Haruskah cinta dan pernikahan yang diberikan sahabatnya, ia kembalikan?
Ini gila!
cinta dan pernikahan yang Elea jaga untuk Radjendra dan demi amanah yang diberikan sahabatnya, Erika. justru malah dihancurkan oleh Erika sendiri.
Apa yang harus Elea lakukan?
Haruskah ia kembalikan cinta dan pernikahan itu?
Atau ia harus mempertahankannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saidah_noor, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita lain.
"Iya, Elea. Ini aku, Erika. Aku sudah sembuh aku sudah pulang dan ingin bertemu denganmu," suara Erika yang bahagia itu membuat Elea menghentikan tangisnya.
Sungguh membahagiakan sahabat dekat yang sudah lama pergi selama bertahun-tahun, tanpa kabar dan tanpa tahu dimana keberadaannya akhirnya bisa bertemu kembali dengannya.
"Sungguh, Er! Aku senang mendengarnya, kamu benar-benar sudah sembuh sekarang. Jadi kapan kita akan bertemu? Aku juga rindu tante dan om," tanya Elea sembari menghapus mukanya yang basah dengan kasar, ia berusaha agar terdengar bahagia oleh Erika.
Karena, pernikahan yang ia alami adalah amanah yang sahabatnya itu berikan. Kini ia akhirnya sembuh setelah berobat jauh, bahkan sampai keluar negri. Elea hanya tahu terakhir kali mereka bertelepon, Erika sedang berobat di Jerman.
Namun setelah Erika di operasi, ia tak lagi mendengar kabarnya dan dimana ia berobat. Orang tua Erika pun tak lagi menghubunginya, mereka seolah mengasingkannya dan melupakannya. Elea tak memikirkannya, ia hanya berharap Erika sembuh total.
"Besok kita bertemu, aku ingin istirahat," jawab Erika dengan tenang.
"Baiklah, kamu kasih lokasinya saja. Aku akan datang, pasti!" janji Elea untuk pertemuan mereka setelah sekian tahun lamanya.
"Aku tutup ya, El. Sampai ketemu lagi!" ucap Erika yang Elea angguki seolah sahabatnya itu ada didekatnya.
Elea tersenyum dalam tangisnya, kali ini bukan karena sedih oleh sikap Rajendra tapi karena bahagia. Sahabat lamanya ternyata sudah pulang dan akan bertemu dengannya, ia segera menghapus air matanya dengan lembut yang kembali menetes.
Rasa syukur yang teramat ia panjatkan, dengan tangan memutar kembali kebahagiaan mereka berdua. Dua sahabat lama yang tercipta karena orang tua mereka bersahabat, Erika tak hanya sahabat baginya tapi juga saudara. Mereka bahkan satu sekolah sejak di sekolah dasar.
Sejak orang tuanya meninggal karena kecelakaan, Erika lah yang mengajaknya tinggal bersama keluarganya. Dia dianggap saudara dan hidupnya dibiayai oleh kedua orang tua Erika, setelah kejadian suram terjadi semua berubah.
Erika dinyatakan mengidap kanker darah, ia harus selalu terbiasa dengan rumah sakit dan jarum suntik yang ia takuti. Sejak itulah semuanya bermula, Elea harus menerima amanah yang tak biasa dari sahabatnya tersebut.
Amanah untuk menikah dengan Rajendra, sebagai keinginan terakhir Erika jika ia mati.
Bahkan Elea tahu bahwa pasangan itu akan menikah tiga hari lagi, namun takdir berkata lain. Dirinya malah dipaksa untuk menggantikan posisi Erika, untuk menjadi pengantin Rajendra yang kabar pernikahan mereka sudah tersebar luas.
🌺🌺🌺
Malam harinya ...
Usai makan malam, Seperti biasanya Elea menunggu kepulangan suaminya. Ia memang membiasakan diri untuk tetap mementingkan suami dan anaknya, walau kadang harus hancur lebur oleh perkataan menyakitkan dari suaminya.
Tak selalu respon suaminya itu begitu manis, ia harus memaksakan diri tetap kuat dan tersenyum apalagi dihadapan anak kembarnya. Pura-pura bahagia dalam rumah tangga yang orang lain lihat dan nilai, bahwa keluarganya sangat sempurna.
Bayangkan saja, ia tak pernah menyentuh cucian atau alat makan kotor lagi. Segalanya sudah tercukupi dengan tinggal dirumah megah itu, ditambah suaminya yang rupawan membuat semua wanita iri pada keberuntungannya.
Beruntung menjadi istri Rajendra.
Namun, semua itu hanya terlihat dari luar rumah saja kebahagiaan itu tak terlihat diwajah polosnya.
Klek
Pintu kamarnya terbuka, menampakkan sosok yang sedari tadi ditunggu Elea. Segera ia menghampiri suaminya, mengambil tas kerjanya dan membukakan jasnya.
