Siapa bilang niat balas dendam akan berakhir sesuai rencana?
Buktinya nih si Nisa!
Hatinya udah di buat jungkir balik sama Aziz. Tetap aja hatinya gak bisa berpaling dari pria galak yang acap kali berkata nyelekit di hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mahlina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
...🏃🏼♀️🏃🏼♀️🏃🏼♀️🏃🏼♀️...
Maap sebelumnya ada revisi buat bab 2.
“Kau! Mau menindas ku ya?” tanya Nisa tanpa saringan, dengan suara bergetar.
Aziz mengunci pergerakan Nisa, usai memojokkan wanita itu di dinding pembatas dapur dan ruang tengah. Ke dua tangan Aziz bak dinding kokoh yang membatasi gerak wanita yang ada di hadapan nya kini.
“Kalo bukan karena mu, Tuan Alex dan Nyonya Wati pasti tidak akan meninggal kan ku dengan gadis pembuat masalah seperti mu, Nis!”
Nisa mendongak dengan senyum lebar, “Benarkah? Bukan kah kamu senang berada di dekat ku, Aziz? Kamu hanya mencari masalah dengan ku, pada hal kamu sedang mencari celah untuk tetap dekat dengan ku!”
Aziz berdecak kesal, “Tinggi sekali rasa percaya diri mu?”
“Harus itu! Apa lagi menghadapi mu! Si asisten koki yang judesnya na uju bilah kalo udah ngebacot! Belum lagi sikap mu yang so dingin! Udah jutek, galak pula! Aku gak kaget sih, kalo selama ini gak ada wanita yang mendekati mu! Kalo boleh di ibaratin nih ya! Kamu itu singa liar!” kekeh Nisa.
Aziz menghembuskan nafas nya kasar, “Aku tidak butuh pendapat mu soal wanita! Dan seperti nya kamu lupa, sejauh ini gak ada pria yang mau dengan mu? Macan betina liar!"
"Satu hal lagi yang harus kamu ingat, Nisa! Aku juga bisa bersikap kejam pada mu!” imbuh Aziz dengan serius.
“Sayang nya aku gak percaya kamu bisa bersikap kejam! Aku hanya lihat kamu gak punya hati!” ejek Nisa.
Dari ruang depan, suara melengking dari Sabah terdengar nyaring sampai ke ruang dapur.
“Kalian sedang buat makan siang atau berdiskusi hah! Kenapa kami sama sekali belum mencium aroma masakan! Suara kalian sedang tempur dengan alat masak aja gak kedengeran!” cerocos Sabah gak sabaran.
“Sebentar ayah, aku sedang berdiskusi dengan kekasih ku! Masakan apa yang akan kami hidangkan di meja makan.” timpal Nisa dengan nada meyakinkan.
Suara Naraya kini terdengar, “Jangan lama ya sayang! Mama udah gak sabar mau makan masakan calon mantu!”
Aziz mengerdikkan dagu nya, “Kamu dengar itu? Dengan rencana bodoh mu itu! Kita akan membuat kedua hati orang tua mu hancur, setelah mereka mengetahui kenyataan. Aku bukan calon menantu nya!”
“Mau jadi menantu sungguhan nya pun aku gak masalah, Aziz! Palingan aku yang akan membuat hari mu kacau balau, Aziz!” goda Nisa.
Aziz tersenyum sinis, “Sayang nya aku gak tertarik dengan gadis ceroboh seperti mu, Nis! Untuk memandang wajah mu saja, aku muak, Nis! Apa lagi harus hidup bersama dengan mu? Sama saja dengan mimpi buruk bagi ku!” sarkas Aziz.
Nisa mengerucut kan bibir nya kesal, “Jahat sekali bibir mu itu kalo sudah bicara, Ziz! Kita bahkan belum ada 1 hari, menjalani hari sebagai sepasang kekasih pura pura di depan orang tua ku. Tapi sudah kamu babat aku dengan pikiran mu yang buruk pada ku!”
“Bukan dari pikiran ku! Tapi dari kenyataan hidup mu dengan segala kecerobohan mu, Nis!” sarkas Aziz.
“Dasar pria menjengkel kan! Perlu aku ingat kan lagi? Kita ini masih di rumah orang tua ku, Aziz, sayang! Soooo, bersikap lah baik pada ku!” beo Nisa dengan nada manja.
