NovelToon NovelToon
Nona Muda Jatuh Miskin

Nona Muda Jatuh Miskin

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:555
Nilai: 5
Nama Author: BUNGA LYONA

Valeska Aurelia punya tiga prinsip hidup: habiskan uang, tabrak aturan, dan jangan pernah dengarkan orang lain.

Sebagai putri tunggal konglomerat ternama, Valeska terbiasa hidup bak ratu yang tak tersentuh hukum. Pesta malam, mobil sport, dan deretan kartu kredit tanpa limit adalah makanan sehari-harinya.

Sampai dalam semalam, sebuah skandal besar menghancurkan bisnis keluarganya. Ayahnya dipenjara, aset disita, dan semua kartu kreditnya diblokir. Valeska yang kemarin dipuja-puja kini terdepak dari istananya dan terpaksa angkat kaki hanya dengan membawa satu koper berisi barang-barang tak berguna.

Dari kamar seluas lapangan basket ke kontrakan sempit yang airnya sering mati, Valeska dipaksa menghadapi kenyataan pahit: dia tidak tahu cara menyapu, kaget melihat harga mi instan, dan harus mencari uang sendiri.

Mampukah si Nona Muda yang ugal-ugalan ini bertahan hidup tanpa uang sepeser pun, atau gengsi setinggi langitnya justru bikin hidupnya makin berantakan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

13. Pulang Bareng Elang

Valeska menatap kotak makan plastik dan susu cokelat itu, lalu beralih menatap wajah Elang dengan tatapan tak percaya. Dada cewek itu bergemuruh—campuran antara rasa malu yang luar biasa, gengsi yang masih tersisa, dan kebingungan mendalam.

"Lo... mau ngetawain gue juga, kan?!" desis Valeska dengan suara serak menahan tangis. Dia menepis kotak makan itu hingga bergeser sedikit. "Enggak usah sok kasihan sama gue! Gue enggak butuh sedekah dari cowok miskin kayak lo!"

Elang tidak marah. Dia cuma menghela napas panjang, merogoh saku celananya, lalu menarik kursi di depan Valeska dan duduk berhadapan dengannya.

"Mulut lo masih aja pedas ya, padahal badan lo udah gemetaran gitu," kata Elang datar, menatap lurus ke dalam mata Valeska yang membengkak. "Gue enggak lagi ngetawain lo, Valeska. Gue juga enggak kasihan sama lo."

"Terus ngapain lo di sini, hah?!" bentak Valeska pelan, melirik takut-takut ke arah anak-anak kelas yang mulai memperhatikan mereka dari jauh. "Pergi lo! Gue males liat muka lo!"

"Gue cuma mau ngasih tahu satu hal," potong Elang tenang. "Dunia lo yang dulu emang udah hancur. Teman-teman lo yang cuma mau uang lo juga udah pada kabur. Tapi kalau lo tetep egois dan ngandelin gengsi sampah lo itu, lo bakal makin hancur."

Valeska mengepalkan tangannya di atas meja, bibirnya bergetar. "Lo enggak tahu rasanya jadi gue, Elang! Lo enggak tahu gimana rasanya kehilangan semuanya dalam semalam!"

"Gue tahu rasanya enggak punya apa-apa dari awal," balas Elang pedas tapi jujur. "Makanya gue tahu, orang yang enggak punya apa-apa tapi masih sok gengsi itu cuma kelihatan kasihan. Makan rotinya. Gue enggak mau repot digotong-gotong sama Pak Bambang lagi gara-gara lo pingsan."

Elang berdiri dari kursinya, merapikan seragamnya, lalu berbalik hendak meninggalkan kelas. Namun sebelum melangkah keluar pintu, Elang menghentikan langkahnya dan menoleh sedikit.

"Oh iya, satu lagi," tambah Elang. "Jangan ganggu Caca lagi. Masalah lo udah cukup banyak, enggak usah nambah musuh baru."

Valeska mematung di tempat duduknya. Pandangannya tertuju pada kotak susu cokelat di atas meja. Untuk pertama kalinya seumur hidup, orang yang paling dia benci dan dia hina justru menjadi satu-satunya orang yang tidak berpaling atau menendangnya saat dia berada di titik paling bawah.

Dengan tangan yang gemetaran hebat, Valeska perlahan meraih kotak susu itu, memeluknya erat di dada sambil menunduk dan terisak pelan di pojokan kelas yang dingin.

Air mata Valeska menetes makin deras, membasahi permukaan meja kayu yang berdebu. Isak tangisnya diredam rapat-rapat di balik lipatan lengan. Rasa lapar yang ditahannya sejak pagi kalah jauh dibanding rasa hancur di dadanya, tapi ucapan Elang benar-benar menusuk. Tanpa uang, tanpa teman, dan tanpa kekuasaan Papanya, gengsi tingginya tak lebih dari benteng kertas yang sudah terbakar habis.

