yang sombong. Jika tak dikarenakan anak buah Indigo, pasti ia bisa menang melawan Raja Aldergo ini.

"Terimakasih," ucap Raja senang lalu meminum tehnya dalam sekali teguk.

Tak terlalu buruk. Setidaknya, indigo tahu dengan ucapan 'terimakasih'.

"Ngomong-ngomong aku belum pernah melihatmu di sini. Pelayan baru?" Ulang Indigo serius. Ah, dia raja Aldergo, namanya bukan Indigo, tapi Eliot. Yah, Raja Eliot.

"Anda tak mengenal saya?" Balas Mikayla dengan nada tak percaya. "Saya pengawal Anda sejak dulu."

"Oh ya?" Dan ada tersirat rasa tak percaya di balik manik gelapnya yang menatap Mikayla tanpa ekspresi.

1
Murni Murniati
kampret ini lama lama minta dikubur ini, apa tak sadar dia siapa, ini anak dewa dewi dia budak,apa tak sadar dia
Murni Murniati
kan dia udah dikasih dua kebebasan keinginan ini, jd kapan diminta
🌿wing2bo_27
Luar biasa
>AY<
cerita nya rumit, harus mengulang kata"nya supaya paham.
Ayu Mestari
Luar biasa
Yati Haryati
ceritanya terburu buru bgt min
Ayu Sari Murni
manggilnya adiden aja Thor susah q bacanya
ana azizah
bertele2
Hikam Sairi
baca
Dede Mila
/Proud//Joyful//Joyful//Joyful/
Inesya Qinan s
Luar biasa
Inesya Qinan s
Lumayan
Asmi Pandansari
aku mampir
Murni Dewita
sama2 penasaran kita mikayla/Grin/
Murni Dewita
mampir
Dang Antie
Luar biasa
♤avcdssi
suka banget sama cerita, tapi epsonya sedikit heheh
Riska Mustikasari
putri tidur butuh make up baca dimana kak... kok ga ada aku cari
Ni Ketut Patmiari
Luar biasa
Querido🦋
yakin ingin menghukum tahta tertinggi diatas raja hm?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!