Semua berawal dari Danies yang semasa kecil adalah anak laki-laki yang culun dan selalu dibuli oleh teman-temannya. Kemudian Danies bertemu dengan Diandra seorang gadis pemberani yang selalu membantunya. Tetapi Diandra mempunyai rambut keriting serta penampilan yang sangat jelek dan juga ceroboh. Karena Diandra sempat beberapa kali membantu Danies, akhirnya mereka lalu berteman.
Namun suatu hari Diandra harus berpisah dari Danies karena orang tua Diandra meninggal dan ia harus ikut tinggal bersama dengan bibinya.
Namun setelah beberapa tahun takdir mempertemukan mereka kembali. Diandra juga melamar pekerjaan dan bekerja diperusahaan yang dipinpim oleh Danies.
Danies dan Diandra tidak tau bahwa mereka dulu adalah teman. Mereka selalu terlibat cekcok dan saling benci.
Penasaran dengan kisah Danies dan Diandra...?
Yuk baca terus novelnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laila Khaifa Nur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
"Kali ini aku akan percaya sama kamu Faris, tapi tolong sampaikan ini sama Danies, mulai sekarang jangan pernah berpikir untuk mengabaikan aku, karena kalau sampai dia berani melakukan itu maka dia akan tahu sendiri akibatnya," Dita mengatakan hal tersebut sambil terlihat seringai licik di wajahnya.
Setelah mengatakan hal tersebut kemudian Dita langsung pergi meninggalkan Faris yang masih berdiri di sana sambil menatap punggung Dita yang semakin menjauh. Faris tidak berani menjawab apa-apa saat mendengar ucapan Dita yang lebih terdengar seperti sebuah ancaman untuk Danies, ia hanya diam saja mendengar ucapan Dita tersebut. Faris takut jika sampai ia salah bicara maka yang terjadi nanti akan berakibat buruk dan efeknya pasti ke Danies juga nantinya.
"Akhirnya selamat juga gue dari si nenek sihir itu, hampir saja gue salah ngomong tadi sama Dita, bisa makin panjang urusannya nanti. Kasihan Danies. Tapi kenapa Dita jadi seberani itu ya sekarang, pasti ada sesuatu yang nggak beres ini. Lebih baik aku temui Danies sekarang," ucap Faris yang kemudian juga pergi meninggalkan tempat tersebut.
***
"Tok tok tok."
Suara ketukan pintu terdengar ke dalam ruangan oleh Danies yang tengah sibuk dengan dokumen di tangannya.
"Masuk," ucap Danies tanpa melihat ke pintu sama sakali dan masih terus menatap dokumen yang ada di tangannya.
Faris langsung masuk kedalam ruang kerja milik Danies dan langsung menuju ke sofa. Faris langsung rebahan di atas sofa begitu ia berada di sana. Sementara Danies tidak mengatakan apa-apa, ia hanya melirik sekilas ke arah Faris yang tengah tiduran di atas sofa yang berjarak tidak begitu jauh dengannya.
"Den!" panggil Faris.
"Hhmm." Danies tidak melihat kearah Faris sama sekali, ia masih sibuk memolototi dokumen di tangannya.
"Lo masih sibuk nggak?" tanya Faris.
"Masih," jawab Danies sekenanya.
"Lama nggak?" tanya Faris lagi.
"Lama," jawab Danies singkat.
"Eh katanya minggu depan ada penerimaan karyawan baru ya Den?" tanya Faris.
"Iya. Kenapa kamu tanya itu?" Danies balik bertanya pada Faris sementara matanya menatap lekat ke arah Faris yang sedang duduk di sofa.
"Kenapa lo lihat gue seperti itu?" tanya Faris kembali pada Danies.
"Jangan pernah berpikir untuk masuk saat wawancara karyawan baru," ucap Danies.
"Gue juga nggak pernah kepikiran buat ikut masuk ke sana, gue cuma mau tahu aja jadi apa nggak minggu depan interview karyawan baru," ucap Faris.
