NovelToon NovelToon
Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Terikat Pernikahan Dengan CEO Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aqilaa Kezia

Alisha Amanda hanyalah seorang gadis sederhana yang bekerja di sebuah toko roti demi menghidupi dirinya dan sang ibu. Sejak kepergian ayahnya, ibunya menjadi satu-satunya keluarga yang ia miliki.
Namun, hidup Alisha berubah ketika penyakit sang ibu semakin parah. Operasi dengan biaya yang sangat mahal menjadi satu-satunya harapan untuk menyelamatkan wanita yang paling ia cintai. Sayangnya, tabungan Alisha tidak cukup, bahkan untuk membayar sebagian kecil dari biaya tersebut.
Di tengah keputusasaan, sebuah tawaran tak terduga datang kepadanya.
Adrian Mahendra, seorang CEO muda yang dingin dan berkuasa, membutuhkan seorang istri demi mempertahankan posisinya di perusahaan keluarga. Terdesak oleh tuntutan orang tuanya dan ancaman kehilangan jabatan, Adrian menawarkan pernikahan kontrak selama satu tahun kepada Alisha.
Sebagai gantinya, Alisha akan mendapatkan uang yang cukup untuk membiayai operasi ibunya.
Bagi Adrian, pernikahan itu hanyalah kesepakatan bisnis. Tidak ada cinta, tidak ada

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aqilaa Kezia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 — Menjelang Hari Pernikahan

Sabtu pagi, Alisha Amanda sudah bersiap sejak pukul delapan.

Dia mengenakan blus sederhana berwarna krem dengan celana panjang hitam. Rambutnya diikat rapi, sementara tas kecil yang biasa dibawanya tersampir di bahu.

Sebelum berangkat, Alisha menyempatkan diri menelepon rumah sakit untuk menanyakan keadaan ibunya.

Setelah mendapatkan kabar bahwa kondisi Ratih Amanda cukup stabil, barulah dia merasa sedikit tenang.

"Ibu sudah sarapan, kan?" tanyanya melalui telepon.

"Sudah, Nak. Kamu sendiri mau pergi ke mana pagi-pagi begini?"

"Ada urusan sebentar, Bu. Alisha mau membahas beberapa persiapan."

Ratih terdiam sejenak.

"Persiapan pernikahanmu?"

Alisha menggenggam ponselnya sedikit lebih erat.

"Iya, Bu."

"Kalau begitu, hati-hati. Jangan terlalu memaksakan diri."

"Iya. Nanti Alisha telepon Ibu lagi."

Setelah menutup panggilan, Alisha memasukkan ponselnya ke dalam tas.

Dia sebenarnya tidak ingin terlalu banyak membicarakan pernikahan tersebut dengan ibunya sebelum semuanya benar-benar siap. Ratih masih membutuhkan waktu untuk memulihkan kesehatannya, dan Alisha tidak ingin menambah beban pikirannya.

Untuk sekarang, dia akan menyelesaikan urusannya satu per satu.

Alisha kemudian meninggalkan rumah dan berangkat menuju tempat pertemuannya dengan Daniel.

---

Pukul sepuluh kurang lima menit, Alisha tiba di sebuah restoran yang cukup tenang di pusat kota.

Daniel sudah menunggu di salah satu meja dekat jendela. Di hadapannya terdapat sebuah map berwarna hitam dan tablet yang digunakan untuk memeriksa jadwal.

Ketika melihat Alisha datang, Daniel segera berdiri.

"Selamat pagi, Nona Alisha."

"Selamat pagi, Pak Daniel. Maaf kalau saya membuat Bapak menunggu."

"Tidak masalah. Saya juga baru beberapa menit sampai."

Daniel mempersilakan Alisha duduk.

Setelah mereka memesan minuman, Daniel membuka map yang dibawanya.

"Saya sudah menyiapkan beberapa hal yang perlu kita bahas hari ini. Sebagian besar persiapan administrasi sudah berjalan, tetapi masih ada beberapa keputusan yang harus diselesaikan."

Alisha mengangguk.

"Baik, Pak. Silakan."

Daniel menjelaskan jadwal yang sudah disusun, termasuk beberapa keperluan yang harus diselesaikan sebelum hari pernikahan.

Alisha memperhatikan setiap informasi yang disampaikan.

Sesekali, dia bertanya mengenai hal-hal yang belum dipahaminya.

Tidak ada pertanyaan mengenai perasaan Adrian terhadap dirinya. Alisha juga tidak bertanya apakah pria itu merasa senang dengan pernikahan yang akan mereka jalani.

