Dikhianati dan dipermalukan, Nafiza Azzahra, wanita bercadar yang lembut, mendapati pernikahannya hancur berantakan. Dipaksa memulai hidup baru, ia bertemu Zayn Al Malik, CEO muda yang dingin dan tak tersentuh, Namun, sesuatu dalam diri Nafiza menarik Zayn, membuatnya mempertanyakan keyakinannya. Di tengah luka masa lalu, benih-benih asmara mulai bersemi. Mampukah Zayn meluluhkan hati Nafiza yang sedang terluka? Dan bisakah mereka menemukan cinta sejati di tengah badai pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Usai acara akad nikah yang khidmat dan penuh kebahagiaan, Zayn dan Nafiza menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak di sebuah ruangan khusus yang telah disiapkan oleh pihak EO. Sentuhan lembut kain sutra melapisi dinding ruangan, memancarkan aroma terapi lavender yang menenangkan. Cahaya temaram dari lampu kristal menciptakan suasana intim, seolah dunia luar berhenti berputar.
"Alhamdulillah, akhirnya kita sah juga ya, Sayang," ucap Zayn, yang kini sudah berani menggenggam erat tangan Nafiza. Jari-jarinya terasa hangat dan kokoh, memberikan rasa aman yang menenangkan.
Nafiza tersenyum lembut, menatap wajah suaminya dengan penuh cinta. Matanya berkaca-kaca, memancarkan kebahagiaan yang tak terlukiskan. "Iya, Mas. Aku masih nggak percaya, sekarang aku sudah jadi istrimu." Suaranya berbisik lirih, nyaris tak terdengar.
Mendengar Nafiza memanggilnya dengan sebutan "Mas", Zayn tersenyum senang. Ada sensasi hangat yang menjalar di dadanya, memenuhi relungnya dengan kebahagiaan. "Percaya dong, Sayang. Sekarang kamu sudah jadi milikku seutuhnya," balas Zayn, lalu mengecup kening Nafiza dengan lembut. Sentuhan bibirnya terasa ringan namun membekas, meninggalkan getaran halus yang membuat jantung Nafiza berdebar kencang. "Aku suka panggilan itu. Terdengar lebih intim dan ... milikku."
Tiba-tiba, terdengar ketukan pelan dari luar pintu, lalu pintu ruangan terbuka dan Maya masuk dengan senyum lebar. Kehadirannya bagai mentari pagi yang menyinari ruangan. "Zayn, Nafiza, selamat ya! Mommy ikut bahagia melihat kalian akhirnya bersatu," tutur Maya, lalu memeluk Zayn dan Nafiza bergantian. Pelukannya terasa hangat dan tulus.
"Terima kasih banyak, Mommy," ucap Zayn dan Nafiza hampir bersamaan.
"Sama-sama, Sayang. Oh iya, Mommy ada sedikit kejutan untuk kalian," ujar Maya, lalu tersenyum penuh arti. Ia memberi isyarat kepada seseorang di balik pintu.
Seorang pelayan masuk membawa sebuah kotak berukuran sedang yang dihias dengan pita berwarna emas. Kilauan emas itu memantulkan cahaya, menambah kesan mewah dan elegan. Maya mengambil kotak itu dan menyerahkannya kepada Nafiza.
"Ini hadiah dari Mommy untuk kalian," ujarnya dengan senyum misterius. "Tapi, jangan di buka sekarang ya, bukanya nanti saja saar di kamar pengantin. Mommy yakin, hadiah ini akan membuat malam pertama kalian semakin ... spesial," lanjutnya dengan senyum menggoda, lalu mengedipkan mata sebelum berbalik dan meninggalkan ruangan.
Zayn dan Nafiza saling pandang, bingung sekaligus penasaran dengan isi kotak itu. Mereka berdua saling bertanya-tanya, apa gerangan isi hadiah dari Maya.
"Kira-kira isinya apa ya, Mas?" tanya Nafiza dengan nada penasaran.
"Entahlah, Sayang. Tapi, kalau Mommy yang kasih, pasti sesuatu yang menarik, dan penuh kejutan," jawab Zayn sambil tersenyum. Namun dalam hati ia menaruh curiga pada sang Mommy.
Mereka berdua sepakat untuk menyimpan rasa penasaran itu dan membuka hadiah dari Mommy Maya nanti malam, di kamar pengantin, sesuai permintaan Maya.
******
******
Kini tibalah acara yang di nantikan semua tamu undangan yaitu acara resepsi pernikahan Zayn dan Nafiza yang diadakan di sebuah ballroom mewah di sebuah hotel bintang lima milik keluarga Al Malik sendiri. Aroma parfum mahal bercampur dengan aroma bunga segar memenuhi ruangan. Lampu-lampu kristal yang berkilauan memantulkan cahaya ke seluruh penjuru ballroom, menciptakan suasana yang megah dan elegan.
