"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."
Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.
Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.
Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.
Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23
Mobil Arka menderu membelah dini hari. Bukan menuju apartemen Kirana, melainkan ke arah gedung kaca gelap di kawasan yang lebih privat.
"Kita tidak ke tempatku," gumam Kirana. Ia mencengkeram jas Arka yang tersampir di bahunya, mencoba menstabilkan napasnya yang masih memburu setelah trauma di kapal.
"Roy tahu kode pintu apartemenmu, Ra. Kau mau dia mematikanmu saat kau tidur?" Arka menjawab tanpa menoleh. Suaranya datar, hanya lelah yang tersisa. Ada bercak darah yang mulai mengering di pelipisnya, darah yang ia tumpahkan demi Kirana malam ini.
Mereka sampai di sebuah penthouse tanpa nama besar. Begitu pintu lift terbuka langsung ke dalam ruangan, Kirana terpaku. Ruangan itu luas, namun terasa kosong. Hanya ada deretan monitor yang menampilkan CCTV dan meja kerja yang berantakan.
"Kenapa kita ke sini?" tanya Kirana lirih. "Setahun ini kau membuatku merasa seperti sampah di meja judi, Arka. Kenapa sekarang kau berpura-pura jadi pahlawan?"
Arka melepaskan kemejanya yang robek, memperlihatkan bahu tegapnya yang memar. Ia menuangkan wiski, namun tangannya sedikit gemetar, pemandangan langka bagi pria sesombong dia.
"Kau ingin tahu kenapa aku melakukan taruhan itu?" Arka berbalik, menatap Kirana dengan tatapan yang tidak lagi mengintimidasi, melainkan penuh luka. "Karena aku melihatmu di kantor Roy tiga hari sebelumnya. Kau terlihat begitu percaya padanya, seperti anak kecil yang menemukan pelindung."
Arka tertawa pahit, suara yang terdengar seperti gesekan logam. "Ibuku dulu mencintai pria seperti Roy. Dia pikir dia diselamatkan dari kemiskinan, padahal dia sedang dipersiapkan untuk 'dijual' demi saham. Aku melihat pola yang sama padamu, Ra. Roy ingin kau jadi boneka cantik yang memegang kunci perusahaan Nirmala agar dia bisa menyedot uangnya dari belakang."
Kirana menggeleng kuat. "Roy menyelamatkanku saat ayahku bangkrut! Dia orang baik, Arka!"
"Orang baik tidak bersulang dengan ayahku untuk merencanakan kebangkrutan ayahmu!" bentak Arka. Ia menekan tombol di meja kerjanya. Sebuah video rekaman suara tua berputar.
Suara Roy terdengar jernih. "Biarkan Nirmala hancur. Aku akan mengambil putrinya, membuatnya berhutang budi padaku seumur hidup. Dia akan jadi akses paling aman untuk akun rahasia ayahnya."
Kirana merasa dunianya miring. Lututnya lemas. Jadi, penyelamatnya adalah orang yang merubuhkan rumahnya?
"Aku melakukan taruhan itu agar kau membenciku setengah mati," lanjut Arka, suaranya parau. "Aku pikir jika kau hancur oleh kebrengsekanku, kau akan lari jauh dari Jakarta dan selamat dari jangkauan Roy. Tapi aku bodoh. Aku lupa kalau kau wanita paling keras kepala yang pernah kutemui. Kau malah lari kembali ke pelukannya."
Arka mendekat, jari-jarinya yang kasar menyentuh pipi Kirana. "Melihatnya menyentuh pundakmu dengan lagak bijak itu... membuatku ingin membakar kota ini."
Keheningan yang mencekam itu pecah saat Arka menarik Kirana ke dalam pelukan yang putus asa. Tidak ada dominasi kasar, hanya kebutuhan murni untuk saling memiliki di tengah kehancuran. Di depan kaca besar yang menghadap Jakarta, Kirana membiarkan pertahanannya runtuh.
Gaun hitamnya merosot, bukan karena paksaan, tapi karena ia butuh merasakan sesuatu yang nyata selain rasa sakit.
"Katakan padaku..." bisik Arka di leher Kirana. "Apa pria tua itu pernah memberitahumu tentang alasan ibumu menyerahkan nyawanya?"
Kirana tersentak saat Arka menyodorkan sebuah foto kusam dari laci. Foto ibunya yang menangis, memegang surat hutang judi yang dibuat Roy atas nama ayahnya.
"Roy menggunakan kesetiaan ibumu untuk mencuri rahasia perusahaan. Dia pembunuh ibumu, Kirana. Perlahan, tapi pasti."
Dunia Kirana benar-benar runtuh berkeping-keping. Pria yang ia puja adalah iblis, dan pria yang ia benci adalah pelindung yang paling terluka.
DUM!
Pintu depan yang diperkuat baja dihantam keras. Alarm meraung. Monitor menunjukkan Roy berdiri di koridor bersama sekelompok pria bersenjata. Wajah mentor ramah itu sudah hilang, digantikan oleh tatapan dingin sang algojo.
"Keluar, Mahendra!" suara Roy menggema di interkom. "Kau mencuri properti kesayanganku terlalu lama!"
Arka segera menyambar pistolnya dan menarik Kirana ke balik lemari buku rahasia. "Masuk ke sini. Jangan bersuara apa pun yang terjadi!"
"Arka, jangan!" tangis Kirana pecah.
"Dengar," Arka mencium dahi Kirana dengan sangat lama. "Jika aku tidak kembali, lari ke koordinat yang ada di kalungmu. Hiduplah, Ra. Untukku."
Arka keluar dan mengunci pintu rahasia itu. Melalui celah lensa kamera, Kirana melihat Arka bertarung seperti singa yang tersudut. Darah memercik ke dinding kaca yang indah, menodai pemandangan kota. Hingga akhirnya, Arka tersungkur.
Roy melangkah masuk, menodongkan pistol tepat ke kepala Arka. "Kau terlalu banyak bicara, Bocah."
Lalu, moncong pistol itu beralih ke arah lemari buku tempat Kirana bersembunyi. "Keluar, Kirana. Atau aku hamburkan otak kekasihmu ini di lantai."
Kirana gemetar dalam gelap. Pilihan yang ada hanya dua - hidup sebagai pengecut, atau mati sebagai ratu.
Ia memutar kunci dari dalam. Kirana melangkah keluar ke cahaya merah alarm. Ia berdiri tegak, tangannya mengepal.
"Lepaskan dia, Roy," suara Kirana terdengar setajam silet. "Atau kau tidak akan pernah mendapatkan kode enkripsi saham Nirmala yang kau inginkan selama sepuluh tahun ini."
Roy tersenyum licik, tapi Kirana tahu, kali ini ia yang memegang kendali. Di lehernya, liontin pemberian Arka terasa dingin, mengingatkannya bahwa gilirannya untuk memburu balik baru saja dimulai.
...----------------...
Next Episode...