Jika biasanya istri yang dikhianati suaminya, maka yang terjadi pada Rohan tidak demikian. Dia lah yang dikhianati oleh sang istri.
Pernikahan yang dibangun oleh cinta nyatanya tak selalu manis. Rohan harus menerima kenyataan pahit istrinya berselingkuh.
Perceraian pun tak terelakkan. Ia mendapatkan hak asuh putra putrinya yang baru berusia 5 dan 3 tahun.
Tak ingin berlarut dan mengingat sakit hatinya, Rohan menjual semua asetnya di kota dan berpindah ke desa.
Namun siapa sangka, di sana dia malah menjadi primadona.
"Om Dud, mau dibantuin nggak jemur bajunya? Selain jago dalam pekerjaan rumah, aku juga jago dalam hal lain lho."
Entah sejak kapan itu terjadi tapi yang jelas, gadis itu, gadis yang dijuluki Kembang Desa tersebut mulai mengusik kehidupan dan hati Rohan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sama 35
" ... Mungkin aku juga sayang sama Om Dud."
"Apa? K-kamu bilang apa?"
Bestari hanya mengembangkan senyuman saja ke arah Rohan. Dan setelah itu, dia melenggang pergi bersama anak-anak.
Sedangkan Rohan, dia berdiri membeku. Tubuhnya seolah kaku setelah mendengar apa yang keluar dati mulut Bestari. Dadanya juga berdebar dengan hebat, seketika rasa kesalnya yang ia rasakan tadi juga sirna.
"A-apa aku baru aja ditembak?" ucapnya lirih.
Sesaat terpaku karena ucapan Bestari tapi kemudian Rohan menyadarkan dirinya dengan menepuk kedua pipinya sendiri dengan tangan.
"Tenang Rohan, tenang. Mesti bocah tuh bocah cuma bercanda. Ya bener, dia kan suka bercanda. Jadi jangan mikir yang aneh-aneh,"ucapnya sendiri.
Setelah meyakinkan dan menenangkan dirinya, Rohan menyusul Bestari yang sudah bersama anak-anak. Hari itu Rishi dan Riesha sungguh bersenang-senang. Sesuatu yang tidak menyenangkan diawal, kini berubah menjadi menyenangkan di akhir.
Anak-anak sungguh menikmati hari mereka bermain bersama dengan Bestari.
Dirasa cukup, dan nampaknya mereka juga sudah lelah, Bestari mengusulkan untuk istirahat dengan makan siang, lalu setelahnya pulang.
"Waah mereka beneran capek. Langsung tidur pas udah sampai mobil,"ucap Bestari ketika melihat kedua anak-anak itu tidur di car seat mereka.
"Iya, mereka beneran bersenang-senang. Makasih ya Bestari. Kamu udah bikin mereka seneng, terutama Rishi,"sahut Rohan.
Ya?
Bestari terkejut dengan ucapan Rohan. Dia menatap ke arah pria itu dengan tatapan bertanya-tanya.
"Aku tahu Rishi sangat enggan hari ini. Aku juga ngeri kalau dia nggak pengen ketemu bundanya. Gimanapun juga dia anakku, jadi aku paham betul kayak apa dia. Tapi aku udah salah ke dia, aku sedikit memaksanya. Seharusnya kalau dia nggak mau ketemu dengan ibunya, aku cukup memberi dia pengertian dan menghormati keputusannya. Tapi aku belum bisa. Karena untuk menghindari keributan, aku meminta Rishi untuk bersikap dewasa. Ini beneran salah aku,"ucap Rohan panjang lebar.
Bestari menatap ke arah Rohan dengan tatapan sendu. Beban pria ini, rasa sakit yang sekarang bersemayam dalam hati pria ini sungguh sangat besar.
Sebagai orang yang pernah dikhianati, Bestari tahu persis bagaimana rasa sakitnya itu. Namun mungkin, rasa sakit Rohan lebih besar karena mereka dalam hubungan pernikahan dan apalagi sudah memiliki anak-anak.
Meski belum terkonfirmasi bahwa Rohan dikhianati oleh mantan istrinya, tapi dari semua cerita dan juga situasi yang dilihatnya, Bestari yakin bahwa memang itulah alasan Rohan dan Ista bercerai.
