"Astangfirullah Pak, ini bukan hukuman tapi menindas namanya!" Pekik Nabila kala menatap bukuu setebal tembok di depannya.
"kalau tidak mau silahkan keluar dari daftar Siswi saya!" jawab pria yang amat di kenal kekillerannya.
huff!
Nabila tak dapat membantah selain pasrah ia tidak mau mengulangi mata kuliah satu tahun lagi hanya demi satu kesalahan.
Tetapi Nabila pikir ini bukan kesalahan yang fatal hanya dosennya memang rasa sensitiv terhadap dirinya, Nabila tidak tahu punya dendam apa Pak Farel sehingga kesalahan kecil yang Nabila perbuat selalu berujung na'as.
Yuk lanjut baca kisah Nabila yang penuh haru dan di cintai oleh dosennya sendiri secara ugal-ugalan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ana fatih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab tiga
Butuh tukang santet.
Keesokan paginya Nabila terpaksa masuk ke ruangan Alka tanpa di undang, ia memberanikan diri sebab ia yakin kalau pria itu sengaja menerima perjodohan ini ada niat terselubung dan dendam rahasia.
"Huh! Sabar Nabila, kamu pasti bisa," ucap Nabila menguatkan mentalnya sendiri menghadap Alka.
Tok!
Tok!.
"Masuk." suara datar dari dalam ruangan terdengar jelas masuk ke gendang telinga Nabila.
Nabila masuk ke dalam ruangan Alka yang lumayan rapi dan bersih, di sini Alkan memang memiliki ruangan sendiri karena ia salah satu dekan di fakultas Ekonumi.
"Ma-af Pak, boleh saya duduk?" ucap Nabila berdiri di hadapan Alka.
"Terserah, berdiri silahkan asal tidak menyalahkan saya kalau capek." kata Alka ketus.
"Astaga ini orang, angkuhnya mintak di pelet," batin Nabila.
"Begini Pak, saya ke sini cuma mau mengatakan, tolong Bapak batalkan rencana perjodohan kita karena saya belum siap menikah Pak," ucap Nabila jelas setelah mengambil napas dalam-dalam untuk menyampaikan kalimat maut tersebut.
Alka yang sedari tadi sibuk dan hanya fokus sama layar laptonya melirik sekilas ke arah Nabila dengan tatapan sinis.
"Silahkan kamu gagalkan sendiri, karena saya tidak punya waktu hal tidak penting ini." katanya dingin.
Nabila mengerutkan kening, ia benar bingung. Alka mengatakan tidak penting perjodohan ini tapi kenapa ia tidak mau membatalkannya.
"Kalau memang bapak tidak mau dengan perjodohan ini kenapa Bapak diam saja kemaren?"
"Lalu, kamu sendiri?" sarkas Alka.
Nabila menunduk, memang betul dirinya kemaren juga tidak membantah ataupun menolak ke duanya sama-sama diam-diam termasuk Alka maupun dirinya.
"Maaf Pak, saya tidak enak sama Om dan Tente. Karena saya pikir beliau adalah orang baik."
"Keluar sekarang kamu, saya sibuk." Alka justru mengusir Nabila.
"Pak, saya serius tolonglah pak, masa depan saya masih panjang sedang Bapak sudah mapan sebaiknya cari calon istri yang sesuai seperti Bapak," bujuk Nabila frustasi ia tidak tahu harus bagaimana lagi untuk menggagalkan pernikahan ini, selain ia belum siap, ia juga takut menikah dengan pria dingin seperti Alka.
"Kamu pikir saya sudah sangat tua, dan kamu merasa daun muda, begitu Nabila?" bentak Alka.
"Bukan begitu Pak, maksud saya kalau Bapak menikah dengan perempuan yang sepantaran Bapak, maka rumah tangga Bapak terjamin."
"Sudah saya katakan, silahkan kamu gagalkan sendiri kalau tidak mau!" ucap Alka lagi tegas, lalu ia menatap laptop kembali tanpa memperdulikan Nabila.
Nabila menghela napas,"Oh jadi Bapak sangat ingin ya, menikah dengan saya!" tuduhnya berani.
Alka menyeringai,"Bagi saya pernikahan ini tidak penting dan saya menerima perjodohan ini karena menghargai orang tua saya, kalau kamu tidak mau silahkan kamu sendiri yang membatalkannya tanpa harus melibatkan saya, sekarang kamu keluar karena saya tidak punya waktu hal remeh seperti ini dan satu lagi jangan lupa kamu kumpulkan tugas kamu sekarang." ucap Alka berdiri, lalu meninggalkan ruangan tersebut dan Nabila.
Alka sangat kesal karena merasa terhina oleh anak kecil seperti Nabila yang berusaha menolak dirinya, padahal yang seharunya menolak itu dirinya bukan dia.
