"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."
Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.
Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.
Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.
Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 23
Setelah keributan berdarah di kapal pesiar, Arka tidak membawa Kirana pulang ke apartemennya. Ia memacu mobilnya membelah kemacetan Jakarta menuju sebuah kondominium mewah yang tersembunyi di kawasan Jakarta Selatan. Tempat itu bukan milik Mahendra Group, melainkan properti atas nama pribadi Arka yang tidak diketahui siapapun.
"Kenapa kita ke sini? Aku ingin pulang, Arka! Aku tidak mau terjebak lagi dalam permainan gila ini!" Kirana berteriak, suaranya parau karena emosi yang terkuras habis.
Arka tidak menjawab. Ia menarik tangan Kirana masuk ke dalam private lift. Begitu pintu terbuka di lantai paling atas, Kirana terpaku. Seluruh ruangan itu berdinding kaca transparan yang menghadap langsung ke kerlap-kerlip lampu kota, namun di tengah ruangan, hanya ada satu meja panjang yang dipenuhi oleh tumpukan botol minuman keras dan sebuah kamera pengintai yang masih aktif.
Arka melepaskan tuksedonya yang bersimbah darah dan melemparkannya ke lantai. Ia menuangkan wiski ke dalam gelas dengan tangan yang gemetar.
"Kau ingin tahu kenapa aku melakukan taruhan itu, Kirana? Kau ingin tahu kenapa aku membiarkan teman-temanku menertawakanmu malam itu?" Arka mendekat, matanya merah, bukan hanya karena alkohol, tapi karena luka yang ia simpan terlalu lama.
"Karena aku melihatmu di sana, di kantor Roy," desis Arka.
Kirana tersentak. Roy adalah pria yang selama ini menjadi mentor bisnisnya, sosok yang menyelamatkannya saat ia tidak punya apa-apa. "Apa hubungannya dengan Roy? Dia adalah orang baik! Dia melindungiku saat ayahmu menghancurkan keluargaku!"
Arka tertawa pahit, tawa yang terdengar sangat menyakitkan. Ia berjalan ke arah meja dan memutar sebuah rekaman video di layar besar. Di sana, terlihat Roy sedang berbicara dengan Surya Mahendra, di tahun yang lalu. Mereka sedang bersulang atas hancurnya perusahaan ayah Kirana.
"Roy tidak menyelamatkanmu, Kirana. Dia yang merencanakan kehancuranmu bersama ayahku agar dia bisa memilikimu sebagai 'aset' pribadinya. Dia membiayaimu, membangun kariermu, hanya untuk menjadikannya boneka cantik di dalam sangkar emasnya."
Kirana menggelengkan kepalanya, air mata mulai jatuh. "Tidak... itu bohong! Kau hanya ingin menghancurkan satu-satunya orang yang kusayangi!"
Arka mencengkeram bahu Kirana, menekannya ke dinding kaca yang dingin. "Aku melakukan taruhan itu agar kau membenciku! Aku ingin kau menjauh dari lingkaran Mahendra dan Roy! Aku pikir jika kau hancur olehku, kau akan lari jauh dari Jakarta dan selamat dari rencana bejat Roy yang ingin menjual saham perusahaanmu ke pasar gelap!"
Arka menatap bibir Kirana yang bergetar. "Tapi aku salah. Aku justru membuatmu semakin dekat dengan Roy karena kau butuh perlindungan. Dan setiap kali aku melihatmu tersenyum padanya, aku ingin membunuh pria itu dengan tanganku sendiri!"
Arka tiba-tiba mencium Kirana. Kali ini, ciumannya tidak memiliki rasa benci. Itu adalah ciuman yang penuh dengan rasa lapar, rasa bersalah, dan keputusasaan. Kirana mencoba melawan, ia memukul dada Arka, namun rasa panas yang menjalar di tubuhnya membuat kekuatannya hilang.
Di depan pemandangan kota Jakarta dari lantai 50, Arka melucuti pertahanan Kirana. Gaun hitam sutra milik Kirana merosot ke lantai, memperlihatkan kulit putihnya yang bersinar di bawah cahaya bulan. Arka mengangkat tubuh Kirana, mendudukkannya di atas meja marmer yang dingin.
"Katakan padaku..." bisik Arka di ceruk leher Kirana, napasnya memburu panas. "Apakah sentuhan Roy pernah membuatmu merasa sehancur ini? Apakah pria tua itu tahu bagaimana membuatmu memanggil namanya di tengah malam?"
