NovelToon NovelToon
Garis Tangan Nona Kedua

Garis Tangan Nona Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Dunia Lain / Spiritual / Time Travel / Reinkarnasi
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: ImShio

Lilian Zetiana Beatrixia. Seorang mahasiswi cantik semester 7 yang baru saja menyelesaikan proposal penelitiannya tepat pada pukul 02.00 dini hari. Ia sedang terbaring lelah di ranjangnya setelah berkutat di depan laptopnya selama 3 hari dengan beberapa piring kotor yang tak sempat ia bersihkan selama itu.

Namun bagaimana reaksinya ketika keesokan harinya ia terbangun di sebuah ruangan asing serta tubuh seorang wanita yang bahkan sama sekali tak ia kenali.

Baca setiap babnya jika penasaran, yuhuuuu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ImShio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pembawa Sial

Punggung Wu Fanghua kini telah berubah menjadi hamparan luka merah yang mengerikan. Kulitnya pecah-pecah, beberapa bagian terkelupas hingga memperlihatkan daging merah basah di bawahnya. Darah merembes perlahan melalui kain tipis yang menempel di tubuhnya, menetes satu per satu ke lantai marmer aula istana yang dingin dan berkilau.

Beberapa bangsawan yang duduk di barisan depan tanpa sadar mengerutkan dahi. Ada yang memalingkan wajah, ada pula yang pura-pura menyesap arak untuk menyembunyikan rasa tak nyaman mereka. Namun tidak sedikit pula yang menatap dengan mata berbinar menikmati penderitaan seorang gadis tersebut. Cambukan terakhir mendarat dengan suara keras.

Wu Fanghua terhuyung, lalu jatuh berlutut di lantai.

“Ugh… hiks… hiks…”

Tangisnya pecah tanpa bisa ditahan. Suaranya parau, terputus-putus, seolah setiap helaan napas membawa rasa sakit yang menusuk hingga ke tulang. Tubuhnya gemetar hebat. Bukan hanya karena rasa perih yang membakar di punggungnya, melainkan juga karena rasa malu yang menghancurkan harga dirinya sedikit demi sedikit.

Di aula megah ini, di hadapan para bangsawan, pejabat tinggi, dan keluarga kekaisaran, ia dipermalukan tanpa sisa.

“Fanghua… Fanghua, anakku…”

Selir Li Hua berlari menghampiri. Gaun sutranya yang mewah terseret lantai marmer tanpa ia pedulikan. Rambutnya yang disanggul rapi sedikit berantakan, napasnya tersengal saat ia berlutut di samping putrinya. Tangannya gemetar ketika memeluk tubuh Wu Fanghua yang lemah dan penuh luka. Ia menarik putrinya ke dalam pelukan, seolah ingin melindunginya dari tatapan kejam dunia.

"Ibu di sini…Fanghua…”

Air mata Selir Li Hua jatuh membasahi rambut putrinya, bercampur dengan keringat dan darah. Tangannya mengusap kepala Wu Fanghua dengan lembut, meski hatinya sendiri terasa remuk.

Namun di balik pelukan hangat itu, tatapan Selir Li Hua perlahan berubah.

Ia mengangkat kepalanya sedikit, lalu beralih ke arah seorang gadis yang berdiri tegak tak jauh dari sana dengan postur lurus dan wajah yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menyaksikan hukuman kejam.

Wu Zetian.

Gadis itu berdiri tanpa sedikit pun rasa bersalah. Wajahnya datar, matanya dingin, seolah semua yang terjadi barusan hanyalah sebuah pemandangan biasa. Tidak ada simpati, dan tidak ada penyesalan. Di dalam dada Selir Li Hua, kebencian meledak tanpa suara.

Wu Zetian…

Giginya mengatup erat. Tangannya mengepal hingga kukunya menancap ke telapak tangan sendiri.

