Yoselin berharap jika Edward akan mencintainya setelah pernikahan mereka berjalan selama dua tahun, tetapi sore itu Yoselin sadar sesuatu jika sampai kapanpun Edward tidak akan pernah meliriknya sedikitpun.
Sebuah pemandangan menyakitkan tertangkap mata Yoselin, Yoselin melihat Edward dan mantan kekasihnya Angela tengah berciuman diparkiran restoran, sejak saat itu juga hati Yoselin hancur, rasa percaya dirinya runtuh, saat itu juga Yoselin melepaskan Edward. Yoselin menyerah, disaat Yoselin mulai sibuk dengan dunianya, Edward merasa kehilangan, Edward mencoba memperbaiki tetapi dia sudah telat.
Di lain sisi seorang CEO bernama Javier Vernand Romero sangat tertarik dengan Yoselin, dia mengagumi Yoselin dari setiap sisi, Javier bertekad dalam hati jika dia akan memiliki Yoselin seutuhnya, tidak peduli Yoselin sudah menikah atau tidak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Resign Kerja
Yoselin menghela napas berat begitu ia kembali mendaratkan tubuhnya di kursi kerjanya. Pandangannya menyapu sekeliling ruangan divisi pemasaran Aura Beauty. Sepertinya hari ini benar-benar akan menjadi hari terakhirnya menginjakkan kaki di perusahaan ini. Akhir-akhir ini, hidupnya memang terasa begitu berantakan tanpa arah, pernikahan yang hancur lebur di ambang perceraian, lingkungan kantor yang berubah menjadi sangat toxic, ditambah lagi kehadiran seorang CEO V. Corp yang terus-menerus mengejarnya dan bersikap tergila-gila padanya. Semuanya sukses membuat tingkat stres di kepalanya mencapai batas maksimal.
"Bu Yoselin... Ada apa? Wajah Ibu kelihatan pucat sekali. Apa Pak Daniel berbuat sesuatu pada Ibu di ruangannya tadi?" tanya Melia, staf pemasaran setianya, dengan nada suara yang begitu khawatir.
Yoselin mendongak, menatap Melia sekilas lalu tersenyum tipis. "Tidak apa-apa, Melia. Hanya saja... sepertinya hari ini hari terakhir aku bekerja di sini."
Ucapan santai itu meluncur begitu saja, namun dampaknya langsung mengguncang seluruh ruangan. Sontak, seluruh anggota tim pemasaran yang sedang sibuk di kubikal masing-masing langsung menghentikan pekerjaan mereka. Dalam hitungan detik, mereka bangkit beramai-ramai dan mengerumuni meja Yoselin dengan raut wajah panik.
"Maksud Ibu apa, Bu? Jangan bercanda!" tanya Doni bingung, tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Yoselin menatap rekan-rekan satu timnya dengan sorot mata yang sarat akan kehangatan.
"Pak Daniel memberikan tekanan yang tidak masuk akal padaku dan meminta... ah, ralat, aku sendiri yang memilih untuk resign. Aku minta maaf yang sebesar-besarnya jika selama ini aku menjadi atasan yang keras atau kurang baik bagi kalian."
Seketika, suasana di dalam ruangan berubah menjadi penuh drama mengharukan. Para staf wanita di divisi itu langsung meneteskan air mata, berlari maju dan memeluk Yoselin secara bergantian. Sementara itu, para staf pria memilih membuang muka ke arah lain, berusaha keras menahan perasaan sedih dan sesak di dada mereka. Selama ini, di bawah kepemimpinan Yoselin yang sabar, adil, dan perhatian, tim mereka telah menjelma menjadi satu keluarga yang sangat hebat dan solid. Mereka telah melewati jatuh bangun bersama, dan kini, sosok pemimpin kesayangan mereka harus pergi begitu saja.
"Ibu tidak boleh pergi! Siapa yang bakal membela kita kalau Ibu tidak ada?!" Isak Melia di bahu Yoselin, memeluk atasannya erat-erat.
"Brengsek memang si Daniel tua itu! Pasti dia berbuat ulah lagi!" gerutu Melia kesal, melampiaskan kemarahannya pada sang CEO.
Yoselin tersenyum kecil, mengusap punggung Melia dengan lembut untuk menenangkan.
Namun, sebelum suasana haru itu berlanjut lebih jauh, pintu kaca ruang divisi pemasaran tiba-tiba terdorong terbuka dengan kasar. Sosok Daniel, sang CEO perusahaan, berdiri di ambang pintu dengan napas memburu dan wajah yang masih menyisakan rona pucat pasi.
"Yoselin!" panggil Daniel dengan nada suara yang berusaha ditegaskan, meski ada getar kepanikan yang kentara di sana.
Semua mata staf pemasaran langsung menoleh ke arah pintu.
Daniel melangkah masuk tergesa-gesa menghampiri meja Yoselin. "Kamu... kamu tidak diperbolehkan untuk resign! Kamu lupa tugas pentingmu menangani proyek V. Corp belum selesai?!" tukas Daniel, mencoba menahan egonya yang hampir runtuh di hadapan para karyawan.
Yoselin perlahan bangkit berdiri dari kursinya. Ia menatap atasan yang selama ini bersikap sewenang-wenang itu dengan pandangan dingin dan lurus.
"Pak Daniel, saya tahu persis batas tanggung jawab tugas saya sampai di mana," balas Yoselin dengan intonasi suara yang tenang namun menusuk.
"Hanya saja, saya adalah tipe orang yang tidak pernah mau mencampuradukkan antara permasalahan pribadi dan urusan profesional pekerjaan."
Daniel tertegun, lidahnya mendadak kelu mendengarkan ketegasan dalam suara Yoselin.
