andi dikejar waktu mengungkapkan siapa pelaku teror yang menyebabkan kematian di berbgai tempat...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SOPYAN KAMALGrab, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 13
Jeritan histeris terdengar dari segala sudut sekolah. Suaranya saling bersahutan, memantul di dinding-dinding gedung, menembus kantin yang mendadak sunyi. Bunuh diri yang disiarkan secara langsung ini jelas bukan peristiwa spontan. Ini teror. Teror yang dirancang agar semua orang melihat, agar rasa takut menyebar tanpa bisa dihentikan.
Guru-guru dan petugas keamanan berlarian tanpa arah yang jelas. Sebagian menuju laboratorium, sebagian lagi berhamburan ke toilet. Wajah-wajah panik, langkah tergesa, dan suara sepatu beradu lantai membentuk kekacauan yang sulit dikendalikan. Aku hanya berdiri terpaku, lalu perlahan duduk di sudut kantin, menyaksikan semuanya seperti penonton yang tak punya hak bicara.
Hatiku masih terasa sakit. Semua inisiatifku sejak awal selalu disalahkan. Setiap peringatan yang kusampaikan dianggap berlebihan, bahkan dicemooh. Aku diancam akan ditugaskan ke perbatasan, seolah itu hukuman terberat. Padahal aku tidak pernah takut ditempatkan di mana pun. Sebagai abdi negara, aku sudah bersumpah untuk siap. Yang menyakitkan bukan ancaman mutasi, melainkan kenyataan bahwa pendapatku sama sekali tidak dihargai. Peringatanku dianggap angin lalu, sampai akhirnya nyawa benar-benar melayang.
Aku duduk diam, menahan emosi, memandangi kekacauan yang terus berlangsung.
“Lihat, Yah,” ucap Andika sambil duduk di sampingku. Suaranya tenang, terlalu tenang untuk situasi seperti ini. “Ini benar-benar teror terang-terangan. Korbannya sudah lima orang.”
Aku mengangguk pelan. “Ayah sudah berusaha meyakinkan mereka. Tapi balasannya justru ancaman dipindahkan.”
Andika terdiam sejenak, lalu menarik napas panjang. “Kenapa jadi serumit ini? Aku tidak mengerti. Padahal kuncinya jelas. Tinggal jujur soal apa yang terjadi lima tahun lalu. Itu akar semuanya.”
Aku menoleh padanya.
“Pelakunya pasti korban perundungan lima tahun lalu,” lanjutnya. “Dan calon korban berikutnya pasti orang-orang yang dulu membully. Tinggal berikan daftar nama mereka, lalu lakukan pengamanan ketat. Selesai.”
Aku tersenyum pahit. Ya, sesederhana itu. Namun kesederhanaan sering kali kalah oleh kepentingan. Demi menjaga nama baik, demi citra, demi gengsi, nyawa menjadi taruhan. Bagi sebagian orang, harga diri memang lebih berharga daripada keselamatan manusia.
“Ayah tidak ke lokasi?” tanya Andika.
“Ayah sedang dibebastugaskan,” jawabku lirih. “Kalau ayah bertindak sekarang, itu dianggap pelanggaran. Niat baik justru bisa berujung masalah baru.”
“Benar-benar rumit,” katanya pelan. “Prosedur dibuat untuk memudahkan, tapi malah menyusahkan.”
Aku kembali terdiam. Ancaman ini semakin nyata. Lima orang sudah meninggal, dan naluriku mengatakan ini belum berakhir. Aku yakin akan ada korban berikutnya, mungkin pukul tiga belas nanti. Targetnya pasti orang-orang yang satu angkatan dengan pelaku, kelas delapan tahun 2019. Andaikan sekolah mau membuka data perundungan, pengamanan bisa dilakukan secepatnya.
“Yah,” ujar Andika lagi, “kalau nanti ayah dipanggil lagi, ayah harus jual mahal sedikit.”
Aku mengernyit. “Maksud kamu?”
“Ayah sudah berkali-kali disalahkan,” katanya hati-hati. “Diskor, operasional dipangkas, diancam mutasi. Sekarang mereka butuh ayah. Wajar kalau ayah minta imbal balik yang sepadan.”
Aku menatapnya heran. “Kamu mengajari ayah memanfaatkan situasi?”
“Kasus ini panjang dan butuh biaya besar,” jawabnya tenang. “Aku tahu ayah akan melakukan apa pun untuk mengungkapnya, bahkan mungkin mengorbankan harta sendiri. Tapi nama yang harum nanti bukan ayah.”
Aku terdiam lama. Entah Andika yang mulai terlalu dewasa, atau aku yang selama ini terlalu polos.
“Jadi ayah harus bagaimana?” tanyaku, lalu langsung menyesali pertanyaan itu.
Andika menatapku singkat. “Ayah sudah besar. Hal seperti ini seharusnya ayah yang memutuskan.”
Aku menghela napas. Anak ini, sejak kapan menjadi sediplomatis itu.
Ponselku kembali berdering. Kali ini nama Pak Haris muncul di layar. Biasanya aku akan langsung memasang sikap siaga, berdiri tegak, dan menjawab dengan nada siap perintah. Namun sekarang rasa malas justru menguasai diriku. Terlalu sering dia memojokkanku, menyalahkanku, seolah semua kekacauan ini adalah ulahku. Kali ini aku memutuskan untuk jual mahal.
