Niat baik berubah menjadi petaka bagi Raisa, bagaimana menolong pria asing malah membuatnya dinikahkan secara paksa oleh warga yang mengira mereka berbuat asusila. Meski berkali-kali mencoba menjelaskan namun warga yang kolot tidak mempercayai apa yang Raisa dan Bryan katakan hingga mau nggak mereka menikah dengan terpaksa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon el Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Demi Mendapatkan Maaf
Keempat pria yang ada di depannya masih menatap dengan mulut yang terbuka, mereka masih tidak percaya dengan apa yang baru dilihatnya.
"Apa! kenapa bengong semua, nggak pernah lihat wanita cantik ya," kata Raisa lalu memasukkan makanan ke dalam mulutnya.
Kini tatapan mereka berubah haluan, dari Raisa ke Bryan, kekacauan yang terjadi bersumber dari Bryan.
"Katamu Raisa menghilang," kata Papa Bryan.
"Memang iya pa," sahut Bryan.
"La ini buktinya Raisa dari kamarnya," timpal Papa Bryan yang merasa dipermainkan oleh anaknya.
Bryan kini menatap Raisa yang tengah asik memakan makannya, Raisa terlihat cuek pada Bryan meski aslinya ingin sekali melempar Bryan karena bilang pada Yuke jika datang dengan temannya.
"Sayang kamu tadi kemana?" tanya Bryan
"Pulang," jawab Raisa ketus.
"Kenapa nggak nunggu aku?" tanya Bryan lagi.
"Ngapain ditunggu kan situ asik dengan cewek lain yang lebih aduhai dari aku," jawab Raisa.
"Kamu kan bilang kalau datang sama seorang teman kan?" sambung Raisa dengan penuh penekanan.
Bryan menggaruk kepalanya yang tidak gatal, dia tidak mengira kalau Raisa akan mendengar ucapannya pada Yuke.
"Tapi maksud aku nggak begitu sayang." Bryan mengajukan pembelaan untuk dirinya sendiri.
Raisa nampak tertawa, telinganya nggak budeg, matanya juga nggak rabun jadi bisa mendengar dengan jelas dan tau maksud serta tujuan Bryan melakukan hal itu.
"Pret, sudahlah Bryan kalau kamu ingin bersama Yuke silahkan, aku nggak papa," sahut Raisa dengan raut wajah yang sedih.
Memang bukan begitu maksud Bryan, selama ini mereka kan merahasiakan pernikahan mereka kalau Bryan bilang datang bersama Raisa pasti Yuke kaget dan akan bilang pada teman-teman lainnya.
"Tadi aku memang bilang teman sayang, tapi ada kelanjutannya." Bryan mencoba ngeles.
Raisa menatap Bryan memangnya apa kelanjutan dari ucapannya pada Yuke tadi?
"Apa?" tanya Raisa.
"Teman ranjang," jawab Bryan.
"Tapi aku nggak dengar ranjangnya cuma teman doang," protes Raisa.
"Ya gimana mau dengar la aku bilangnya di dalam hati," sahut Bryan dengan tertawa.
Raisa yang kesal menatap Bryan dengan tatapan elangnya, untung ada para papa dan juga Gilang coba kalau nggak air di dalam gelas sudah berpindah tempat ke tubuh Bryan.
"Sinting, papa lihat kan gimana sintingnya suami aku, jelas-jelas hanya mengganggap aku teman di depan wanita lain berkilah lagi sekarang," kata Raisa yang membuat para papa kesal tapi juga ingin tertawa mendengar pembelaan Bryan.
Gilang sungguh tak habis pikir dengan Bryan yang ahli mlesetin ucapan.
"Brengsek kamu bro, ahli sekali mlesetin kata," kata Gilang sambil tertawa.
Raisa memajukan bibirnya sedangkan Bryan, Gilang, papa Raisa dan papa Bryan nampak menahan tawa.
"Itu bukannya sinting sayang, tapi memang suami kamu jenius, otaknya sungguh main," puji Papa Raisa yang membuat Raisa semakin kesal.
"Kalian semua sama saja nggak ada yang belain Raisa," kata Raisa.
"Maaf sayang, ya sudah nanti papa akan transfer uang kamu untuk berlibur ke Bali, kamu bisa memesan tiket business clas selain itu kamu bisa menyewa villa mewah di sana," bujuk papa Bryan.
Raisa menatap papa mertuanya dengan senang, liburan adalah hal ingin dilakukannya mengingat kepenatan yang selama ini tengah dia alami.
"Wah, beneran pa," kata Raisa.
"Iya, sebagai permintaan maaf anak papa yang telah mengecewakan kamu," sahut Papa Bryan.
"Lalu Bryan gimana pa?" Bryan tentu ingin sekali pergi ke Bali bersama sang istri, itung-itung bulan madu mereka.
