Karena kesalahpahaman, Anindia harus menikah dengan cowok yang paling tidak disukainya, Keanu si badboy sekolah. Mereka tidak pernah akur, bahkan Anindia selalu menghindari Keanu.
Tapi, malang tidak dapat ditolak, untung tidak dapat diraih. Mereka terjebak dalam kesalahpahaman yang fatal, dan sekarang mereka harus terpaksa menikah.
Anindia, siswi paling pintar di sekolah, harus menikah dengan Keanu, sang ketua geng sekolah yang terkenal dengan keberanian dan kenakalannya.
Mereka harus merahasiakan pernikahan mereka setidaknya sampai hari kelulusan. Tapi di sekolah, Keanu justru membuat pernyataan bahwa Anindia adalah pacarnya.
Apakah Keanu dan Anindia bisa merahasiakan pernikahan mereka?
•••
"Gue memang badboy, tapi setidaknya gue bukan playboy. Kenapa gue berani ngomong kayak gini?"
"Karena gak ada seorangpun yang bisa bikin hati gue luluh selain lo, Nindi."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NdahDhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Kecemburuan Dara
Bel masuk berbunyi menandakan bahwa jam istirahat telah berakhir, semua murid kembali ke kelasnya masing-masing. Tak terkecuali Anindia dan teman-temannya yang langsung beranjak menuju kelasnya. Lain halnya dengan Keanu yang melangkahkan kakinya ke arah toilet.
Di dalam kelas, mereka langsung menuju bangkunya masing-masing sembari menunggu guru memasuki kelas. Anindia yang baru saja duduk langsung disambut dengan tatapan tidak suka dari Dara. Anindia hanya bersikap biasa saja, ia tidak mengerti mengapa Dara bisa berubah total seperti ini. Janji persahabatan mereka dulu kini mulai musnah bersamaan dengan perubahan sifat Dara.
"Lo gak cocok buat Keanu," ujar Dara dingin tanpa menoleh sedikitpun ke arah Anindia.
"Terserah kamu mau nanggepin nya gimana, Dar. Kamu juga gak mau kan dengerin penjelasan aku," ujar Anindia dengan nada lembut namun terdengar penuh kekecewaan.
"Gue gak butuh penjelasan apapun dari lo! Pengkhianat, akan tetap menjadi pengkhianat!" Ujar Dara meninggi.
Mendengar hal itu, jelas saja membuat Anindia merasa emosi. Tapi ia berusaha untuk menahan diri agar tidak terlalu jauh dalam bertindak, terlebih orang yang sedang dihadapinya ini adalah sahabatnya sendiri. Meskipun Dara sudah tidak mengakui hal itu lagi.
Terdengar helaan nafas panjang dari Anindia. Karena tidak ingin berdebat dengan Dara, Anindia pun memutuskan untuk membaca buku saja, mengabaikan Dara sepenuhnya.
Saat itu, Keanu berjalan memasuki kelas. Ia menoleh sejenak ke arah Anindia, memastikan istrinya itu tidak diganggu oleh Dara. Keanu menarik nafas lega karena ia melihat Anindia dan Dara sibuk dengan kegiatannya masing-masing. Ia pun langsung beranjak ke bangkunya, namun dengan sengaja ia lewat di sebelah Anindia dan mengacak rambutnya sekilas. Hal itu jelas saja membuat Anindia merasa terkejut.
Sementara Dara, ia terlihat sangat panas bahkan meremat rok sekolahnya sangat erat di bawah meja. Ia cemburu ketika melihat Keanu yang selalu saja bersikap manis kepada Anindia. Dan ia merasa bahwa Anindia telah merebut kesempatan dirinya untuk dekat dengan Keanu.
"Harusnya gue, Keanu! Harusnya gue!" Batin Dara.
Anindia sendiri langsung menoleh ke arah Keanu yang langsung ditanggapi dengan senyuman tampan dari suaminya itu. Anindia hanya menanggapinya dengan gelengan singkat, ia merasa bahwa Keanu tidak bisa berhenti untuk mengusili dirinya, meskipun sedang berada di lingkungan sekolah seperti ini.
