Han Chuan adalah seorang anak desa yang ceria dan penuh semangat. Ia menghabiskan hari-harinya dengan melukis pemandangan dan bermain bersama teman-temannya di bukit kecil dekat desa. Hidupnya sederhana dan bahagia hingga suatu hari, segalanya berubah menjadi mimpi buruk. Saat sedang bermain bola bersama teman-temannya, langit tiba-tiba menggelap. Suara raungan aneh menggema dari hutan, dan makhluk-makhluk iblis menyerang desa tanpa ampun. Anak-anak yang bermain bersamanya menghilang satu per satu, ditelan oleh iblis saat di bersama ibunya. Ketika Han Chuan turun dari bukit, yang tersisa hanyalah pemandangan mengerikan desa hancur, dan jasad para penduduk berserakan. Dalam keputusasaan, ia juga menyaksikan ibunya yang ternyata seorang dewa yang turun tangan melawan para iblis. Namun malang, sang dewa tewas ditusuk dari belakang dan tubuhnya dilahap utuh oleh iblis. Rasa sakit dan amarah yang tak tertahankan membangkitkan kekuatan tersembunyi di dalam diri Han Chuan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FAUZAL LAZI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20 Penempaan Fondasi dewa
Sementara itu, di sisi lain arena ujian, Bai Ling telah tiba di pos penukaran inti iblis bersama tiga temannya. Tempat itu dijaga oleh beberapa tetua yang bertugas mencatat nilai peserta. Mereka masing-masing membawa kantong ruang yang berisi inti iblis hasil perburuan mereka.
Bai Ling menyerahkan kantongnya kepada penjaga. “Hitunglah semuanya,” ucapnya dingin.
Penjaga itu membuka kantong dan mulai menghitung dengan cepat. Suara dentingan inti iblis yang dikeluarkan satu per satu , Sinar energi dari setiap inti memantul di wajah Bai Ling yang menunggu dengan senyum percaya diri.
Setelah beberapa saat, perhitungan selesai. “Nilai inti iblis telah dicatat,” ucap penjaga itu sambil memberi tanda pada papan nilai.
“Baiklah, kita pergi,” kata Bai Ling dengan nada datar namun tajam. Ia menoleh pada tiga temannya yang berdiri di belakang. “Sekarang, kita cari Han Chuan… dan bunuh dia.”
Ketiganya mengangguk tanpa bicara. Aura pembunuhan tipis menyelimuti mereka saat mereka meninggalkan pos penukaran, langkah-langkah mereka bergema di antara pepohonan yang tertiup angin.
Di sisi lain halaman istana, Bai Mo menatap balok balok yang menampilkan nama masing-masing peserta. Ia melihat nama keponakannya, Bai Ling, mulai naik semakin tinggi di antara nama-nama lain. Cahaya dari balok bertuliskan Bai Ling bersinar lebih terang dari sebelumnya.
“Haha, bagus juga, keponakanku. Mari kita lihat… sejauh mana kau bisa melangkah dalam ujian ini,” ucap Bai Mo dengan senyum puas di wajahnya. Ia menyilangkan tangan di dada, matanya tak lepas dari cahaya balok yang terus memanjang, seolah menandakan kebanggaan keluarga Bai di depan semua orang.
Sementara itu, Han Chuan tengah berhadapan dengan seekor binatang iblis berbentuk beruang besar yang berdiri tegak di atas dua kaki. Seluruh tubuh makhluk itu dilapisi batu mengeras, dan dari celah-celah tubuhnya memancar nyala api merah menyala.
“Apa iblis beruang batu api sepertinya ini akan sulit?” ucap Han Chuan dengan nada santai sambil tersenyum tipis. Ia kemudian menegakkan pedangnya. “Tapi inti iblis sekuat ini sepadan untuk diambil.”
Dengan cepat, Han Chuan melesat ke depan. Tanah di bawah kakinya bergetar ketika tubuhnya menghilang dalam sekejap cahaya biru. Pedangnya menebas ke arah dada beruang itu, namun ketika bilah tersebut mengenai kulit batu keras makhluk itu, suara dentingan logam keras terdengar nyaring. Clang! Percikan api memancar dari benturan pedang dan kulit berlapis batu tersebut.
Han Chuan langsung melompat mundur beberapa langkah, kedua matanya tetap menatap lawannya tanpa berkedip.
