Kehilangan seseorang yang sangat disayangi untuk selamanya itu, bukan hal yang mudah. Apalagi orang itu merupakan seorang anak yang sangat di sayangi.
Anaya Aninditia merupakan seorang gadis yang berumur 12 tahun, Anaya memiliki sebuah keluarga yang harmonis. Suatu ketika keharmonisan itu hilang, akibat ulah ibunya yang selalu mementingkan arisan, semenjak suaminya naik jabatan dan memiliki Gaji yang besar.
Anaya yang periang berubah menjadi pendiam karna perceraian orang tuanya. Satu ketika sang ayah mengenalkan sosok wanita yang memiliki 2 orang anak. Wanita itu mampu mengambil hati seorang Anaya.
Anaya yang dulu pendiam berubah menjadi periang kembali. Setelah kebahagiaan datang, Anaya mengalami kesedihan yang teramat dalam. Anaya harus kehilangan seorang ibu kandungnya untuk selamanya.
Dan kini Anaya sedang berjuang melawan penyakit meningitis yang bersarang di otaknya. Sakit itu berawal dari anaya sering sakit kepala.
apakah Anaya mampu bertahan dan melewati semua itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadia permata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 21
Bunda merasa sedih yang teramat dalam setelah mendengar kondisi Anaya dari suaminya.
"Ya Allah cobaan apa lagi ini, untuk anak hamba. engkau yang memberi sakit untuk anak hamba, engkau juga yang menyembuhkan anak hamba," gumam bunda dalam hati.
Bunda pun tak kuasa mendengar kondisi Anaya, bunda pun keluar dari kamar rawat karna ingin menenangkan diri.
Aris yang melihat bunda nya keluar rawat sambil menangis, membuat Arus bertanya-tanya. Aris pun menyusul bunda keluar kamar rawat.
"Bunda kenapa?," tanya Aris.
Bunda yang mendengar suara Aris, langsung memeluk anaknya.
"Anaya baru diduga mengidap sakit meningitis nak," ucap bunda dengan tersedu-sedu.
"Astagfirullah... Meningitis itukan radang selaput otak kan bu," ucap Aris.
"Bunda belum tau nak, ayah yang lebih tau. Karna ayah yang berbicara dengan dokter," ucap bunda.
Aris pun bingung harus bagaimana, Aris pun hanya bisa menangis sambil memeluk sang bunda.
"Aris harus gimana bun," ucap Aris.
"Beri dia semangat dan doakan dia, tapi jangan beri tahu dulu kondisi saat ini. Sebelum besok mulai pemeriksaan dan observasinya. besok Anaya menjalani M.R.I dan jangan beri tahu siapa-siapa dulu kondisi Anaya saat ini," ucap bunda.
Aris hanya bisa menganggukkan kepala tanpa berbicara apapun.
Ayah yang keluar dari ruang rawat Anaya, melihat istri dan anak sulungnya menangis.
"Doakan terus untuk Anaya ya, karna saat ini hanya doa kita sama Allah yang mampu menyembuhkan Anaya,"ucap Ayah.
Bunda dan Aris pun menghampirinya dan langsung memeluknya. Aris yang tak kuasa menahan tangis, menangis hingga tersedu-sedu.
"Tenang nak, besok akan mulai pemeriksaan dan baru nanti akan ada hasilnya. Kalian tenang ya, jangan bersedih seperti ini. Kita harus kuat dan memberikan semangat untuk Anaya," ucap ayah.
Bunda pun melepaskan sang suami, tapi Aris masih menangis sambil memeluk sang ayah.
"Sudah hapus air matamu nak, kita harus kuat. Masian Anaya, ya udah kita masuk. Nanti Anaya curiga. Kalian masuk dulu, ayah mau membeli makan ke kantin. Anaya ingin kue blcakforest" ucap ayah.
"Tadinya hari ini bunda mau bikin kue itu yah, tapi ada kejadian ini. Ya udah beli yang kecil aja, biar nanti sepulang dari rumah sakit, bunda bikin untuk Anaya," ucap bunda.
"Iya bun, ya udah kalian masuk temani Anaya" ucap Ayah.
Ayah pergi meninggalkan Aris dan bunda untuk mencari pesanan Anaya. Bunda dan Aris pun masuk ke dalam ruang rawat Anaya.
"Kakak dan bunda udah makannya," ucap Anaya
"Adah sayang, Anaya lapar atau butuh sesuatu,$ ucap bunda.
"Gak bun, Anaya cuman mau kue black Forest," ucap Anaya.
"Ya udah nanti bunda pulang ke rumah, dan bunda bikinkan untuk anak bunda yang cantik ini ya," ucap bunda.
"Makasih bunda,"ucap Anaya.
Anaya merasa bingung melihat sang kaka yang eedari tadi diam, biasanya gak seperti ini.
"Kaka habis nangis ya," ucap Anaya.
