NovelToon NovelToon
Istri Bayaran: Pernikahan Palsu, Rahasia Kelam

Istri Bayaran: Pernikahan Palsu, Rahasia Kelam

Status: sedang berlangsung
Genre:Angst / Trauma masa lalu / CEO / Nikah Kontrak
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nopani Dwi Ari

"Aku butuh istri untuk mendapatkan warisan Kakek, dan kamu butuh uang untuk pengobatan ibumu. Adil, kan?" — Aksara Danendra.

Bagi Aylin, pernikahan ini hanyalah transaksi pahit. Ia rela membuang harga dirinya dan menjadi 'Istri Bayaran' demi pengobatan sang ibu. Ia berjanji tidak akan melibatkan hati, apalagi pada pria dingin dan penuh rahasia seperti Aksara. Bagi Aylin, semua lelaki sama saja brengsek.

Namun, bagaimana jika di atas kertas kontrak yang dingin itu, benih cinta justru tumbuh secara perlahan? Dan bagaimana jika saat cinta itu mulai mekar, Aylin menyadari bahwa dirinya hanyalah tameng untuk rahasia gelap suaminya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nopani Dwi Ari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.3 - Kecantikan Yang Tersembunyi

Aylin tersenyum lembut menatap Rosalind yang baru bangun. Pagi itu ia sedang menyuapi ibunya sarapan, menikmati momen sederhana yang sudah lama tak mereka miliki di tengah hiruk-pikuk kesedihan yang sempat melanda.

“Kamu juga makan,” ucap Rosalind pelan, matanya menatap sang putri dengan penuh sayang.

“Nanti, Ma. Aku beli di luar saja. Aku tidak suka makanan punya Mama,” goda Aylin sambil terkekeh kecil. Ia hanya ingin suasana tetap ringan agar ibunya tidak terlalu merasa terbebani.

Rosalind ikut tersenyum. Ia tahu betul kenapa anaknya selalu tampil tomboy dan dingin pada dunia; itu adalah perisai.

“Kapan pacarmu ke sini? Kok Mama jadi kangen, ya!”

“Mungkin siang. Dia kerja dulu, Ma,” jawab Aylin cepat. Ia sendiri masih tidak menyangka ibunya bisa seakrab itu dengan sosok Aksara yang sebenarnya asing bagi mereka.

“Maaf ya, Mama tidak bisa menemanimu hari ini,” ucap Rosalind, nadanya mendadak menyesal.

Aylin menghela nafas panjang. “Tidak apa-apa, Ma. Aku cuma mau Mama sembuh. Kenapa sih minta maaf terus? Ini bukan Lebaran, tau,” katanya ketus, tapi matanya memancarkan kasih sayang yang tulus.

Tawa Rosalind pecah.

Sudah lama Aylin tak mendengar suara tawa itu, suara yang memberinya kekuatan. Dalam hati, Aylin berjanji: jika ia punya cukup uang nanti, ia tidak hanya akan menyembuhkan fisik ibunya, tapi juga membawanya ke psikolog agar sembuh sepenuhnya dari trauma masa lalu.

Pukul sembilan tepat, Jonathan datang. Asisten Aksara itu memberitahu bahwa semua sudah siap—bahkan seorang perawat khusus sudah disewa untuk menjaga Rosalind selama Aylin pergi.

“Pergilah, Nak. Mama tidak apa-apa. Di sini banyak orang, jangan khawatir,” kata Rosalind menenangkan.

Aylin memeluk ibunya erat-erat, seolah menyalurkan seluruh keberanian yang ia miliki. “Baiklah. Sus, tolong jaga Mama saya, ya?”

“Tenang saja, Mbak. Saya akan menjaga Ibu Rosalind dengan baik,” balas sang suster ramah.

Begitu keluar, Aylin mengikuti langkah Jonathan yang tampak terburu-buru. Mereka menuju salon dan butik langganan keluarga Kirana. Di dalam mobil, suasananya hening mencekam. Aylin menatap keluar jendela, memperhatikan jalanan Jakarta yang macet, sementara jantungnya berdetak kencang hingga terasa sakit.

“Ya Tuhan... apa semua ini sudah benar?” batinnya cemas.

Setelah hampir setengah jam, mobil berhenti di depan salah satu mal mewah. Salon itu sengaja disewa penuh—atas perintah langsung dari Aksara untuk menjaga privasi.

“Tolong makeover dia,” titah Jonathan singkat.

“Siap, Tuan Jo!” jawab pemilik salon dengan nada mendayu. Aylin sontak merinding saat menyadari penata rias itu adalah seorang laki-laki.

