Harap bijak dalam memilih bacaan
Iblis Cinta Satu Malam, begitulah julukan yang diberikan oleh Rania pada pria playboy bernama Kaaran Dirga tersebut.
Dengan kekuasaannya, Kaaran bisa meniduri wanita mana pun yang dia mau dan dia tunjuk, tapi tidak dengan Rania. Karena penolakannya, gadis itu terpaksa harus berurusan dengan Kaaran dan para pengawalnya. Sampai-sampai Rania harus rela kehilangan pekerjaan yang sangat dia butuhkan karena gadis itu harus terus bersembunyi dan tidak ingin ditangkap oleh orang suruhan Kaaran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ita Yulfiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertahankan Atau Buang?
1 Bulan kemudian.
Semenjak kejadian waktu itu, aku tidak pernah lagi keluar rumah. Aku takut, saat aku keluar, pria brengsyek itu kembali memintaku untuk melayaninya. Beruntung karena semenjak aku tidak pernah keluar rumah, asisten Roy mau pun orang suruhannya yang lain tidak pernah ada yang menghubungiku, dan juga tidak pernah ada yang datang mencariku di rumah. Hal itu
membuat aku cukup lega.
Tapi akhir-akhir ini ada yang mengganggu pikiranku. Kalian ingin tahu apa itu? A-ku te-lat da-tang bu-lan. Dan itu sudah lebih dari 1 minggu lamanya.
Aku mulai khawatir, jangan-jangan, aku hamil. Oh my God, aku tidak bisa membayangkannya. Bagaimana reaksi ibu jika seandainya beliau tahu putrinya ini hamil. Pasti ibu akan sangat terpukul karena putrinya ini tidak bisa menjaga diri dengan baik. Padahal sudah dibekali dengan ilmu bela diri yang mumpuni.
Mungkin sebaiknya sekarang aku keluar rumah dan pergi ke rumah sakit untuk periksa diam-diam. Jangan sampai ada yang tahu mengenai hal ini. Aku harus merahasiakannya, terutamanya dari ibu dan Rina. Mereka tidak boleh tahu jika seandainya aku ini benar-benar hamil tanpa suami.
Aku mengambil kunci mobilku dan pergi sendiri tanpa ditemani oleh sopir atau pun kedua bodyguardku. Aku benar-benar ingin merahasiakan hal ini dari semua orang.
Jika seandainya aku benar-benar hamil, apa yang harus aku lakukan nanti? Ah, nanti sajalah baru aku pikirkan jalan keluarnya. Hamil atau pun tidak, aku baru akan mengetahui kebenarannya setelah memeriksakan diri pada dokter.
...***...
"Selamat, kehamilan Anda sudah memasuki usia 6 minggu," ucap dokter wanita yang baru saja selesai memeriksaku.
Dug. Jantungku seketika berdetak lebih cepat. Meski pun sudah aku prediksikan sebelumnya, akan tetapi aku tetap saja terkejut mendengarnya.
"Apa, Dok? Jadi saya benar-benar hamil?" tanyaku, ingin memastikan.
"Iya, Anda benar-benar hamil. Jadi sebaiknya mulai sekarang, Anda lebih memperhatikan kesehatan, makan makanan sehat, perbanyak istirahat, juga hindari stres, rokok, alkohol, atau apa pun itu yang bisa membahayakan tumbuh kembang janin Anda," pesan dokter tersebut.
"Baik, Dok. Terima kasih."
Dengan perasaan yang tidak menentu, aku pergi meninggalkan area rumah sakit. Aku melajukan mobilku menuju sebuah tepi danau. Di sana, aku ingin sedikit menenangkan pikiranku.
Aku keluar dari mobilku lalu duduk di sebuah kursi panjang. Aku lalu mengusap perutku yang masih rata.
"Nak, apa yang harus Mama lakukan? Mama tidak mungkin meminta pertanggung jawaban pria brengsyek itu. Jika dia mau bertanggung jawab, mungkin bukan Mama wanita pertama yang memintai pertanggung jawabannya. Mama adalah perempuan yang kesekian ribu yang pernah ditiduri olehnya."
Selama 1 jam aku terus duduk termenung di sana. Aku memikirkan nasib janin yang ada di dalam kandunganku sekarang. Apakah aku harus menggugurkannya atau mungkin harus mempertahankannya? Di usiaku yang masih tergolong sangat muda, yaitu 19 tahun, apakah aku mampu melalui semua ini tanpa sosok seorang suami?
Setelah cukup berpikir banyak, aku pun kembali melajukan mobilku menuju rumah.
...***...
Hari-hari berikutnya, aku menjalani hari-hariku dengan lebih banyak diam dan mengurung diri di dalam kamar. Aku tetap menyimpan rapat-rapat rahasia besar ini sendirian. Beruntung karena aku tidak mengalami morning sickness seperti yang sering dialami oleh sebagian besar wanita hamil pada umumnya, jadi tidak akan ada yang curiga kalau sebenarnya aku sedang hamil.
Yang ada di pikiranku akhir-akhir ini adalah, apa yang harus aku lakukan pada janin yang ada di dalam kandunganku saat ini. Mempertahankannya atau memilih untuk mengg*g*rkannya?
Kalau aku memilih mempertahankannya, apa yang harus aku katakan pada ibu dan adikku nanti jika kehamilanku ini sudah sampai diketahui oleh mereka. Tapi jika aku memilih untuk mengg*g*rkannya, aku juga tidak tega memb*nuh darah dagingku sendiri, meski pun sebenernya aku sangat membenci papa kandungnya.
Tok tok tok! Seseorang mengetuk pintu kamarku dari luar.
"Masuk!" teriakku. Ku lihat bi Lastri muncul dari balik pintu.
"Maaf mengganggu, Nona."
"Ada apa, Bi?" tanyaku seraya bangkit dari posisi berbaringku.
"Ada tamu yang mencari Anda di luar Nona," jawab bi Lastri.
"Tamu? Siapa, Bi?" tanyaku penasaran.
Setelah tinggal selama 1 bulan lebih di sini, baru kali ini ada tamu yang datang mencariku. Aku jadi penasaran, kira-kira siapa orangnya.
"Maaf, Nona. Saya juga kurang tahu."
"Oh, ya sudah, Bi. Kalau begitu, suruh tunggu saya sebentar, saya akan keluar menemuinya nanti."
"Baik, Nona."
.
Sekitar 10 menit kemudian. Aku akhirnya berjalan keluar dari kamar untuk menemui tamu yang datang mencariku tersebut.
Sebelum sampai di ruang tamu, ku lihat ibu sedang mengobrol dengan orang tersebut. Tapi aku belum melihat orang itu dengan jelas karena dia berlindung di balik sandaran kursi yang lumayan tinggi.
Begitu aku mendekat, aku langsung bertanya pada ibu, "Bu, siapa yang datang?" tanyaku sebelum melihat sendiri siapa orang itu.
Mendengar kedatanganku, tiba-tiba saja seorang pria berdiri dan membungkuk hormat ke arahku.
"Selamat siang, Nona. Saya datang ke sini untuk menjemput Anda."
B e r s a m b u n g ...
...__________________________________________...
...Guys guys guys! Dukungannya jangan sampe kelupaan ya, biar aku makin semangat nulis😉😁...
...Haduuuh🤦♀️ gak tau kenapa ini gak lulus review dari pagi😩 padahal gak ada yang hat hot hat🔥🔥...