"Jangan disentuh woi! Kaki gue kesemutan," ujar Edo yang terdengar sangat kesal.
Mendengar suara Edo, Anindia refleks menoleh ke arah temannya itu. Terlihat jelas bahwa Yudhi sedang menjahili Edo, sementara Yudhi terlihat sedang tertawa puas karena berhasil menjahili sahabatnya itu.
"Haha, kalo manusia kesemutan, terus semut apa? Kemanusiaan?" Ujar Yudhi yang tertawa terpingkal-pingkal.
Anindia pun ikut tertawa menanggapi candaan Yudhi, bahkan Keanu pun terlihat seperti sedang menahan tawa. Keanu yang awalnya cemburu dengan kedekatan Anindia dengan kedua pemuda itu, kini ia justru memahami alasan di balik Anindia yang berteman baik dengan mereka berdua.
"Astaga kalian ini, ada-ada aja," ujar Anindia sembari menggelengkan kepalanya.
"Do, lo masih waras kan berteman dengan dia?" Ujar Keanu yang terlihat mulai akrab dengan dua teman Anindia itu.
"Aman, selebihnya amin aja," ujar Edo dengan nada santainya.
"Parah," ujar Keanu singkat sembari menggelengkan kepalanya.
Keanu langsung duduk di bangkunya dengan santai, mengabaikan kericuhan teman-teman sekelasnya. Sementara Anindia, ia langsung membuka bukunya, bersiap untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.
Beberapa menit berlalu, guru yang mengajar di kelas itu tak kunjung tiba. Anindia melirik jam di dinding, ternyata sudah 15 menit berlalu sejak bel masuk berbunyi. Ia berpikir gurunya telat masuk ke dalam kelas, sehingga memungkinkan jam kosong. Hal itu jelas saja membuat Anindia merasa bosan.
Untuk mengurangi rasa bosannya, Anindia pun langsung mengambil sebuah sketchbook dan pensil dari dalam tasnya. Ia pun langsung melukis di buku sketsa yang kosong itu. Tangannya bergerak lincah di atas kertas kosong, melukiskan desain fashion sesuai imajinasinya.
"Nindi, lagi apa sih? Serius banget," ujar Keanu yang tiba-tiba saja menghampiri Anindia.
"Eh, Kean? Ini cuma lagi gambar aja, bosan nunggu guru belum masuk ke kelas," ujar Anindia sembari menunjukkan gambar desainnya, lalu melanjutkan lukisannya.
Terdengar hembusan nafas kasar dari Dara, berusaha untuk tetap tenang meskipun hatinya terasa cemburu ketika melihat Keanu yang menghampiri Anindia. Keanu tidak menghiraukan, ia justru tersenyum miring dan berniat ingin mengerjai Dara.
"Gambarnya cantik, kayak orangnya," ujar Keanu yang dengan sengaja mengatakan hal itu di depan Dara, membuat gadis itu merasa semakin tidak nyaman.
"Apa sih, Keanu? Malu tau," ujar Anindia sembari menyenggol lengan Keanu.
"Serius, gambarnya cantik. Pengen jadi desainer?" Tanya Keanu kemudian yang diangguki singkat oleh Anindia, tapi pandangannya masih tertuju pada buku di hadapannya.
Dara semakin tidak nyaman dengan percakapan antara Keanu dan Anindia, ia langsung berusaha untuk mengalihkan perhatian. Tapi tetap saja ia tidak bisa melakukannya.
Tiba-tiba saja Keanu merapikan anak rambut Anindia, membuat Dara semakin cemburu. Ia merasa bahwa Anindia telah merebut orang yang disukainya, bahkan Keanu pun terlihat sangat peduli pada Anindia. Ia merasa tidak adil, seharusnya dirinya yang menjadi pacar Keanu bukan Anindia.
"Aku yakin, kamu pasti bisa gapai cita-cita itu. Semangat cantik!" Ujar Keanu.