“Wajahnya cantik banget... ternyata cowok,” gumam Aylin tanpa sadar.

“Ayo, Cin, ikut eik,” ujar Sally—si penata rias nyentrik—sambil menarik Aylin masuk ke ruangan khusus.

Begitu pintu tertutup, Sally menatap Aylin dari atas ke bawah, lalu tangannya yang lentik menyentuh rambut Aylin. “Ini... wig?”

“I-ya, kok Mb—eh, Mas tahu?”

Sally menyipitkan mata, tampak tidak suka dipanggil “Mas”. “Oke, tidak masalah. Calon istri Tuan Aksara, ya?” gumamnya penuh rasa penasaran.

Dia menuntun Aylin duduk, lalu melepas wig-nya perlahan. Seketika, rambut asli Aylin tergerai—panjang, halus, dan berwarna coklat alami yang cantik.

“Rambut kamu bagus banget. Kenapa disembunyikan?” tanya Sally sambil mulai menyiapkan peralatan tempurnya.

Aylin hanya tersenyum kaku. Ia tidak tahu harus menjawab apa; terlalu banyak rahasia di balik rambut itu. Sally pun mulai mencuci rambutnya, memijat lembut kulit kepala Aylin, lalu menambahkan vitamin. Tidak ada pewarnaan, karena warna alami itu sudah sempurna.

“Sekarang, mandi dulu ya. Aku mau kasih lulur biar kulitmu lebih segar,” kata Sally kemudian.

Aylin terkejut saat melihat dirinya di cermin tanpa pakaian. Penutup dada yang biasa digunakan membuat tubuhnya terlihat rata, namun aslinya tidak begitu.

“Astaga,” gumam Sally tanpa sengaja melihat transformasi fisik itu.

“Cepat mandi dan pakai gaun ini,” titahnya sambil menyerahkan gaun sabrina hitam polos yang sangat elegan.

Aylin menurut dengan kikuk. Ia berendam sebentar di bathtub dengan aroma mawar. Kehangatan air membuat pikirannya sedikit tenang. Setelah selesai, ia keluar dan duduk kembali di depan cermin besar.

Sally mulai bekerja cepat, memoles skin care di wajah Aylin, menepuk lembut pipinya, lalu mengoleskan lipstik warna nude yang lembut. “Cocok banget di kulitmu.”

Rambut Aylin hanya dipotong sedikit di ujungnya, lalu di catok bergelombang halus yang jatuh di pundak.

“Perfect,” seru Sally akhirnya, puas dengan hasil karyanya.

Aylin membuka mata. Gadis dalam cermin itu begitu berbeda—cantik, elegan, tapi masih ada garis wajahnya yang tegas. “Aku... bahkan tidak kenal diriku sendiri,” ucapnya lirih.

“Bagus, berarti pekerjaanku berhasil,” kata Sally dengan senyum puas.

Namun senyum Aylin perlahan luntur saat menatap mata coklatnya di cermin. Mata itu—warna yang sama dengan seseorang dari masa lalunya yang pernah membuat dunianya berantakan. Rasa tidak nyaman muncul seketika, membuat dadanya sesak.

“Kenapa? Tidak suka hasilnya?” tanya Sally menyadari perubahan aura Aylin.

“Bukan, cuma... tidak apa-apa,” jawab Aylin cepat, menepis memori pahit itu.

Sally hanya mengangkat bahu, lalu memberikan sepasang heels hitam.

“Cuma lima sentimeter. Aku tahu kamu bukan tipe yang suka tinggi-tinggi.”

Beberapa menit kemudian, mereka keluar dari ruangan. Di ruang tunggu, Aksara sudah duduk santai menatap ponselnya. Mendengar suara pintu, Aksara mengangkat kepala—dan terdiam.

Sekilas, nafasnya tertahan. Perempuan yang tadi pagi ia lihat dengan hoodie lusuh dan wig kasar kini berdiri di hadapannya... memukau dan berkelas.

“Bagaimana, Tuan?” tanya Sally dengan senyum menggoda.

Aksara menatap Aylin sejenak sebelum menjawab dengan suara datar, berusaha menyembunyikan keterkejutannya. “Kerja bagus, Sally. Jo akan urus pembayarannya.”

“Siap, Tuan.”

“Ayo, orang tua dan Kakekku sudah menunggu,” ujar Aksara tanpa ekspresi. Ia berbalik, memberi isyarat agar Aylin mengikutinya.

Saat mereka pergi, Sally menatap punggung keduanya dan tersenyum kecil. “Semoga Aylin bisa jadi pasangan yang baik buat Tuan Aksara,” gumamnya lirih.

