Hanya Chanel yang bisa memperkosa suaminya sendiri supaya mendapat pengakuan sebagai istri.
Akibat perbuatan tidak senonohnya itu akhirnya Chanel hamil dan membuat masalah semakin rumit di pernikahan siri antara Valentino dan Dior.
Kok bisa gitu? Simak kisah cinta segitiga antara Chanel, Valentino dan Dior.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DHEVIS JUWITA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tak Terduga
Dior menarik nafas panjang sebelum menjelaskan semuanya pada Chanel, dia sudah mengambil keputusan dan Dior berharap Chanel akan menyetujui permintaannya.
“Chanel, apa kau mau mengabulkan permintaanku?“ tanya Dior kemudian.
“Permintaan apa?“ tanya Chanel semakin penasaran.
Akhirnya Dior menjelaskan gangguan kehamilan yang dialaminya pada Chanel dan dia sudah memilih untuk mempertahankan bayinya.
“Jadi aku mohon, jaga bayiku. Aku titip bayiku padamu dan berbahagialah merawatnya dengan Valen. Aku merestui kalian!“ ucap Dior dengan air mata yang berjatuhan, dia berharap keputusannya ini adalah keputusan yang tepat.
Sementara lidah Chanel merasa kelu, bingung harus menjawab apa. Bagaimana mungkin dia bisa melakukan itu semua?
“Hanya kau yang tahu masalah ini, aku hanya mempercayaimu Chanel. Aku harap kau mau merawat bayiku seperti anakmu sendiri!“ sambung Dior lagi.
Keputusan yang sangat berat, Dior benar-benar menurunkan semua egonya dan berusaha berbesar hati menerima Chanel sebagai madu sekaligus ibu pengganti bagi anaknya nanti.
“Lebih baik masalah ini kak Valen harus tahu, aku tahu kak Valen sangat mencintaimu, dia pasti memilihmu daripada bayinya,“ akhirnya Chanel bersuara dan mencoba menolak keputusan Dior.
“Kalau kau menjadi seorang ibu pasti kau akan tahu apa yang aku rasakan!“ sahut Dior.
Refleks Chanel langsung memegang perut ratanya, dia mungkin akan melakukan hal sama jika itu terjadi pada dirinya. Dia akan mempertahankan bayinya apapun yang terjadi.
Chanel terus memikirkan permintaan Dior padanya yang mana membuatnya tidak semangat bekerja hari ini. Dia lebih banyak melamun sampai salah mencatat menu dari pengunjung.
Dan hal itu tak lepas dari pengamatan Hermes yang mengawasi gerak gerik Chanel sedari tadi. Akhirnya dia memanggil Chanel supaya datang ke ruangannya.
“Maafkan aku, Bos. Sepertinya hari ini aku kelelahan jadi aku melakukan banyak kesalahan!“ ucap Chanel tertunduk.
Hermes mengernyit karena Chanel begitu sopan padanya. Tidak seperti biasanya yang selalu ceplas ceplos.
“Sepertinya kau memang kelelahan! Kemarilah,“ sahut Hermes meminta Chanel mendekat padanya.
Chanel mendekati Hermes tapi sedetik kemudian dia tersentak karena Hermes menariknya untuk duduk di pangkuannya.
“Loh ini kenapa? Aku tidak nyaman seperti ini!“ ronta Chanel ingin melepaskan diri.
Tapi Hermes bergeming, dia justru membelai punggung Chanel dengan lembut.
“Berbagilah kesedihanmu padaku, Chanel,“ ucap Hermes kemudian.
Hermes berpikir selama ini Chanel memendam semua kesedihannya sendirian dan dia sangat ingin Chanel terbuka pada dirinya. Dan berhasil, akhirnya Chanel menangis dengan membenamkan wajahnya ke dada Hermes.
“Kenapa seolah nasib baik tidak pernah berpihak padaku!“ keluh Chanel yang selalu dipermainkan oleh keadaan.
“Jadi bertemu denganku bukan nasib baik?“ tanya Hermes.
“Tentu saja nasib baik, kau menampungku, memberiku makan, memberiku pekerjaan dan juga uang lembur yang besar!“
“Anggaplah aku sebagai nasib baikmu sekarang dan seterusnya, Chanel!“
“Seterusnya?“
Chanel langsung menegakkan badannya supaya bisa melihat wajah Hermes dan menunggu jawaban dari pria itu.
“Jadilah kekasihku, Chanel,“ pinta Hermes.
Tentu saja membuat Chanel langsung salah tingkah, dia selama ini tidak memberitahu jati dirinya pada Hermes justru berbohong tengah dikejar rentenir.
“Bagaimana, apa kau mau?“ tanya Hermes lagi karena Chanel tak kunjung memberikan jawaban.
“Aku menyukaimu, Chanel!“
Chanel langsung melepaskan dirinya dari Hermes, dia bingung harus menjawab apa. Jika dia menjawab jujur, Chanel takut akan kehilangan pekerjaannya.
“Aku akan membayar semua hutangmu pada rentenir itu, Chanel!“ bujuk Hermes lagi.
“Katakan berapa hutangmu!“