Tunggulah pembalasanku. Aku bersumpah… penderitaan anakku hari ini akan kau bayar berlipat ganda suatu hari nanti.

Namun di hadapan semua orang, Selir Li Hua tetap memasang wajah seorang ibu yang hancur. Dengan susah payah, ia membantu Wu Fanghua berdiri. Tubuh putrinya terasa ringan dan lemas di pelukannya.

“Ayo, Fanghua…” ucapnya pelan. “Ibu akan membawamu ke pinggir aula."

Wu Fanghua hanya mampu mengangguk lemah. Tangisnya belum berhenti, bahunya naik turun seiring isakan yang tak terkendali. Saat mereka berjalan menjauh ke sudut aula, Wu Fanghua tanpa sengaja mengangkat pandangannya.

Tatapannya bertemu dengan Wu Zetian.

Mata Wu Fanghua merah dan basah, penuh kebencian, rasa sakit, dan dendam yang mendidih. Tatapan itu seolah berteriak, seolah bersumpah bahwa hari ini belum berakhir.

Namun Wu Zetian hanya menatapnya dengan mata datar. Lalu, perlahan, sudut bibirnya melengkung.

Senyum tipis.

Senyum puas.

Itu baru sambutan, dan ini baru permulaan.

Batinnya tenang.

Tak lama kemudian, seolah tragedi barusan hanyalah selingan tak berarti, pesta perjamuan kembali berlanjut. Musik dimainkan lagi. Denting kecapi dan seruling memenuhi aula, berusaha menutup gema tangisan Wu Fanghua yang masih terngiang di udara.

Para kasim bergerak cepat, membawa masuk hidangan baru dengan wajah tanpa ekspresi.

Satu per satu, para bangsawan dan anak pejabat maju ke depan untuk memberikan hadiah bagi Putra Mahkota Tang Liwei. Kotak giok berkilau diserahkan dengan kedua tangan. Pedang berhias emas dengan sarung ukir naga dipersembahkan dengan penuh kebanggaan. Lukisan kuno karya maestro ternama dihamparkan dengan hati-hati. Pil obat langka yang konon mampu memperpanjang usia diletakkan dengan penuh hormat. Hadiah-hadiah itu ditumpuk rapi di meja panjang di depan Putra Mahkota.

Hingga akhirnya semua orang telah memberikan hadiah. Kecuali satu. Wu Zetian.

Gu Meilin berdiri dari tempat duduknya. Pergelangan tangannya masih dibalut kain. Ia menoleh kearah Wu Zetian, matanya berkilat licik, seolah ia baru saja menemukan kesempatan emas. Ia melangkah ke depan, suaranya dibuat lembut dan polos.

“Nona Wu Zetian,” ucapnya, menarik perhatian seluruh aula. “Apakah kau tidak membawa hadiah untuk Yang Mulia Putra Mahkota?”

Suasana mendadak hening.

Gu Meilin menoleh sedikit, pura-pura kebingungan. “Atau…” katanya pelan, “apakah kau hanya ingin menikmati acara ini dengan cuma-cuma?”

Ia menutup mulut, seolah baru menyadari kekurangajarannya sendiri.

“Ah, sudahlah,” lanjutnya sambil menghela napas palsu. “Mungkin saja keluargamu memang sudah cukup miskin untuk sekadar menyiapkan hadiah.”

Bisik-bisik langsung menyebar. Beberapa bangsawan menatap Wu Zetian dengan rasa ingin tahu. Yang lain menunggu, haus akan drama lanjutan. Wu Zetian perlahan melangkah maju. Langkahnya tenang dan wajahnya tak menunjukkan kemarahan ataupun malu.

“Ini adalah hadiah kecil dariku, Yang Mulia Putra Mahkota,” ucapnya sopan. “Aku harap Yang Mulia sudi menerima hadiah dari hamba yang miskin ini.”

Ia sengaja menekankan kata miskin.

