"Ketika cinta datang disituasi yang salah"
Rieta Ervina tidak pernah menyangka, jika keputusannya untuk bekerja pada Arlan Avalon, pria yang menjadi paman dari suaminya justru membuat ia terjebak dalam lingkaran cinta yang seharusnya tidak ia masuki.
Pernikahan tanpa cinta yang awalnya ia terima setulus hati berubah menjadi perlawanan saat Rieta menyaksikan sendiri perselingkuhan suaminya bersama wanita yang menjadi rekan kerjanya. Dan di saat yang sama, paman dari suaminya justru menyatakan peraasaannya pada Rieta.
"Cinta ini adalah cinta yang salah, tapi aku tidak peduli." Arlan.
Apa yang akan Rieta lakukan setelahnya? Akankah ia menerima cinta yang datang? Atau tetap bertahan pada pernikahan bersama suami yang sudah mengkhianati dirinya?
Ikuti kisah mereka...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FT.Zira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25. Membalik Keadaan.
"Mama... Papa..."
Suara panggilan itu praktis membuat langkan pasangan paruh baya yang baru saja melewati kamar yang Rieta sewa menghentikan langkah, kemudian berbalik dan terkejut melihat menantu mereka baru saja keluar dari kamar hotel.
"Apa yang sedang Mama dan Papa lakukan di sini?" tanya Rieta memasang ekspresi keterkejutan alami.
"Seharusnya kami yang bertanya, apa yang sedang kamu lakukan di kamar hotel?" selidik Nyonya Melani menatap menantunya curiga.
"Paman tiba-tiba tidak enak badan, jadi aku membawa ke kamar untuk beristirahat sebentar karena tidak bisa meninggalkan acara secara tiba-tiba. Kami juga bersama asisten Liam," jelas Rieta.
Pandangan pasangan paruh baya itu segera beralih pada Arlan yang berdiri dengan dipapah Liam di belakang Rieta. Wajah Arlan yang dipenuhi keringan menurut pandangan mereka, penampilan berantakan yang tidak biasa, serta tarikan napas Arlan yang terlihat tidak teratur membuat pasangan paruh baya itu mempercayai sepenuhnya atas apa yang Rieta ucapkan.
"Lalu, kenapa Papa dan Mama di sini? Apakah ada seseorang yang ingin Papa Mama temui?" tanya Rieta.
"Papa mendapatkan pesan dari seseorang yang mengatakan ingin bertemu sebentar untuk membahas bisnis karena dia tidak bisa turun menemui Papa di lantai bawah," terang Tuan Marlan.
"Di kamar hotel?" alis Rieta berkerut. "Papa yakin?"
Tuan Marlan mendesah pelan. "Sejujurnya tidak, itulah mengapa Papa membawa serta Mamamu."
"Kalau begitu aku ikut saja untuk berjaga-jaga. Aku khawatir dia yang mengirim pesan pada Papa memiliki niat buruk," ucap Rieta menawarkan.
"Tapi kamu perlu membawa Arlan ke rumah sakit, dia terlihat tidak baik-baik saja," sahut Tuan Marlan.
"Aku... baik-baik saja, masih bisa kutahan," jawab Arlan susah payah.
"Apa yang Rie katakan benar. Bukan tidak mungkin pesan itu hanya jebakan, dan dia menggunakan acara pesta perusahaanku sebagai tameng."
Arlan memainkan dengan sempurna peran seorang yang tengah menahan sakit, berusaha berdiri tegak dengan dibantu Liam. Sementara Liam sendiri berusaha menahan tawanya melihat seorang Arlan yang ia kenal dingin melakukan apa yang Rieta minta tanpa sanggahan apapun.
"Kau yakin?" Tuan Marlan memastikan.
Arlan mengangguk.
"Baiklah, aku hanya akan sebentar," ucap Tuan Marlan.
Tuan Marlan kembali melanjutan langkah diikuti Rieta di belakangnya yang segera turut membantu Arlan berjalan untuk menyempurnakan perannya.
"Pasti kamu yang menghubungi mereka bukan?" tanya Arlan berbisik.
"Paman pintar," jawab Rieta turut berbisik tanpa bisa menyembunyikan senyum.
"Tujuan Rihana sudah jelas. Dia ingin membuatku malu dengan menciptakan drama panas seorang sekretaris penggoda yang menggoda bosku sendiri dan tidur bersama bosku di hotel saat acara ulang tahun prusahaan."
"Maka, akan kubalik permainan yang sudah dia mulai dengan membuka perselingkuhan suamiku sendiri. Aku sudah memperingatkan Evan untuk tidak berhubungan dengannya lagi, tapi Evan tidak mau dengar. Jadi, jangan salahkan aku."
"Tak kusangka, kau yang terlihat begitu penurut, lembut dan manis memiliki sisi licik," sindir Arlan melirik singkat ke arah Rieta, lalu kembali menatap lurus ke depan.
"Itu bukan licik Paman, tapi cerdik," ralat Rieta. "Aku juga sudah tahu jika Rihana yang menyabotase komputerku waktu itu, itulah mengapa aku tidak ragu."
"Kamu tahu?" Arlan menoleh dengan gerakan cepat, wajahnya menunjukkan keterkejutan.
"Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Arlan.
Keterkejutan juga dirasakan oleh Liam, pria itu menatap Rieta sekilas, sebelum kembali fokus menatap ke depan tanpa melepaskan tangan sang atasan dari bahunya.
"Akan kukatakan lain kali," jawab Rieta seraya memberi isyarat agar Arlan tidak terfokus padanya.
Langkah mereka terhenti di depan sebuah kamar. Tuan Marlan menekan bel pintu, sementara Rieta tetap berada di belakang Tuan Marlan sambil mambantu Liam yang tengah memapah Arlan dengan memegangi lengan sang paman.
