NovelToon NovelToon
Obsesi Raviel

Obsesi Raviel

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Ibu Mertua Kejam / Pernikahan Kilat / Hamil di luar nikah / Mafia / Iblis
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: his wife jay

Sejak kelas satu SMA, Raviel Althaire hanya mengamati satu perempuan dari kejauhan. Tidak mendekat, tidak memiliki, hanya menyimpan rasa yang perlahan berubah menjadi obsesi.
Satu malam yang seharusnya dilupakan justru menghancurkan segalanya. Pagi datang bersama tangis dan kepergian tanpa penjelasan.
Saat identitas gadis itu terungkap, Raviel sadar satu hal—perempuan yang terluka adalah orang yang selama ini menguasai pikirannya.
Sejak saat itu, ia tidak lagi mengagumi.
Ia mengikat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon his wife jay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Terkuak

...SELAMAT MEMBACA...

Mobil Raviel melaju meninggalkan area restoran dengan kecepatan stabil. Jalanan mulai ramai oleh pedagang kaki lima yang satu per satu membuka lapak. Jam menunjukkan pukul tujuh pagi, waktu yang cukup sibuk bagi mereka yang menggantungkan hidup di pinggir jalan. Aroma gorengan, kopi hitam, dan asap knalpot bercampur di udara.

Di kursi penumpang, Nara menatap lurus ke luar jendela. Tatapannya kosong, seolah pikirannya melayang jauh. Tangannya bertaut di atas perutnya, gerakan kecil yang tak luput dari perhatian Raviel.

Sesekali Raviel melirik ke arahnya.

“Apa kamu ingin membeli sesuatu dulu?” tanya Raviel akhirnya, memecah keheningan yang sejak tadi mengendap di antara mereka.

“Enggak,” jawab Nara singkat tanpa menoleh.

Raviel tidak memaksa. Ia hanya mengangguk kecil dan kembali memfokuskan pandangannya ke jalan. Ia tahu, Nara sedang tidak ingin banyak bicara.

Tak lama, mobil berhenti tepat di depan rumah Nara. Rumah sederhana itu tampak seperti biasa—catnya mulai pudar, pagar besinya sedikit berkarat, tapi terasa hangat. Raviel mematikan mesin, namun tidak langsung turun.

“Kalau kamu terkena masalah, langsung hubungi aku,” ucap Raviel dengan nada perintah.

“Enggak mau. Aku sudah terbiasa menyelesaikannya sendiri” jawab Nara sambil membuka pintu mobil.

Namun sebelum pintu itu benar-benar terbuka, Raviel menekan tombol pengunci. Klik. Pintu terkunci kembali.

Nara menoleh tajam, mendelik. “Raviel.”

“Sekarang sudah ada aku,” ujar Raviel, nadanya mulai terdengar kesal. “Kenapa harus sendiri? Ingat, kamu akan menjadi istriku.”

Nara menghela napas, menahan emosi yang ingin meledak

“Apa kamu benar-benar mendengar ucapanku, Ara?” suara Raviel merendah, penuh tekanan.

“Iya,” jawab Nara singkat.

Raviel turun lebih dulu, lalu membukakan pintu untuknya. Nara ragu sejenak, sebelum akhirnya menerima uluran tangan itu dengan terpaksa, Telapak Raviel hangat.

Begitu berdiri tegak, Nara langsung melepaskan tangannya.

“Aku masuk dulu,” ucapnya.

Raviel mengangguk. “Aku tunggu sampai kamu masuk.”

Nara melangkah menuju pintu rumah. Baru beberapa langkah, suara dari dalam terdengar—tinggi, tajam, dan penuh emosi.

“Kamu dari mana saja?!”

Langkah Nara terhenti.

Pintu terbuka dengan keras. Bunda Amara berdiri di sana dengan wajah merah padam. Tangan kanannya menggenggam beberapa lembar kertas yang tampak diremas kuat. Matanya menatap Nara tajam, seolah seluruh kekecewaan hidupnya tertumpah pada satu orang.

“Kertas apa ini, Nara?” teriak Bunda Amara. “Bunda menemukannya di kamarmu!”

Jantung Nara berdegup kencang. Tenggorokannya terasa kering. “Bunda, itu—”

PLAK!

Tamparan itu mendarat keras di pipi Nara. Tubuhnya terhuyung dan jatuh terduduk di lantai teras. Pipi kirinya memerah seketika, panasnya menjalar hingga ke kepala. Pandangannya berkunang, telinganya berdenging.

Di luar pagar, Raviel yang masih berdiri di dekat mobil langsung menoleh. Keributan itu membuat dadanya mengencang.

Tatapannya berubah.

“Ara?”

Ia melangkah cepat mendekat, namun langkahnya terhenti ketika Bunda Amara mengangkat kertas itu tinggi-tinggi.

“Ini apa?!” bentaknya. “Hasil pemeriksaan dokter! Kamu hamil?! Bisa-bisanya kamu menghasilkan anak haram, dasar perempuan murah*n!”

Dunia Nara seakan runtuh. Kata-kata itu menghantamnya lebih keras dari tamparan barusan. Matanya berkaca-kaca, napasnya tercekat, tapi tak satu pun kata mampu keluar.

