NovelToon NovelToon
Di Jodohkan Dengan Dokter Spesialis Dingin

Di Jodohkan Dengan Dokter Spesialis Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Perjodohan
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

-
Aini Zahra Wijaya, seorang dokter muda yang baru lulus, memulai masa koasnya di rumah sakit megah milik keluarga besar Wigunadi. Berharap fokus mengabdi, takdir justru mempertemukannya dengan Dr. Ivandra Arya Wigunadi—spesialis bedah saraf yang jenius, dikenal paling dingin, dan tak tersentuh.
-
Meski Ainu berusaha keras menghindari pria kejam itu, sebuah rahasia keluarga dan ikatan takdir memaksa mereka bersatu dalam ikatan pernikahan. Di balik dinding rumah sakit yang dingin, hubungan penuh ketegangan, batasan, dan emosi yang terpendam pun dimulai.
_

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 13

****

Dua minggu berlalu dalam pusaran waktu yang terasa begitu cepat bagi Aini. Atas kesepakatan kedua keluarga besar, acara akad nikah digelar secara intimate, tenang, dan tertutup rapat dari jangkauan publik maupun rekan-rekan medis di RS Utama Wigunadi. Hanya keluarga inti dan kerabat terdekat yang memenuhi kediaman keluarga Wijaya pagi itu.

Di dalam kamar riasnya, Aini duduk terpaku di depan cermin besar. Ia mengenakan gaun kebaya kurung putih simpel berbahan brokat halus yang jatuh anggun menutupi tubuh mungilnya. Hijab putih segiempat terpasang sangat rapi, dihiasi ronce bunga melati segar yang menjuntai panjang menyusuri bahu kanannya, memancarkan aroma wangi yang menenangkan. Wajah ayunya yang dipulas riasan tipis menyiratkan raut sendu yang alami, namun ada pancaran kepasrahan yang mendalam di balik matanya yang jernih.

"Aini sayang... kamu cantik sekali, Nak," puji Bundanya lembut, mengusap bahu Aini dengan mata berkaca-kaca.

Aini menyunggingkan senyum tipis yang tulus, meremas jemarinya yang terbalut sarung tangan brokat. "Terima kasih, Bunda... Doakan Aini ya."

Sementara itu, di ruang tamu utama yang telah disulap menjadi area akad bernuansa putih dan emas, Ivandra berdiri tegak dalam balutan busana beskap putih elegan. Tatanan rambutnya rapi, rahang tegasnya terpasang kokoh, dan manik mata elangnya menatap lurus ke arah meja akad. Wajah tampannya tetap sedingin biasa, namun ada sedikit ketegangan tersembunyi saat ia menjabat erat tangan Tuan Handoko Wijaya.

"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau, Ivandra Arya Wigunadi bin Arya Wigunadi, dengan putri kandung saya, Aini Zahra Wijaya binti Handoko Wijaya, dengan maskawin seperangkat alat shalat dan logam mulia murni seratus gram dibayar tunai."

Napas Ivandra teratur. Tanpa jeda, tanpa keraguan sedikit pun, suara berbariton beratnya mengalun mantap membelah keheningan ruangan.

"Saya terima nikahnya dan kawinnya Aini Zahra Wijaya binti Handoko Wijaya dengan maskawin tersebut, dibayar tunai!"

"Bagaimana para saksi? Sah?"

"Sah! Alhamdulillah..."

Gema doa bersahut-sahutan memenuhi ruangan. Di dalam kamar rias, dada Aini bergemuruh hebat saat mendengar kata sah terucap. Air mata syukurnya menetes pelan, membasahi pipinya. Detik itu juga, takdirnya resmi terikat selamanya dengan pria paling ditakuti di rumah sakit tempatnya menuntut ilmu.

Aini dituntun keluar menuju meja akad untuk menjalani prosesi pembatalan wudhu dan penyerahan mahar. Langkah kakinya pelan, menundukkan pandangan canggung di hadapan puluhan pasang mata. Saat Aini mendudukkan dirinya di sebelah Ivandra, aroma lembut kayu cendana yang khas dari tubuh pria itu seketika menyeruak, membuat jantung Aini berdegup kencang tak beraturan.

"Silakan, Dokter Ivandra, pakaikan cincin ke jemari istrinya," petunjuk pembawa acara mengalun lembut.