*

*

Di mobil, suasana kembali sunyi. Aksara fokus menatap jalanan, sementara Aylin sibuk menenangkan dirinya sendiri yang terus gemetar.

“Jangan bicara sembarangan di depan Kakek. Panggil aku ‘Mas’, dan aku akan panggil kamu ‘Sayang’. Mengerti?” ucap Aksara tanpa menoleh sedikit pun.

“Ya, aku mengerti,” jawab Aylin pelan. Jantungnya berdetak kencang seperti genderang perang.

“Tenang, Aylin. Ini cuma calon mertua, bukan musuh,” gumamnya sambil memejamkan mata sejenak.

Aksara melirik sekilas lewat spion tengah, lalu menggeleng pelan. Entah kenapa, ia merasa aneh melihat sisi gugup Aylin yang justru terlihat... manis. Sesuatu yang seharusnya tidak ia rasakan.

Mobil akhirnya berhenti di kawasan perumahan elit yang sangat tenang. Gerbang tinggi, penjagaan ketat, dan taman luas menyambut pandangan Aylin yang terpana.

“Ini... rumah Mas?” tanya Aylin kagum.

“Bukan. Ini rumah Kakekku. Aku lebih sering di apartemen sendiri,” jawab Aksara santai.

“Oh...” Aylin mengangguk pelan, terasa semakin kecil di tengah kemewahan ini.

“Ayo turun. Mereka sudah menunggu,” ucap Aksara sambil membuka pintu mobil.

Aylin mengikuti dari belakang. Detak jantungnya semakin liar. Bagaimana kalau mereka tidak suka padaku? Bagaimana kalau sandiwara ini terbongkar?

“Belum apa-apa sudah overthinking,” lirihnya pada diri sendiri. Tapi langkah kakinya terus dipaksa maju—menuju babak baru yang penuh dengan kepura-puraan.

Ingin rasanya ia berbalik badan dan berlari sejauh mungkin, tapi biaya rumah sakit ibunya adalah rantai yang menahannya di sini. Ia harus berani.

Bersambung ...

Hayo, siapa yang ikut terpesona sama transformasi Aylin hasil jari jemari Sally? 😍 Aksara aja sampai salah tingkah tuh! Tapi, apakah penyamaran Aylin bakal mulus di depan Kakek Harsa?

Klik Favorit ❤️ dan tinggalkan Komentar kalian ya! Dukungan kalian semangat aku buat lanjut maraton bab selanjutnya! ✨

1
🌿
kalo nyesalnya duluan namanya pendaftaran Ay 🫠
jumirah slavina
Tuhan bikin orang² jahat itu kejang mendadak 🤲🏻🤲🏻🤲🏻🤲🏻🤲🏻
jumirah slavina
Thorrrrrrr., suntik mati Vanuuuuuuu
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
🌿
nyebut kek Aksara, amit-amit gitu 🫠
jumirah slavina
deq²n Aku., gimana nasib Aay d'next bab
jumirah slavina
Thorrrrrrrrrrr.... kasih kalpanax nih penyakit kulit VANUan
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
jumirah slavina
Ay... Kamu bawa uang kan ?? tar cape² lari dari Aksa mo pulang sendiri., ekh balik lagi krn lupa bawa uang.,

😄😄
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 5 replies
jumirah slavina
Tuhan bikin Mata Vanu belekan soale dia menyebalkan


🤣
AriNovani: /Facepalm//Facepalm/
total 1 replies
Epi Widayanti
gak sadar diri 🙃
🌺🌺
stresss si Arvano
jumirah slavina
balas Ay., klo smp s' Aksa gak membela kamu., tinggalin Ay....
AriNovani: /Facepalm//Facepalm//Facepalm/
total 3 replies
jumirah slavina
dasar Vanu.. kadas., kudis., kurap...
jumirah slavina: 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 2 replies
jumirah slavina
kau yang aneh., ambisi ko' merebut...
🌿
katakan prettttt 🫠
jumirah slavina
Kirana sm Emil., sama² menyebalkan Thor
jumirah slavina
dia bohongg
jumirah slavina
nih denger., yo mbok d'dukung klo Aay membuat Aksa lebih baik. jadi laki² normal, kan alamat punya cucu kalian.,
jumirah slavina: 😄🤣🤣🤣🤣🤣
total 5 replies
jumirah slavina
hati tersenyum... hhmmm...
berarti muka'mu tetap datar ya Aks...
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
AriNovani: wahh aku masih 1/4 sekarang gk tau belum periksa lagi 🤭
total 8 replies
Epi Widayanti
Gak ada yang nanya pula 🤣
Epi Widayanti
Gak tau malu ihh 🙃
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!