Warning! Area 21+ yang masih di bawah umur harap tidak membaca novel ini. 🙏😁
Seorang gadis bernama Elisa yang punya segalanya dalam hidup, ia cantik, populer dan kaya raya. Hidupnya begitu sempurna, namun tak banyak yang tahu jika ia mempunyai trauma masa kecil karena penghianatan sang ayah yang menyebabkan ibunya meninggal bunuh diri.
Lima belas tahun berlalu. Sebelum sang ayah meninggal, beliau menulis sebuah surat wasiat yang bertuliskan bahwa seluruh harta kekayaannya akan jatuh ke tangan sang putri tunggalnya. Dengan syarat Elisa harus menikah dan melahirkan keturunan penerus keluarga.
Elisa yang tak percaya dengan adanya cinta sejati mulai mencari cara agar ia mendapatkan warisan tersebut. Dan saat itulah seorang pria sederhana muncul di hadapannya karena meminta Elisa membatalkan penggusuran pemukiman tempat pria itu tinggal.
"Aku akan membatalkan penggusuran itu dengan satu syarat, menikahlah denganku, setelah aku hamil dan melahirkan kamu akan aku bebaskan." Elisa Eduardo.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon alya aziz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.21 (Aku cemburu?)
Sekitar pukul delapan pagi. Elisa keluar dari kamar setelah selesai mandi dan berpakaian, jangan tanya dia memakai pakaian apa karena lagi-lagi ia langsung memakai apa yang ia ambil di lemari.
Setelan training dan jaket yang tidak terlalu tebal menjadi pilihannya. Ia berdiri di hadapan Reynald yang baru saja keluar dari kamar mandi yang ada tidak jauh dari kamarnya.
"Kamu pakai baju ku, lagi?" tanya Reynald seraya mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk kecil.
"Iya kenapa, apa ini juga pemberian wanita itu?" tanya Elisa balik seraya mendelik tajam kearah Reynald.
Reynald langsung menggelengkan kepalanya, "Bukan, itu aku beli sendiri. Apa kamu mau aku belikan baju lain? kamu kan harus ke kantor."
"Tidak perlu, aku akan ke kantor dengan ini. Viola sudah membawa pakaian ku disana." Elisa melangkah duduk di sebuah sofa yang ada di sudut ruangan yang ada di lantai dua ruko itu. "Kamu bersiap-siap lah, tolong antar aku ke kantor."
Reynald hanya bisa memandangi Elisa dengan tatapan tak percaya. Ia benar-benar bingung dengan jalan pikiran sang istri, bagaimana bisa seorang pewaris EA grup datang ke perusahaan dengan setelan training seperti itu. "Baiklah tunggu aku siap-siap dulu."
Reynald masuk kedalam kamar dan meninggalkan Elisa yang sedang duduk seraya memainkan ponselnya. Tak lama setelah Reynald masuk kedalam kamar, Jack muncul dari ujung tangga dan langsung menghampiri Elisa.
"Selamat pagi Elisa, kamu terlihat berbeda dengan pakain itu." sapanya saat berada di hadapan Elisa.
"Eh Kak Jack, ya aku tidak membawa pakaian ganti." Melihat Jack yang baru saja datang, tiba-tiba ia mempunyai sebuah ide. "Duduk sini kak, aku ingin bicara sebentar."
Meskipun terlihat bingung dan salah tingkah, Jack beranjak duduk di samping Elisa. "Mau bicara apa?"
Wajahnya nampak sangat serius, ia mendekati Jack dan mulai bicara pelan. "Aku tau cuma kakak yang bisa aku percaya ... aku ingin minta tolong awasi Reynald saat ia sedang di sini, kabari aku saat Sofia datang atau sesuatu lain yang menurut kakak mencurigakan, bagaimana bisa kan?"
Jack terperangah tak percaya karena baru saja di minta menjadi seorang mata-mata untuk mengawasi temannya sendiri. "I-iya bisa, aku bisa." Dan anehnya ia malah menerima tawaran itu.
"Bagus, sekarang kita kerja sama. Ingat jangan beritahu siapapun ini hanya di antara kita saja, oke." Elisa mengulurkan tangannya ke hadapan Jack.
Jack nampak ragu, namun ia tetap menjabat tangan Elisa sebagai tanda setuju atas kerja sama antara mereka. "Oke, aku akan tutup mulut."
Elisa tersenyum lega karena rencana dadakanya berhasil. "Bagus, sekarang aku minta nomor rekening dan nomor ponsel kak Jack."
Jack mengeryit heran, "Untuk apa?"
"Minta saja jangan banyak tanya."
Akhirnya Jack menyebutkan nomor ponsel dan nomor rekeningnya kepada Elisa.
Tak lama muncul notifikasi dari ponselnya, matanya membulat seketika, saat melihat uang sebesar dua puluh juta masuk kedalam akun M-banking miliknya. "Du-dua puluh ju-juta!"
"Ssttt, jangan berisik ingat ini rahasia. Nanti akan aku tambah lagi setiap informasi yang kak Jack berikan."
