Follow IG @Lala_Syalala13
Anya, seorang gadis miskin yang bekerja sebagai pelayan, tak sengaja menyelamatkan Marco Valerius, bos mafia kejam yang sedang sekarat akibat pengkhianatan.
Terpikat oleh kemurnian Anya yang tulus, Marco yang posesif memutuskan untuk "membeli" hidup gadis itu.
Ia menghancurkan dunia lama Anya dan mengurungnya dalam kemewahan sebagai bentuk perlindungan sekaligus kepemilikan.
Di tengah ancaman maut dari musuh-musuh Marco, Anya terjebak dalam sangkar emas, berjuang antara rasa takut dan ketertarikan pada pria yang terobsesi menjadikannya milik selamanya.
Bagaimana kelanjutan ceritanya???
Yukkkk kepoin
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lala_syalala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OSRM BAB 33_Labirin Bayang-bayang
"Marco." panggil Anya pelan di tengah kesunyian lorong.
"Aku minta maaf karena merahasiakan ini, aku hanya... aku tidak ingin melihatmu terus-menerus kehilangan orang-orangmu karena kesalahanku." lanjut Anya.
Marco yang berjalan tepat di belakangnya tidak langsung menjawab.
Suara napasnya yang berat dan langkah kakinya di atas lantai tanah yang becek adalah satu-satunya jawaban untuk beberapa saat.
"Kamu pikir dengan memberikan akses pada Liora, masalah ini selesai?" suara Marco terdengar dingin, memantul di dinding lorong.
"Liora adalah pedang bermata dua Anya, dia tidak membantu karena belas kasihan tapi dia membantu karena dia ingin melihat kekaisaran Valerius berhutang padanya, dan di duniaku hutang adalah rantai yang lebih berat dari penjara mana pun." ucap Marco dengan dingin.
"Tapi setidaknya kita hidup Marco! Jika kita tetap di atas sana, kita akan mati sebagai pahlawan yang sombong di tengah reruntuhan!" balas Anya, ia berhenti dan berbalik menatap Marco.
Lampu senter di dada Marco menyinari wajah Anya, menciptakan bayangan tajam.
"Mati dalam pertempuran adalah hal biasa bagiku Anya, tapi kehilangan kendali atas duniaku sendiri... itu adalah kegagalan yang tidak bisa kuterima." ucapnya.
Marco melangkah maju, mempersempit jarak di antara mereka hingga ujung hidung mereka nyaris bersentuhan.
"Tapi melihatmu tadi... berdiri di depanku, memegang kunci keselamatan kita... aku menyadari satu hal. kamu bukan lagi gadis pelayan kedai kopi yang ketakutan. Kamu mulai menjadi bagian dari kegelapan ini, Anya dan itu membuatku takut sekaligus bangga di saat yang sama."
Anya merasakan getaran di suaranya, ia ingin membantah, ingin mengatakan bahwa ia tetaplah Anya yang sama, namun ia tahu itu bohong.
Tangannya kini terbiasa dengan berat senjata, matanya terbiasa melihat darah, dan otaknya kini bekerja untuk memprediksi serangan.
"Kita harus terus jalan," ucap Anya lirih, membuang muka dari tatapan intens Marco.
Setelah hampir satu jam menyusuri lorong yang seolah tak berujung, mereka sampai di sebuah pintu besi yang tersamar oleh akar-akar pohon besar.
Begitu pintu itu dibuka, udara dingin pegunungan yang segar langsung menyambut mereka.
Mereka keluar di sebuah lereng bukit yang tersembunyi, jauh dari area utama estate yang kini tampak seperti obor besar di kegelapan malam.
Dari kejauhan Anya bisa melihat api yang melahap vila indah itu, tempat yang sempat ia anggap sebagai rumah kedua, kini musnah.
"Tuan, unit penjemputan sudah berada di titik ekstraksi dua kilometer dari sini," lapor Bram setelah memeriksa komunikatornya yang kembali mendapatkan sinyal.
Namun, sebelum mereka sempat bergerak, sebuah cahaya lampu laser berwarna merah muncul di dada Marco.
"Jangan bergerak," sebuah suara wanita terdengar dari kegelapan hutan di depan mereka.
Dari balik bayang-bayang pohon pinus, muncullah sosok wanita yang tampak sangat elegan namun mematikan.
Ia mengenakan setelan jas hujan berwarna krem yang rapi dengan rambut hitam pendek yang dipotong simetris.
Di tangannya, ia memegang sebuah pistol dengan peredam suara, namun senjatanya tidak diarahkan untuk membunuh tapi setidaknya sekarang belum.
Dia adalah Liora.
"Marco Valerius," ucap Liora dengan senyum tipis yang misterius.
"Rumahmu terbakar dengan sangat cantik dari sini, seperti akhir dari sebuah era." ucap Liora.
Marco mendorong Anya ke belakang tubuhnya, tangannya sudah siap di gagang pistolnya.
