Kisah sebuah balas dendam dari seorang wanita bernama Kiara yang dikhianati oleh kekasihnya sendiri, membawanya bertemu dengan sosok NYAI RONGGENG yang dapat menjanjikan kecantikan, dan digemari banyak pria.
Kisah mistis ini berasal dari daerah Dusun 16, Desa Kolam, Kecamatan Percut Sei Tuan-Deli Serdang-Sumutera Utara (Sekitaran Medan).
Bagaimana kisah Kiara selanjutnya? ikuti kisahnya dalam novel ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sosok Lain
Hari sudah temaram. Lembayung menggantung dilangit senja. Kiara berdiri menanti seseorang yang sudah berjanji akan menjemputnya.
Ia berdandan dengan gaya yang menggoda. Sudah beberapa mobil yang berhenti dan memintanya untuk masuk, tetapi ia menolaknya, sebab bukan Rudy yang dimaksud.
Bahkan ada yang turun langsung, dan memaksanya, karena tidak tahan dengan godaan tubuh Kiara yang sangat menggairahkan.
Hingga hampir waktu Maghrib tiba, sebuah mobil berwarna hitam berhenti didepannya.
Sang sopir membuka pintu, lalu meminta Kiara untuk masuk. Melihat siapa yang berada didalamnya, gadis itu masuk dengan cepat.
"Lama sekali!" omel Kiara dengan kesal. Ia memanyunkan bibirnya dengan raut wajah kesal.
"Sabar, Sayang, jangan marah. Aku akan mengganti waktumu yang terbuang dengan segala kesenangan," ujar Rudy, sembari tersenyum sumringah.
Ia menyetir dengan penuh semangat, dan saat sebuah pesan masuk dari wanita bernama Rina, yang tak lain adalah istrinya sendiri, dan memberikan kabar jika putera mereka sedang dirawat dirumah sakit dengan kondisi muntah tanpa henti.
Rudy membaca sekilas saja. Lalu mengabaikannya, sebab hatinya pada sang istri dan juga anaknya seolah sudah mati.
"Aku mau uang tambahan atas keterlambatan yang sudah kamu buat," Kiara ingin memberi hukuman pada pria yang sudah membuatnya terabaikan hingga beberpa menit lamanya.
"Apapun untukmu." Rudy mencubit gemas dagu Kiara, dan itu cukup berhasil membuat Kiara kembali tersenyum.
****
Mobil yang ditumpangi Rudy berhenti didepan sebuah hotel yang cukup mahal.
Harga menginapnya untuk semalamnya dapat membiayai puteranya yang sedang sakit.
Keduanya turun dari mobil dan berjalan saling beriringan, hingga ketika bertemu dengan seorang relasinya yang saat itu berada ditempat yang sama.
Pria berrubuh tinggi dan juga seorang wanita berpakaian sexy menjadi pasangannya.
Rudy sibuk bercengkrama, hingga Kiara merasa kebelet pipis, lalu memberi isyarat kalau dia akan ke toilet.
Gadis itu melangkah dengan terburu-buru menuju koridor, hingga tanpa sadar ia bertabrakan dengan seseorang.
Braaaak
Kiara bergeser tubuhnya hingga ke dinding, dan memegang lengannya yang sakit.
Ia mengangkat wajahnya, dan ingin melihat siapa orang yang sudah menyentuhnya, bahkan tak berniat untuk meminta maaf.
Dihadapannya berdiri seorang pria tampan, menatapnya dengan tatapan dingin, dan ekspresinya terlihat begitu datar.
Kiara memperbaiki posisinya, lalu menatap pria tampan dihadapannya yang tampaknya bergeming, dan memindainya untuk beberapa detik.
Kiara sibuk membenahi penampilannya, dan terlalu percaya diri akan apa yang dimilikinya.
Tetapi setelahnya berpaling, lalu melangkah tanpa menoleh ke arah Kiara sedikit pun.
Gadis itu mengangakan mulutnya. Tidak biasanya jika seorang pria yang sudah bersentuhan kulit dengannya akan se acuh itu, bahkan tak berminat padanya.
Ketika pria melintasinya, rasa penasaran Kiara semakin membuncah, siapa, Dia? Mengapa tidak terpengaruh dengan ajian Nyai Ronggeng yang dimilikinya.
"Tunggu!" cegah Kiara dengan nada kesal.
Sang pria menghentikan langkah. Lalu berdiri dan memasukkan tangannya ke dalam saku celananya.
Kiara berjalan menghampirinya, lalu berdiri dihadapan pria yang saat ini mengenakan pakaian stelan jas berwarna hitam.
Tubuhnya tinggi sekitar seratus delapan puluh delapan, dan postur tubuh yang proposional.
Kiara melipat kedua tangannya, lalu menatap pria yang dianggapnya terlalu acuh.