Dia tahu jawaban atas pertanyaan tersebut tidak akan mengubah tujuan mereka.

Pernikahan ini memiliki alasan masing-masing.

Dan dia tidak ingin membuang waktu untuk memikirkan sesuatu yang sejak awal memang tidak mereka rencanakan.

"Untuk dokumen perjanjiannya sendiri, apakah sudah selesai?" tanya Alisha.

"Rancangan akhirnya sedang saya periksa kembali. Saya akan memastikan semua ketentuan yang telah dibicarakan sebelumnya tercantum dengan jelas."

"Apakah nanti saya bisa membacanya sekali lagi sebelum menandatangani?"

"Tentu, Nona. Anda berhak memeriksa seluruh isi dokumen sebelum memberikan persetujuan."

Alisha mengangguk lega.

"Baik. Saya ingin memastikan semuanya jelas."

Daniel menutup sebagian dokumen di hadapannya.

"Kalau boleh saya tahu, apakah ada hal lain yang ingin Anda sampaikan kepada Pak Adrian?"

Alisha berpikir sebentar.

Sejujurnya, tidak banyak yang ingin dikatakannya kepada pria itu.

"Sepertinya tidak ada, Pak. Selama semuanya berjalan sesuai kesepakatan, saya tidak punya masalah."

Daniel mengangguk.

"Baik. Saya akan menyampaikan perkembangan persiapan ini kepada beliau."

Pertemuan berlangsung sekitar satu jam.

Setelah semua hal penting dibicarakan, Daniel menyimpan dokumen-dokumennya kembali ke dalam map.

"Kalau begitu, untuk hari ini semuanya sudah cukup. Jika ada perkembangan, saya akan menghubungi Anda."

"Terima kasih, Pak Daniel."

"Sama-sama, Nona."

Alisha berdiri dan merapikan tasnya.

Setelah berpamitan, dia meninggalkan restoran tersebut.

Daniel memperhatikan kepergiannya selama beberapa detik sebelum kembali duduk.

Alisha tidak banyak menuntut. Dia juga tidak berusaha meminta perhatian Adrian melalui dirinya.

Perempuan itu tampaknya hanya ingin semua urusan pernikahan selesai tanpa menimbulkan masalah.

Daniel kemudian mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Adrian untuk menyampaikan hasil pertemuan.

---

Di kantor Mahendra Group, Adrian sedang menghadiri rapat ketika telepon dari Daniel masuk.

Dia melihat layar ponselnya, lalu meminta salah seorang kepala divisi melanjutkan penjelasan sebelum menjawab panggilan tersebut.

"Ada apa, Daniel?"

"Maaf mengganggu, Pak. Saya hanya ingin melaporkan bahwa pertemuan dengan Nona Alisha sudah selesai."

"Bagaimana hasilnya?"

"Semua berjalan lancar. Nona Alisha sudah mendapatkan informasi mengenai persiapan yang tersisa."

"Baik. Lanjutkan saja."

"Untuk dokumen perjanjian, saya akan memeriksa kembali rancangan akhirnya sebelum menyerahkannya kepada Bapak."

"Pastikan tidak ada kesalahan."

"Siap, Pak."

Adrian mengakhiri panggilan.

Dia tidak menanyakan berapa lama pertemuan berlangsung atau apa yang dibicarakan Alisha di luar hal-hal yang berkaitan dengan persiapan.

Setelah meletakkan ponsel, dia kembali menatap layar presentasi.

"Kita lanjutkan," katanya kepada para peserta rapat.

Semua orang kembali memusatkan perhatian pada pembahasan perusahaan.

Bagi Adrian, tidak ada yang lebih mendesak daripada pekerjaan yang sedang ditanganinya.

---

Siang harinya, Adrian menerima telepon dari ibunya, Ratna Mahendra.

Dia baru saja selesai memeriksa laporan ketika nama ibunya muncul di layar ponsel.

Adrian mengangkat panggilan tersebut.

"Ya, Ma?"

"Kamu sedang sibuk?"

"Masih ada beberapa pekerjaan. Ada apa?"

Ratna mengembuskan napas kecil.

"Memangnya Mama harus punya urusan dulu baru boleh menelepon anak sendiri?"

Adrian terdiam sebentar.

"Bukan begitu, Ma. Aku cuma sedang bekerja."

"Mama tahu kamu sibuk. Tapi Mama ingin membicarakan persiapan pernikahanmu."

