Berada dalam lingkungan sekolah terfavorit dan populer tak membuat Ve berkecil hati. Meski bully-an masih terus terjadi tetapi Ve punya sejuta cara untuk menghadapinya. Belum lagi Salsa yang tak pernah berhenti menganggunya.
Sayangnya ia juga harus dipusingkan dengan cinta dua lelaki tampan dan kaya raya tetapi berbeda karakter. Al sikapnya dingin, sedang Dion sangat humble. Parahnya lagi mereka mencintainya, meski tau Ve gadis miskin.
Lalu bagaimanakah kisah cinta mereka di masa putih abu-abu itu, dan siapakah yang ahirnya memenangkan hati Ve? Apakah cinta bisa menembus batas perbedaan antara si kaya dan si miskin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERKELAHIAN
"Fix, gue makin benci sama lu!" gertak Ve sambil melepaskan cengkeraman tangan Dion.
Sejak tadi Dion terus mencekal Ve agar tidak bisa keluar dari area rooftop sekolah. Ia sengaja menggiring Ve ke sana karena tidak ada tempat yang lebih nyaman kecuali di rooftop sekolah.
Ve berusaha berlari menjauh dari Dion. Satu dua kali mencoba tetap tidak berhasil sampai akhirnya di saat Dion lengah, Ve berhasil melarikan diri darinya.
Ve berlari menuruni tangga, pada saat yang sama Al masih berada di lingkungan sekolah. Melihat Ve berlari, otaknya langsung connect.
"Ve, dalam bahaya!"
Secepat kilat Al menarik lengan Ve untuk bersembunyi di bawah tangga. Tempat itu dirasa cukup aman dari kejaran Dion. Karena terlalu tarikan Al terlalu kuat, Ve sampai menduduki tubuh Al.
"Awh," rintih Al.
"Maaf," cicit Ve.
Terdengar derap langkah kaki di tangga. Beruntung Dion tak menemukan keberadaan mereka.
"Sial, kehilangan dia lagi!" umpat Dion kesal.
Dion melanjutkan langkahnya berlari ke luar area bangunan sekolah. Kini Al dan Ve bisa bernafas lega.
Sedangkan di bawah tangga itu, tubuh Ve masih betah duduk di atas tubuh Al. Mulut Ve masih di bekap oleh Al. Karena mendapat pelototan tajam dari Ve, akhirnya ia melepasnya.
"Sorry."
"Makasih," cicit Ve.
"Nyaman ya dudukin, Saya?"
"Eh, sorry."
Ve terbangun tapi kepalanya terantuk tangga karena kaget akan perkataan Al barusan.
"Awh ... " rintihnya sambil mengusap kepalanya yang terus berdenyut.
"Sakit, makanya hati-hati. Kan gue cuma tanya?" ucap Al menahan tawa.
Sedangkan Ve masih mengusap pucuk kepalanya.
Kini giliran Al yang merasa bersalah, lalu ia bangun dan mengusap lembut pucuk kepala Ve tak lupa meniupnya perlahan. Tentu saja perlakuan manis Al membuat Ve salah tingkah. Sampai Ve harus membuang muka, agar tak kelihatan semburat merah di kedua pipinya itu.
"Sebel, kenapa dia pakek natap gue kek gitu sih? Kan jadi meleleh, njirrr!"
Di saat masih uwu-uwuan, Dion merasa mendengar percakapan dari dalam gedung sekolah. Ia pun berbalik dan berhasil menemukan mereka.
"Owh, jadi kalian di sini!"
Mereka berdua langsung balik badan, lalu berlari menuju aula sekolah. Al menarik tangan Ve dan Dion mengejar mereka. Akhirnya mereka masuk ke dalam aula sekolah.
Al sudah bersiap dan memasang kuda-kuda untuk menghardik Dion. Mereka saling menatap, Al menarik tangan Ve agar ia berdiri di belakangnya.
"Mau sok jadi jagoan, lu!" ucap Dion mengejek.
"Beraninya main sama cewek, cemen lu, kalau berani lawan gue!" gertak Al.