"Lo pikir gue bisa lo tipu, gue tahu apa yang ada di pikiran lo. Jangan berani lo ganggu karyawan baru di kantor," Danies memberi peringatan kepada Faris dengan wajah datar tanpa ada senyum sedikit pun.
Melihat wajah serius Danies yang seperti itu Faris makin menggodanya lagi.
"Tapi kalau misalkan gue duduk aja di pojokan pas interview karyawan baru, bagaimana Den? nggak apa-apa ya? boleh ya gue masuk nanti?" Faris malah merengek seperti anak kecil di depan Danies.
"Boleh kok, lo masuk aja nggak apa-apa," ucap Danies.
"Benar ya gue masuk nanti?" tanya Faris.
"Iya. Nanti gue tinggal minta satpam buat seret lo keluar," jawab Danies santai dengan sikap acuh.
"Tega amat sih lo sama gue Den. Sebenarnya lo anggap gue ini apa?" tanya Faris.
"Lo itu kasim," jawab Danies.
"Cuma kasim?" tanya Faris lagi.
"Iya," jawab Danies singkat.
"Kalau begitu lo dengar gue baik-baik sekarang," ucap Faris sambil mengubah posisi duduknya jadi lebih tegap dan menghadap kearah Danies dengan ekspresi wajah sangat serius.
Danies yang mendengar ucapan Faris yang terdengar cukup serius pun kemudian menutup dokumen di tangannya lalu meletakkannya ke samping dan beralih menatap Faris dengan ekspresi wajah tak kalah serius darinya.
"Yang mulia raja, mulai hari ini, saat ini, detik ini juga saya Faris mengundurkan diri sebagai seorang kasim, saya harap yang mulia raja bisa berkenan dengan keputusan saya ini," ucap Faris sambil kedua tangannya bersimpuh di lantai.
"Apakah kau ingin aku memberimu hukuman pancung wahai kasim Faris?" tanya Danies dengan mengikuti cara bicara Faris seperti pada zaman kerajaan yang sering ada di film-film.
"Tidak yang mulia, saya masih ingin hidup lama, tolong jangan ambil dulu nyawa saya," ucap Faris masih dengan cara ia berbicara sebelumnya.
"Kalau begitu pikirkan baik-baik sebelum kamu mengucapkan sesuatu," ucap Danies.
"Baik yang mulia, saya janji tidak akan mengulanginya lagi, saya akan mengingat kata-kata yang mulia ini sampai saya mati," ucap Faris sambil menunjukkan kepalanya menghadap Danies.
"Baiklah," ucap Danies dengan nada bicara yang persis seperti pada Zaman kerajaan.
"Tapi yang mulia apa saya boleh menakan sesuatu?" tanya Faris.
"Boleh, apa yang ingin kamu tanyakan padaku kasim Faris?" tanya Danies balik pada Faris.
"Kerjaan lo masih lama nggak sih siap?" Faris bangun dari lantai dan kembali duduk di atas sofa.
"Mungkin sampai malam," jawab Danies.
"Ya sudahlah kalau masih lama gue keluar aja lagi," ucap Faris kemudian langsung bangun dari sofa.
"Memangnya ada apa sih lo tanya gue sibuk apa nggak, lo mau ngomong apa?" tanya Danies penasaran sambil memindahkan dokumen di tangannya ke samping.
"Gue cuma mau kasih tau lo soal Dita," jawab Faris yang kembali lagi ke sofa, tapi sekarang tidak lagi sambil rebahan tapi ia duduk sambil memainkan ponsel di tangannya.
"Dita kenapa?" tanya Danies penasaran.
"Dita nggak kenapa-kenapa, tapi gue khawatir lo yang akan kenapa-kenapa," jawab Faris.
"Barusan lo bilang mau kasih tau soal Dita, kenapa sekarang lo malah bilang gue yang akan kenapa-kenapa? Memangnya gue kenapa?" tanya Danies yang makin penasaran.
"Dita jadi aneh Den," ucap Faris.