Ivandra meraih jemari lentik Aini yang gemetaran. Kulit tangan Aini yang terasa dingin berpadu dengan telapak tangan Ivandra yang hangat dan kokoh. Ivandra menyematkan cincin berlatin bermata berlian itu ke jari manis Aini dengan gerakan sangat perlahan. Aini kemudian mencium punggung tangan Ivandra dengan takzim, merasakan aroma maskulin yang begitu dekat.

"Sekarang, silakan kecup kening istrinya sebagai tanda kasih sayang."

Ivandra memutar tubuhnya menghadap Aini. Tangan kanan Ivandra terangkat pelan, jemari panjangnya menyentuh dagu Aini untuk mendongakkan wajah cantik yang tertutup riasan anggun tersebut. Mata mereka beradu dalam jarak yang amat dekat—sebuah tatapan intensif yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Ivandra menundukkan kepalanya, mendekatkan bibirnya pada kening halus Aini.

Mup.

Sentuhan bibir hangat Ivandra di kening Aini berdurasi beberapa detik, namun dampaknya bagai aliran listrik bertegangan tinggi yang membakar benak mereka berdua. Aini memejamkan matanya rapat-rahat, merasakan dada Ivandra yang berdesir cepat menempel tipis di bahunya. Di sisi lain, Ivandra tertegun dalam diam; kelembutan kulit Aini dan aroma melati yang menyerbak liar seketika menembus dinding es yang selama ini membentengi hatinya.

Ada getaran asing dan desakan emosi yang tak terjelaskan merayapi aliran darah Ivandra—sebuah perasaan tak rela yang makin mengikat dirinya pada sosok gadis berhijab ini.

**

Malam harinya, sebuah mobil sedan mewah berhenti di pelataran parkir apartemen pribadi milik Ivandra. Suasana malam begitu sepi saat Ivandra dan Aini melangkah masuk ke dalam unit apartemen yang luas, bernuansa minimalis modern dengan dominasi warna hitam, abu-abu, dan kaca raksasa yang menampilkan gemerlap lampu kota dari ketinggian lantai tiga puluh.

Aini berdiri kaku di tengah ruang tamu yang gelap dan dingin, membawa koper kecilnya dengan erat. Rasa canggung yang membunuh kembali menyelimuti mereka.

Ivandra melepaskan jas beskapnya, melipat lengan kemeja putihnya hingga ke siku, lalu menunjuk sebuah lorong di sebelah kiri.

"Kamar kamu di sebelah sana. Kamar utama saya di sebelah kanan," ujar Ivandra dengan suara rendah, kembali menggunakan nada bahasanya yang dingin dan formal.

Aini menoleh, menatap pintu kamar yang ditunjuk Ivandra. "B-baik, Dokter... maksud saya, Mas Ivan."

Ivandra menghentikan gerakannya sejenak saat mendengar panggilan baru dari bibir Aini, namun wajah tegasnya tidak menunjukkan perubahan ekspresi. Pria itu berjalan menuju meja kerjanya di sudut ruangan, meraih dua lembar dokumen kertas yang telah tercetak rapi, lalu meletakkannya di atas meja kaca di depan sofa.

"Sebelum kamu masuk ke kamar, ada hal penting yang harus kita selesaikan," tegas Ivandra datar sembari mendudukkan dirinya di sofa kulit hitam.

Aini melangkah mendekat dengan ragu, meletakkan kopernya dan duduk di sofa seberang Ivandra dengan menyatukan jemarinya di pangkuan. Matanya tertuju pada lembaran kertas di atas meja.

"Ini dokumen kontrak perjanjian pernikahan kita," tutur Ivandra tanpa basa-basi. Manik mata elangnya menatap Aini lurus. "Saya sudah menyusun beberapa poin utama agar kehidupan pribadi dan profesional kita tidak saling berbenturan."

Aini menarik napas panjang, mencoba menguasai rasa gugupnya. "Apa saja isinya, Dokter?"

Ivandra memajukan tubuhnya sedikit, mengetuk dokumen itu dengan telunjuknya. "Pertama, pernikahan ini adalah rahasia mutlak di RS Utama Wigunadi. Tidak boleh ada satu orang pun—termasuk dokter, perawat, atau staf—yang tahu bahwa kamu adalah istri saya. Kedua, di rumah sakit, hubungan kita murni antara konsultan pengajar dan mahasiswa koas. Saya tidak akan memberikan keistimewaan atau perlakuan khusus untukmu."