Dengan jemari bergetar, Valeska akhirnya membuka sedotan plastik dan menusukkannya ke kotak susu cokelat pemberian Elang. Setiap tegukan terasa pahit di tenggorokan, bercampur dengan rasa asin air matanya sendiri.

Dari jauh, Giselle melirik ke sudut belakang kelas dengan pandangan sinis, lalu berbisik pada teman di sebelahnya. "Lihat tuh si Valeska, ujung-ujungnya mau juga makan pemberian si Elang. Kasihan banget ya, sekarang nyari perhatian ke anak beasiswa."

Valeska mendengar bisikan itu. Dulu, dia pasti sudah berdiri, memaki, atau melemparkan barang ke muka Giselle. Tapi kali ini, Valeska cuma memejamkan mata erat-erat, meremas kotak susu kosong di tangannya. Keberaniannya menguap.

Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi, disambut derap langkah murid-murid yang berhamburan keluar. Valeska sengaja melambatkan gerakannya, menunggu kelas benar-benar sepi agar tidak perlu berpapasan dengan siapa pun di koridor.

Saat keluar dari gerbang sekolah, hujan deras mendadak mengguyur bumi. Langit mendung tebal meredupkan sore. Murid-murid lain sibuk dijemput mobil-mobil mewah atau berlarian menuju kendaraan masing-masing. Valeska berdiri mematung di bawah atap pos satpam yang sempit, memeluk tasnya erat-erat agar tidak basah.

Dia merogoh saku roknya, melihat sisa uang tunai yang sangat tipis—bahkan tak cukup untuk membayar ongkos angkot sampai ke kontrakan barunya yang jauh di pinggiran kota.

BZZZT!

Sebuah motor matic hitam berhenti tepat di depan pos satpam. Pengendaranya mengenakan jas hujan transparan dan helm teropong. Ketika kaca helm itu dibuka, tampak wajah Elang yang datar.

Valeska refleks mundur satu langkah, memalingkan wajahnya ke samping. "Lo ngapain berhenti di depan gue? Mau pamer kendaraan lo?"

Elang mematikan mesin motornya, menatap Valeska dengan helaan napas pendek. "Naik. Hujan deras begini enggak bakal reda sampai malam."

"Gue enggak mau!" potong Valeska cepat, dadanya kembang-kempis menahan gengsi. "Gue bisa naik angkot!"

"Uang lo cukup?" tembak Elang lurus tanpa basa-basi.

Pertanyaan singkat itu membuat kata-kata Valeska tertahan di kerongkongan. Muka Valeska memerah padam.

"Gue kagak sudi boncengan sama lo," cicit Valeska pelan, suaranya hampir tenggelam di antara gemuruh hujan.

"Gue juga kagak sudi bawa cewek rewel kayak lo kalau bukan karena Bu Retno minta gue ngawasin anak-anak yang belum pulang," balas Elang dingin sambil melemparkan satu helm cadangan dari jok belakang ke arah Valeska. "Pakai helmnya. Atau lo mau berdiri di sini sampai besok pagi?"

Valeska memegang helm murah itu di tangannya. Dia menatap hujan deras yang makin menjadi-jadi, lalu menatap Elang yang menunggunya tanpa raut mengejek sedikit pun. Dengan bibir ditekuk rapat dan kepalanya yang menunduk dalam, Valeska akhirnya mengangguk pelan.

Valeska naik ke jok belakang motor matic Elang dengan canggung, memegang erat pinggiran besi di belakang jok agar tidak menyentuh punggung cowok itu. Hujan deras menerpa seragam mereka, namun helm yang terpasang rapat sedikit menahan dinginnya angin sore.

"Lo tinggal di mana sekarang?" teriak Elang dari balik helmnya, bersaing dengan suara deru hujan dan bising jalanan.

Valeska diam sejenak. Ada rasa perih yang menusuk dadanya saat harus menyebutkan kenyataan pahit itu.

"Di... di kontrakan kecil daerah Gang Mawar, dekat pasar induk," sahut Valeska pelan, suaranya hampir tenggelam.

"Apa? Daerah mana?" tanya Elang lagi, mengeraskan suaranya.

"Gang Mawar! Nanti dari lampu merah depan, lo belok kiri, lurus terus sampai ketemu gang sempit dekat tempat sampah umum!" seru Valeska akhirnya, menahan malu luar biasa.

Elang tidak bertanya lagi. Dia mengangguk pelan dari balik helm lalu menarik gas motornya, menembus genangan air di sepanjang jalanan menuju kawasan pemukiman padat di pinggiran kota.

Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit menembus hujan deras, motor Elang akhirnya berhenti di depan sebuah kontrakan berderet dengan cat hijau pudar. Jalanan gang yang sempit dan becek membuat Valeska buru-buru turun dari motor, melepas helmnya, lalu merapikan rambutnya yang agak basah.

Dari pintu kontrakan yang terbuka sedikit, seorang wanita paruh baya melangkah keluar. Mamanya Valeska—yang kini memakai daster sederhana tanpa riasan wajah mahal—menatap terkejut melihat putrinya pulang diantar seorang cowok naik motor matic.

"Valeska? Kamu pulang naik motor sama siapa?" tanya Mamanya panik mendekat.

Elang melepas helmnya, menampilkan wajahnya yang tenang meski kemeja seragamnya basah kuyup di bagian bahu. Dia tersenyum tipis dan menyalami tangan Mamanya Valeska dengan sopan.

"Sore, Tante. Saya Elang, teman sekolah Valeska," ucap Elang santai dan ramah.

Mamanya Valeska menatap Elang dengan raut wajah haru sekaligus serba salah. "Ya ampun, Nak Elang... Makasih banyak ya udah mau anterin Valeska pulang hujan-hujan begini. Maaf ya, rumah Tante lagi berantakan banget, enggak bisa persilakan masuk..."

"Sama-sama, Tante. Nggak apa-apa, santai aja," balas Elang halus.

Valeska yang berdiri di samping Mamanya cuma bisa menunduk, meremas tali tasnya rapat-rapat. Dia sangat bingung kenapa Elang yang biasanya sangat dingin dan tajam padanya, tiba-tiba mau melakukan ini semua.

Elang kemudian melirik ke arah Valeska sebentar, lalu kembali menatap Mamanya Valeska.

"Saya cuma mau nyampaiin tugas aja, Tante. Kemarin pas Papa Valeska dibawa, Beliau sempat berbisik ke Saya buat nitip Valeska dan mastiin dia pulang dengan selamat," kata Elang jujur tanpa berniat memamerkan kebaikannya. "Tugas Saya udah selesai sesuai omongan Papa Valeska kemarin, jadi Saya langsung pamit pulang dulu, Tante."

Mendengar hal itu, napas Valeska tertahan. Matanya membelalak menatap Elang yang kini kembali mengenakan helmnya. Ternyata... Papanya sempat meminta bantuan pada Elang sebelum dibawa polisi, dan Elang benar-benar memegang janjinya tanpa memedulikan betapa jahatnya Valeska selama ini padanya.

"Hati-hati di jalan ya, Nak Elang. Makasih banyak..." ucap Mamanya Valeska dengan mata yang kembali berkaca-kaca.

"Mari, Tante. Gue balik dulu, Val," pamit Elang singkat, lalu menyalakan mesin motornya dan berlalu membelah hujan, meninggalkan Valeska yang berdiri mematung menatap punggung cowok itu hingga menghilang di ujung gang.

1
Paw_chan🐾
bagus seru ceritanya
BUNGA LYONA: makasihh😍
total 1 replies
Fadillah Ahmad
Covernya Bagus... 👍 Cuma yaaa itu, sinopsisnya 'Belum bisa' menggetarkan hatiku 🙏🙏🙏 tidak ada adegan menegangkan, atau situasi menegangkan yang bisa menjadi Pertimbanganku. 🙏🙏🙏 Novel ini, masuk Berandaku soalnya... 😁😁😁🙏 'Mungkin' Lain kali aku akan mampir 🙏🙏🙏😁
Fadillah Ahmad: Baik Kak 🙏🙏🙏😁 Dari Segi Pemilihan Cover yang aku suka dari Novel ini... 🙏🙏🙏 Cuma, Unruk Sinopsia Kurang Kak 🙏🙏🙏 Kalau, judul sudah bagus 👍 Hanya di Sinopsis saja yang kena... 🙏🙏🙏😁
total 2 replies
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
wkwkwk 🤣🫵
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
He no no ya, gaboleh gitu
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
Ko lucu kalo di bayangin 🙈 jadi kaya rival gitu. moga akur nanti
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
Hedehhh Valeska Valeska🙂‍↔️🙂‍↔️/Facepalm/
♛ ⃟$𝑅࿐Λ𝐍𝐘Λ:𝙎𝙏𝘼𝙍𝆺𝅥⃝⭐🌊
Hai kaka, aku barusan baca deskripsi nya, dan itu menarik perhatian ku, semoga seru ceritanya. Semangat ya🥰💪
BUNGA LYONA: wahh makasih yaa😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!