Penasaran dengan ceritanya yuk langsung aja kita baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35: Kunjungan ke Balik Jeruji
BAB 35: Kunjungan ke Balik Jeruji
Hawa dingin dari dinding beton yang tak dicat menyambut Maya saat ia melangkah masuk ke ruang kunjungan Lembaga Pemasyarakatan. Bau pembersih lantai yang tajam dan denting pintu besi yang dikunci menciptakan suasana yang mencekam. Di balik sekat kaca tebal, duduk seorang pria yang hampir tidak dikenali Maya.
Baskoro. Pria yang dulu selalu tampil klimis dengan jas ribuan dolar itu kini mengenakan seragam oranye yang kusam. Rambutnya sudah memutih seluruhnya, dan tangannya yang dulu memegang kendali atas gedung-gedung tertinggi di Jakarta kini tampak gemetar saat memegang gagang telepon komunikasi.
"Terima kasih sudah datang, Maya," suara Baskoro terdengar parau lewat intercom. Tidak ada lagi nada angkuh atau ejekan di sana.
"Apa yang ingin Anda sampaikan, Pak Baskoro? Yudha bilang ini penting," jawab Maya dengan nada datar.
Baskoro menatap Maya dengan tatapan kosong yang dalam. "Aris... dia adalah sahabat terbaikku sebelum keserakahan meracuni kepalaku. Kalian pikir kalian sudah menemukan semua rahasianya di pilar nomor dua belas, bukan?"
Maya tertegun. "Ada lagi yang Bapak sembunyikan?"
Baskoro tertawa kecil, sebuah tawa yang berakhir dengan batuk kering. "Aris memiliki satu proyek terakhir yang ia sebut 'Kota Senja'. Bukan hanya satu gedung di bantaran sungai, tapi sebuah cetak biru untuk mengubah seluruh kawasan pesisir Jakarta agar tidak tenggelam pada tahun 2050. Dia memberikan salinan aslinya kepadaku sepuluh tahun lalu untuk diarsipkan, namun aku menyembunyikannya karena aku ingin menjual idenya kepada pengembang asing."
Baskoro merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan secarik kertas kecil yang ia tempelkan ke kaca. Di sana tertulis sebuah koordinat geografis dan sebuah nomor brankas di sebuah bank swasta yang sudah lama tutup.
"Aris tidak pernah ingin menghancurkan Mahakarya. Dia ingin Mahakarya menjadi pemimpin dalam arsitektur penyelamatan lingkungan. Akulah yang menghancurkannya," lanjut Baskoro, air mata mulai menggenang di matanya yang lelah. "Surat paten di bank itu akan membuat Rumah Senja tidak bisa digugat oleh siapa pun, termasuk Sterling Global, karena ia terhubung dengan hak kedaulatan lingkungan pesisir."
Maya mencatat koordinat itu dengan tangan gemetar. "Kenapa Bapak memberitahu saya sekarang? Kenapa tidak saat di pengadilan?"
"Karena aku melihat anak-anak di berita itu," bisik Baskoro. "Anak-anak yang belajar di bangunan bambu itu. Mereka mengingatkanku pada alasan mengapa dulu aku dan Aris ingin menjadi arsitek. Kami ingin membangun dunia yang lebih baik, bukan hanya tumpukan uang."
Maya keluar dari penjara dengan perasaan campur aduk. Ia menyadari bahwa Aris telah meninggalkan "bom waktu" kebaikan yang meledak tepat pada waktunya. Koordinat itu menunjuk ke sebuah mercusuar tua di pesisir utara Jakarta—tempat di mana Aris dan Sarah sering menghabiskan waktu di masa muda mereka.
Di perjalanan pulang, Maya segera menghubungi Yudha dan Hendra. "Kita punya misi baru. Pak Aris meninggalkan warisan yang jauh lebih besar dari Sektor 12-B. Dia meninggalkan solusi untuk seluruh kota."
Namun, di balik kegembiraannya, Maya menyadari bahwa mendapatkan dokumen di brankas bank yang sudah ditutup itu tidak akan mudah. Bank tersebut kini berada di bawah pengawasan kurator yang berafiliasi dengan... Sterling Global. Robert Sterling tampaknya sudah mengetahui tentang keberadaan dokumen "Kota Senja" dan ia siap melakukan apa saja untuk memastikan rahasia penyelamatan Jakarta itu menjadi miliknya secara eksklusif.
Malam itu, di bawah langit tahun 2025 yang penuh polusi, Maya menatap makam Aris. "Bapak benar-benar gila, Pak. Bapak memberikan kami teka-teki bahkan setelah Bapak tidak ada."