Belum sempat Daniel merangkai kata sanggahan, Yoselin melangkah satu tapak maju, melontarkan kalimat berikutnya yang seketika menghantam telak jantung sang CEO.
"Lagipula, kalau boleh saya mengingatkan... bukankah Bapak sendiri sudah menikah dan memiliki tiga orang anak di rumah? Berkelakuan tidak senonoh dan bermain-main dengan wanita lain di belakang keluarga tentu bukan hal yang bagus untuk citra seorang pemimpin perusahaan!" tegas Yoselin tanpa ragu sedikit pun.
Seketika itu juga, warna di wajah Daniel memerah padam menahan amarah dan rasa tersinggung yang teramat sangat.
"Apa maksudmu, Yoselin?!" bentak Daniel murka di hadapan seluruh staf.
"Kamu berani menuduhku berselingkuh?!"
Yoselin menghela napas berat, menatap Daniel dengan tatapan memprihatinkan. "Saya tidak sedang menuduh, Pak, saya hanya mengatakan kebenaran yang ada. Lisa dari divisi pemasaran juga sudah punya suami sah dan seorang anak berusia satu tahun di rumah. Jika pasangan sah kalian berdua sampai tahu soal hubungan gelap kalian ini, entah bagaimana respons mereka saat mendengarnya."
Deg.
Seluruh anggota tim pemasaran yang berdiri di sekeliling Yoselin spontan menutup mulut mereka dengan tangan masing-masing, membelalakkan mata karena terkejut luar biasa. Rahasia besar perusahaan akhirnya terbongkar! Jadi, gosip mengenai hubungan terlarang antara Daniel dan Lisa yang tidak lain adalah saingan berat Yoselin di divisi pemasaran ternyata benar adanya! Pantas saja selama ini Lisa selalu bebas keluar masuk ruang kerja CEO kapan pun ia mau, padahal kinerjanya tidak seberapa.
"Cukup, Yoselin! Jaga mulutmu!" sergah Daniel panik, keringat dingin mulai bercucuran di pelipisnya saat melihat para karyawannya kini menatapnya dengan pandangan penuh rasa jijik dan kecewa.
"Ada atau tidak adanya hubungan pribadiku dengan Lisa itu sama sekali bukan urusanmu! Intinya, surat resign itu tidak sah! Kamu tetap tidak boleh keluar dari perusahaan ini!"
Yoselin mendengus sinis. Ia melipat kedua tangannya di dada, menatap Daniel dengan tatapan menantang.
"Itu semua tergantung pada sikap Bapak sendiri. Saya tegaskan sekali lagi di sini, Pak Daniel, urusan pribadi dan urusan pekerjaan profesional sama sekali tidak boleh digabungkan!"
Daniel terdiam, napasnya memburu.
"Termasuk saat kekasih gelap Bapak si Lisa itu meminta Bapak menekan dan mengancam saya tadi pagi, mungkin?" sindir Yoselin tajam telak mengenai sasaran empuk.
Daniel mendadak kehilangan kata-kata. Ia benar-benar tidak menduga bahwa Yoselin mengetahui persis hubungan gelapnya dengan Lisa, padahal mereka selama ini bermain api secara sangat rapi dan diam-diam.
Melihat atasannya yang kini terpojok telak, Melia dan Doni saling berpandangan di belakang Yoselin. Mereka baru pertama kali melihat Daniel sosok atasan paling toxic, arogan, dan semena-mena di kantor ini kini tidak berkutik dan mati kutu di hadapan Yoselin.
Daniel menelan ludahnya dengan susah payah. Seluruh keangkuhan dan harga diri yang biasa ia pamerkan sebagai seorang CEO kini runtuh tak tersisa. Jika Yoselin benar-benar pergi hari ini, bukan hanya divisi pemasaran yang akan lumpuh total, tapi ia juga harus menghadapi amukan maut dari Javier Vernand Romero CEO V. Corp yang terang-terangan menunjukkan ketertarikan pada wanita ini.
Dengan sisa-sisa harga diri yang diinjak-injak, Daniel perlahan mengubah nada suaranya. Dari bentakan penuh amarah, kini berubah menjadi nada memohon yang menyedihkan.
"Yoselin... Kumohon..." ucap Daniel dengan suara bergetar pelan, sengaja merendahkan dirinya di depan seluruh karyawan agar Yoselin tidak jadi pergi.
"Jangan kirimkan surat resign itu ke HRD... Perusahaan kita butuh kamu. Aku... aku minta maaf atas kelakuanku tadi. Aku salah."
Seluruh anggota tim Yoselin terperanjat hebat menyaksikan pemandangan langka tersebut. Atasan mereka yang terkenal paling kejam dan semena-mena kini benar-benar berdiri memohon di hadapan Yoselin.
Yoselin menatap Daniel dengan datar, sama sekali tidak menunjukkan rasa iba. "Maaf, Pak Daniel. Keputusan saya sudah bulat. Harga diri saya jauh lebih berharga daripada harus bertahan di perusahaan yang dipimpin oleh atasan yang tidak punya integritas."
"Yoselin, tolong..." mohon Daniel sekali lagi dengan wajah memelas, nyaris putus asa.
"Katakan apa syaratmu supaya kamu mau tinggal? Kenaikan jabatan? Bonus besar? Apapun akan aku kabulkan!"
Yoselin menggelengkan kepalanya perlahan, lalu merapikan tas kerjanya di atas meja. Ia melangkah melewati Daniel begitu saja tanpa menoleh lagi.
"Simpan saja tawaran itu untuk diri Bapak sendiri," ucap Yoselin tenang saat melangkah melewati pintu divisi.
"Selamat tinggal, Pak Daniel."
Bersambung...