Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
“Ibu, apa itu dunia bela diri?”
Suara rendah seorang pemuda menggema di dalam gubuk reot, sarat keingintahuan. Ekspresi penasaran terukir jelas di wajah pemuda itu saat ia menatap ibunya.
Pemuda itu bernama Jihan.
Dari postur tubuhnya, ia tampak berusia sekitar 13 hingga 14 tahun. Usia yang menandai awal kedewasaan menurut aturan dunia ini.
Ia mengenakan pakaian sederhana dari kain berlapis dengan motif bergelombang menyerupai riak air sungai. Kerah bajunya yang tinggi mencerminkan kerapian dan kedisiplinan yang tidak biasa untuk anak seusianya.
Dari ranjang kayu tempatnya bersandar, ibunya menjawab..
“Apa kamu ingin mendengarnya, nak?”
Suara lembut itu memecah keheningan. Di balik nada bicaranya, terselip kehangatan yang mencoba mengusir rasa cemas di mata Jihan, meski tubuh wanita itu kian melemah digerus waktu dan rasa sakit.
Wanita itu adalah Wulandari, ibu Jihan. Dahulu, ia dikenal sebagai gadis berparas cantik di desa Batu Sungai, karena kecantikannya penduduk desa kemudian menjulukinya sebagai 'kembang desa'.
Jihan menunduk sejenak, lalu kembali menatap ibunya dengan sorot mata penuh keyakinan.
“Aku ingin mendengarnya, Ibu.”
Jihan kemudian menceritakan penemuannya, usai membantu pekerjaan kepala desa.
"Kemarin saat Jihan pulang bekerja, Jihan mendengar bisik-bisik tentang dunia beladiri."
Wulandari mengernyit pelan,
"Benarkah, lalu apa yang kamu ketahui?"
"Itu..."
Gugup Jihan, ia kemudian membayangkan gerakan konyol yang ia lihat saat menyelidikinya.
"Sebenarnya, Bu. Aku melihat orang-orang menirukan gerakan yang aneh, seolah mereka tak yakin dengan gerakan mereka sendiri."
Melihat tatapan bingung Jihan, tawa kecil lolos dari sudut bibir Wulandari. Wajah pucatnya seakan sedikit cerah, memahami apa yang tengah berkecamuk di benak putranya.
“Dunia bela diri…”
Wulandari memulai,
“Adalah dunia bagi mereka yang menempuh jalan keabadian. Lebih dari sekadar teknik dan kekuatan, itu adalah jalan hidup. Jalan yang penuh disiplin, pengorbanan, dan juga... bahaya.”
Ia menekankan kata-katanya di akhir, membiarkan penjelasan itu meresap, sebelum melanjutkan.
“Mereka yang menapaki jalan ini disebut sebagai Pendekar Abadi. Mereka adalah orang-orang berbakat yang direkrut oleh perguruan-perguruan ternama.”
Mendengarnya Mata Jihan berbinar, membalasnya dengan penuh semangat.
“Kalau begitu... apakah Jihan bisa menjadi Pendekar Abadi? Jika aku menjadi kuat, aku bisa melindungim ibu, dan mungkin saja Aku bisa menghajar penyakit—”
Ucapan penuh semangat itu terputus paksa.
“Uhuk... Uhuk! Hhhkk!”
Tangan Wulandari segera membekap mulutnya, tubuhnya membungkuk dan bergetar hebat menahan sesuatu yang memaksa keluar.
Jihan mematung.
Tatapannya beralih cepat pada ibunya yang berusaha tetap tersenyum di balik penderitaan yang tak lagi bisa disembunyikan.
Dengan sigap, Jihan memeluk bahu ibunya.
“Ibu, mohon jangan ditahan… jika ibu menahannya itu membuat kondisi ibu semakin buruk!”
Suara Jihan bergetar lirih. Ia menatap ibunya yang bersandar lemah; tubuh itu semakin kurus, rona di pipinya memudar, membuat Jihan terasa sesak.
Ia telah melakukan segalanya.
Upah dari kepala desa yang ia sisihkan.
Rasa lapar ia tahan demi membeli pil penyembuh.
Memanggil tabib terbaik dari desa.
Semua itu hanya untuk sebuah jawaban bahwa penyakit ini tak bisa disembuhkan.
Bagaimana mungkin ia dapat menerima itu?
Sejak saat itu, satu sumpah tertanam dalam hatinya.
‘Ibu… Jihan bersumpah! bahkan jika langit menutup semua jalan, Jihan menemukan caranya!"
Sumpah itu kemudian terpatri dalam jiwanya, menjadi kompas yang menuntun tujuan hidupnya.
Melihat kegelisahan di wajah putranya, Wulandari dengan susah payah mengangkat tangan. Sentuhan lembutnya di pipi Jihan mengalir seperti embun penenang.