"Kaka gak kenapa-kenapa dek," ucap Aris berbohong.
"Tapi itu mata kaka merah, kaka nangis kenapa," ucap Anaya.
Aris yang bingung harus jawab apa, hanya bisa terdiam.
"Oh itu, tadi kaka liat ada korban kecelakaan di bawah, dan korbannya masih kecil. Jadi kaka kangen Adam," ucap bunda berbohong.
Bunda dan Aris berbohong untuk menutupi dari apa yang terjadi sesungguhnya.
"Oh iya Adam mana, Anaya kangen Adam," ucap Anaya.
"Adam ada di rumah sama mbak Nita, soalnya kan Adam belum boleh masuk ke rumah sakit," ucap bunda.
"Anaya pengen ngobrol sama Adam," ucap Anaya.
Bunda pun memanggil video call ke Nita
.
.
.
.
Nita yang mendapatkan telepon dari Bunda langsung mengangkatnya.
"Assalamu'alaikum Nit, mana Adam," tanya bunda.
"Bentar bun, den Adam lagi nonton TV," ucap Nita.
"Berikan teleponnya sama Adam ya Nit," ucap Bunda
"Baik bun," ucap Nita.
"Den Adam ini ada telepon dari bunda," ucap Nita.
"Makasih mbak Nita," ucap Adam.
HP Nita pun sudah di pegang oleh Adam.
"Assalamu'alaikum Adam," ucap bunda, Aris dan Anaya.
"Walaikumsalam semuanya," ucap Adam.
"Adek apa kabar," tanya Anaya.
"Adek baik kak, kaka cepet sembuh ya. Biar adek bisa tidur, main dan belajar sama kaka lagi," ucap Adam.
"Iya dek, do'ain kaka ya biar kak Anaya cepet sembuh,"ucap bunda.
"Iya bunda, adek do'ain. Ya Allah sembuhkan ka Anaya biar adek bisa ketemu ka Anaya di rumah. Ya Allah jangan bikin ka Anaya masuk rumah sakit lagi, adek sedih kalau ka Anaya masuk rumah sakit," ucap Adam sambil menangis.
Anaya yang mendengar doa dari Adam pun ikut menangis.
"Makasih dek udah do'ain buat kaka," ucap Anaya.
Semua yang mendengar doa dari Adam pun ikut menangis.
"Iya sama-sama Kak," ucap Adam.
Anaya yang tahu di sebelah Adam ada mbak Nita.
"Mbak Nita, titip Adam ya. Makasih udah mau jagain Adam," ucap Anaya.
"Iya sama-sama non, non Anaya juga cepat sembuh ya. Ikutin apa kata dokter, ayah dan bunda ya non," ucap Nita.
"Makasih mbak Nita," ucap Anaya.
"Adam udah dulu ya teleponannya, nanti malam bunda dan ka Aris pulang. Adam Jangan lupa kerjain PR ya dan jangan lupa makan,"ucap bunda.
"Dadah bunda, ka Aris dan ka Anaya, Assalamu'alaikum," ucap Adam.
"Walaikumsalam," jawab semua.
Anaya pun yang merasa senang sudah menelepon Adam, Anaya merasa ngantuk.
"Bunda..Anaya ngantuk, tapi Anaya pengen minum dulu," ucap Anaya.
Bunda pun langsung mengambilkan minum untuk Anaya dan Aris duduk di sebelah bed Anaya.
Setelah minum, Anaya memegang tangan Aris. Aris pun memegang juga tangan Anaya sambil mengecup kening Anaya.
"Adek istirahat ya, kaka di sini sama Anaya," ucap Aris.
Anaya pun mulai menutup matanya, Aris tetap menggenggam tangan Anaya dan mengelus kepala Anaya hingga tertidur.
Tidak terasa, Aris sudah meneteskan air matanya lagi dan buru-buru mengelap air mata yang turun hingga nafas Aris naik turun untuk menahan suara tangis.
Bunda yang melihat itu semua hanya bisa terdiam dan tanpa terasa air matanya ikut turun.
Akhirnya ayah datang dan melihat Anaya yang sudah tertidur di temani Aris. Ayah menghampiri bunda yang menangis.
"Sabar ya sayang, kita akan melakukan apa saja. asalkan Anaya bisa ssembu," ucap Ayah.
"Iya mas... Oh iya mas, aku sama Aris pulang ya. besok Aris harus sekolah, lagian ini udah jam 9 malam. Biar Anaya bisa istirahat," ucap bunda.
"Iya bun," ucap ayah.
Bunda pun menghampiri Aris yang sedang tidur di samping bed Anaya.
"Kak kita pulang yu, besok ke sini lagi," ucap bunda sambil berbisik.
Aris pun terbangun dan pelan-pelan melepaskan tangan Anaya. Aris pun pamit sama ayahnya.
dan Akhirnya Aris dan bunda untuk pulang.
#RIPNadiaPermata
ga sabar nya🤗😆😆