"Kak, udah," seru Ve dari belakang sambil menarik lengan Al.
"Nggak Ve, hal kayak gini nggak bisa dibiarkan."
"Nggak apa-apa kok, Ve bisa atasin semua ini, sendiri."
"Diam!"
Dari arah depan Dion tersenyum smirk. Ia bahagia melihat perdebatan mereka berdua.
"Udah belum diskusinya?"
Tak ada jawaban, Dion menyerang Al dengan tiba-tiba.
Ve melihat Dion hampir menonyor wajah Al
"Kak, awaaaaassss!" teriaknya.
Ia pun berinisiatif mengubah posisi dan berdiri di depan Al. Hingga bogem mentah dari Dion berhasil mendarat mulus di wajah Ve.
Bugh!
"Awwhhhhh ...."
Sudut bibir Ve memar seketika, ada darah segar mengalir di sana. Ternyata bogem mentah dari Dion benar-benar menyakitkan. Menyadari hal itu, kedua pemuda tadi sama-sama teriak, "Veee ...."
Al langsung menarik tubuh Ve lalu memeriksa lukanya. Belum sempat ia memeriksa Ve, Dion menendang Al hingga ia terjatuh. Al lalu mendorong Ve ke belakang agar bisa melindunginya.
Setelah memastikan keadaan Ve aman, Al kembali menyerang Dion. Hingga terjadilah perkelahian sengit diantara keduanya. Sementara itu Ve masih memegangi lukanya.
"Awh, sakit! Asem lu!" umpatnya kesal.
Mendengar ada suara keributan di dalam salah satu ruangan sekolah, Kenzo mulai penasaran, hingga ia mencari sumber suara tersebut. Sampai akhirnya Kenzo lewat aula sekolah. Kebetulan mereka berada di sana.
Melihat Al dan Dion berkelahi, Kenzo lalu membantu Al. Karena serangan dua pemuda tadi membuat Dion kalah, terlebih kekuatan Dion kalah jauh dari Al dan Kenzo.
Untuk mencari keamanan, ia pun berlari menjauhi mereka. Sedangkan Ve masih terduduk sambil memegangi pipinya yang ternyata ikut lebam.
Sejenak Al lalu mendekati Ve. Al membantu Ve berdiri.
"Kamu nggak apa-apa, aku bawa ke UKS ya?"
"Nggak usah," tolak Ve.
"Nggak, kita ke Rumah Sakit aja!" teriak Kenzo.
Kedua pemuda tadi sama-sama menarik lengan Ve. Al menarik lengan sebelah kanan dan Kenzo lengan sebaliknya. Mereka saling menatap satu sama lain.
"Lu ikut gue!"
"Nggak, Ve ikut gue!"
Mereka sama-sama keras kepala. Hingga akhirnya Ve berteriak.
"Aku nggak ikut siapa-siapa, aku mau pulang."
Melihat Ve ngambek, kedua pemuda tadi kelimpungan tidak karuan. Lalu mengejar Ve yang sudah keluar dari aula.
"Ve, tunggu ..." teriak mereka berdua.
"Oke, kita ngalah, kamu mau kemana?"
"Mau pulang."
"Tapi luka lebam kamu!"
Al berlari mendahului Ve, lalu mengangkat tubuh Ve dan menggendong di punggung Al. Ve berteriak tapi Al tak menghiraukannya lalu segera menuju mobil Al.
"Lepasin, Kak!"
"Diem, cerewet banget sih jadi cewek!"
Merasa tersinggung Ve memukul tubuh Al, tapi pukulannya tak berarti, karena yang dipikirkan Al hanya keselamatan Ve. Sedangkan Kenzo menatap nanar kepergian Ve dan Al.
"Sial!"
.
.
...🌹Bersambung🌹...
Akhirnya es baloknya Al yg mementing kan belajar dari berpacaran akhirnya runtuh dengan kehadiran nya Veeya..
terimakasih Outhor semoga sukses selalu..🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌟🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹✌️✌️✌️✌️✌️✌️
Sabrina itu lebih gila dari anaknya Salsa...
sepertinya Lisa tau apa yg terjadi saat ini...