Deringan pertama tidak kuangkat. Kedua, ketiga, hingga kelima pun aku biarkan berlalu. Beberapa detik kemudian sebuah pesan masuk, singkat tapi sarat tekanan. “Andi, angkat. Ini penting. Apa pun yang kamu inginkan akan aku penuhi.”
Aku tersenyum tipis. Benar kata Andika. Sedikit keberanian saja sudah cukup membuat atasan mulai merayu.
Ponsel kembali berdering. Kali ini aku mengangkatnya.
“Siap, Ndan,” ucapku datar, tanpa antusiasme.
“Kamu di mana?” tanyanya cepat.
“Di kantin.”
“Kantin mana? Katanya kamu di SMP Nusantara Global.”
“Iya, saya di kantin SMP Nusantara Global.”
Terdengar helaan napas lega di seberang sana, seolah dia baru saja menahan napas terlalu lama.
“Andi, kasus ini sudah sangat mengkhawatirkan. Kamu harus menanganinya,” perintahnya.
“Tidak bisa,” jawabku spontan. Bahkan aku sendiri terkejut dengan keberanianku.
“Kenapa kamu membantah?” suaranya meninggi.
“Saya tidak membantah,” kataku tenang. “Apa Bapak lupa kalau saya sedang dibebastugaskan?”
Hening. Aku bisa membayangkan Pak Haris sedang menyusun ulang kata-katanya, menimbang posisi dan kepentingannya.
“Andi, kamu harus kembali aktif. Ini masalah gawat,” katanya akhirnya.
“Saya sudah memperingatkan sejak awal, Pak,” balasku, nadaku tajam tapi terkendali. “Tapi tidak ada yang peduli. Saat bertugas saya dihina, dicaci maki, tidak ada satu pun yang membela. Saya malah dipojokkan. Padahal masalah ini awalnya sederhana, hanya saja ada orang-orang yang memanfaatkan pengaruhnya sehingga penyelidikan jadi buntu.”
“Andi, apa yang kamu mau?” suaranya kini lebih rendah. “Ini sudah gawat, dan hanya kamu yang bisa saya andalkan.”
Aku menarik napas. “Sayang sekali, Pak. Uang saya tinggal sedikit. Tidak mungkin juga saya menjual mobil untuk menangani kasus ini.”
“Operasionalmu akan dikembalikan,” katanya cepat.
“Tidak cukup, Pak.”
“Kenapa kamu jadi perhitungan? Ini tugas negara.”
“Benar, tugas negara,” balasku. “Tapi ada orang-orang yang menerima uang dari luar, sementara saya yang babak belur di lapangan.”
Hening lagi.
“Baik,” katanya akhirnya. “Semua operasional saya bulan ini, ditambah operasional kamu dinaikkan dua kali lipat. Bagaimana?”
“Tawaran menarik,” ujarku. “Tapi ada satu syarat lagi.”
“Apa itu?”
“Beri saya wewenang penuh, Pak.”
Jawabannya datang tanpa jeda. “Sampaikan ke semua orang. Semua keputusan kamu adalah keputusan saya.”
“Oke. Deal.”
Sambungan terputus. Tak lama kemudian raungan mobil polisi memecah kepanikan. Kali ini datang dari Polsek Pasar Rebo. Di antara mereka aku melihat wajah yang tak asing. Zaki. Kami pernah satu angkatan saat pendidikan dulu.
Zaki memimpin langsung proses olah TKP. Garis polisi dipasang, laboratorium dan toilet dikosongkan, udara dipenuhi bau desinfektan dan kepanikan yang belum sepenuhnya reda.
“Ki, ini sudah korban kelima,” ucapku pelan saat mendekatinya.
Zaki memberi beberapa instruksi cepat kepada anak buahnya, lalu menoleh padaku. “Iya. Dan yang paling bodoh, mereka mengabaikan peringatan kamu,” katanya tanpa basa-basi.
Aku hanya mengangguk. Sesekali aku ikut mengatur guru dan siswa agar menjauh, memastikan tidak ada yang melanggar garis. Wajah-wajah syok, tangis tertahan, dan bisik-bisik ketakutan menyatu dalam satu kekacauan sunyi.
Hampir satu jam olah TKP dan evakuasi dilakukan. Kali ini kasus resmi diambil alih Polda. Tak ada lagi ruang tawar. Orang tua korban, seberat apa pun, harus merelakan anak mereka untuk diotopsi.
Nama korban tercatat jelas. Rudi dan Ruly. Seperti yang sudah kuduga, keduanya alumni SMP Nusantara Global.
Aku dan Zaki kemudian duduk berhadapan dengan ibu kepala sekolah di ruangannya. Kini wajahnya pucat, tangan gemetar, tatapan tak lagi setegas tadi pagi.
“Bu,” kataku tegas, “jam tiga belas nol nol akan ada korban lagi jika ini terus ditutup-tutupi. Sekarang katakan pada saya, apa yang sebenarnya terjadi di awal tahun 2019. Bentuk perundungan apa yang disembunyikan sekolah ini.”
Zaki mengangguk menguatkan ucapanku.