Beruang batu api itu mengaum keras.Suaranya bergema hingga ke pepohonan di sekitar hutan. Tubuh besar itu lalu menerjang dengan kecepatan mengejutkan, tanah di bawah kakinya pecah ketika ia melangkah maju. Cakar besar yang diselimuti api menyapu udara menuju Han Chuan.
Melihat serangan itu datang, Han Chuan segera mengangkat pedangnya dan menangkis. Benturan keras terdengar. Clang! Percikan api kembali berhamburan di antara keduanya. Getaran dari serangan itu membuat kaki Han Chuan sedikit mundur ke belakang.
Beruang batu api itu membuka mulutnya lebar-lebar, api keluar dari tenggorokannya, dan berusaha menggigit kepala Han Chuan.
Dengan cepat Han Chuan mengaktifkan teknik gerakannya. “Teknik Rahasia—Gerakan Guntur!” teriaknya. Dalam sekejap, tubuhnya menghilang dari tempat semula dan muncul kembali beberapa meter di belakang, meninggalkan bayangan biru samar di udara.
Begitu mendapatkan jarak aman, Han Chuan kembali menyiapkan pedangnya. Matanya bersinar tajam, lalu ia menekan pedangnya ke tanah dan bersiap melancarkan serangan balasan. “Teknik Rahasia, Lukisan dalam Pedang—Tebasan Musim Gugur!”
Pedang Han Chuan bergetar, mengeluarkan cahaya biru yang disertai garis hitam seperti tinta yang menari di udara. Dalam sekejap, tebasan energi besar meluncur dengan cepat, membelah udara.
Tebasan itu menghantam beruang batu api tepat di bagian kepala. Energi pedang biru-hitam tersebut memotong makhluk itu dari mulut hingga ke ubun-ubun. Tubuh raksasa itu terhenti sejenak sebelum akhirnya ambruk ke tanah,di sertai debu dan percikan api menyebar di sekitarnya.
Han Chuan menurunkan pedangnya perlahan, napasnya teratur. Ia berjalan mendekati tubuh beruang itu yang sudah tak bergerak, lalu menancapkan pedangnya ke kepala makhluk itu. Dengan gerakan cepat, ia mengeluarkan inti iblis berwarna merah menyala yang bersembunyi di dalam tengkoraknya.
“Lumayan,” gumamnya sambil menatap inti itu yang berkilau panas di telapak tangannya. “Inti seperti ini akan memberi nilai tinggi.” Ia lalu memasukkan inti iblis itu ke dalam kantong ruangnya sebelum melangkah pergi, meninggalkan tubuh beruang batu api yang masih mengeluarkan sisa api di sekujur tubuhnya.
“Sepertinya inti iblisku sudah cukup banyak. Lebih baik aku mencari tempat yang aman untuk menyerapnya dan mulai melakukan penempaan Fondasi Dewa milikku,” ucap Han Chuan sambil menatap sekeliling hutan yang sunyi.
Pandangan matanya kemudian tertuju pada sebuah bukit di depannya. Di sana, tampak sebuah lubang besar menganga seperti gua alami. “Kelihatannya tempat itu cukup cocok untuk menyerap inti iblis,” gumamnya.
Han Chuan melangkah mendekat dengan waspada. Saat tiba di mulut gua, hawa panas samar menyentuh kulitnya. Ia sempat melirik sekeliling dan tersenyum kecil. “Jadi ini tempat tinggal iblis beruang tadi,” katanya pelan sebelum masuk ke dalam.
Begitu berada di dalam, ia menepuk kantong ruang di pinggangnya, dan dalam sekejap puluhan inti iblis berwarna merah, oranye, dan keemasan melayang keluar, menyala redup di udara seperti bola-bola api kecil. Cahaya dari inti-inti itu menerangi seluruh gua, memantul di dinding batu yang kasar.
Han Chuan menarik napas panjang. “Baiklah, waktunya memulai.” Ia mengambil beberapa inti iblis, memasukkannya ke dalam mulut, lalu duduk bersila di tengah gua. Ia menanggalkan pakaiannya agar aliran energi dari inti iblis dapat mengalir lebih lancar ke seluruh tubuhnya.
Dengan cepat, panas dari energi iblis mulai menyebar. Kulitnya memerah, urat-urat di leher dan lengan menonjol, dan hawa panas menguar di sekitarnya. “Teknik Pelebur Matahari!” serunya pelan.Sekejap kemudian, kesadarannya terserap masuk ke dalam ruang batin.