Aini mendengarkan setiap kalimat itu dengan seksama. Raut mukanya yang sendu berubah tenang, memancarkan keteguhan yang sangat kuat.

"Saya setuju seratus persen dengan dua poin itu, Dokter Ivandra," sahut Aini dengan suara jernih dan tegas. "Saya juga tidak pernah berharap mendapatkan keistimewaan dari Anda. Saya di rumah sakit untuk belajar dari kemampuan saya sendiri, bukan karena nama besar Wigunadi."

Ivandra mengerutkan keningnya tipis, sedikit tertegun dengan respons tegas dan tanpa keraguan dari gadis di depannya. Pria itu melanjutkan, "Ketiga, di dalam apartemen ini, kita memiliki privasi masing-masing. Jangan mencampuri urusan pribadi saya, dan saya tidak akan mengganggu ruang pribadimu."

Aini menatap lurus ke dalam manik mata hitam Ivandra. Ada rasa sedikit nyeri di dadanya mendengar batasan kaku tersebut, namun ia menepisnya cepat demi menjaga martabat dirinya.

"Bagaimana dengan poin keempat dari saya?" tanya Aini berani.

"Apa poinmu?"

"Saya minta satu hal," ujar Aini pelan namun mantap. "Tolong jangan pernah meremehkan usaha saya sebagai dokter muda di depan orang lain hanya untuk menunjukkan kekuasaan Anda. Saya menghormati Anda sebagai calon dokter spesialis senior dan suami saya di atas kertas, jadi tolong hormati proses belajar saya."

Keheningan melingkupi ruangan itu selama beberapa detik. Ivandra menatap Aini dengan sorot penilaian yang mendalam. Keberanian Aini yang tetap anggun dan tidak merengek sedikit pun membuat dinding prasangka di kepala Ivandra makin goyah.

"Setuju," sahut Ivandra pendek.

Ivandra menyodorkan pulpen ke arah Aini. Dengan tangan yang tenang, Aini membubuhkan tanda tangannya di atas meterai pada dokumen tersebut, disusul oleh Ivandra yang menandatangani lembar sisanya.

Dua lembar kontrak itu kini resmi menjadi benteng pemisah di antara mereka—sebuah ikatan pernikahan yang sah secara hukum dan agama, namun terbatasi oleh aturan-aturan dingin yang mereka ciptakan sendiri.

"Kamu boleh istirahat ke kamarmu sekarang. Besok pagi jam enam tepat kita berangkat ke rumah sakit," perintah Ivandra sembari membereskan dokumen tersebut.

Aini berdiri dari duduknya, membungkukkan kepalanya sedikit. "Baik, Terima kasih. Selamat malam, Dokter Ivan."

Aini menarik kopernya melangkah menuju kamarnya. Saat tangannya memegang gagang pintu kamar, ia sempat menoleh ke belakang, melihat Ivandra yang berdiri menjulang di dekat jendela kaca besar, menatap gemerlap kota dengan wajah penuh beban.

Aini menghembuskan napas pelan lalu masuk ke dalam kamarnya, mengunci pintu dengan rapat. Di balik pintu kayu tebal itu, Aini menyandarkan punggungnya, memandangi cincin berlian yang melingkar cantik di jari manisnya. Sebuah pernikahan rahasia yang dingin telah dimulai, dan Aini tahu, badai di rumah sakit esok hari akan menguji seberapa kuat mereka bertahan di balik dinding kontrak tersebut.

Bersambung....

1
Anonim
CRAZY UP THOR
Anonim
crazy up thor
Anonim
up thor
Shuttttttttttt
pls crazy up thooor
Anonim
crazy up
Anonim
crazy up thor
Ai Nurlaela Jm
karyamu kereen Thor
Anonim
crazy up thor
Anonim
crazy up
Putry Chan
dokter pria itu serem deh bikin merinding jangan sampai ketemu lagi
mampir ya ke novel ku
Putry Chan
Aini Mungkin kmu sedikit ceroboh
Putry Chan
maaf gak sengaja kau pikir aku buta 🙄
Putry Chan
semangat Aini
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!