Sedengan Nabila juga sama meras kesal karena dosennya itu bebal banget, dan tidak bisa di ajak kerja sama.
Padahal jelas-jelas dirinya tidak menginginkan perjodohan tapi kenapa susah amat membatalkannya.
Tapi Nabila tetap tidak tinggal diam ia mencoba untuk membujuk Alka karena kalau dirinya sendiri yang membatalkan rasanya tak mungkin.
"Pak, ayolah saya mohon jangan sampai Bapak menikah dengan saya, saya tidak mau menikah dengan Bapak karena bapak adalah dosen killer seperti kanibo kering dan juga pelit nilai," cibir Nabila keceplosan saking jengkelnya pada Alka susah di bujuk.
Alka menyeringai sinis,"oh begitu ya, jadi saya killer seperti kanibo. Oke, ayo kita menikah agar kamu tahu rasanya punya suami killer, oke kan!" ujar Alka dengan tatapan tajam ke arah Nabila sambil belajar mendekati Nabila yang berdiri, melihat Alka terus berjalan Nabila takut ia melangkah mundur hingga menabrak dinding.
Kebetulan mereka masih berada di ruangan Alka, tapi pintu sedang terbuka dan sepi jadi mereka tidak bakal ada yang tahuu kalau sedang bahas soal masalah intim.
"Tapi saya nggak mau Pak, karena saya yakin menikah dengan Bapak pasti hidup saya menderita!" pekik Nabila berani, Namun ia takut melihat tatapan Alka yang seperti hewan buas siap memakannya hidup-hidup.
"Bagus! Kalau kamu sudah punya pikiran seperti itu, maka saya akan wujudkan impian mu itu, apapun yang terjadi pernikahan kita tetap jadi!" skak Alka.
Bola mata Nabila membulat sempurna, jangankan besok lusa Minggu depan saja ia tidak siap.
"Nggak bisa gitu donk Pak, jangan asal bicara memang Bapak kira pernikahan itu lelucon."
"Yang anggap lelucon siapa, kamu sendiri kali. Siang ini saya tunggu di mobil untuk beli cincin."
"Huh! dasar manusia nyebelin kutub utara! Andai Pak Alka bukan dosen gue sendiri, sudah gue bunuh tuh orang!" gumam Nabila kesal. Napasnya mengebu karena menahan emosi.
"Ya Tuhan, kenapa engkau jodohkan gue dengan laki-laki seperti dia, tidak adakah satu saja pria Sholeh, lembut untuk gue," batin Nabila berdo'a berharap masih ada keajaiban datang.
Saat Nabila berjalan menuju ke kelasnya karena tidak lihat-lihat Nabila menabrak seseorang yang baru saja belok kiri tepat Nabila juga mau belok.
Buk!.
"Sory, gue tidak lihat-lihat tadi," kata Nabila meminta maaf.
"Aisyah!" seru orang tersebut saat tahu siapa orang yang menabrak dirinya
Nabila menyerngit, kenapa orang itu bisa mengenal nama panjangnya.
"Nabila, ini aku Fathan kamu sudah lupa sama aku?" kata pria itu lagi mengenalkan dirinya.
Baru Nabila ingat saat di sebut namanya.
"Ya ampun, Kak Fathan! ini benar kak Fathan?" kata Nabila kegirangan seolah dia lagi bertemu dengan seseorang yang sudah lama ia rindukan.
"Iya Syah, ini aku, kamu ngapain di sini?" tanya Fathan ramah.
"Aku kuliah kak di sini, sudah semester akhir sih, kakak sendiri ngapain, oh ya ngomong-ngomong kakak apa kabar?" jawab Nabila sambil bertanya.
Fathan tersenyum tipis, tak menyangka bisa betemu kembali dengan adik kecilnya.
Dulu Fathan dan Nabila sempat bertetangga waktu Nabila masih duduk di sekolah menengah ke pertama.
"Kakak di sini jadi dosen Syah, tapi fakultas tarbiyah." ucap Fathan.
"Hm, Kak Fathan sekarang jadi ustadz gitu ya, hebat pasti sudah jadi ustadz terkenal." ujar Nabila ikut bangga karena dari dulu Fathan orangnya lebih religius, jujur saja Nabila sebenarnya mengidamkan calon suami seperti Fathan.
"Kamu bisa saja, oh ya maaf ya, kakak masih ada kelas dan ini yang pertama, kita lanjut ngobrolnya nanti."
"Oh siap kak." Fathan tersenyum lalu pamit pergi meninggalkan Nabila sendirian dan tanpa sepengetahuan mereka berdua ada sosok pria yang tidak sengaja melihat dari ujung dengan tatapan nanar.
"Jangan harap saya bisa melepaskan mu, enak saja kamu mau menolak saya karena dia."