NovelToon NovelToon
Tasbih Retak Sang Istri Politisi

Tasbih Retak Sang Istri Politisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Ibu Mertua Kejam / Anak Yatim Piatu / Action / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Murni
Popularitas:11.8k
Nilai: 5
Nama Author: Tiga Alif

Nayara, gadis panti yang dianggap debu, terjebak di High Tower sebagai istri politisi Arkananta. Di sana, ia dihina habis-habisan oleh para elit. Namun, sebuah rahasia batin mengikat mereka: Luka Berbagi. Setiap kali Nayara tersakiti, Arkan merasakan perih yang sama di nadinya. Di tengah gempuran santet dan intrik takhta Empire Group, sanggupkah mereka bertahan saat tasbih di tangan Nayara mulai retak dan jam perak Arkan berhenti berdetak?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Invasi Santet

Langit di atas kompleks pinggiran Astinapura berubah menjadi warna tembaga yang tidak alami. Udara terasa statis, membawa aroma ozon yang tajam bercampur dengan bau tanah makam yang basah. Arkananta menghentikan kendaraan taktisnya di depan sebuah bangunan tua yang tersembunyi di balik rimbunnya pohon kamboja. Ia turun lebih dulu, jas hitamnya yang dilapisi serat antipeluru berkibar pelan, sementara tangannya menggenggam gagang pintu kendaraan dengan kekuatan yang membuat buku jarinya memutih.

"Jangan turun sebelum saya memberikan kode, Nayara. Frekuensi di tempat ini sudah terkontaminasi sepenuhnya," ucap Arkananta. Suaranya rendah, bergetar oleh aktivasi awal sumsum tulang besi yang mulai memanaskan suhu tubuhnya.

Nayara tetap membuka pintu, melangkah keluar dengan keanggunan yang menolak untuk tunduk pada rasa takut. Ia menggenggam tasbih kayunya yang telah retak melintang, sisa dari perlawanan batinnya saat diisolasi di High Tower sebelumnya. "Jika saya tetap di dalam, Anda hanya akan bertarung melawan bayangan. Mata saya adalah satu-satunya navigasi Anda di tengah kabut ini, Arkan."

Arkan menoleh, menatap istrinya dengan rahang yang mengunci rapat. Ia bisa merasakan denyut jantung Nayara yang tidak teratur melalui resonansi luka berbagi mereka. "Dilema ini akan membunuh kita jika kita tidak sinkron. Kyai Hitam sudah menyiapkan invasi fisik, bukan lagi sekadar halusinasi suara seperti yang Anda dengar di kamar tempo hari."

Tiba-tiba, suara dengungan tinggi memekakkan telinga terdengar dari arah bangunan tua itu. Ribuan jarum perak halus, yang berkilau dengan cahaya ungu pucat, melesat keluar dari celah-celah kayu lapuk. Itu bukan sekadar jarum fisik; itu adalah manifestasi materi dari dimensi lain yang dirancang untuk mengincar sumsum tulang dan saraf pusat.

"Sekarang, Nayara!" teriak Arkan.

Nayara memejamkan matanya, lalu membukanya dengan paksa. Cahaya keemasan berpendar dari korneanya—aktivasi mata kebenaran. "Di atas sana! Jarum-jarum itu disinkronkan dengan detak jam digital yang tertanam di bawah pohon kamboja!"

Arkan tidak membuang waktu. Ia memusatkan seluruh energi hampa ke telapak tangannya. Suhu di sekitarnya anjlok drastis hingga embun beku mulai muncul di atas daun kamboja. Ia melepaskan ledakan energi statis ke arah akar pohon, menghancurkan perangkat elektronik yang menjadi jangkar serangan metafisika tersebut.

Namun, Kyai Hitam tidak tinggal diam. Dari dalam kegelapan rumah, sesosok bayangan kurus muncul, memegang replika kecil bangunan High Tower. Setiap kali ia menusukkan jarum ke replika itu, Arkan merasakan nyeri yang luar biasa di sumsum tulangnya, seolah-olah tulang-tulangnya sedang dipahat hidup-hidup.

"Arkan!" Nayara berteriak, melihat keringat darah mulai muncul di dahi suaminya. Ia berlari mendekat, meletakkan tangannya di dada Arkan, mencoba menyerap sebagian rasa sakit itu melalui ikatan batin mereka.

