Gara gara terlibat balapan liar berujung skandal di ibu kota, Arkananta Dewangga Tuan muda berusia 25 tahun yang tampan, angku, dan gila hormat. Harus menerima hukuman paling gila dalam hidupnya. Sang ayah membekukan fasilitas mewahnya dan membuangnya ke sebuah desa terpencil. Perintahnya mutlak: "Jangan kembali ke Jakarta sebelum bisa hidup mandiri."
Di Desa Sukmawarna, semua uang dan keangkuhan Arkan tidak berlaku, alih-alih hidup manja. ia harus menghadapi di siplin ketat dari Pak Barkah, yang tidak mempan di sogok. Dirumah pedesaan yang sederhana itu, Arkan di paksa turun ke ladang berlumpur jika tidak ingin kelaparan dan tidur di teras bersama nyamuk kebun.
Di tengah siksaan fisik dan kejutan budaya yang menguras emosi, takdir mempertemukannya dengan Nayla Rahmadania, gadis desa lulusan sarjana yang mandiri dan begitu tegas.
sanggupkah sang tuan muda bertahan melewati ujian berat ini, ataukah ia memilih menyerah dan memilih cara untuk kabur kembali ke kemewahan kota?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 5: Ujian Pertama di Ladang Berlumpur
Langkah kaki Arkan mendadak terkunci begitu mereka tiba di area Ladang Timur. Di depannya, terhampar petak-petak sawah yang baru saja dibajak, menyisakan genangan lumpur cokelat pekat yang tebal. Bau khas tanah basah dan pupuk alami langsung menyergap indra penciumannya, membuat hidung mancung pria kota itu mengkerut tajam karena jijik. Di Jakarta, tanah bagi Arkan hanyalah hiasan di pot bunga apartemen mewahnya, bukan lautan lumpur sejauh mata memandang seperti ini.
Nayla menghentikan langkahnya tepat di pembatas jalan setapak. Gadis itu menoleh, menatap Arkan dengan senyuman tipis yang sarat akan cemoohan. "Kita sudah sampai, Tuan Muda. Selamat datang di tempat kerja barumu. Balai desa ada di sebelah sana, jadi saya tinggal dulu ya. Selamat menikmati lumpur Sukmawarna."
Tanpa menunggu jawaban dari Arkan, Nayla melangkah pergi dengan santai menyusuri pematang sawah yang kering menuju balai desa. Arkan hanya bisa menatap punggung gadis itu dengan rahang yang mengeras, menahan kekesalan yang sudah menumpuk sejak subuh.
"Ayo, Arkan. Jangan cuma berdiri di sana seperti patung pameran pakaian," suara berat Pak Barkah membuyarkan lamunan Arkan. Pria paruh baya itu sudah melepas sandal jepitnya, menggulung celana kainnya hingga ke lutut, dan dengan santai melangkah turun ke dalam petak sawah. Lumpur cokelat langsung membenamkan kaki kekar Pak Barkah hingga sebatas betis.
Arkan menelan ludah. Kulit kakinya yang putih bersih dan terbiasa dirawat di klinik ketampanan Jakarta kini harus bersentuhan dengan hal menjijikkan itu?
"Saya... harus masuk ke dalam sana?" tanya Arkan dengan nada suara yang sedikit bergetar, mencoba memastikan pendengarannya.
Pak Barkah terkekeh pelan sambil menancapkan cangkulnya ke tanah lumpur. "Lalu kamu pikir kita ke sini untuk piknik? Cepat turun. Copot sandalnya, gulung celanamu. Hari ini kita harus meratakan tanah di petak ini sebelum matahari membakar kepala."
Dengan menahan rasa mual dan harga diri yang terkoyak, Arkan melepas sandal jepit karetnya. Ia menggulung celana kain longgar pinjaman Pak Barkah dengan tangan yang sedikit gemetar. Sambil menarik napas dalam-dalam, Arkan memberanikan diri menurunkan kaki kanannya ke dalam petak sawah.
Srett.
Sensasi dingin, lembek, dan lengket langsung membungkus kaki Arkan. Lumpur tebal itu terasa menyedot kakinya ke bawah. Arkan reflek memekik kecil, kehilangan keseimbangan hingga kedua tangannya terayun-ayun di udara demi menjaga tubuh tegapnya agar tidak jatuh terjembab ke depan.
"Sialan!" umpat Arkan pelan, wajah tampannya memerah padam karena merasa sangat konyol. Kaki kirinya terpaksa ikut turun, dan kini ia resmi terjebak di tengah-tengah lautan lumpur pedesaan. Setiap kali ia mencoba mengangkat kaki, lumpur itu seolah menahan bebannya dua kali lipat lebih berat.