"Bujuk lah istri kamu supaya kamu diajak," sahut papanya.
Bryan mengusap rambutnya dengan kasar, Raisa yang malas berbicara dengan Bryan memilih kembali ke kamarnya, begitu pula dengan Gilang yang pamit untuk pulang.
"Hati-hati ya Gilang, maafkan Bryan yang sudah merepotkan," kata Papa Bryan.
"Nggak apa-apa om, memang kan kita harus saling tolong menolong," sahut Gilang.
Selepas kepergian Gilang, para papa mengajak Bryan untuk pergi ke ruang kerja ada yang ingin papa sampaikan untuk Bryan.
"Bryan papa menyayangkan sikap kamu yang seperti itu, jelas Raisa marah karena kamu hanya menganggapnya teman di depan wanita lain." Uneg-uneg di hati papa Bryan keluar semua.
Bryan hanya diam, dia tau memang dia salah tapi memang bukan begitu maksud Bryan.
"Pa, Bryan tau kalau Bryan ini salah tapi sungguh apa yang Bryan katakan bukan tanpa alasan karena memang kita berdua sepakat untuk tidak kenal satu sama lainnya ketika di kampus, itulah sebabnya Bryan bilang Raisa itu teman Bryan," jelas Bryan.
Para papa membenarkan apa yang diucapkan Bryan, karena kembali lagi pernikahan mereka adalah nikah paksa yang dilakukan oleh warga jadi mana mungkin dipublish ke teman-temannya.
"Sekarang tugas kamu adalah membujuk istri kamu supaya mau memaafkan kamu Bryan," saran papa Raisa.
"Iya pa," sahut Bryan.
Seusai mengobrol dengan papanya, Bryan pergi ke kamar Raisa, untung pintu kamarnya tidak dikunci sehingga Bryan dengan mudah untuk masuk.
"Sayang," panggil Bryan.
Raisa yang asik memainkan tiduran sambil menonton tv menoleh.
"Kalau mau masuk kamar orang ketuk pintu dulu, main masuk aja," omel Raisa.
"Iya maaf," sahut Bryan.
"Aku mau minta maaf sayang," sambungnya.
Raisa menatap Bryan dengan tatapan kesal, dia masih ingat kejadian di mall tadi, hatinya masih sangat sakit, istri sendiri diaku teman.
"Hatiku masih sakit," kata Raisa.
"Ayolah sayang, aku bingung saja mau bilang apa," pinta Bryan.
"Apa yang harus aku lakukan agar dimaafkan oleh kamu?" tanya Bryan kemudian.
Raisa nampak berpikir, inilah saatnya mengerjai suaminya, tapi apa?
"Baiklah tapi selama sebulan kamu yang bersih-bersih rumah dan memasak," jawab Raisa.
Bryan nampak shock, dia menatap Raisa dengan tatapan iba berharap Raisa mau mengganti hukumannya.
"Please sayang, jangan dihukum seperti itu." Bryan memohon.
"Kalau nggak mau ya sudah," sahut Raisa.
Mau nggak mau Bryan pasrah akan nasibnya, ya sudah lah demi maaf dari sang istri dia rela melakukan apapun termasuk menjadi art selama sebulan.
"Baiklah sayang," ucap Bryan pasrah.
************
"Itu lihat lantainya masih kotor," kata Raisa.
"Mana sih, sudah bersih semua," sahut Bryan.
"Itu." Raisa menunjuk bagian yang memang sudah bersih.
Ini adalah akal-akalan Raisa untuk mengerjai Bryan.
Bryan sungguh lelah sekali, perasaan dia sudah berkali-kali mengepel lantai tapi mengapa masih ada yang kotor.
"Cepatlah mas, habis ini kita harus kuliah," kata Raisa.
"Habis ini kamu masih harus masak," ucapnya kemudian.
Bryan yang lelah melempar alat pel, sungguh kesal sekali dengan istrinya yang sedari tadi memintanya untuk mengulang.
"Kok dibuang?" protes Raisa.
"Aku lelah," sahut Bryan.
"Kamu mau curang? kan kamu sudah janji kalau akan membersihkan rumah dan memasak?" timpal Raisa dengan penuh penekanan.
othor nya kocak nih 🤣🤣
selamat buat rafi dn amanda🌹🥰
buat Gilang... jodohmu masih d pending sama kak el... sabar y🤭😂😂
sukses dn semangat buat kak el... sehat2... semoga karyamu selalu menjadi favorit para readers👍💪🥰😘😘😘😘😘😘🌹🌹🌹🌹🌹🌹
d tunggu cerita berikutnya😉❤
auto pusing atas bawah tu rafi🤭😂😂😂
rafi somplak
astaga rafi... jadi pingin nampol tu mulut😔