"Aneh bagaimana, perasaan tadi gue lihat dia baik-baik aja," Danies tidak mengerti apa sedang di sampaikan Faris, karena mereka berdua baru saja bertemu dengan Dita dan tidak menemukan hal aneh apapun.
"Dita seperti mengetahui sesuatu tentang rahasia lo Den," jawab Faris.
"Gue punya rahasia apa memangnya? gue makin nggak ngerti sama omongan lo Faris," ucap Danies.
"Sepertinya Dita pegang kartu lo sekarang, nggak tahu juga sih, tapi gue sangat yakin kalau Dita pasti tahu sesuatu, kalau tidak mana mungkin dia akan bisa begitu percaya diri," jawab Danies.
"Kartu apa yang kamu bicarakan?" tanya Danies lagi.
"Gue juga gak tahu, tapi tadi Dita ngomong begini ke gue, tolong sampaikan ini sama Danies, mulai sekarang jangan pernah berpikir untuk mengabaikan aku, karena kalau sampai dia berani melakukan itu maka dia akan tahu sendiri akibatnya. Begitu dia ngomong sama gue. Merinding gue dengarnya, apalagi waktu gue lihat mukanya Dita pas dia lagi ngomong, asli mukanya persis penyihir jahat yang ada di film-film, gue rasanya mau lari aja tadi kalau seadainya gue nggak mikir harga diri gue," ucap Faris.
"Memangnya harga diri lo kenapa kalau sampai lo lari tadi?" tanya Danies sambil berjalan kearah Faris yang sedang duduk dia sofa kemudian Danies juga ikut duduk di sana bersebelahan dengan Faris.
"Masa gue lari gara-gara gue takut sama cewek, jatuh harga diri gue sebagai laki-laki," jawab Faris.
"Masih punya harga diri lo?" tanya Danies sengaja menggoda Faris dengan mimik muka seolah-olah ia sedang sangat serius.
"Ya punyalah, lo pikir gue laki-laki apaan," jawab Faris cepat dengan muka kesal.
Faris melihat kearah Danies sambil memoloti wajah temannya itu tanpa tersenyum sedikitpun. Danies yang melihat wajah kesal sahabatnya itu bukannya takut malah ketawa terpingkal-pingkal. Hal itu malah membuat Faris makin tambah kesal melihat Danies.
"Kenapa lo malah ketawa?" tanya Faris jutek.
"Suka-suka gue dong mau apa," jawab Danies asal dan masih terus tertawa.
"Diam nggak lo, senang banget ya lo kalau urusan ngeledekin gue," ucap Faris.
"Memang itu yang paling bikin gue senang," ucap Danies lagi.
"Jadi sekarang lo mau bagaimana?" kali ini Faris bertanya kepada Danies, wajahnya berubah serius.
"Soal apa?" Danies malah balik bertanya sama Faris.
"Dita," jawab Faris.
"Entahlah gue juga nggak tau sekarang harus bagaimana sama Dita," jawab Danies yang kelihatan masih bingung.
"Tapi kelihatannya yang gue lihat tadi Dita serius dengan omongannya," ucap Faris lagi.
"Tapi gue lihat lo bisa ketawa girang barusan seperti tidak ada beban sama sekali, berarti sudah nggak ada masalah lagi dong ya kan Den," ucap Faris.
"Nggak ada masalah kepala mu peyang, baru aja lo sendiri yang bilang kalau Dita pegang kartu gue, dia juga berani ngancam gue juga. Amnesia lo," ucap Danies dengan wajah muram.
"Iya sih Den, tapi gue heran Dita kenapa bisa mendadak jadi berani begitu, lo tau nggak Den kenapa?" tanya Faris yang merasa penasaran.
"Dita tau kalau papa gue mau ikut pemilihan presiden periode berikutnya," jawab Danies.
"Serius lo Den?" tanya Faris yang kelihatan syok seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari mulut sahabatnya itu.
"Iya serius, buat apa juga gue bohong sama lo, nggak ada untungnya juga gue bohongkan," ucap Danies.
