Az Kim Alexandria nama gadis itu, wajahnya yang tenang, tatapannya yang tajam sikapnya yang dingin, membuat salah satu CEO miliarder terkenal di kota Seattle merasa terhantui oleh paras gadis itu.
Siapakah sebenarnya gadis itu?
Tanpa gadis itu ketahui ada seseorang yang ingin mengetahui rahasia apa yang dia sembunyikan.
Jangan lupa teman-teman readers beri Coment, like and Votenya yaaaa🙋😊
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayzani01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alasan masuk akal
Andria berlari meninggalkan sepedanya yang kempes, dia sedang sembunyi di balik pohon, dia memegang dadanya, detak jantungnya tidak berhenti berdetak, berani-beraninya pria itu memeluknya? Peluh menyertai keningnya meskipun malam itu sedikit berangin, Andria masih bersembunyi, tidak ingin berjumpa pria mesum itu.
Setelah 30 menit Andria merasa baikan kembali, dia beranjak dari sana. "Sepertinya pria itu sudah pergi." pikir Andria sesekali menengok kekiri dan kanan.
Dia kembali ke tempat sepedanya di sandarkan dan masih tergeletak di sana dengan bannya yang kempes. Pria itu betul-betul menyulitkanku. tukas andria
"Nona, ini telepon dari tuan."
Andria terkejut, dia lalu berdiri menatap supir tuan Alec yang memegang ponsel di tangannya. Andria menolak untuk menjawabnya tetapi Gery lalu mengatakan jika dia menolaknya tuan Alec sendiri akan datang dan menyampaikannya.
Dengan bimbang Andria mengambilnya.
"Halo ! ucap Andria
"Senang kau menjawabnya Andria." terdengar senyuman dari seberang telepon.
"Apa yang kau inginkan !" kata Andria ketus.
"Hanya ingin memastikan kau mengambil sepedamu, bagaimana kalau makan malam besok?" Kata alec dengan tiba-tiba.
Bibir andria menipis. "Tidak, terima kasih !" Dia Lalu menutupnya keras dan memberikannya pada Gery. Andria mengambil sepedanya sedikit menatap Gery lalu pergi.
"Pria sinting itu, berani-beraninya dia mempermainkanku, akan kutonjok hidungnya jika bertemu lagi !" gumam andria.
~
"Dia belum datang?" tanya Riley kepada Ronan.
"Mungkin sebentar lagi." Kata Ronan yang memandang arlojinya.
"Dia akan datang tenang saja, kau tahu mereka akan melupakan waktu jika mereka bertemu teman-teman mereka, kau jangan khawatir Ronan, sebaiknya kau menunggunya di dalam." Kata Riley menenangkan.
Waktu menunjukkan pukul 11 malam hari, dan Andria belum juga tiba di rumah, Ronan sekarang seorang diri menunggu Andria di ruang depan, Riley dan temannya sudah pulang dari tadi. Rahangnya terkatup, kali ini alasan apa lagi Andria yang akan kau katakan?
Kini dia melihat Andria yang menyeret sepedanya, Ronan membuka pintu depan lalu mengerling sepeda Andria. "Ada apa dengan sepedamu Andria?" tanyanya mencoba menormalkan Suaranya.
"Kempes, dan aku tidak tahu kenapa, terjadi begitu saja." Dia tahu pria dihadapannya ini sebenarnya ingin marah, tetapi dia memiliki alasan yang masuk akal kenapa dia pulang begitu larut.
Ronan memejamkan matanya mencoba bersikap tenang. "Kau punya ponsel Andria?" Dia melirik Andria tanpa sedikitpun tersenyum.
"Erm..ya aku punya, diberikan oleh Mrs Weltson Minggu yang lalu."
"Berikan padaku !" Katanya masih dengan suara tenang.
Ronan mengambilnya lalu menekan beberapa angka di ponsel Andria. "tekan angka 1 jika kau membutuhkanku, seharusnya aku menyimpan nomor ponselmu dari dulu." Kata Ronan cepat.
"Masuklah, kau pasti lelah menyeret sepedamu." Ronan masuk begitu saja tanpa memberikan kesempatan Andria untuk berbicara.
Andria betul-betul lelah, dia membuka bajunya begitu saja lalu mengenakan handuk dan masuk ke kamar mandi, dia sangat gerah dan berkeringat menyeret sepeda yang kempes betul-betul menguras tenaganya.
Tanpa mengeringkan rambutnya yang basah dia lalu berbaring hanya mengenakan t-shirt putihnya yang kebesaran, terdengar ketukan dari pintunya tetapi tidak ada sama sekali jawaban.
"Apakah dia sudah tidur?" gumam Ronan dari balik pintu kamar Andria. Dia mengetuk sekali lagi, tapi tidak ada sama sekali suara apapun, Ronan lalu membuka kamarnya dan wajahnya sedikit terkejut, menatap Andria yang tertidur yang hanya memakai t-shirt yang kebesaran tanpa apapun yang menutupi kakinya hingga kakinya yang putih terekspos begitu saja.
Dengan ragu-ragu Ronan mencoba masuk, dengan cepat dia mengambil selimutnya yang terjatuh dan menyelimuti Andria, kemudian mengerlingnya sebentar lalu menutup pintunya. "Seharusnya dia mengunci pintu kamarnya." Gumam ronan.