"Liora, aku seharusnya tahu kamu akan menunggu di sini untuk melihat kehancuranku." sahut Marco.
Liora tertawa kecil. "Kehancuranmu? Tidak Marco aku di sini untuk menawarkan masa depan, Moretti tidak akan berhenti dan Vittorio sudah menandatangani kontrak kematianmu di Milan, jalur yang kuberikan pada gadismu ini hanyalah permulaan." ujarnya.
Liora mengalihkan pandangannya pada Anya. "Terima kasih atas pesannya, Anya. kamu memiliki insting yang jauh lebih baik daripada pria keras kepala ini."
"Apa maumu, Liora?" tanya Anya mencoba menjaga suaranya agar tidak gemetar.
Liora menurunkan senjatanya. "Vittorio memiliki rahasia di sebuah bank di Singapura, dokumen yang bisa membuat The Syndicate memalingkan muka darimu dan menganggap Vittorio sebagai liabilitas. Jika kau membantuku mengambilnya, aku akan memastikan Moretti ditarik mundur malam ini juga." ucap Liora.
Marco mendesis. "Mengambil sesuatu dari bank itu sama saja dengan bunuh diri."
"Lebih baik bunuh diri dalam misi daripada mati terpanggang di rumah sendiri, bukan?" balas Liora tajam.
Anya menatap Marco lalu menatap Liora, ia menyadari bahwa petualangan mereka di pegunungan sudah berakhir, dan sebuah babak baru yang lebih berbahaya di tengah belantara beton Singapura sedang menanti.
Konflik ini kini bukan lagi tentang bertahan hidup, tapi tentang menyerang balik ke jantung organisasi yang mengendalikan hidup mereka.
"Kita akan melakukannya," ucap Anya tiba-tiba.
Marco menoleh padanya terkejut. "Anya, apa....."
"Tidak ada jalan kembali, Marco," potong Anya.
"Jika kita ingin benar-benar bebas, kita harus memiliki kartu as itu, dan aku akan ikut bersamamu, ke mana pun." ucap Anya.
Marco menatap Anya lama, mencari keraguan di matanya namun tidak menemukannya, ia akhirnya menghela napas panjang dan menatap Liora.
"Siapkan jetnya, Liora. Tapi jika ini adalah jebakan, aku pastikan kamu adalah orang pertama yang kubawa ke neraka."
Liora hanya tersenyum dan memberikan isyarat pada timnya untuk muncul dari kegelapan.
Di bawah langit malam yang kelabu, di antara sisa-sisa api yang membakar masa lalu mereka, sebuah aliansi yang tidak suci telah terbentuk.
Anya Clarissa, sang cahaya yang dulu redup kini berdiri tegak di samping sang monster, siap untuk membakar dunia demi masa depan yang masih samar.
Mereka mulai berjalan menembus hutan, meninggalkan reruntuhan estate yang berasap.
Di depan mereka, lampu-lampu kota dan intrik internasional menanti, perang sesungguhnya baru saja mendapatkan bahan bakar baru.
Singapura menyambut mereka dengan hawa lembap yang tertata dan aroma aspal yang baru saja disiram hujan tropis.
Dari jendela lantai 52 sebuah penthouse eksklusif di kawasan Marina Bay, kota ini tampak seperti sebuah sirkuit elektronik raksasa yang bercahaya yaitu dingin, presisi, dan tak kenal ampun.
Sangat kontras dengan reruntuhan estate mereka yang masih berasap di kaki gunung Jawa Barat.
Anya berdiri di depan jendela kaca setinggi langit-langit, menatap bayangannya sendiri.
Ia mengenakan gaun tidur sutra berwarna sampanye yang disediakan Liora.
Di lehernya, ia tidak lagi mengenakan kalung pemberian Marco yang lama tapi benda itu kini digantikan oleh sebuah choker perak tipis yang sebenarnya adalah alat pelacak dan pemancar sinyal darurat terenkripsi.
"kamu terlihat seperti orang asing bagi dirimu sendiri, bukan?"
Suara Marco muncul dari balik bayang-bayang ruangan yang minim cahaya.
Pria itu baru saja selesai membersihkan diri, ia mengenakan jubah mandi hitam, rambutnya masih basah, dan meski luka-lukanya masih terasa nyeri, langkahnya tetap menunjukkan otoritas seorang penguasa yang sedang menyusun rencana pembalasan.
.
.
Cerita Belum Selesai.....
...FOLLOW IG @LALA_SYALALA13...
...ULASAN DAN BINTANG LIMA NYA🌟...
...FAVORITKAN CERITA INI ❤️...
...VOTE 💌...
...LIKE 👍🏻...
...KOMENTAR 🗣️...
...HADIAHNYA 🎁🌹☕...
tapi di sini yg bikin aku kesel Anya ngk mau dengerin omongan Marco
ceritanyabagus
ibu kasih bunga wes Thor 🌹lanjut lg seru nih salam👍💪