Tang Liwei mengangkat alis, ketertarikan jelas terpancar di matanya namun juga rasa cemburu karena kakaknya telah lebih dulu mendapat hadiah dari Wu Zetian.

Wu Zetian menyerahkan sebuah kotak memanjang berwarna hitam. Ukirannya sederhana, namun elegan dan tidak mencolok. Namun Gu Meilin kembali bersuara.

“Yang Mulia,” katanya cepat, “sebaiknya Anda tidak menerima hadiah darinya.”

Semua mata beralih padanya.

“Aku hanya tidak ingin Yang Mulia tertimpa kesialan dari barang yang ia bawa.”

Senyum Wu Zetian tak berubah sedikit pun.

“Kesialan?” katanya pelan. “Aku pikir pembawa sial yang sesungguhnya di sini adalah kau.” Seisi Aula terdiam.

Wu Zetian melangkah sedikit lebih dekat, tatapannya menusuk.

“Lihatlah ayahmu,” katanya sambil menunjuk Gu Shao. “Ayahmu kehilangan istrinya karena melahirkanmu.”

Napas banyak orang tertahan.

“Sungguh menyakitkan baginya harus merawat anak yang menjadi awal dari kepergian istrinya,” lanjut Wu Zetian dingin,

Ia mengalihkan pandangan ke arah Gu Yin.

“Dan aku juga kasihan pada kakakmu. Ia kehilangan kasih sayang seorang ibu juga karenamu.”

Wu Zetian menatap Gu Meilin lurus-lurus.

“Sungguh,” katanya tanpa emosi, “kau benar-benar pembawa sial.”

Wajah Gu Meilin memucat.

Ia berlari ke arah ayahnya. “Ayah…?” suaranya bergetar. “Apa yang dia katakan itu benar?”

Gu Shao terdiam.

Gu Meilin beralih ke Gu Yin. “Kakak…? Itu tidak benar, kan?” Gu Yin gemetar, lalu

“YA!” teriaknya meledak. “SEMUA YANG DIA KATAKAN ITU BENAR!”

Kata-kata itu menghantam Gu Meilin seperti petir.

“KAULAH PEMBAWA SIAL DALAM HIDUPKU!” teriak Gu Yin sambil mendorongnya. “Mulai dari sekarang, ENYAHLAH!”

Tubuh Gu Meilin terpental dan jatuh ke lantai. Tawanya pecah, kemudian menjadi sedih lalu kembali tertawa lagi.

Wu Zetian berbalik.

Menjijikkan, batinnya.

_________________

Yuhuuu~🌹

Jangan lupa beri dukungan dengan cara like, komen, subscribe dan vote karya-karya Author💖

See you~💓

1
Wahyuningsih
💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Murni Dewita
double up thor
Murni Dewita
next
Murni Dewita
lanjut
Murni Dewita
👣
xiaoyu
gaaass truuss
Wahyuningsih
thor upnya dikit amat 😔😔 amat aja gk dikit 😄😄😄klau up yg buanyk thor n hrs tiap hri makacih tuk upnya thor sehat sellu thor n jga keshtn tetp 💪💪💪
Wahyuningsih
lanjut thor yg buanyk upnya thor n hrs tiap hri jgn lma2 upnya thor makacih tuk upnya thor sehat sellu n jga keshtn tetp 💪💪💪
☘️🍁I'mShio🍁☘️: Siaaap kak, dan terimakasih dukungannya🥰
Sehat selalu💖
total 1 replies
Wahyuningsih
mantap thor wu zetian dpt ruang dmensi mkin sru 😄😄😄
Wahyuningsih
thor hrs kasih bnuslah ruang dimensi biar mkin seru bikin wu zetian badaz abiz
☘️🍁I'mShio🍁☘️: Hehe sabar yaa kak, nanti ada kok🤭
total 1 replies
Wahyuningsih
q mampir thor, moga2 jln critanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!