Para tamu undangan baik dari dalam negeri maupun dari luar negri, yang di dominasi oleh rekan bisnis keluar Zayn, terlihat sudah memadati ballroom, menikmati hidangan lezat yang disajikan dan berbincang-bincang dengan akrab. Suara tawa dan obrolan terdengar riuh, menciptakan suasana yang hidup dan meriah. Di atas panggung, sebuah band ternama sedang memainkan lagu-lagu romantis, menambah suasana semakin syahdu.
Di antara kerumunan tamu, berdiri seorang pria dengan tatapan kosong. Farhan, manajer di perusahaan Zayn, menyesap minumannya dengan getir. Rasa manis yang seharusnya menyegarkan kini malah terasa membakar kerongkongannya, namun tak mampu menghapus rasa sakit di hatinya. Matanya tak lepas dari sosok Nafiza yang berjalan anggun di samping Zayn. Gaun putih yang dikenakannya tampak begitu serasi dengan kulitnya yang lembut, membuatnya semakin bersinar.
Hatinya yang hancur berkeping-keping karena wanita yang dulu pernah menjadi miliknya, wanita yang ia sia-siakan demi kekasihnya, Riana, kini bersinar bahagia dengan pria lain, pria yang melampaui dirinya. Penyesalan mencengkeram hatinya dengan kuat, bagai rantai besi yang mengikat dadanya. Dulu, ia dibutakan oleh pesona Riana dan mengabaikan cinta tulus Nafiza. Kini, ia sadar bahwa ia telah kehilangan berlian demi sebongkah batu kerikil. Air mata penyesalan menetes tanpa ia sadari.
Di sudut lain ballroom, Riana berdiri dengan tatapan iri dan dengki. Ia menggenggam gelas minumannya erat-erat, kuku-kukunya memutih karena tekanan kuat. Air warna merah itu seolah memantulkan amarahnya. Nafiza, wanita yang selalu ia pandang sebelah mata, kini berhasil mendapatkan pria yang jauh lebih kaya dan berkuasa daripada Farhan. Dendam membara di hatinya, semakin berkobar. Ia merasa wanita kampungan seperti Nafiza nggak pantas mendapatkan kebahagiaan itu. Ia ingin merebut semua yang dimiliki Nafiza, termasuk Zayn.
Zayn dan Nafiza memasuki ballroom dengan berjalan bergandengan tangan, disambut dengan tepuk tangan meriah dari para tamu undangan. Mereka berdua tampak serasi dan bahagia, semua mata tampak tersihir akan pesona keduanya yang memukau.
Farhan semakin terpuruk dalam penyesalan, merasakan sakit yang luar biasa di hatinya. Namun ia mencoba untuk ikhlas meskipun ia tahu itu tak akan mudah. Sedangkan Riana semakin menambah level iri dan dan dendam di hatinya, ia berdesak kesal dengan seringai sinis menghiasi bibirnya.
Acara resepsi berlangsung dengan lancar dan meriah. Zayn dan Nafiza berdiri di atas pelaminan siap menyambut dan menyalami para tamu undangan, yang ingin memberikan doa restu untuk mereka.
Tak hanya itu, para tamu undangan juga menyempatkan diri untuk berfoto bersama mereka mengabadikan momen bahagia itu.
Saat, tamu undangan mulai sedikit senggang. Zayn mendekat ke arah sang istri tercinta, menatapnya dengan tatapan lembut. "Sayang, apa kamu capek?" tanyanya dengan nada khawatir.
Nafiza tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan rasa lelahnya. "Sedikit, Mas. Tamu undangan banyak banget ya," jawabnya sambil mengamati kerumunan orang yang masih antusias memberikan ucapan selamat.
Zayn mengusap lembut pipi Nafiza dari balik cadar yang berkibar lembut karena di terpa udara sejuk dari AC. "Kalau capek, kita bisa ke kamar dulu istirahat. Aku nggak mau kamu capek, Sayang. Karena masih ada 'tugas' lain setelah ini," bisiknya dengan senyum penuh arti. membuat Nafiza sedikit penasaran.
Nafiza menatap suaminya dengan bingung dan polos. Ia sama sekali tak berpikir aneh dengan ucapan Zayn. "Tugas apa, Mas?" tanyanya dengan polos.
Zayn tertawa kecil melihat kepolosan istrinya. Ia mendekatkan bibirnya ke telinga Nafiza dan berbisik, "Nanti kamu juga tahu," ucapnya dengan nada misterius, membuat bulu kuduk Nafiza meremang.
Nafiza semakin bingung dengan ucapan suaminya. Ia mencoba mencari jawaban di mata Zayn, namun yang ia temukan hanyalah senyum misterius yang semakin membuatnya penasaran.
"Sudah, jangan dipikirkan. Sekarang, senyum lagi ya. Kita harus menyambut tamu-tamu kita dengan baik," ucap Zayn, lalu menggandeng tangan Nafiza untuk kembali menyalami para tamu undangan.
Nafiza mengangguk, mencoba mengenyahkan rasa penasarannya dan kembali fokus pada acara resepsi. Namun, dalam hatinya, ia terus bertanya-tanya tentang "tugas" yang dimaksud oleh suaminya.
Bersambung...