"Hentikan... Arka... kau menyakitiku..." rintih Kirana, namun jemarinya justru menjalar ke punggung Arka, menarik pria itu semakin lekat.
Ketegangan seksual di antara mereka meledak. Di ruangan yang sunyi itu, hanya terdengar suara napas yang memburu dan gesekan kulit. Kirana menyerah pada pria yang paling ia benci, pria yang baru saja mengungkapkan bahwa hidupnya selama ini hanyalah sebuah kebohongan yang dirancang oleh mentor yang ia puja.
Setelah gairah itu mereda, Kirana duduk di atas meja dengan napas terengah, sementara Arka bersandar di dinding kaca sambil menyalakan sebatang rokok.
"Ada satu hal lagi," ujar Arka pelan. Ia mengambil sebuah amplop cokelat dari laci meja. "Kau selalu bertanya-tanya kenapa ibumu tidak pernah bicara tentang ayahmu sebelum dia meninggal."
Kirana membuka amplop itu. Di dalamnya ada sebuah foto tua. Foto ibunya yang sedang menangis, dan di sampingnya ada Roy muda yang sedang memegang surat perjanjian.
"Ibumu tidak meninggal karena sakit, Kirana. Dia menyerahkan nyawanya untuk membayar hutang judi yang dibuat Roy atas nama ayahmu. Roy menggunakan ibumu untuk mendapatkan akses ke rahasia perusahaan ayahmu. Dan sekarang, dia melakukan hal yang sama padamu."
Kirana merasa dunianya runtuh berkeping-keping. Pria yang ia anggap penyelamat ternyata adalah iblis yang membunuh ibunya secara perlahan. Dan pria yang ia anggap berengsek - Arka - adalah orang yang memikul beban rahasia ini sendirian selama bertahun-tahun.
Tiba-tiba, suara dentuman keras terdengar dari pintu depan kondominium. Alarm keamanan berbunyi nyaring. Layar pengintai di meja Arka memperlihatkan sekelompok pria berpakaian hitam dengan senjata api. Dan di tengah mereka, berdiri Roy dengan wajah yang dingin dan tak berekspresi.
"Keluar kau, Arka!" suara Roy terdengar melalui speaker interkom. "Kau sudah mencuri asetku terlalu lama. Kirana adalah milikku, dan hari ini, aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi hakku."
Arka segera menyambar pistolnya dan menarik Kirana ke dalam kamar rahasia di balik lemari. "Tetap di sini! Jangan bersuara!"
"Arka, jangan pergi!" tangis Kirana pecah. Ia baru saja menemukan kebenaran, ia tidak ingin kehilangan Arka di saat ia baru menyadari bahwa kebenciannya adalah bentuk cinta yang paling murni.
Arka mencium dahi Kirana dengan lembut. "Jika aku tidak kembali, di dalam kotak itu ada paspor dan kunci gudang di Singapura. Pergilah ke sana, Kirana. Hiduplah untukku."
Arka keluar dan mengunci pintu dari luar. Kirana hanya bisa mendengar suara tembakan dan teriakan dari balik dinding. Ia melihat melalui celah kecil, Arka sedang bertarung dengan tiga orang anak buah Roy. Darah terciprat ke dinding kaca yang indah itu.
Lalu, ia melihat Roy masuk. Roy memegang pistol yang ditodongkan tepat ke arah kepala Arka yang sudah tersungkur.
"Kau terlalu banyak bicara, Arka," ujar Roy dengan nada tenang yang mengerikan. "Kau pikir dengan meniduri Kirana, kau bisa menyelamatkannya? Dia sudah tertanam dalam genggamanku sejak dia lahir. Dia adalah 'mahakarya' yang kubentuk dari rasa sakit ibunya."
Roy mengarahkan pistolnya ke arah pintu rahasia tempat Kirana bersembunyi. "Keluar, Kirana. Atau aku akan menghamburkan otak kekasihmu ini di atas lantai ini."
Kirana gemetar. Ia memiliki dua pilihan - tetap bersembunyi dan melihat Arka mati, atau keluar dan menyerahkan dirinya kembali ke tangan iblis yang membunuh orang tuanya.
Dengan tangan gemetar, Kirana memutar knop pintu. Ia melangkah keluar dengan tatapan mata yang tidak lagi penuh ketakutan, melainkan penuh dengan dendam yang menyala. Di lehernya, ia masih mengenakan kalung pemberian Arka sebuah simbol bahwa mulai malam ini, ia bukan lagi boneka Roy, melainkan Ratu yang siap menghancurkan segalanya.
...----------------...
Next Episode....