"Jangan... Nayara. Mata Anda... jangan dipaksakan lebih jauh," rintih Arkan. Ia merasakan napasnya kembali menjadi manual dan sangat berat. Pendarahan halus mulai terjadi pada gusinya, tanda bahwa teknik absorbsi paksa sedang bekerja di luar kendali.

"Saya tidak akan membiarkan Anda memikul kegelapan ini sendirian," ucap Nayara. Ia memfokuskan seluruh intensitas matanya pada replika bangunan di tangan Kyai Hitam. "Bakar semua kebohongan itu!"

Seketika, cahaya dari mata Nayara menjadi begitu terang hingga membakar udara di sekitarnya. Ribuan jarum perak yang melayang di udara mulai mencair dan menguap menjadi asap hitam yang berbau busuk. Kyai Hitam berteriak kesakitan saat replika di tangannya hancur menjadi abu, namun harga yang harus dibayar sangat mahal.

Nayara ambruk ke pelukan Arkan. Kedua matanya tertutup rapat, dan setetes darah mengalir dari sudut kelopaknya. "Gelap... Arkan, semuanya tiba-tiba menjadi gelap," bisiknya lemah.

Arkan menggendong Nayara dengan penuh amarah yang tertahan. Ia menatap ke arah rumah tua yang kini mulai runtuh setelah sumber energinya dihancurkan. "Bayu! Amankan area ini! Jangan biarkan mahluk itu melarikan diri!"

Bayu muncul dari balik kendaraan, senjatanya sudah terkokang. Ia menyampaikan laporannya dengan poin-poin singkat yang padat dan tanpa jeda sedikit pun. "Lokasi sudah dikepung, Tuan. Tapi koordinat Erlangga telah berpindah. Ia sedang menuju gedung dewan tinggi."

"Tidak, Bayu. Dewan tinggi adalah bagian dari permainan Nyonya Besar. Kita tidak akan menggunakan jalur hukum yang mereka kendalikan," Arkan membalikkan badan, matanya menatap tajam ke arah menara High Tower yang menjulang di kejauhan. "Aktifkan seluruh unit di Terra. Saya ingin semua aset rahasia Empire Group yang atas nama Nayara mulai dikonsolidasikan. Kita akan melakukan pengambilalihan paksa dalam tiga hari ke depan."

Bayu tertegun. "Pengambilalihan paksa? Itu berarti perang terbuka dengan keluarga besar, Tuan."

"Perang sudah dimulai sejak jarum pertama menyentuh tulang saya semalam, Bayu. Sekarang, saya hanya sedang menyelesaikan apa yang mereka mulai," Arkan masuk ke dalam mobilnya, membanting pintu dengan kekuatan yang membuat kaca antipelurunya bergetar.

Di dalam kesunyian kendaraan, Arkananta menyandarkan kepalanya pada kemudi. Rasa pahit dari kopi di bab sebelumnya seolah kembali ke pangkal lidahnya. Ia merasakan perih yang luar biasa di matanya sendiri—sebuah resonansi dari kebutaan sementara yang dialami Nayara. Melalui luka berbagi, ia kini memikul kegelapan istrinya.

Ia mengeluarkan sapu tangan Terra milik Nayara, mencium aroma melati panti yang masih tertinggal di sana, lalu melipatnya dengan rapi. Fase menjadi yang tertindas telah usai. Malam ini, di bawah langit yang mulai memucat menuju fajar, Arkananta secara resmi menanggalkan jubah kasta rendahnya dan bersiap untuk berdiri sebagai Komandan yang sesungguhnya.

1
Kartika Candrabuwana
iya. makasih ya.
prameswari azka salsabil
bagus arkan
prameswari azka salsabil
mantap betul
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
kasihan mereka
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
waduh pengacau lagi
prameswari azka salsabil
sabar nay
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
joss arkan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
mantap arkan
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
tegar nayara
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
prameswari azka salsabil
miga baik baik saja
Kartika Candrabuwana: iya. makasih ya.
total 1 replies
Kartika Candrabuwana
pasangan yang luar biasa
Kartika Candrabuwana
iya betul arkan
Kartika Candrabuwana
tetao semangat arkan
Kartika Candrabuwana
bagys nayara
Kartika Candrabuwana
semangat arkan
Kartika Candrabuwana
yetap beraholawat nayara
Kartika Candrabuwana
lasangan yang luar biasa
Kartika Candrabuwana
wah ada pahar ghaib
Kartika Candrabuwana
semoga arkan dan nayara baik baik saja
Kartika Candrabuwana
jangan lupa bersholawat nayara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!