Demi mama, aku rela membohongi dunia dan menyembunyikan identitas asliku. Bahkan, aku juga mengorbankan rasa cinta yang aku punya pada seorang laki-laki. Semua aku lakukan demi mama yang selama ini telah berjuang demi aku. Aku yakin, doa dan restu mama, adalah hal terpenting dalam hidupku.
Apakah aku sangup, tetap menahan rasa ini. Mungkinkah, aku mampu mengubah pandagan lelaki itu padaku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 21
Hari ini adalah hari di mana aku kembali mulai bekerja di kantor papa, setelah aku istirahat selama lebih dari seminggu di rumah. Mama mengizinkan aku kembali kerja seperti biasanya.
Terlalu lelah hidup seperti aku saat ini. Hanya bisa melakukan apa yang mama katakan. Tidak bisa melakukan apa yang aku inginkan, sesuai dengam kata hatiku sendiri.
Ingin rasanya aku protes pada hidupku saat ini. Tapi, apalah dayaku yang tidak bisa melihat mama sedih akibat aku yang tidak mau mendengarkan perkataannya.
Langkah kaki ini terus aku langkahkan, meskipun rasanya terlalu hampa dan tidak memiliki arti apa-apa.
Bruuuuk
Tanpa sadar tubuhku bertabrakan dengan seseorang lagi. Karna aku berjalan sambil memikirkan nasib, jadinya aku tidak fokus pada langkah kaki ini.
"Ah, maaf, maaf," ucapku sambil melihat wajah orang yang aku tabrak.
"Kamu ...."
Aku kaget bukan kepalang, saat melihat pemilik dari dada bidang yang sangat kekar dan berkharisma itu.
Wajahnya terlihat sangat merah, mungkin ia menahan marah karna aku tiba-tiba menabraknya lagi dan lagi.
Ya tuhan, kenapa setiap kali bertemu dengan manusia ini, aku harus nenabraknya terlebih dahulu. Apakah tidak bisa? Kalau aku itu melihatnya dari jauh aja?
"Hei! Jalan itu pakai mata, jangan jalan pakai kaki!" bentak laki-laki itu.
"Emangnya jalan bisa pakai mata yah? Di mana-mana, jalan itu harus pakai kaki," kata aku dengan santainya.
"Satpam! Satpam! Kesini kalian!" teriak laki-laki itu sangat keras sehingga membuat dua orang satpam yang bertugas, datang dengan segera.
"Ada apa Tuan?" kata kedua satpam itu dengan sangat ketakutan.
"Laki-laki ini kenapa kalian izinkan masuk kedalam kantor ini. Apa kalian tidak tahu, ini adalah kantor, bukan mall."
"Maaf Tuan Mulya, dia adalah Tuan muda Nino," kata salah satu satpam.
Dia sangat kaget saat mendengarkan apa yang satpam itu katakan. Matanya membulat besar, melihat kearah aku.
Bukan hanya dia yang kaget sebenarnya. Aku juga sangat amat kaget malahan, saat tahu siapa nama dari laki-laki yang aku tabrak setiap kali bertemu.
Ternyata, inilah yang namanya Mulya yang selalu ingin aku temui dan aku lihat. Yang orang bilang, ia adalah laki-kaki yang kejam dan berhati dingin.
"Oh, jadi ini yang namanya Nino?" kata Mulya dengan wajah yang sulit untuk aku artikan.
"Ya aku Nino, ada apa dengan aku? Apa kamu takut saat melihat aku?" kataku tanpa berpikir panjang lagi.
"Kamu ...."
"Sayang, kamu udah datang ya? Kenapa kamu gak langsung bertemu dengan aku sih? Aku kangen sama kamu sayang," ucap Mika yang tiba-tiba datang dan memotong perkataan Mulya.
Mika langsung bergelayutan di bahu Mulya dengan manjanya. Aku tiba-tiba merasa sangat jijik dengan apa yang Mika lakukan.
Ternyata, seseorang itu tidak bisa dilihat dari luarnya saja. Kita tidak bisa menilai seseorang saat kita tidak tahu, apa isi hati dari seseorang tersebut.
Aku langsung meninggalkan Mulya dan Mika yang saling menunjukkan kemesraan mereka berdua dihadapanku.
Ntah kenapa, aku merasa ada yang salah dengan hatiku saat ini. Aku merasa benar-benar tidak suka saat melihat apa yang Mika lakukan.
Bukan tidak suka dengan Mulya, tapi justri aku merasa muak dan benci dengan wajah Mika yang pada awalnya aku merasa, dia adalah gadis polos yang sangat baik.
Aku terdiam menatap layar monitorku. Sementara pikiranku berjalan entah kemana arahnya.
"Kak Nino," kata Mika yang tiba-tiba datang membuyarkan lamunanku.
Aku tidak menjawab, hanya saja, aku membuang muka saat melihat Mika duduk di sampingku.
Aku tidak bisa menghindar dari Mika, karna ia memang akan bekerja bersama aku. Posisi duduknya tepat di samping tempat dudukku.
Katakan padaku, bagaimana caranya aku supaya bisa menghindar darinya?
"Kak Nino, aku minta maad untuk yang tadi itu. Jika aku tidak mengalihkan perhatian Mulya, maka kaka akan lama berurusan dengan Mulya. Maafkan aku," kata Mika dengan wajah sedihnya.
hehhehe
saking ngebut ya maaf sampe ga sempet komen hehehe