Jack menatap Elisa dengan ekspresi tak percaya, kini ia semakin sadar bahwa bagi seorang sultan uang senilai dua puluh juta bukanlah apa-apa. "Siap Bos, saya akan melaksanakan tugas sebaik mungkin."
Klek.
Pintu kamar terbuka, Reynald memicingkan matanya saat melihat Jack dan Elisa sedang bicara berdua dan duduk berdampingan. "Apa yang kalian bicarakan, serius sekali."
Jack sampai terperanjat kaget saat tiba-tiba mendengar suara Reynald. "Eh Rey, kami hanya mengobrol."
"Iya benar, kami hanya mengobrol. Ternyata Kak Jack ini lucu juga, haha." Elisa terlihat lebih tenang di banding Jack.
Meski merasa curiga karena tiba-tiba saja Elisa dan Jack menjadi dekat, ia tetap berusaha bersikap normal. Ia melangkah mendekat dan langsung meraih tangan Elisa agar berdiri dari duduknya. "Ayo aku antar ke perusahaan."
"Oh baiklah." Elisa berbalik melihat kearah Jack. "Sampai jumpa lagi Kak Jack, jangan lupa hubungi aku ya."
Reynald mendelik tajam kearah Jack dan Elisa. Sebenarnya mereka sedekat apa kenapa harus kabar-kabaran segala. batin Reynald.
"Ayo pergi, ini sudah siang jalanan macet," sahut Reynald yang terdengar kesal.
Elisa kembali berbalik menatap Reynald. "Sabar, kamu tidak pamit dengan Melvin?"
"Dia masih tidur, malam tadi pasti dia begadang bersama teman-temannya." Reynald menoleh kearah Jack yang sedang asik menatap jumlah uang di ponselnya. "Jack aku pergi dulu ya, aku akan datang lagi siang nanti."
"Oke, hati-hati di jalan," ucap Jack lalu kembali menatap layar ponselnya. Ia masih tidak menyangka akan mendapatkan uang sebanyak itu dari Elisa.
Reynald menarik tangan Elisa berjalan menuruni tangga. Tak lama Melvin muncul dari dalam kamar dengan muka bantalnya. "Kak Jack sudah datang."
Jack kembali mendogak untuk melihat Melvin yang sedang berdiri di hadapannya. "Oh hy Vin, gimana pestanya seru?"
"Ya seru lah ... oh iya Kak Rey dan Kak Elisa mana?"
"Baru saja pergi, Rey bakal balik nanti."
Melvin akhirnya bisa bernapas lega, sebenarnya ia masih malu karena menyaksikan percintaan kakak dan iparnya pagi tadi. "Huft, syukurlah kalau begitu. Aku masih syok karena melihat kejadian tadi pagi."
Sontak Jack langsung menghampiri Melvin. "Kejadian apa, mereka bertengkar?"
Melvin menggeleng perlahan. "Bukan yang ini bikin merinding."
"Apa sih jangan buat penasaran deh." Jack menatap Melvin dengan serius.
"Ada deh, Kak Jack nggak boleh tau, kan jomblo." Melvin segera berlari mejauh sebelum tekena pukulan dari Jack.
"Astaga dasar bocah, pake ngatain segala lagi," ucap Jack seraya memandangi kepergian Melvin.
...**...
Dalam perjalanan menuju perusahaan, Reynald tidak henti-hentinya melirik kearah Elisa yang sedang memainkan ponselnya sambil tersenyum-senyum sendiri. Ia pun menduga bahwa Elisa sedang berbalas pesan dengan Jack. "Kamu sedang chatingan dengan Jack?"
Mendengar pertanyaan itu sontak Elisa langsung menoleh kearah Reynald. "Tidak, kamu kenapa, cemburu?"
"Aku cemburu? Haha mana mungkin," ujar Reynald yang tetap fokus menatap jalanan.
"Baguslah kalau begitu, Kak Jack juga tidak buruk, tidak suka membentak ku dan bicaranya juga lembut ," ucap Elisa yang sengaja memanas-manasi Reynald.
"Hey berhentilah memanggilnya Kakak, dia itu masih seumuran dengan ku, tapi kamu hanya memanggil ku Rey, Reynald. Apa-apaan itu jelas-jelas aku ini suami mu, kamu benar-benar wanita yang aneh sangat aneh.
Elisa hampir tak berkedip saat mendengar ocehan Reynald. Bukannya kesal tapi ia malah terlihat tersenyum. "Kamu juga ingin di panggil kakak, ayo katakan saja kalau mau."
"Tidak aku tidak mau dipanggil seperti dia, aku ... ahk lupakan saja, sepertinya tekanan darah ku sedang naik makanya emosi ku tak terkendali. Kamu benar sepertinya kita memang harus ke rumah sakit, pasti ada yang salah dengan diriku."
Elisa hanya tersenyum seraya memandangi Reynald yang sedang fokus menyetir. Kenapa tiba-tiba dia menjadi menggemaskan seperti ini, lucu sekali, batin Elisa.
Bersambung 💓
Jangan lupa like komen vote ya readers 🙏😊