"Terima kasih, Kean." Balas Anindia dengan seutas senyum.
Dara mencoba untuk menenangkan diri, tapi ia tidak bisa mengontrol emosinya. Tiba-tiba saja ia mengambil buku sketsa milik Anindia, lalu merobeknya dengan kasar.
"Jangan harap lo bisa jadi desainer dengan bakat yang lo punya!" Ujar Dara yang terbawa emosi, sembari menghamburkan serpihan kertas itu ke lantai.
Anindia yang terkejut langsung berdiri, menatap Dara dengan tatapan marah dan kecewa. Ia tidak menyangka bahwa Dara bisa bertindak seperti itu kepada dirinya.
"Maksud lo apa kayak gitu ke cewek gue?!" Ujar Keanu yang terlihat sangat marah, bahkan ia terlihat mengeraskan rahangnya.
"Dar, kamu kenapa sih? Salah aku apa, Dara? Aku kira kamu cuma marah karena Keanu pacaran sama aku, ternyata dugaan aku salah. Kamu anggap aku beneran musuh sekarang? Aku gak nyangka kamu kayak gini, Dar," ujar Anindia penuh kekecewaan.
Dara tidak mengatakan apa-apa, ia hanya memutarkan bola matanya. Ia merasa malas menanggapi perkataan Anindia. Dara pun langsung beranjak menuju ke arah jendela, memandang keluar dengan tatapan kosong.
Keributan kecil di antara mereka berhasil menyita perhatian teman sekelasnya. Tak terkecuali Yudhi dan Edo yang langsung menghampiri Anindia, mereka tidak mengerti dengan sikap Dara akhir-akhir ini.
"Nindi, lo gapapa?" Ujar Yudhi yang terlihat lebih serius saat ini.
Tanpa sadar, air mata Anindia pun menetes tanpa diminta. Tatapan Anindia tertuju pada Dara, namun ekspresi wajahnya menunjukkan betapa kecewanya ia dengan sahabatnya itu. Beberapa desain fashion lama yang dibuatnya, ikut rusak karena ulah Dara tadi.
Menyadari hal itu, Keanu langsung menarik Anindia ke dalam pelukannya. Ia bisa merasakan betapa marah dan kecewanya istrinya itu saat ini.
"Udah gapapa Nindi, soal Dara biar aku yang urus," ujar Keanu mencoba untuk menenangkan.
"Aku gapapa kok Keanu, kamu gak perlu balas apa-apa ke Dara. Gambarnya masih bisa dibikin ulang kok," ujar Anindia yang langsung tersenyum kepada suaminya itu.
Keanu mengurai pelukannya, ia memegangi bahu Anindia dan menatapnya dalam, seakan menelisik tatapan istrinya itu. Ia tahu bahwa Anindia menyimpan luka karena tindakan Dara. Tapi ia tidak ingin memberi pelajaran untuk Dara saat ini, ia menunggu waktu yang tepat untuk membalasnya.
"Iya, aku gak apa-apain Dara kok, tenang aja," ujar Keanu mencoba untuk menenangkan Anindia, meskipun di dalam hatinya berkata sebaliknya.
Anindia langsung menganggukkan kepalanya, mempercayai kata-kata Keanu. Ia pun langsung berjongkok untuk mengambil sisa-sisa kertas yang berserakan di sekitar mejanya. Keanu pun membantu Anindia untuk mengambil kertas-kertas itu, berusaha untuk menghibur istrinya itu.
"Lo berubah, Dar. Nindi sahabat lo, tapi lo tega kayak gini," ujar Edo yang menatap Dara dengan tatapan tajam.
"Lo diem Do! Gak usah ikut campur! Lo mana paham kalo ada di posisi gue!" Ujar Dara meninggi tapi tatapannya tetap tertuju ke arah jendela.
Yudhi dan Edo langsung menggelengkan kepalanya, merasa tidak percaya bahwa Dara bisa bertindak seperti itu. Dara yang sedang mereka hadapi saat ini seakan Dara yang berbeda, bukan Dara yang biasa mereka kenali.
