NovelToon NovelToon
Nafas Sang Terbuang

Nafas Sang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Perperangan / Kebangkitan pecundang / Action / Budidaya dan Peningkatan / Mengubah Takdir
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: ohmyzan

Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

“Ibu, apa itu dunia bela diri?”

Suara rendah seorang pemuda menggema di dalam gubuk reot, menyisakan denyut keingintahuan yang menggantung di udara hening. Ekspresi penasaran terukir jelas di wajahnya saat ia menatap sang ibu, menanti jawaban yang belum terucap.

Pemuda itu bernama Jihan.

Dari postur tubuhnya, ia tampak berusia sekitar 13 hingga 14 tahun… usia yang menandai awal kedewasaan menurut aturan dunia ini. Ia mengenakan pakaian sederhana dari kain berlapis dengan motif bergelombang menyerupai riak air sungai. Kerah bajunya yang tinggi mencerminkan kerapian dan kedisiplinan, menunjukkan ketenangan yang tak lazim bagi anak seusianya.

Tentunya, sikap dewasa itu terbentuk bukan tanpa alasan. Ketika teman-teman sebayanya menghabiskan waktu untuk bermain, Jihan tidak memiliki kemewahan itu. Ia menghabiskan hari-harinya Membantu kepala desa demi mendapatkan beberapa keping tembaga, menggantikan peran sang ayah yang telah pergi meninggalkan mereka empat tahun lalu.

Jihan tak pernah menyimpan dendam terhadap kepergian ayahnya. Ia justru terus memelihara harap agar keluarganya bisa kembali utuh seperti sedia kala. Namun, jauh di lubuk hati, ia tahu harapan itu nyaris mustahil. Sang ayah telah memilih jalan hidup lain yang hingga kini tak ia dimengerti.

Kini, beban di pundak Jihan kian berat seiring kesadaran bahwa kesehatan ibunya perlahan menurun, membuat hari-hari yang mereka jalani semakin sunyi dan mencekam.

Dari ranjang kayu tempatnya bersandar, sang ibu akhirnya menjawab.

“Apa kamu benar-benar ingin mendengarnya?”

Lantunan suara lembut penuh kasih itu memecah keheningan. Di balik nada bicaranya, terselip kehangatan yang mencoba mengusir rasa cemas di mata anaknya, meski tubuh wanita itu kian melemah digerus waktu dan penyakit.

Wanita itu adalah Wulandari, ibu Jihan. Dahulu, ia dikenal sebagai gadis berparas cantik nan menawan. Karena keayuannya, ia pernah dijuluki ‘Kembang Desa’ dan menjadi pujaan hati para lelaki di seluruh Desa Batu Sungai.

Jihan sering kali tak habis pikir, bagaimana mungkin ayahnya tega meninggalkan sosok bidadari secantik ibunya? Terkadang ia berpikir, mungkinkah ayahnya memiliki selera yang aneh? Senyum kecil tersungging di bibir Jihan memikirkan hal itu. Ia menunduk sejenak, lalu kembali menatap ibunya dengan sorot mata teguh.

“Aku ingin mendengarnya, Bu.”

Rasa penasaran masih menyelimuti benak Jihan. Kemarin, usai membantu pekerjaan kepala desa, ia sempat mendengar bisik-bisik samar tentang "dunia bela diri". Istilah yang terdengar asing itu justru memantik keinginannya untuk mencari tahu. Sayangnya, ketika ia mencoba menyelidik, yang ia temukan hanyalah kebingungan; beberapa orang hanya menirukan gerakan-gerakan kikuk dan nyaris konyol, seolah mereka sendiri tak yakin dengan apa yang mereka lakukan.

Melihat tatapan putranya yang tegas namun bingung, tawa kecil lolos dari sudut bibir Wulandari. Wajah pucatnya seakan sedikit cerah, seolah ia memahami apa yang tengah berkecamuk di pikiran putranya.

Wulandari mengangkat tangan, menyentuh lembut telapak tangan Jihan. Kulit tangan putranya terasa kasar dan penuh kapalan—terlalu keras untuk anak seusianya.

“Dunia bela diri…” Wulandari memulai, “Adalah dunia bagi mereka yang menempuh jalan keabadian. Lebih dari sekadar jurus dan kekuatan, itu adalah jalan hidup. Jalan yang penuh disiplin, pengorbanan, dan juga bahaya.”

Wulandari diam sejenak, membiarkan penjelasan itu meresap, sebelum melanjutkan.

“Mereka yang menapaki jalan ini disebut sebagai Pendekar. Mereka adalah orang-orang berbakat yang direkrut oleh perguruan-perguruan ternama.”

Mata Jihan berbinar memantulkan cahaya matahari pagi. Imajinasi liar bocah itu melambung tinggi.

“Kalau begitu... apakah Jihan bisa menjadi Pendekar? Jika aku kuat, aku bisa melindungimu, Bu! Aku bisa menghajar penyakit ini dan—”

Ucapan penuh semangat itu terputus paksa.

