**Perjodohan Pembunuh Naga dan Putri Naga**
Veronica, seorang naga setengah manusia, harus menikah dengan Altres Vanguard, kesatria terkenal yang dijuluki pembunuh naga. Pernikahan mereka merupakan syarat perdamaian antara bangsa naga dan manusia yang telah lama bermusuhan. Namun, menyatukan dua makhluk dari ras berbeda bukanlah perkara mudah. Veronica yang tidak memahami kehidupan manusia sering berselisih dengan Altres, sementara Altres sulit menerima kenyataan bahwa wanita yang menjadi istrinya adalah seekor naga.
Di balik pertentangan mereka, tersimpan luka masa lalu yang perlahan terungkap. Veronica kehilangan ibunya yang seorang manusia, menyaksikan bagaimana usia singkat sang ibu memisahkan mereka untuk selamanya. Sementara itu, Altres kehilangan ayah dan kedua kakaknya dalam perang melawan bangsa naga, meninggalkan kebencian yang sulit dihapuskan.
Seiring waktu, keduanya mulai memahami kesedihan dan ketakutan masing-masing. Di antara perbedaan, dendam, dan luka masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EMPIRE RAJA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 masa depan yang tertutup kabut
Beberapa hari berlalu, dan Grand Duke Floyen akhirnya berkunjung ke kediaman Vanguard untuk melihat keadaan Veronica. Rumor tentang kedekatan keduanya yang sudah menyebar ke seluruh Brune membuat hatinya sedikit lega, sebab hubungan diplomasi dengan ras naga tampaknya mulai memberikan hasil yang baik. Begitu kereta kudanya berhenti di halaman, para kesatria langsung berbaris menyambut kedatangannya dengan punggung tegak dan tangan terkepal di depan dada, sementara angin sore mengibarkan jubah mereka yang berwarna gelap. Altres berdiri di depan pintu dan menunduk memberi hormat, dengan sikap kaku yang sudah menjadi kebiasaannya setiap kali berhadapan dengan orang yang ia segani.
"Selamat datang di kediaman Vanguard, Yang Mulia," ucapnya tenang. "Jika Anda tidak keberatan, izinkan saya menjamu Anda dengan secangkir teh di ruang kerja saya."
Floyen tersenyum hangat sambil mengangguk. "Dengan senang hati, Altres. Aku bisa meluangkan waktu sebentar." Mereka berjalan beriringan menyusuri lorong panjang yang dindingnya dihiasi lukisan para Duke terdahulu, dan sesekali Floyen berhenti sejenak untuk mengamati salah satunya sebelum melanjutkan langkah menuju ruang kerja. Tak lama setelah pelayan menyajikan teh beserta kudapan ringan, Floyen menyandarkan punggungnya ke kursi sambil menatap Altres dengan sorot yang jauh lebih lembut daripada biasanya.
"Aku mendengar banyak hal belakangan ini," katanya sambil menyeruput tehnya perlahan dan mencomot sepotong kue kering dari piring perak di meja. "Para pelayan di jalan bahkan berbisik tentang Duke yang menggendong istrinya. Rumor tentang kedekatanmu dan Veronica sampai juga ke telingaku. Aku senang kalian mulai saling menerima."
Altres meletakkan cangkirnya dengan gerakan hati-hati, lalu menggeleng dengan rahang yang menegang dan tatapan yang menolak bertemu mata Floyen terlalu lama. "Itu tidak benar, Yang Mulia. Saya hanya membantu Veronica ketika ia kesakitan, tidak lebih dari itu."
Alis Floyen terangkat, dan cangkir di tangannya berhenti di udara. "Kesakitan? Apa yang terjadi padanya?"
"Istri saya sangat menyukai makanan manusia," jawab Altres sambil menghela napas pendek, seakan membicarakan sesuatu yang membuatnya lelah. "Namun nafsu makannya luar biasa besar. Setiap hari saya harus menyajikan hidangan yang cukup untuk sebuah pesta besar, dan kas keluarga Vanguard mulai menipis karenanya. Ia menyimpan harta di dalam gua tempatnya bersembunyi, jadi saya membawanya ke sana untuk mengambilnya. Hanya saja, harta itu ia bawa di dalam perutnya, dan itu membuatnya tersiksa."
Floyen terdiam sejenak, menatap Altres yang berbicara dengan wajah sedatar papan, mencerna penjelasan itu dengan kening berkerut, lalu tertawa pelan hingga bahunya bergetar. Wajahnya tampak lebih santai, seperti seseorang yang baru saja diberi tahu bahwa badai yang ia takutkan ternyata hanya hujan ringan. "Jadi hanya masalah seperti itu. Syukurlah. Aku sempat mengira ada sesuatu yang lebih serius, mungkin pertengkaran atau semacamnya." Ia meletakkan cangkirnya, lalu menautkan jemari di atas lutut. "Bagaimanapun juga, aku ingin aliansi dengan ras naga dipertahankan sampai pertempuran melawan naga iblis Karahan. Namun jika kau memang merasa senang dengan istrimu, kau boleh melanjutkan pernikahan ini."
"Saya tidak berniat melanjutkannya." Jawaban Altres meluncur cepat, dingin, dan tanpa keraguan. "Saya tidak ingin ada musuh dalam selimut di rumah saya sendiri. Ras naga masih menginginkan perang melawan manusia untuk menguasai dunia kami. Saya yakin itu."
"Itu tidak benar." Floyen menggeleng pelan dengan senyum tipis yang tak bergeser dari bibirnya, suaranya tetap setenang air danau di pagi hari. "Aku pernah melihat sedikit pandangan masa depan, Altres. Di sana manusia dan naga hidup berdampingan."