"Ya-...?"
Suara dari seorang wanita yang baru saja membuka pintu terputus, wajahnya berubah pucat ketika tangannya mempertahankan selimut yang digunakan untuk mentupi tubuh polosnya. Mulutnya terbuka, tetapi tidak ada satupun kata yang keluar.
"Kak Rihana?"
Rieta memecah keheningan yang sempat terbentuk dengan menyebut nama si wanita, menyadarkan semua orang dari keterkejutan mereka.
"Apa yang sedang kakak lakukan di sini?" tanya Rieta lagi sembari menelisik penampilan Rihana yang hanya terbungkus selimut dan memiliki banyak tanda merah di leher serta bahu wanita itu.
Rihana membeku di tempat, wajahnya memucat, merasakan tatapan tajam dari Tuan Marlan terhadapnya. Ia tidak tahu harus menjawab apa, terutama setelah melihat Arlan dan Rieta tampak baik-baik saja. Semua kalimat yang biasanya sangat mudah ia ucapkan untuk membela diri, kini meninggalkan pikirannya.
"Bagaimana bisa?" batin Rihana tak percaya.
Ekspresi terkejut yang Nyonya Melani perlihatkan berbanding terbalik dengan Tuan Marlan yang kini mengeraskan rahangnya. Netranya menatap tajam wanita yang pernah ia tolak saat sang putra mengenalkan wanita itu.
"Aku..." Rihana tergagap, otaknya berpikir cepat untuk mencari jawaban masuk akal.
Namun, sebelum jawaban itu terlontar, Tuan Marlan menerobos masuk, mengabaikan seruan protes Rihana yang melarang pria paruh baya itu masuk dan melihat Evan terlelap di atas tempat tidur dengan selimut menutupi setengah tubuh polos sang putra.
"Tuan, tolong keluar dari kamar saya," pinta Rihana.
Sayangnya, permintaan itu tidak diindahkan oleh Tuan Marlan. Pria paruh baya itu murka, menatap tajam putranya seolah ingin membunuhnya, mendekat ke tempat tidur, lalu menarik kasar lengan putranya yang masih terlelap.
"Bangun!" bentak Tuan Marlan.
Evan mengeliat pelan, merasakan sakit pada lengannya, lalu membuka mata.
"Papa." Evan mengerjap, sedetik kemudian kedua mata Evan melebar, kesadarannya perlahan pulih.
"Apa yang sudah kau lakukan?" Tuan Marlan mendesis marah. "Sudah Papa peringatkan berulang kali untuk berhenti berhubungan dengan wanita itu. Kenapa kau justru melakukan hal rendah ini? Apa maumu sebenarnya, Evan?" hardiknya.
Kepalan kedua tangan Tuan Marlan bergetar, kentara menahan amarah yang sudah meluap melihat kelakuan putranya yang ia pikir sudah berubah.
"Aku..." Evan memegangi kepalanya, berusaha mengingat apa yang terjadi. Dalam ingatannya, terakhir kali ia melihat wajah sang istri, setelah itu ia tidak mengingat apapun.
Namun, semua persepsi itu musnah dalam sekejap saat ia tersadar sang ayah tidak datang seorang diri. Ada ibunya, paman serta asisten Liam, dan... istrinya yang masih dalam balutan gaun malam, menatap dirinya dengan keterkejutan yang sama.
"Bagaimana..." Evan terbata, tubuhnya membeku dengan wajah memucat, hatinya mendadak panik, merasakan perasaan yang baru pertama kali ia rasakan. Ia tidak ingin istrinya pergi.
"Rie," Evan mencoba bangkit, tetapi tubuhnya seolah terpatri di atas tempat tidur.
"Maaf..." Rieta tersenyum getir, membiarkan linang membasahi pipi. "Sepertinya aku sudah mengganggu."
Pandangan Rieta beralih pada ayah mertuanya, menatap dalam diam, namun sarat akan kekecewaan mendalam. Detik berikutnya ia berbalik, menarik serta Arlan dan Liam untuk keluar dari kamar, mengabaikan teriakan Evan yang terus memanggil namanya.
.
.
.
AVA Corp di malam hari tampak begitu sunyi dan gelap, suasana yang cukup untuk membuat suara ketukan sepatu yang beradu dengan lantai memantulkan gemanya mengisi keheningan yang ada.
Arlan melangkah menuju ruang kerjanya dalam diam, menggenggam tangan Rieta yang mengikuti langkahnya tanpa suara. Wajahnya datar tanpa ekspresi, menutupi apa yang tengah hatinya rasakan.
Namun, begitu ia sudah masuk ke dalam ruang kerjanya, tepat setelah ia duduk di kursi kerjanya, Arlan menarik Rieta dengan satu sentakan hingga wanita itu jatuh terduduk ke pangkuannya, sementara tangan pria itu segera melingkari pinggang Rieta kala seringai tipis terbentuk di bibirnya.
. . . .
. .. .
To be continued...
Hallo sahabat pembaca... Salam hangat...🤗
Maaf yaa... Lagi-lagi bolong up.🥲
Dua hari kemarin Author sempet drop, mual parah setiap kali bangun dari rebahan🤧🤧 . Tapi bukan hamidun yak🤣 biasa begitu setiap kali tekanan darah dan gula turun serentak. Alhasil, gak bisa nulis.
Ini Author nulis pelan-pelan dami kalian semua. Lope sekebon jagung buat kalian...😘😘 sehat sehat yaa buat kalian semua...
Salam sayang dari Author😘😘
ayo semua dansa denganku🤣🤣🤣🤣