"Setelah kau menabrakku, sekarang tidak sedikitpun kata maaf terucap darimu?" Kiara memiringkan kepalanya ke kiri, seolah memberikan intimidasi, dengan iringan tatapan yang menekan.
Pria itu balik menatap, tetapi bukan pada diri Kiara, namu sesuatu yang berada didalam tubuh sang gadis, dan sedang berusaha mengendalikan dan menguasai gadis tersebut.
Sosok lain didalam tubuh Kiara sedang menatap tajam pada sang pemuda, seolah tak menyukai kehadirannya.
"Menyingkirlah, apa kau kira kau sudah terlalu menggoda?" ucap sang pemuda dengan wajah datar.
Lagi-lagi Kiara harus tercengang, sebab pria itu justru sama sekali tidak terpengaruh akan pemikatnya, tentu saja membuatnya semakin penasaran.
Setelah mengatakan itu, ia berlalu, dan tak peduli dengan tatapan Kiara yang seolah tak ingin diabaikan begitu saja, itu adalah penghinaan baginya.
Akan tetapi, ketika ia memutar tubuhnya ke belakang, pemuda itu sudah menghilang bersama orang yang berlalu lalang ke toilet.
"Hah! Kemana dia perginya?" Kiara celingukan mencari keberadaan pria tampan tersebut.
Entah mengapa hatinya terusik saat melihatnya.
Tak mendapati pria yang dicarinya, Kiara memutuskan ke toilet, dan melanjutkan hajatnya.
Saat melintasi sebuah cermin, ia terdiam termangu, melihat kondisi tubuh dan wajahnya yang sangat begitu indah, tetapi mengapa pria itu tidak tertarik padanya?
Saat ditengah kegelisahannya, tiba-tiba saja, seorang wanita yang menggendong bayi usia tiga tahun dan baru keluar dari toilet, karena merupakan tamu dihotel yang sama menatap Kiara dengan wajah ketakutan.
"Ma, momok, Ma," tunjuknya ke arah Kiara yang sedang bercermin dengan ukuran selebar dinding.
"Mana momok, Sayang? Gak ada momok disini, kamu jangan ngada-ngada," sang mama menepis ucapan puteranya.
"Itu, Ma.. Momok didepan aunty," tunjuknya ke arah Kiara.
Sontak saja hal itu membuat Kiara tersentak kaget, bagaimana bocah itu dapat melihat apa yang ada di dalam tubuhnya.
"Huss, gak boleh ngomong begitu," sang Mama menutup mulut anaknya dengan cepat.
"Maaf, ya, Dik. Anak saya ngelantur," ucapnya dengan meminta maaf.
Kiara mengulas senyum datar, dan kembali bercermin. Ia berfikir, apakah bocah itu benar melihat Nyai Ronggeng? Tetapi mengapa katanya momok? Bukankah momok wajahnya menakutkan? Tetapi mengapa yang dilihatnya sangat cantik rupawan?"
Bocah itu sudah dibawa pergi oleh mamanya, dan meninggalkan Kiara yang saat ini dalam kegelisahan.
Sebuah panggilan masuk ke dalam ponselnya, dan itu berasal dari Rudy yang sedang mencarinya.
Kiara terburu-buru mengangkatnya. Ia tak ingin kehilangan uangnya.
"Iya, Sayang," ucapnya dengan wajah sumringah.
"Buruan, ya, Sayang. Saya tunggu dikamar tiga ratus satu," ucapnya dengan tak sabar.
"Ya, aku akan menyusul," sahutnya dengan manja.
Panggilan berakhir, dan Kiara bergegas ke kamar mandi, lalu mempersiapkan dirinya untuk kembali melayani Rendy yang terlihat sudah tak sabar ingin membajak sawahnya.
Sementara itu, di kamar hotel, Rendy menunggu dengan tak sabar. Ia membaringkan tubuhnya ditepian ranjang. Bayangan permainan Kiara sudah terbayang dibenaknya.
Akan tetapi, ia mendengar suara gemericik air yang keluar dari keran air disalam kamar mandi.
Aroma melati tiba-tiba menguar diruang penginapan. Ia merasa kenal dengan aroma tersebut, sebab yang keluar dari liang milik Kiara sangat begitu memikat dan itu adalah bau milik Kiara.
Ia mengerutkan keningnya. "Apa Kiara dikamar mandi? Tapi mengapa ia bisa tahu nomor hotelnya? Aku kan merahasiakannya?" gumam Rudy dengan rasa penasaran.
Ia beranjak dari tepian ranjang, lalu menuju ke pintu kamar mandi, dan melihat dari arah luar, dimana terlihat seseorang sedang mandi tanpa sehelai benangpun.
Deeeg, jantung Rudy seolah berhenti berdetak, tetapi ia melihat jika itu adalah Kiara.