Altres menegakkan tubuh, matanya menyipit antara kaget dan curiga, sementara jemarinya mencengkeram sandaran kursi lebih erat dari yang ia sadari. "Apakah dalam pandangan itu Anda juga melihat masa depan saya dan Veronica?"
Floyen tersenyum samar tanpa kehilangan ketenangannya, lalu menggeleng sambil memutar cangkirnya perlahan. "Aku tidak bisa mengatakan apa yang terjadi. Jika kau mengetahuinya, kau mungkin akan mengubah masa depan yang kulihat itu."
Ucapan itu membuat dada Altres terasa berat, seakan ada sesuatu yang menekannya dari dalam, dan untuk sesaat ruangan itu terasa jauh lebih sempit daripada biasanya. Ia menatap pria paruh baya di hadapannya dengan tangan mengepal di atas lutut dan napas yang tertahan, yakin bahwa ada sesuatu yang buruk menanti antara dirinya dan Veronica. "Jadi ada hal buruk yang akan terjadi?" tanyanya pelan.
"Masa depan itu seperti jalan yang diselimuti kabut tipis," sahut Floyen dengan nada lembut yang menenangkan. "Semuanya masih bisa berubah setelah kita menembus kabut itu. Aku hanya bisa berusaha memastikan apa yang kulihat menjadi kenyataan."
Altres terdiam, dan tanpa sadar rasa kagumnya tumbuh pada pria di hadapannya. Cara Floyen berbicara begitu tenang, seakan ia sudah menyaksikan seribu badai dan tak lagi gentar pada satu pun. Floyen memiliki kedekatan dengan para dewa dan mengetahui hal-hal yang belum terjadi, sehingga namanya begitu dihormati. Dulu banyak orang yang mendukungnya menjadi kaisar berikutnya, tetapi ia memilih mengabdikan diri kepada dewa dan menjauh dari persaingan tahta. Altres menunduk menatap uap yang mengepul dari cangkir tehnya, lalu menghela napas pelan tanpa suara, bertanya-tanya dalam hati keteguhan seperti apa yang dibutuhkan untuk menolak kekuasaan sebesar itu.
Keheningan itu pecah ketika terdengar langkah ringan dari lorong, dan pintu terbuka pelan. Veronica melangkah masuk dengan rambut merah yang tergerai ringan di bahunya. Ia tadinya hanya ingin berjalan-jalan keliling kediaman karena bosan menunggu di kamar, tetapi begitu melihat Altres duduk bersama seorang pria asing, ia langsung menghampiri dan berdiri di sisi suaminya tanpa ragu.
"Oh, ada tamu rupanya," katanya santai sambil mengambil sebuah kue dari piring tanpa meminta izin, lalu melambaikan tangan kecil ke arah Floyen. "Halo, Grand Duke. Apa kabar?"
Altres memejamkan mata sesaat seakan menahan sakit kepala, lalu berdeham pelan untuk menutupi rasa malunya, sementara sudut bibirnya berkedut menahan helaan napas panjang. Namun Floyen sama sekali tidak tersinggung dengan sapaan tanpa tata krama itu. Ia justru tertawa kecil, lalu menatap Veronica dengan sorot ramah. "Kabarku baik, Nyonya Vanguard. Katakan padaku, apakah kau merasa bahagia tinggal di antara manusia?"
Veronica mengerucutkan bibirnya dan membuang pandangan ke jendela, seakan jawabannya adalah sesuatu yang cukup menyebalkan untuk diakui. "Dunia ini terlalu menyenangkan," keluhnya sambil melipat tangan dengan wajah yang jelas-jelas tidak sedang mengeluh. "Aku tidak menyangka akan sesulit ini untuk tidak menyukainya. Makanan manusia enak sekali, dan aku bisa berbicara dengan banyak orang, walau kadang mereka terlalu sopan. Terutama Emma, pelayan pribadiku. Dia selalu membantuku apa pun yang kubutuhkan."
"Kalau begitu," Floyen mencondongkan tubuhnya sedikit dengan senyum penuh arti, "apakah kau mau membantu suamimu mengurus rumah ini?"
Veronica mengerjap bingung dan memiringkan kepalanya dengan kening berkerut, lalu menoleh ke arah Altres seakan mencari bantuan untuk menerjemahkan kata-kata asing itu. "Mengurus rumah? Maksudmu apa?"
Floyen tidak langsung menjawab, hanya terkekeh pelan mendengar kejujuran itu. Ia mengalihkan pandangannya ke arah Altres dengan alis terangkat dan tatapan yang menuntut jawaban, bibirnya menahan senyum geli yang hampir lolos. "Apakah kau akan membiarkan istrimu hanya makan dan berdiam di kamarnya, Altres?"
"Itu demi kebaikannya, Yang Mulia," sahut Altres sambil menyilangkan lengan di dada, nadanya terdengar sedikit defensif. "Jika ia mengurus rumah dan bergabung dalam lingkungan sosial bangsawan tanpa pengetahuan yang cukup, pasti akan timbul masalah."
Veronica memandang suaminya dengan mata berbinar penasaran, bahkan sempat berhenti mengunyah kue di mulutnya. "Masalah apa? Aku benar-benar tidak mengerti maksud kalian berdua."
"Itu bukan sesuatu yang penting." Altres menghela napas, lalu menoleh padanya dengan nada tegas namun tidak kasar. "Kau hanya perlu menikmati kehidupanmu di kediaman ini."
Floyen menatap keduanya dalam diam sambil tersenyum tenang, sorot matanya seperti menyimpan sesuatu yang tak akan ia ucapkan, lalu menyesap tehnya sekali lagi dengan gerakan yang begitu santai. "Jangan lupa, Altres," ucapnya pelan namun jelas, "wanita itu adalah istrimu."