Raviel mengepalkan tangan. Urat di lehernya menegang. Rahangnya mengeras.

“Jaga nada bicara Anda,” ucapnya dingin, suaranya rendah namun penuh tekanan.

Bunda Amara menoleh tajam ke arahnya. “Kamu siapa berani ikut campur urusan keluarga kami?”

“Saya,” Raviel melangkah satu langkah ke depan, sorot matanya gelap, “adalah orang yang akan bertanggung jawab.”

Hening sejenak. Udara terasa berat.

Bunda Amara tertawa sinis. “Bertanggung jawab? Jadi kamu yang menghamili anak saya? Lalu baru sekarang muncul? Dari mana saja kamu selama ini sampai berani melakukan hal menjijikkan seperti ini?”

Raviel hendak menjawab, namun Bunda Amara mengangkat tangannya dengan tegas.

“Cukup. Nara, masuk ke kamar. Sekarang.”

Nara menggigit bibirnya, menahan tangis yang hampir tumpah. Dengan tubuh gemetar, ia bangkit perlahan dan menunduk. Ia melewati Raviel tanpa berani menatap wajahnya.

“Ara,” panggil Raviel pelan.

Nara berhenti sejenak. Dadanya naik turun menahan perasaan campur aduk, namun akhirnya ia tetap melangkah masuk ke dalam rumah.

Bunda Amara menatap Raviel tajam. “Besok. Kamu bawa orang tuamu ke sini. Kita selesaikan ini.”

Tatapan Raviel tidak bergeser. “Saya akan datang.”

Pintu rumah ditutup dengan keras.

Raviel berdiri sendirian di depan rumah itu. Wajahnya gelap, dadanya naik turun perlahan. Bukan hanya amarah yang memenuhi dadanya—melainkan tekad yang mengeras.

Tak ada seorang pun yang berhak menyentuh Nara lagi.

★★★

Raviel masih berdiri di depan rumah Nara. Cahaya matahari pagi menyinari halaman rumah itu dengan tenang, kontras dengan kekacauan yang baru saja terjadi di dalamnya. Ia belum juga beranjak sejak Nara masuk ke kamar, pikirannya masih dipenuhi wajah gadis itu—terutama pipinya yang memerah, jelas menampakkan bekas tamparan Bunda Amara yang tak main-main.

Tangannya terkepal di sisi tubuh. Rahangnya mengeras. Raviel masih bisa mengingat jelas bagaimana Nara sempat terjatuh ke lantai, tubuhnya goyah sebelum akhirnya terduduk dengan mata yang menunduk. Tidak ada teriakan. Tidak ada tangisan. Dan itu justru yang paling menyakitkan.

Raviel menghela napas kasar. Dadanya terasa sesak, ada amarah yang tertahan rapi tapi berbahaya. Ia merogoh saku jasnya dan membuka aplikasi chat, jarinya bergerak cepat sebelum pikirannya berubah.

Apa pipi kamu masih sakit?

—Raviel

Ia menatap layar ponselnya dengan sorot mata penuh kecemasan. Tak lama kemudian, balasan itu masuk.

Tidak. Ini sudah biasa untukku.

—Nara

Raviel membeku.

“Sudah… biasa?” gumamnya pelan.

Rahangnya mengeras semakin kuat. Seberapa sering Nara harus merasakan sakit sampai kalimat itu keluar begitu saja? Seberapa jauh seorang ibu bisa menyakiti anaknya sendiri hingga rasa perih berubah menjadi sesuatu yang dianggap normal?

Ia mengetik lagi, kali ini dengan emosi yang nyaris tak tertahan.

Jangan berbohong, Nara. —raviel

Balasan berikutnya tidak datang secepat sebelumnya. Raviel menunggu, napasnya tertahan, sampai akhirnya layar ponselnya kembali menyala.

Sudahlah, Raviel. Untuk saat ini kita jangan saling menghubungi sampai masalah ini selesai.—nara

Kalimat itu sederhana. Dingin. Dan menusuk.

Ia menurunkan ponselnya, menatap pintu rumah Nara dengan sorot mata gelap. Tangannya bergetar, Dalam satu gerakan keras, ia memukul pagar besi rumah itu.

Bang!

Beberapa burung di sekitar halaman beterbangan, suara besi yang beradu menggema di udara pagi yang seharusnya tenang.

Raviel menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Namun dadanya tetap terasa panas.

Tanpa menoleh lagi, ia melangkah cepat menuju mobilnya. Mesin dinyalakan, lalu kendaraan itu melaju meninggalkan rumah Nara, membawa kemarahan dan tekad yang tak lagi bisa ditunda.

Untuk saat ini, ia akan kembali ke perusahaannya terlebih dahulu. Ada hal-hal yang harus ia urus.

Setelah itu, ia akan menuju mansion ayahnya untuk menyelesaikan masalah ini dengan secepat mungkin.

Dan Raviel Althaire tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti Nara—terlebih lagi ketika ia sudah terlanjur terlibat terlalu jauh.

1
Nurmalia Lia
ditunggu up ny Thor semangat 💪 suka dgn karya mu😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!