Seisi kelas merasa terkejut dengan pertengkaran kecil antara Dara dan Anindia, terlebih perkataan yang ia lontarkan untuk Edo. Banyak dari mereka yang tidak percaya dengan tindakan Dara, karena sebelumnya Dara adalah sahabat terdekat Anindia.
Beberapa dari mereka juga langsung berbisik-bisik, membicarakan tentang pertengkaran yang baru saja terjadi. Guru yang seharusnya mengajar di kelas itu pun tidak kunjung datang, membuat suasana kelas semakin tidak terkendali.
"Kamu yakin gapapa, Nindi?" Ujar Keanu khawatir setelah selesai mengambil potongan kertas itu.
"Gapapa Kean, cuma masalah kecil. Nanti bisa bikin yang lain kok," ujar Anindia dengan seutas senyum.
Keanu merasa tertegun dengan sikap Anindia, padahal ia tahu pasti bahwa istrinya itu tidak begitu baik saat ini. Tapi Anindia justru bersikap sabar menghadapinya. Entah karena Dara merupakan sahabat dekatnya, atau karena hal lain Keanu pun tidak bisa memastikan apa itu.
Keanu menanggapinya dengan seutas senyum, lalu membantu Anindia untuk kembali duduk di bangkunya. Anindia pun tersenyum, ia berusaha untuk tidak mempermasalahkan tentang Dara lebih lanjut.
"Aku ke toilet sebentar ya," ujar Keanu yang langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah toilet tanpa menunggu jawaban dari Anindia.
"Kean..." Ujar Anindia namun ia tidak melanjutkan kata-katanya karena Keanu yang sudah berjalan menjauh ke arah pintu.
Keanu memang berjalan menuju ke arah toilet, tapi ia tidak ingin membuang hajat. Setibanya di toilet, Keanu mengambil ponselnya lalu mengetikkan pesan untuk seseorang.
"Saya butuh bantuan, apa kita bisa bertemu?" Ketik Keanu dalam pesan itu.
Ting!
Tak butuh waktu lama, ponselnya pun bergetar. Orang yang dihubungi Keanu langsung mengetikkan balasan pesan. Keanu pun langsung membukanya dengan tatapan dingin dan tersenyum puas yang terukir di wajahnya.
"Bisa Mas, tentukan saja waktu dan lokasinya," balas orang itu.
Keanu pun mengetikkan balasan lagi, ia merasa puas setelah berkomunikasi dengan orang misterius itu. Meskipun Anindia tidak ingin Keanu melakukan apa-apa terhadap Dara, tapi Keanu tidak bisa berdiam diri begitu saja setelah melihat tingkah Dara terhadap istrinya tadi.
Cukup lama ia berdiam diri di toilet, akhirnya Keanu pun melangkahkan kembali kakinya menuju ke ruang kelas.
Sementara itu di kelasnya, Anindia mencoba untuk menenangkan diri setelah kejadian tadi. Ia tidak ingin memperpanjang masalah ini, bukan tidak berani melawan Dara melainkan karena berusaha menghindari masalah yang lebih besar. Ia tidak bisa memusuhi Dara, meskipun Dara sudah tidak menganggapnya sebagai sahabat lagi.
Saat itu, seorang guru memasuki ruang kelas, diikuti dengan Keanu yang berjalan di belakangnya. Guru itu ternyata lupa jadwal, untung saja Keanu memanggilnya ke ruang guru. Kelas yang tadinya riuh karena jam kosong, kini mulai terlihat kondusif setelah guru memasuki ruang kelas. Bahkan, mereka semua lupa sejenak tentang kejadian tidak menyenangkan tadi.
Anindia pun memfokuskan diri pada pelajaran yang berlangsung, ia tidak ingin memikirkan lebih lanjut tentang kejadian tadi. Ia melirik sekilas ke arah Dara, berharap persahabatan mereka akan kembali seperti sedia kala.
^^^Bersambung...^^^