"Iya juga sih, nggak mungkin juga lo bisa tenang sekarang, tapi masalahnya Dita taunya dari siapa? Bukannya keluarga lo masih merahasiakan tentang hal tersebut?" tanya Faris lagi pada Danies yang tanpak makin penasaran.
"Gue juga nggak tahu kenapa Dita bisa tahu soal papa gue, lo tau sendiri kalau keluarga gue masih tutupin masalah ini, kalau sampai media tahu kalau Dita punya hubungan sama gue, lo tahu sendiri akan segila apa wartawan ngejar-ngejar gue," ucap Danies kelihatan sangat frustasi.
"Tapi memang betul sih, kalau papa lo benar-benar jadi ikut pemilihan presiden untuk periode selanjutnya, memang sudah pasti keluarga lo butuh dukungan dari keluarganya Dita, keluarganya Dita pengaruhnya luar biasa. Dita benar-benar dapat kartu As kali ini, lo kalah telak Den," ucap Faris.
"Aaahh sial, stres gue sekarang," ucap Danies sambil mengacak-ngacak rambutnya yang lumayan lebat untuk ukuran laki-laki.
"Menurut gue mending sekarang loe jangan buat masalah dulu sama Dita sampai bisa menemukan jalan keluar, karena kalau sampai lo bertindak gegabah bisa panjang urusannya," Faris memberi saran.
"Ya sudah lo masih lamakan, gue keluar dulu ya, nnti kalau lo udah siap hubungi gue," ucap Faris.
"Iya," jawab Danies singkat.
Setelah berkata demikian Faris langsung pergi meninggalkan ruang kerja Danies. Sekarang Danies kembali tinggal seorang diri di ruangan tersebut. Pikiran Danies mulai kembali mengembara, ia mulai kepikiran dengan apa yang yang baru saja di katakan oleh Faris padanya bahwa Dita mengancam dirinya melalui Faris.
Danies juga ingat bagaimana wajah Dita yang saat mengancamnya, di sana Dita juga menunjukkan wajahnya yang memang sepertinya tidak main-main. Sepertinya kali ini Dita benar-benar menang dan Danies kalah telak.
Danies mengacak-acak rambutnya sampai beberapa kali karena frustasi saat memikirkan ia harus tunangan dengan Dita dalam waktu sebulan lagi. Bagi Danies waktu sebulan tidaklah lama. Itu tidak akan cukup baginya untuk memikirkan cara membatalkan pertunangannya dengan Dita.
Danies kemudian menelepon seketarisnya meminta supaya Faris ke ruangannya. Danies sedang tidak bisa berpikir apa-apa sekarang. Pikirannya benar-benar buntu, ia bahkan tidak bisa memikirkan apapun. Lebih baik segera berhenti, karena ia tidak sudah tidak bisa meneruskan pekerjaannya. Otaknya benar-benar beku.
Tidak berapa lama akhirnya Faris masuk ke ruang kerja Danies.
"Ada apa lo minta gue kemari Den?" tanya Faris begitu dia masuk ke ruangan menemui Danies.
"Antar gue pulang," jawab Danies.
"Kerjaan lo sudah siap semua?" tanya Faris lagi.
"Belum, besok gue kerjain lagi," Jawab Danies.
"Apa nggak lo berisin dulu kerjaan lo, Kan pekerjaan lo lagi numpuk itu banyak di atas meja. biar lusa saja gue ke sini lagi sekalian gua bawa ****** ***** buat lo," ucap Faris.
Faris mencoba untuk memberi saran kepada Danies yang sudah bisa di pastikan hanya akan membuat Danies marah. Faris dengan muka tanpa dosa sama sekali meminta Danies untuk keluar besok saja dari supaya ia menyelesaikan pekerjaannya terlebih dahulu.
"Lo pula ya kalau geu bos di sini," ucap Danies sambil menatap Faris dengan mata tajam.
"Nggak usah lo tatap gue seperti itu, gue cuma kasih lo saran, kalau lo nggak mau dengar ya sudah. Ini juga buat kebaikan lo sendiri biar kerjaan lo cepat siap dan uang lo jadi makin banyak," ucap Faris.