Aziz bergidik geli, menatap tajam Nisa, “Apa kamu pikir, aku takut menindas mu saat kita sedang berada di rumah orang tua mu, hem! Kamu duluan yang mengibar kan bendera permusuhan pada ku, Nisa!” ujar Aziz dengan datar.
Bukan nya takut, justru dengan santai nya Nisa mengalung kan ke dua tangan nya di leher Aziz.
‘Aziz pasti akan berkeringat dingin! Secara menghadapi ku yang bersikap genit di depan nya! Eh salah deh, bukan genit, tapi aku sedikit menggoda kadar hati nya yang sedingin es!’ pikir Nisa, mengerlingkan mata nya pada Aziz.
Jedag jedug.
‘Bodoh! Kenapa dia gak takut? Apa yang akan gadis ceroboh ini lakukan? Tapi jantung ku, wah gak beres. Sekarang malah berdetak cepat.’ umpat Aziz, melirik lengan Nisa yang mengalung di leher nya dengan manja.
Nisa berjinjit, berbisik manja di telinga Aziz, “Aku atau kamu yang mengibarkan bendera perang lebih dulu, hem?”
Bak melangkah tanpa suara, ke dua orang tua Nisa sudah berdiri di depan dapur. Keduanya di kejutkan, dengan pemandangan yang gak biasa dari putri tunggal nya dan teman pria anaknya itu.
“Astaga!” Naraya menutup mulutnya gak percaya, sementara Aziz dan Nisa langsung menoleh ke asal suara.
'Putri ku bisa seagresif itu sama pria yang di cintai nya? Ya ampun, Nis! Kamu udah kaya soang, nyo sor duluan!' pikir Naraya, melihat Nisa yang tampak tengah mencium pipi Aziz.
Sabah menggeleng gak percaya, namun ia berhasil menyembunyi kan rasa bangga di hati nya.
'Benar apa kata orang tua dulu. Anak pasti niru tingkah orang tua nya. Sampai Nisa pun bisa meniru ku. Putri ku yang nyo sor duluan hahahay! Ini baru darah ku mengalir di tubuh mu nak!' pikir Sabar.
“Nisa! Aziz! Sengebet itu kah kalian ingin manja manjaan?” beo Sabah, tanpa saringan.
Aziz menyingkirkan ke dua tangan nya dari dinding, ‘Sia lan! Kenapa mereka berdua sampai menyusul ke dapur! Apa sebegitu lapar nya kah? Persis demit, datang gak di undang, pulang gak di antar.’
Tapi sayang nya ke dua tangan Nisa masih betah di leher Aziz. Wanita itu bahkan dengan sengaja menahan tangannya.
‘Ahahahay deh! Gua lagi nih yang bakal menang, bakal lebih di untungkan dengan situasi yang terjepit seperti sekarang!’ pikir Nisa, menatap Aziz penuh kemenangan
“I- ini gak seperti yang om dan tante lihat!” ujar Aziz, berusaha menyingkirkan tangan Nisa dari leher nya yang bak capit kepiting, sulit menyingkir.
‘Dasar gadis licik! Apa lagi sih yang ada di pikiran nya! Kenapa terus membuat ku susah!’ umpat Aziz menatap galak Nisa.
“Gak seperti yang kami lihat gimana maksud kamu, Ziz? Sudah jelas kamu yang mengukung Nisa!” sentak Sabah dengan nada tinggi.
“Saya tidak mengukungnya, ka- kami hanya sedang bicara!” dusta Aziz, dengan jemari nya yang kini balik di genggam Nisa.
Senyum merekah di bibir Nisa, ‘Aku akan membuat mu semakin susah, Aziz!’
'Astagaaa apa lagi ini! Kenapa Nisa malah menggenggam tangan ku!' batin Aziz
“Heh anak muda! Apa kamu pikir mata ku ini sudah buta? Tidak bisa melihat dengan jelas!
Naraya menggenggam tangan Sabah.
“Jangan marah marah, yah! Inget umur!” beo Naraya.
Nisa melirik ibu, dan ayahnya dengan nada terkekeh, “Ibu sama ayah kaya gak pernah muda aja nih! Kalian juga pernah muda kan!”
“Pasti tau gimana hati ku jika berada dekat dengan mu, sayang!” beo Nisa dengan nada manja, netranya dalam menatap Aziz.
Pletak.
Bersambung …
lain kamar aja lah nis bukan muhrim loh ,tadi kata mu ini itu macam tau itu salah kalau masih satu kamar ya pada Bae itu mah 🤣🤣🤣