"Apa Om Dud tahu, aku juga gagal dalam sebuah hubungan. Masih inget pria yang waktu itu datang kan, bukan yang tadi pagi lho. Nanta namanya, dia adalah mantan pacarku. Dia udah ngelamar aku, tapi apa yang ku lihat, dia tengah bercumbu dengan wanita lain di ruang kantornya. Sakit, ya rasanya sakit. Dan apa yang Om Dud lakuin itu nggak salah meski sebenarnya juga nggak bener juga. Kita emang males banget buat ribut sama mantan, apalagi mantan istri. Dan terlebih kalian punya anak-anak, sangat riskan memang. Hanya saja perpisahan kalian ini memiliki efek yang sangat besar ke anak-anak terutama Rishi. Sebaiknya kita lebih menghormati keputusan Rishi, tapi tetap terus memberi dia pengertian."
Degh!
Rohan terkejut mendengar kata demi kata yang terlontar dari bibir gadis itu. Dia tidak menyangka bahwa Bestari mengalami hal yang sama dengan dirinya.
Namun gadis itu tidak pernah menampakkan kesedihannya. Dia selalu terlihat ceria dan juga menyenangkan setiap bersama orang lain.
Lalu, apa yang dikatakan Bestari memang benar adanya bahwa perceraian orang tua, anak-anaklah yang selalu jadi korbannya.
Dan di sini Rishi yang paling terdampak karena pikiran anak itu entah mengapa sudah sangat dewasa. Rohan sadar ketika melihat Rishi tadi bertemu dengan Ista. Matanya yang enggang menatap, ekspresi wajahnya yang tak suka dan juga tubuhnya yang seolah ingin lari.Tapi Rishi menahan dengan baik.
Rohan langsung mengusap wajahnya dengan sangat kasar ketika mengingat semua itu.
"Kamu bener, bestari. Seharunya aku lebih mementingkan perasaan anak-anak. Dan aku turut prihatin dengan apa yang menimpamu. Hahaha lucu ya, ternyata kita memiliki kisah yang sama. Haaah kadang aku mikirnya begini, kalau mereka emang nggak puas sama kita, kenapa nggak ngomong baik-baik sih. Kenapa nggak dibicarain, kenapa nggak diungkapin. Bukannya malah nyari yang lain begitu."
Rohan tertawa, ya dia menertawakan dirinya sendiri yang tampak seperti orang bodoh waktu itu,
Ia tahu bahwa Ista bermain api, tapi dirinya tak bertanya karena menunggu Ista sendiri yang bicara. Namun kenyataannya tidak demikian. Ista hanya diam, hingga Rohan sendiri yang harus turun tangan untuk mengungkap.
"Om Dud bener, kalau emang udah nggak sejalan. Nggak cocok juga. Seharusnya diomongin bukannya malah nyari yang lain. Hahaha."
Dua orang yang pernah merasa sakit itu tertawa bersama. Bukan tertawa senang atau bahagia melainkan tertawa karena merasa sangat bodoh.
Bodoh karena masih berusaha untuk mengerti dan bodoh karena seolah diri ini yang salah sehingga pasangan mereka memilih yang lain.
"Kita ini berharga, Bestari. Kita berharga untuk diri kita dan orang-orang yang menyayangi kita,"ucap Rohan sambil tersenyum tipis ke arah gadis cantik yang duduk di sebelahnya.
"Ya betul, Om Dud. Dan Om Dud juga berharga buat aku,"sahut Bestari.
Hahahaha
Rohan tertawa mendengar ucapan Bestari. Jika tadi dia terkejut dan langsung diam tapi kali ini tidak. Rohan menganggap bahwa Bestari bercanda saja. Tanpa Rohan ketahui, setiap apa yang terucap dari bibir gadis itu adalah sesuatu yang nyata.
Mobil terus melaju dan pada akhirnya sampai juga di depan rumah Rohan. Anak-anak masih tidur sehingga Rohan memutuskan untuk memindahkan mereka ke dalam kamar tanpa membangunkannya.
Bestari juga membantu. Dia menggendong Riesha atas permintaan Rohan karena Riesha jelas lebih ringan dari pada Rishi.
"Terimakasih banyak untuk hari ini, Bestari. Berkatmu, aku dan anak-anak benar-benar bisa menikmati hari,"ucap Rohan ketika mengantar Bestari untuk pulang.
"Sama-sama, Om Dud. Aku juga bersenang-senang kok. Udah Om Dud masuk aja, takutnya anak-anak bangun dan nyariin,"jawab Bestari.
Rohan mengangguk, dia pun masuk kembali ke rumah setelah Bestari melenggang pergi.
Bestari tersenyum lebar, dia sungguh merasa senang karena hari ini banyak waktu yang dia habiskan dengan Rohan dan kedua anak itu. Mungkin bisa dibilang ini hari terbaiknya setelah dirinya kembali ke kampung halaman.
Sreeet
Bestari terkejut ketika tiba-tiba tangannya ditarik oleh seseorang. Matanya membelalak seketika ke arah orang itu
"Ada apa hah!"
TBC