"Udah jangan ngomong terus lo nggak selesai-selesai, yang ada nggak pulang-pulang gue dari sini kalau dengar lo ngomong. Buruan keluar!" perintah Danies sambil bangun meninggalkan meja kerjanya.
"Lo mau gue antar kemana?" tanya Faris.
"Ke studio."
"Ok," setelah itu Faris tidak menanyakan apa-apa lagi.
Danies keluar dari ruangan ia bekerja semantara Faris mengikutinya dari belakang.
***
Pagi masih sangat gelap saat hawa yang berembus dengan begitu dingin menyelimuti tubuh, Diandra yang masih tengkurap berbalut selimut sangat malas untuk bangun dari tidurnya. Apalagi sekarang memang sedang musim hujan dan hawa menjadi lebih dingin karena di luar memang sedang gerimis.
Diandra berbalik membuka sedikit matanya sampai akhirnya kemudian ia kembali tertidur pulas. Namun tak berapa lama tiba-tiba Diandra merasa bunyi hpnya bergetar tepat di samping wajahnya.
Diadra mengambil barang pipih tersebut kemudian melihat ke layar hpnya itu sambil menyipitkan sebelah matanya.
"Paman Yanto," nama tersebut jelas tertera di layar hp Diandra.
Diandra segera menggeser layar hp untuk menjawab panggilan telepon dari paman Yanto tersebut. Saat Diandra menjawab panggilan tersebut terdengar suara paman Yanto dari seberang telepon meminta Diandra untuk ke pasar.
Diandra melihat jam di dinding kamarnya ternyata baru pukul lima. Ternyata masih pagi buta dan matahari bahkan belum memunculkan wajahnya sedikitpun.
Sebenarnya Diandra sangat malas sekali untuk bangun. Namun ia terpaksa harus segera bangun, mau tidak mau Diandra tetap harus segera keluar dari dalam selimut yang sekarang membungkus badannya.
Dengan tergesa-gesa Diandra segera bangun dan melompat turun dari tempat tidur dan membereskan terlebih dahulu kamarnya sebelum Diandra meninggalkan tempat tidurnya dan juga kamarnya untuk pergi ke kamar mandi.
Sekarang Diandra sudah selesai mandi dan juga berpakaian serta make up tipis menghias wajahnya sesuai seperti yang di ajarkan Fira padanya. Diandra keluar dari kamar dan dirinya kelihatan sudah rapi sambil menyelempangkan sebuah tas ke bahunya. Saat baru keluar dari kamar Diandra berpapasan dengan Fira yang baru bangun tidur.
"Mau kemana pagi-pagi sekali?" tanya Fira sambil sebelah tangannya menggaruk-garukkan kepalanya karena baru bangun tidur.
"Aku mau berangkat kerja Fir," jawab Diandra.
"Kerja di mana?" tanya Fira.
"Tempat paman Yanto," jawab Diandra sambil menyibak rambutnya ke belakang bahunya.
"Oh gue kira kamu sudah dapat kerja baru Di," ucap Fira.
"Belum Fir," jawab Diandra dengan wajah murung.
"Sabar aja Di, nanti kamu pasti dapat kerja bagus, atau kamu kerja aja di toko aku, bagaimana?" tanya Fira.
"Gak usah Fir, nanti yang ada kamu malah harus tutup toko gara-gara aku," jawab Diandra.
"Nggak mungkinlah Di, lagi pula sekarang kamu itu sangat cantik, bahkan kamu lebih cantik dari pelanggan-pelanggan yang biasa datang ke toko aku. Kalau mau kamu bisa belajar pelan-pelan sampai bisa. Bagaimana? Kalau kamu mau bisa langsung ke toko besok," Fira mencoba untuk menawarkan kerja kepada Diandra.
Matahari mulai meninggi, berkawan dengan awan. Bintang malam pun menghilang satu per satu dari cakrawala. Aku terus berlari sembari membenahi topi dan beberapa helai rambut yang menghalangi pandanganku.
ikutin jg bukalah hatimu untukku