Dari kejauhan, beberapa petani desa yang sedang menggarap petak sawah sebelah mulai menoleh ke arah mereka. Kedatangan seorang pemuda kota bertubuh tinggi, berwajah tampan mirip model majalah, namun bertingkah sangat kaku di dalam sawah tentu saja menjadi tontonan menarik yang langka. Bisik-bisik dan tawa kecil dari para warga mulai terdengar, membuat telinga Arkan terasa panas membara karena malu.
Pak Barkah melempar sebuah cangkul cadangan yang ukurannya sedikit lebih kecil ke arah Arkan. Arkan dengan sigap menangkap gagang kayu cangkul itu, meskipun telapak tangannya yang halus langsung terasa tidak nyaman memegang kayu yang kasar.
"Pegang yang kuat. Condongkan badanmu ke depan, lalu ayunkan cangkulnya dari atas ke bawah untuk membalik tanah yang masih keras di bagian pojok sana," instruksi Pak Barkah dengan gamblang.
Arkan mendengus. Hanya mengayunkan besi ini ke tanah? Berapa berat sih? pikirnya meremehkan. Di Jakarta, Arkan rutin pergi ke pusat kebugaran (gym) mewah dan mengangkat beban puluhan kilogram untuk membentuk otot tubuhnya. Pria berusia 25 tahun itu yakin tugas fisik seperti ini bukan hal yang sulit untuk kekuatan ototnya.
Arkan mengambil posisi, mengangkat cangkul itu tinggi-tinggi ke atas kepala, lalu mengayunkannya dengan tenaga penuh ke arah tanah lumpur di depannya.
Blup!
Mata cangkul itu memang menancap dalam ke dalam lumpur, namun karena tenaganya yang terlalu berlebihan dan tidak beraturan, cipratan lumpur cokelat pekat langsung menyembur ke atas. Lumpur basah itu mendarat dengan sukses di wajah tampan Arkan, bahkan mengotori kaus oblong putih polosnya hingga berubah menjadi penuh bintik-bintik cokelat.
"Argh!! Sialan! Bajuku!" teriak Arkan histeris. Ia menjatuhkan cangkulnya begitu saja dan sibuk menyeka wajahnya dengan punggung tangan, namun hal itu justru membuat lumpur di wajahnya semakin belepotan ke mana-mana.
Tawa para petani di petak sawah sebelah akhirnya pecah melihat nasib sial sang Tuan Muda. Pak Barkah sendiri hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil menahan senyum gelinya.
"Bertani itu pakai teknik dan perasaan, Arkan, bukan cuma pakai otot dan emosi besar," tegur Pak Barkah tenang. Ia mengambil kembali cangkul yang dijatuhkan Arkan dan menyerahkannya lagi. "Kalau kamu mengayunkannya seperti mau memukul musuh, lumpurnya jelas akan balas menyerangmu. Coba lagi. Pelan-pelan."
Arkan menerima gagang cangkul itu dengan napas yang memburu menahan dongkol. Napasnya mulai terasa terengah-engah, padahal ia baru berada di sawah selama lima belas menit. Udara panas Desa yang semakin menyengat mulai membuat peluh bercucuran deras dari pelipis dan lehernya, mencuci sebagian lumpur yang menempel di kulit wajahnya.
Arkan kembali mencoba. Kali ini ia mengayunkannya dengan lebih hati-hati. Meskipun tidak menghasilkan cipratan lumpur lagi, punggung dan pinggang Arkan mulai terasa sangat kaku dan nyeri setelah melakukan gerakan membungkuk dan mengayun selama hampir satu jam tanpa henti. Telapak tangannya yang biasa memegang pena mahal kini mulai terasa perih dan memerah, tanda-tanda akan melepuh akibat gesekan gagang kayu cangkul yang kasar.
Setiap menit terasa bagaikan siksaan batin bagi Arkananta Dewangga. Ia menatap langit yang mulai beranjak siang dengan rasa frustrasi yang mendalam. Di dalam hatinya, ia mengutuk keputusan ayahnya yang telah membuangnya ke tempat ini.
Namun, di tengah rasa lelah yang luar biasa dan tubuh yang dipenuhi lumpur kotor, ego Arkan yang keras kepala menolak untuk menyerah di depan Pak Barkah. Ia tidak mau dicap sebagai pria kota yang lemah dan manja, terutama jika hal itu sampai telinga gadis desa menyebalkan bernama Nayla. Dengan sisa-sisa tenaga dan harga diri yang dipertaruhkan, Arkan terus memaksakan tangannya yang perih untuk mengayunkan cangkul, membalik tanah lumpur di bawah terik matahari yang semakin membakar kulit.