Alyssa hidup dalam pernikahan yang hancur bersama Junior, pria yang dulu sangat mencintainya, kini menolaknya dengan kebencian. Puncak luka terjadi ketika Junior secara terang-terangan menolak Niko, putra mereka, dan bersikeras bahwa anak itu bukan darah dagingnya. Di bawah satu atap, Alyssa dan Niko dipaksa berbagi ruang dengan Maureen, wanita yang dicintai Junior dan ibu dari Kairo, satu-satunya anak yang diakui Junior.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melon Milk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33
Alyssa berusaha menenangkan dirinya. Ia tidak memperlihatkan sedikit pun bahwa hatinya bergetar dan pikirannya kacau.
"Mommy…?" panggil Junior dengan suara ragu.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Niko dengan dahi berkerut. Ia dengan hati-hati menyerahkan dompet ke tangan ibunya.
"Kamu tidak diterima di sini. Pergi dan berhenti bicara pada ibuku seolah-olah kamu tidak pernah menyakitinya," lanjutnya dingin, penuh ketegasan.
"Niko," tegur Alyssa, tapi putranya sama sekali tidak menoleh.
"Aku minta maaf--" Junior mencoba bicara, tetapi Niko langsung memotongnya.
"Permintaan maafmu tidak akan mengembalikan semua yang hancur karena kamu. Jadi, kalau tidak keberatan, silakan pergi," ucap Niko dengan nada berwibawa.
Junior menunduk. Kata-kata itu menghantamnya lebih keras daripada tamparan apa pun.
"Nak, dia tetap lebih tua darimu," ujar Alyssa dengan tenang. "Jangan bicara seperti itu."
Ia tetap tidak ingin Niko kehilangan rasa hormat, bagaimanapun Junior adalah ayahnya.
"Mommy, siapa dia?" Cecil memeluk tubuh ibunya erat.
"Hai, Paman. Kamu temannya Mommy seperti Om Edgar? Kenapa Kakak marah sama kamu?"
Junior tak mampu menjawab. Tatapannya terpaku pada wajah Cecil.
"Anakmu?" tanyanya pada Alyssa.
"Dia… anakmu?"
Alyssa menelan ludah. Ia tak berkata apa-apa, hanya menatap rambut Cecil.
"Alyssa, dia anakku?" suara Junior semakin dalam dan serius.
"Selain Niko… kita punya anak lagi?"
'Dan sekarang kamu berani mengakui Niko sebagai anakmu?'
Cecil yang tak mengerti apa pun hanya menatap mereka bergantian.
"Mommy, maksud Paman itu apa?"
"Cecil, masuk dulu," ajak Niko.
"Tidak," Cecil menggeleng. "Aku mau tahu. Kayaknya Paman ini berantem sama Mommy."
"Katakan, Alyssa. Dia anakku?" Junior mengabaikan anak-anak dan hanya menatap Alyssa.
"Mommy… dia Daddy-ku?"
Pertanyaan itu keluar bersamaan, dari Cecil dan Junior. Alyssa menggigit bibirnya, air mata tak tertahan. Ia mengusap wajahnya kasar.
"Iya!" jawabnya dengan suara bergetar. "Dia anakmu. Siapa lagi?"
Junior menghembuskan napas panjang.
"Tapi kamu tidak punya hak memanggilnya anak. Kamu tidak pernah ada. Kamu tidak tahu bagaimana aku membesarkannya."
"Bagaimana aku bisa tahu kalau kamu menyembunyikannya dariku?" suara Junior meninggi. "Kamu menyembunyikan anakku!"
Plak!
Tangan Alyssa mendarat di pipi Junior.
Niko langsung menarik Cecil menjauh, tetapi mereka tetap menyaksikan pertengkaran itu.
"Niko saja tidak kamu akui, apalagi Cecil!" teriak Alyssa sambil menangis.
"Kamu pikir aku akan memberitahumu saat kamu sibuk mencintai Maureen? Tidak! Karena aku tahu kamu akan menyangkalnya, seperti yang kamu lakukan pada anak kita!"
Ia terisak, lalu terduduk sambil menutupi wajah.
"Kamu hanya peduli anakmu dengan Maureen! Anak-anak punya perasaan, Junior! Bahkan untuk mereka saja kamu tidak punya belas kasihan!"
"Mommy…" Cecil menangis kecil.
Junior menggigit bibirnya, air mata jatuh tanpa suara.
"Itu sebabnya kamu tidak berhak bertanya kenapa aku menyembunyikannya. Tidak satu pun bantuanmu ada untuk anak-anak!"
Lorong itu sunyi, hanya isak Alyssa yang terdengar.
Junior merasa lututnya lemas. Ia menatap dua anak itu, tatapan Niko penuh kebencian, Cecil penuh kebingungan.
Ia benar-benar ayah yang gagal.
Alyssa menarik kedua anaknya masuk dan menutup pintu, meninggalkan Junior berdiri terpaku.
Di dalam apartemen, Cecil menahan tangis.
"Mommy… dia Daddy-ku?"
Alyssa terdiam. Ia menatap Niko yang masuk ke kamar.
"Iya, Nak," jawabnya lirih. "Dia Daddy-mu. Daddy kamu dan Kakak."
"Mommy, aku mau sama Daddy. Aku mau peluk dia," pinta Cecil sambil memeluk ibunya.
Hati Alyssa remuk.
"Bukan sekarang, ya. Mommy masih menyelesaikan masalah dengan Daddy. Suatu hari, kamu akan bersamanya."
Cecil mengangguk.
Bukan sekarang.
Junior harus menebus semuanya, terutama pada Niko, sebelum benar-benar hadir dalam hidup mereka.
***
Tubuh Junior terjatuh lemas di kursi mobilnya, terparkir di depan rumah orang tuanya. AC menyala dingin, tetapi tubuhnya basah oleh keringat.
"Dia anakku…" gumamnya berulang.
Rasa bersalah menenggelamkannya.
Ia meninju setir pelan.
"Aku bodoh…"
Ia tak pernah hadir saat Alyssa hamil.
Tak pernah memberi apa pun pada anak-anaknya.
Ia bahkan tak tahu kata pertama Niko.
Semua salahnya.
Ia masuk ke rumah. Aura sedang berbincang dengan seorang teman.
"Seandainya aku punya cucu perempuan," ucap Aura.
Junior menghela napas.
"Junior!" sapa Aura ceria.
Ia langsung menuju Lazar yang duduk di dekat piano.
"Ada apa, Nak?" tanya Lazar.
"Ayah… tolong panggil Ibu," suara Junior bergetar.
Aura datang dan langsung dipeluknya.
"Ada apa? Kenapa kamu menangis?"
"Aku punya anak perempuan," bisiknya.
Aura tertegun.
"Apa?"
"Dari Alyssa," lanjut Junior. "Anakku… dan aku tidak pernah ada untuknya."
Aura duduk di sampingnya, terdiam.
"Berapa usianya?" tanya Lazar.
"Sekitar lima atau enam," jawab Junior lirih. "Cantik… seperti ibunya."
"Lalu apa yang akan kamu lakukan?" tanya Lazar.
"Aku tidak tahu," jawab Junior. "Aku ingin mereka kembali… tapi aku tidak tahu harus mulai dari mana."
Rumah itu kembali sunyi.
"Ada jalan, Nak," kata Lazar akhirnya. "Hidupmu belum berakhir."
Junior menunduk, air matanya jatuh.
"Aku menghancurkan semuanya."