“Uhuk... Uhuk! Hhhkk!”

Tangan Wulandari segera membekap mulutnya, tubuhnya membungkuk dan bergetar hebat menahan sesuatu yang memaksa keluar.

Jihan mematung.

Tatapannya beralih cepat pada ibunya yang berusaha tetap tersenyum di balik kepayahan yang tak lagi bisa disembunyikan. Dengan sigap, Jihan memeluk bahu ibunya.

“Ibu, mohon jangan ditahan… itu justru bisa membuat kondisi Ibu makin memburuk.”

Suara Jihan bergetar lirih. Ia menatap ibunya yang bersandar lemah; tubuh itu semakin kurus, dan rona di pipinya memudar seperti bunga yang kehilangan kelopaknya. Setiap helaan napas sang ibu terdengar berat, membuat dada Jihan ikut sesak.

Ia telah melakukan segalanya. Upah dari kepala desa nyaris habis ia sisihkan. Rasa lapar ia tahan demi membeli pil penyembuh. Ia bahkan rela menembus hutan di timur hanya untuk membawa tabib terbaik dari Desa Batu Sungai. Namun, ketika tabib itu datang, harapan yang sempat tumbuh langsung layu. Gelengan pelan sang tabib menjadi isyarat sunyi yang lebih lantang dari kata-kata: penyakit ini tak bisa dilawan.

Sejak saat itu, satu sumpah tertanam dalam hatinya.

‘Ibu… aku bersumpah, bahkan jika langit menutup semua jalan, Jihan akan tetap menemukan caranya. Apa pun yang terjadi, aku akan menyembuhkan Ibu.’

Sumpah itu bukan sekadar untaian kata, melainkan wahyu yang terpatri dalam jiwanya, menjadi kompas yang menuntun tujuan hidupnya.

Melihat kegelisahan di wajah putranya, Wulandari dengan susah payah mengangkat tangan. Sentuhan lembutnya di pipi Jihan mengalir seperti embun penenang.

“Sayang, kamu tidak perlu khawatir. Ibu hanya sedikit terbatuk, lihat…”

Namun, sebelum Wulandari sempat meyakinkan putranya, serangkaian batuk kembali menyerang, merenggut kesempatannya untuk bicara. Jihan menyadari kepura-puraan ibunya. Tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. Hatinya perih, bukan karena lelah bekerja, melainkan karena ia hanya mampu menyaksikan penderitaan ibunya dalam diam.

Api penyesalan membakar batinnya, namun yang keluar dari bibirnya hanyalah permohonan lembut.

“Ibu... kumohon, jangan banyak bergerak dulu. Jihan akan mengambil pil penyembuh dan air hangat.”

Jemari Jihan perlahan menyisir punggung ringkih itu hingga napas ibunya sedikit tenang. Setelah membaringkan ibunya, Jihan bangkit. Sosoknya menegak, seolah menarik kekuatan dari tanah yang dipijaknya. Dengan langkah mantap, ia berjalan ke belakang gubuk menuju tungku.

Wulandari menatap punggung Jihan yang menjauh. Sosok mungil yang dulu sering menjahilinya saat menjemur pakaian kini telah menjelma menjadi laki-laki kecil yang memikul beban jauh lebih besar dari usianya. Mata Wulandari berkaca-kaca.

‘Maafkan Ibu, Nak... tubuh ini tak sekuat dulu lagi.’

Di belakang gubuk, Jihan berjongkok di depan tungku. Tangannya bergerak mekanis memasukkan kayu bakar. Panas api yang menjilat wajahnya tak sebanding dengan panas kecemasan di dadanya.

Tak lama kemudian, air dalam kuali tanah liat mendidih. Jihan menyendok air panas itu ke dalam mangkuk gerabah, lalu merendam selembar kain samak lembut di dalamnya. Ia kembali ke sisi pembaringan ibunya, meletakkan mangkuk di meja kecil, dan membuka laci meja yang berderit pelan.

Di dalam laci, terdapat peti kayu sederhana tempat ia menyimpan harta paling berharga saat ini: pil obat. Aroma herbal yang kuat menguar saat peti dibuka. Jihan mengambil sebutir pil cokelat tua seukuran ujung kelingking.

“Ibu, Jihan bantu duduk sebentar.”

Jihan menopang punggung ibunya. Tubuh itu terasa begitu ringan, kenyataan yang kembali menyayat hatinya.

“Minum obatnya dulu. Ini akan meringankan sesak di dada Ibu.”

Wulandari membuka mulut dengan susah payah. Setelah pil masuk, Jihan membantu ibunya minum air hangat dari mangkuk gerabah.

“Pelan-pelan saja, Bu.”

Jihan menunggu dalam diam, matanya terkunci pada wajah sang ibu. Namun, seperti hari-hari sebelumnya, reaksi obat itu tidak instan. Rona kehidupan di wajah ibunya justru tampak memudar sesaat, tubuhnya bergetar halus menahan reaksi obat yang bekerja di tubuh yang lemah.