“Nak, kamu tidak perlu khawatir. Ibu hanya sedikit terbatuk, lihat…”
Namun, sebelum Wulandari sempat meyakinkan putranya, serangkaian batuk kembali menyerang, merenggut kesempatannya untuk bicara.
Jihan menyadari kepura-puraan ibunya. Tangannya mengepal hingga buku-buku jarinya memutih.
“Ibu... Jihan akan mengambil pil penyembuh dan air hangat.”
Ia kemudian bangkit. Sosoknya menegak, menarik kekuatan dari tanah yang dipijaknya. Dengan langkah mantap, ia berjalan ke lemari kayu, tempat ia menyimpan obat
Wulandari menatap punggung Jihan. Sosok mungil yang dulu sering menjahilinya saat menjemur pakaian kini telah menjelma menjadi laki-laki kecil yang memikul beban jauh lebih besar dari usianya.
‘Maafkan Ibu, Nak... tubuh ini tak sekuat dulu lagi.’
Tak lama kemudian, suara derit terdengar saat Jihan membuka lemari. Sebuah kotak kayu sederhana, menguar aroma herbal yang pekat saat Jihan membukanya.
Pil penyembuh.
Jihan mengambil pil bewarna cokelat itu dengan dengan ujung jarinya.
"Ibu, Jihan bantu duduk sebentar, meminum obat. Pil penyembuh ini akan meringankan nyeri ditubuh ibu."
Wulandari membuka mulut dengan susah payah. Setelah pil masuk, Jihan membantu ibunya meminum air hangat dari mangkuk yang ia siapkan.
“Pelan-pelan, bu.”
Jihan menunggu dalam diam, matanya terkunci pada wajah Wulandari. Namun, seperti hari-hari sebelumnya, reaksi obat itu tidak instan.
Warna kehidupan di wajah ibunya justru tampak memudar sesaat, tubuhnya bergetar halus menahan reaksi pil obat yang bekerja di tubuh yang lemah.
Rahang Jihan mengeras. Ia menahan pilu melihat perjuangan sunyi itu. Setetes air mata akhirnya jatuh, menyentuh tangan ibunya yang terkulai.
Merasakan kesedihan putranya, Wulandari menggerakkan tangannya, mengusap wajah putranya.
“Nak, kamu jangan sedih. Setidaknya, Kamu sudah berjuang untuk Ibu,”
Ia kemudian melanjutkan.
“Ada pepatah mengatakan, 'Matahari tetap bersinar, meski langit tak selalu cerah.' Melihatmu tetap ceria adalah obat terbaik bagi Ibu.”
Kata-kata itu meresap ke dalam dada Jihan, sedikit menenangkan badai di hatinya. Ia mengangguk perlahan.
“Baik, Bu... Jihan janji tak akan bersedih lagi.”
"Sekarang beristirahatlah."
...
Di hutan Jura.
Api kecil menyala di tengah hutan yang lembap. Sekelompok penyintas duduk mengelilinginya, wajah mereka dipenuhi luka dan kelelahan.
“SIALAN!”
Teriakan itu memecah keheningan.
“Apakah kita hanya bisa lari sementara keluarga kita dicabik binatang buas?!”
Pria bernama Tiro meraung, matanya merah oleh amarah dan kehilangan, sementara di lengannya terlilit tali usang, satu-satunya kenangan yang tersisa.
“Tenanglah,” jawab seseorang.
“Para tetua mengorbankan diri mereka agar kita hidup.”
“Tenang?! Istri dan anakku mati di depan mataku!”
Kesunyian jatuh.
Lalu sebuah suara dingin terdengar dari balik pepohonan.
“Jika kita kehilangan akal, maka pengorbanan mereka benar-benar sia-sia.”
Seorang gadis dengan rambut ikal berdiri dengan punggung tegak. Matanya tajam, penuh kewaspadaan.
“Maya benar,” sahut pria lain.
“Kita harus mencapai desa tetangga sebelum matahari tenggelam.”
Tepat saat itu—
AAAAAUUUU!
Lolongan panjang menggema.
Udara seketika menegang.
Dari kegelapan hutan, bayangan bergerak.
Satu.
Dua.
Puluhan.
“Serigala Taring Panjang…”
Kepanikan merebak.
Tanpa ragu, Maya melangkah ke depan. Energi spiritual menyelimuti tubuhnya, menekan udara di sekitarnya.
“Pergilah,” katanya tegas.
“Aku akan menahan mereka.”
“Maya, jangan gila!”
Namun gadis itu hanya tersenyum tipis.
“Aku tidak akan mati sebelum membunuh orang itu.”
Dengan berat hati, para penyintas mundur, berlari menuju harapan terakhir mereka.
Maya berdiri sendirian.
Namun tak seorang pun menyadari.
Dari balik dedaunan, sepasang mata merah mengamati para penyintas yang pergi.
Mengikuti mereka, dalam keheningan.
"Tuhan telah mati dan kita membunuhnya"