Adrian menyandarkan punggungnya pada kursi.

"Daniel yang mengurus semuanya."

"Mama tahu Daniel membantu. Tapi kamu juga harus memastikan semuanya berjalan dengan baik."

"Kalau ada yang perlu aku putuskan, Daniel pasti menghubungiku."

Ratna terdiam sesaat sebelum kembali berbicara.

"Adrian, Mama hanya ingin kamu benar-benar memikirkan keputusan ini."

Adrian memandang tumpukan dokumen di atas meja.

"Ma, keputusan ini sudah diambil. Aku tidak ingin membahasnya berulang kali."

"Setidaknya, kamu bisa mencoba mengenal Alisha dengan baik."

Adrian tidak langsung menjawab.

Dia bukannya tidak mengenal perempuan itu sama sekali. Mereka sudah bertemu dan membicarakan hal-hal yang diperlukan.

Namun, Adrian tidak memiliki keinginan untuk membangun kedekatan khusus.

Dia menerima pernikahan ini karena keadaan yang mengharuskannya mempertahankan posisi sebagai CEO. Ada kepentingan keluarga dan perusahaan yang membuat keputusan tersebut sulit dihindari.

Baginya, yang perlu dilakukan sekarang hanyalah menyelesaikan semua persiapan.

"Aku akan memperlakukannya dengan baik, Ma. Mama tidak perlu khawatir soal itu."

Ratna menghela napas pelan.

"Mama berharap kamu menepati perkataanmu."

"Iya, Ma."

"Kalau begitu, Mama tidak akan mengganggumu lagi. Jangan lupa makan siang."

Adrian melirik jam di dinding.

"Iya."

Setelah panggilan berakhir, dia meletakkan ponsel di meja.

Beberapa saat kemudian, dia kembali membuka laporan perusahaan.

Percakapan itu tidak membuatnya berubah pikiran mengenai pernikahan. Namun, dia memahami satu hal: ibunya mengharapkan dia memperlakukan Alisha dengan baik.

Dan itu bukan sesuatu yang sulit dilakukannya.

Adrian tidak perlu mencintai seseorang untuk memperlakukannya dengan hormat.

---

Sore harinya, Alisha mengunjungi rumah sakit.

Dia membawa beberapa kebutuhan ibunya dan langsung menuju kamar rawat setelah tiba.

Ratih sedang membaca majalah ketika putrinya masuk.

"Alisha."

Alisha tersenyum.

"Hai, Bu. Bagaimana keadaan Ibu hari ini?"

"Baik. Dokter tadi bilang kondisinya cukup stabil."

Alisha meletakkan barang-barang yang dibawanya, lalu duduk di samping ranjang.

"Syukurlah."

Ratih memperhatikan putrinya.

"Kamu sudah menyelesaikan urusanmu tadi?"

"Sudah, Bu."

"Bagaimana persiapannya?"

Alisha terdiam sebentar sebelum menjawab.

"Semuanya masih berjalan. Ada beberapa hal yang harus diselesaikan, tapi tidak ada masalah."

Ratih mengangguk.

"Ibu hanya berharap kamu tidak mengambil keputusan yang nantinya membuatmu menyesal."

Alisha menunduk memandangi tangannya.

Dia tahu ibunya mengkhawatirkannya.

Namun, dia juga tahu bahwa keadaan mereka saat ini tidak mudah. Alisha ingin melakukan sesuatu agar kehidupannya dan kehidupan ibunya bisa menjadi lebih baik.

"Ibu jangan terlalu memikirkan Alisha dulu. Yang penting Ibu cepat sembuh."

Ratih tersenyum tipis.

"Kamu selalu bilang begitu."

"Karena memang itu yang paling penting sekarang."

Alisha kemudian membantu ibunya mengambil air minum.

Mereka melanjutkan percakapan ringan mengenai makanan rumah sakit dan beberapa hal kecil lainnya.

Untuk sementara, Alisha memilih menikmati waktu bersama ibunya tanpa membahas terlalu jauh mengenai pernikahan yang semakin dekat.

---

Malam itu, Adrian masih berada di kantor ketika Daniel masuk membawa sebuah dokumen.

"Pak, ini rancangan akhir perjanjian yang sudah saya periksa."

Adrian menerima map tersebut.

"Sudah kamu pastikan semuanya?"

"Sudah, Pak. Namun, saya tetap menyarankan agar Bapak dan Nona Alisha membaca kembali seluruh ketentuannya sebelum memberikan tanda tangan."