Rahang Jihan mengeras. Ia menahan tangis melihat perjuangan sunyi itu. Setetes air mata akhirnya jatuh, menyentuh tangan ibunya yang terkulai.

Merasakan kesedihan putranya, Wulandari menggerakkan tangannya, mengusap wajah Jihan.

“Nak, tenanglah. Kamu sudah berjuang untuk Ibu, jadi tidak perlu bersedih.” Suaranya pelan namun penuh makna. “Ada pepatah leluhur mengatakan, 'Matahari tetap bersinar, meski langit tak selalu cerah.' Melihatmu tetap ceria adalah penawar terbaik bagi Ibu.”

Kata-kata itu meresap ke dalam dada Jihan, sedikit menenangkan badai di hatinya. Ia mengangguk perlahan.

“Baik, Bu... Jihan janji tak akan bersedih lagi.”

Ia mengambil kain samak hangat dari mangkuk, memerasnya perlahan, lalu meletakkannya di dahi sang ibu.

Wulandari menghela napas panjang. Kehangatan kompres… dan kasih sayang putranya… terasa begitu nyaman, mengendurkan saraf-saraf yang tegang.

“Pejamkan mata, Bu. Istirahatlah.”

Wulandari memejamkan mata, hampir terlelap, namun teringat sesuatu. Matanya terbuka sedikit.

“Jihan…”

“Iya, Bu?”

“Siang nanti… kamu pergi ke rumah Kepala Desa, kan?”

Jihan mengangguk diam.

“Gara-gara Ibu… tangan sekecil ini sudah harus bekerja begitu keras. Jaga dirimu baik-baik, Nak.”

Kalimat itu menusuk hati Jihan. Ia tahu ibunya merasa bersalah. Namun kali ini, Jihan menggeleng pelan. Ada kilat keras kepala di matanya.

“Tidak, Bu. Pekerjaan itu bisa menunggu. Jihan akan tetap tinggal menjaga Ibu hari ini.”

Wulandari tertegun, lalu tersenyum tipis dan memaksakan diri meremas tangan putranya.

“Hus, jangan bicara begitu. Lihat, berkat obat tadi, dada Ibu sudah jauh lebih lega. Panasnya juga sudah turun, kan?” Ia menempelkan tangan Jihan ke dahinya.

Jihan merasakan dahi itu memang sedikit lebih sejuk, namun ia tahu ibunya hanya ingin ia pergi agar tidak kehilangan pekerjaan.

“Justru karena Ibu sudah merasa lebih baik, kamu harus pergi. Supaya besok-besok… kita masih bisa membeli obat ini lagi. Kepala Desa orang baik, jangan sampai kita mengecewakannya.”

Argumen itu tak terbantahkan. Jihan terdiam, tekadnya luntur oleh logika keharusan hidup. Ia menunduk, menyembunyikan kekecewaan.

“...Baik, Bu. Tapi Ibu harus berjanji untuk istirahat. Jangan melakukan apa pun sampai Jihan kembali.”

“Ibu janji.”

Wulandari menatap putranya yang bangkit bersiap pergi. Hatinya mencelos melihat punggung kecil itu kembali memikul beban dunia. Namun dalam hati, ia terus merapalkan doa.

‘Pergilah, Nak. Lupakan sejenak tentang Ibu. Di luar sana, di bawah matahari, jadilah anak yang berdikari. Jangan biarkan sakit Ibu ini menjadi rantai yang selamanya membelenggu kakimu.’

1
DownBaby
Temponya lambat tapi pas dipertengah seru parah, semangat thor upnya
Zhareeva Mumtazah anjazani
akhirmya ingat juga
Zhareeva Mumtazah anjazani
Raras Muria putri kerajaan Muria😍
Embun Pagi
Lanjut thor
Embun Pagi
Jika saja tanpa dukungan moral ibunya sudah pasti Jihan akan menjadi gila dengan situasi seperti itu
Embun Pagi
GILA GILA GILA INI SERU BGT, KASIHAN MC BERADA DITITIK TERENDAHNYA😭
Embun Pagi
GILA GILA INI MC LAGI DITITIK TERENDAHNYA BAKAL MEMUASKAN KALO NANTI JADI KUAT
Embun Pagi
ini kalimat bakal terngiang" sih kejam bgt
Embun Pagi
sudah kuduga /Sob/
Embun Pagi
Sudah saatnya perekrutan murid
Embun Pagi
NAH INI DIA BGUS JIHAN AKHIRNYA SADAR👍
Embun Pagi
pasti punya alasan lain
Embun Pagi
sudah jelas berbohong /Facepalm/
Embun Pagi
Tabib Sari sangat sus/Doge/
Ar`vinno
menjadi anak berbakti kepada ibu Respect Jihan👍
Erigo
ayo Jihan💪
DownBaby
mkin seru
DownBaby
Ayo ribut
DownBaby
apakah bakal selamat?
DownBaby
apakah itu tuan putri?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!