Tangannya sempat terhenti oleh aroma asing yang sering ia hirup sepulang suaminya, parfumnya sangat berbeda dari biasanya sebelum ia berangkat kerja. Dan itu hampir setiap pulang aromanya berubah, hal tersebut membuatnya curiga.
Matanya melirik pada suaminya sejenak, ingin bertanya tapi ragu. Akhirnya ia tak bertanya, dari pada suaminya mengira sudah menuduhnya.
"Aku siapkan air hangat, sekarang," ucap Elea yang langsung melengos ke ruangan lembab itu.
Sedangkan Rajendra membuka kancing lengan kemeja putihnya dan menggulungkannya hingga siku, ia abaikan apa yang istrinya katakan.
Ditengah mengalirkan air hangatnya pada bak, Elea terdiam. Pikiran negatif terus menusuknya walau ia berusaha mengabaikannya, aroma parfum yang sama padahal di rak khusus suaminya tak ada aroma parfum seperti itu. Tadi saat ia melihat tak kerjanya pun tak ada parfum dengan wangi peach vanila, parfum yang biasa dipakai oleh para wanita.
Parfum itu justru mengingatkannya pada sahabatnya yang menyukai aroma tersebut.
"Apa mereka sudah bertemu?" gumam Elea dalam hati, tangannya saling meremas dengan pikiran dipenuhi oleh rasa takut.
Jelas itu menakutinya, karena Rajendra dan Erika adalah mantan kekasih yang sama-sama cinta pertama.
Lantas, bagaimana dengan pernikahannya?
***
Malam berlarut, pikiran buruk itu terus mengusiknya. Erika sudah berada di kota ini sekarang. Ia cukup penasaran, hingga terus terpikirkan dan tak bisa memejamkan mata barang sedetik pun.
"Erika," suara igauan suaminya tak sengaja ia dengar, rasanya seperti sebuah pukulan yang menghajar ulu hatinya.
Elea bangun dan terduduk, ia melihat suaminya yang terlelap dengan senyum manis dibibirnya. Sepertinya Rajendra sedang bermimpi indah, tentunya dengan wanita yang ia panggil namanya barusan.
Cemburu mengusik jantung Elea, ia tak tahu bagaimana jika mereka bertemu lagi?
Akankah cinta dihati mereka bersemi kembali?
Akankah Rajendra menceraikan dan meninggalkannya?
Akankah ...?
Semua pertanyaan itu menyesakkan dadanya, bagaikan tertusuk oleh duri bayangan kehancuran.
Api marah mulai tersulut didalam batinnya, mengusiknya dan membakar cinta yang ada dihatinya. Cinta yang tak pernah terbalaskan dan tumbuh begitu saja oleh sikap perhatian Rajendra padanya.
Ia belum pernah jatuh cinta, ia belum pernah dekat dengan pria manapun. Mendapatkan perhatian yang lembut tentu membuatnya terjatuh pada cinta yang membara. Sayangnya, berkali-kali ia menaklukan hati suaminya selalu berakhir menyedihkan.
Ia singkapkan selimut hangat yang menutupi tubuhnya, kemudian melangkah menjauhi ranjang hangat itu. Ranjang yang menjadi saksi malam pertama mereka, sampai malam ini.
Elea membuka pintu balkon dan berjalan keluar, ia biarkan angin malam menyentuh tubuhnya tak peduli walau ia sakit karena mentalnya sudah hancur oleh sikap suaminya.
Kedinginan ia rasakan setiap hari, tak ada lagi kehangatan yang diberikan oleh Rajendra. Semuanya hanya ambigu, tak ada kejelasan sama sekali tentang pernikahan yang dia jalani.
Ting
Sebuah notifikasi terdengar mengganggunya, ia berpikir itu dari poselnya namun ternyata bukan. Ia melihat peringatan itu berasal dari benda pipih milik suaminya, ia mendekati nakas dan mengambilnya.
"Siapa ya, tengah malam begini?" gumamnya bertanya-tanya.
"Cintaku," ucap Elea begitu pelan dan bergetar, matanya membulat melihat nama yang tertera diatas layar.
Tangannya gemetar melihat pesan yang tak biasa, pesan itu muncul didepan layar dengan ketikan kecil dan terpotong oleh tiga titik.
"Aku rindu, padahal kita sudah bertemu tadi. Rasanya ingin terulang lagi, kapan ...." kalimatnya terhenti sesuai dengan isi pesan tersebut yang muncul didepan.
Ia mencoba membukanya, namun ponsel suaminya terkunci oleh sandi yang tidak ia tahu apa saja angkanya. Ia memutuskan menaruh perangkat itu kembali ketempat asalnya, yang jelas ia sudah tahu bahwa firasatnya tak pernah berbohong.
Bahwa suaminya memiliki wanita lain.