Adrian membuka halaman pertama dan membaca beberapa bagian.

Dia memeriksa dokumen itu dengan cepat, tetapi tetap memperhatikan ketentuan-ketentuan utama yang tercantum di dalamnya.

Setelah beberapa menit, dia menutup map tersebut.

"Baik. Atur pertemuan berikutnya agar kami bisa memeriksa dokumen final."

"Baik, Pak."

"Kalau semuanya sudah disepakati, selesaikan administrasinya sesuai prosedur."

Daniel mengangguk.

"Siap."

Adrian mengembalikan map itu kepada Daniel.

"Untuk sekarang, cukup. Saya masih harus menyelesaikan laporan ini."

Daniel mengambil dokumen tersebut.

"Baik, Pak. Saya permisi."

Setelah Daniel keluar, Adrian kembali bekerja.

Tidak ada senyum atau ekspresi bahagia ketika dia memikirkan pernikahannya.

Pikirannya kembali dipenuhi angka, laporan, dan keputusan bisnis.

Dia sudah tahu apa yang harus dilakukan.

Pernikahan itu akan tetap berlangsung sesuai rencana, sedangkan kehidupannya sebagai CEO akan terus berjalan.

Dia tidak berniat mengubah prioritasnya.

---

Di rumah sakit, Alisha duduk di kursi dekat jendela setelah ibunya tertidur.

Dia memeriksa ponselnya dan membaca pesan dari Daniel mengenai jadwal pemeriksaan dokumen berikutnya.

Setelah membalas, dia meletakkan ponsel di pangkuannya.

Pernikahan itu semakin dekat.

Namun, Alisha tidak merasa perlu membayangkan kehidupan romantis bersama Adrian. Mereka bahkan belum benar-benar mengenal satu sama lain.

Dia hanya berharap pernikahan tersebut berjalan dengan tenang.

Dia ingin tetap bekerja, membantu ibunya, dan menjalani kehidupannya tanpa harus terlibat dalam masalah yang tidak perlu.

Alisha menoleh ke arah ranjang.

Ratih tertidur dengan tenang.

Melihat ibunya dalam keadaan seperti itu membuat Alisha merasa sedikit lebih kuat.

Apa pun yang akan terjadi nanti, dia akan berusaha menghadapinya.

Sementara itu, Adrian masih berada di kantornya, menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai.

Dua orang itu menjalani malam dengan kesibukan masing-masing.

Mereka tidak saling menelepon.

Tidak ada percakapan panjang yang menghubungkan kehidupan mereka.

Namun, beberapa hari lagi, keduanya akan berdiri di hadapan keluarga dan mengucapkan janji pernikahan yang akan mengikat mereka secara resmi.

Bagi orang lain, hari itu mungkin menjadi awal sebuah kisah cinta.

Bagi Adrian dan Alisha, hari itu hanyalah awal dari sebuah kehidupan baru yang mereka terima karena alasan masing-masing.

Dan untuk sekarang, tidak satu pun dari mereka berniat berharap lebih jauh.

1
Grend Levn
ceritanya menarik membuat ku penasaran bagaimana kelanjutannya kerenn
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan kamu itu Clarissa, sedemikian ga lakunya kamu ya sama bujangan, sampai orang udah punya istri juga kamu ganggu, hanya alasan masa lalu? Bodohnya kebangetan kamu
Aqilaa Kezia: Hehehe, sabar ya, Kak 😂 Clarissa memang bikin emosi. Terima kasih sudah membaca novelku! ❤️
total 1 replies
Ariany Sudjana
skak mat, bagus Alisha, kamu harus tegas menghadapi si pelacur murahan itu, tunjukkan kamu itu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, meskipun kamu istri CEO, tapi kelas kamu jauh di atas si pelacur murahan itu, yang hanya bisa berharap jadi istri CEO, tapi ga kesampaian
Aqilaa Kezia: makasih banyak Kak Arianya udah selalu dukung Alisha😍
total 1 replies
Ariany Sudjana
Adrian dan alisha harus tegas dan waspada, si pelacur murahan itu ingin menghancurkan rumah tangga kalian
Aqilaa Kezia: terimakasih ka Adriany udah membaca😊
total 1 replies
Ariany Sudjana
jangan menyerah Alisa, buktikan kamu perempuan baik-baik, cerdas dan mandiri, dan cocok mendampingi Adrian, jangan biarkan pelacur murahan itu menghancurkan rumah tangga kamu dengan Adrian
katya
😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!