Ketika teman baiknya pergi ke Korea untuk menjadi seorang idol, Sena mengantarkan kepergiannya dengan senang hati. Menjadi penyanyi adalah impian Andy sejak kecil, maka melepasnya untuk menggapai mimpi adalah sebuah keputusan terbaik yang bisa Sena ambil.
Setelah kepergian Andy ke Korea, mereka kehilangan kontak sepenuhnya. Sependek pengetahuannya, persiapan menjadi idol berarti merelakan waktunya banyak tersita untuk berlatih banyak hal. Jadi hari-hari Sena lalui tanpa rasa keberatan. Malah, tak lupa selalu diselipkannya doa untuk teman baiknya, semoga kelak berhasil debut dan menggapai cita-citanya.
Namun siapa sangka, kerelaan hati Sena itu pada akhirnya membawa jalannya sendiri untuk kembali bertemu dengan Andy sang teman baik. Di pertemuan setelah sekian lama, akankah Sena menemukan Andy masihlah sama dengan Andy yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak?
Masihkah mereka menjadi perfect partner bagi satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Girl's Time
“Jadi, apa yang harus aku lakukan?” Taehee bertanya penuh harap.
“Aku sarankan kau membeli penetral amonia dan rajin-rajin mengganti air akuarium. Selain itu, jangan lupa untuk membersihkan sisa-sisa makanan yang mengendap di dasar kolam. Sering-seringlah mengecek, aku yakin hal ini bisa dicegah untuk tidak terjadi lagi.”
Taehee mengangguk, mencatat semua saran yang Sena berikan di dalam kepalanya, dan bertekad untuk melakukannya. “Baiklah,” katanya, menatap Sena dengan sorot mata penuh syukur. “Terima kasih banyak. Dan maaf karena kau tiba-tiba membawamu ke sini, aku hanya sangat panik dan merasa kau punya solusi untuk masalah yang sedang kuhadapi.”
“No problem,” sahut Sena. “Aku senang sedikit pengetahuanku bisa berguna.”
Taehee berterima kasih sekali lagi, kemudian mendorong Andy—yang dari tadi hanya jadi penonton—keluar dari kamarnya. Taehee bilang akan mengeksekusi semua saran yang Sena berikan dan dia butuh waktu sendirian. Konyolnya, dia hanya mengusir Andy, sedangkan Sena dia biarkan menyusul keluar sendiri.
“Santai saja lah, Hyung. Aku bisa keluar sendiri.” Andy memprotes, namun sama sekali tidak ditanggapi oleh Taehee. Pria itu malah lebih kuat mendorongnya, sampai sukses keluar dari kamar.
“Terima kasih, Sena. Aku akan berikan update terkait ikan-ikanku nanti,” kata Taehee. Senyumnya manis sekali, sebelum akhirnya dia kembali ke kamar dan menutup pintu.
Andy mendesah pelan, kepalanya menggeleng tak habis pikir. Rasanya, semua orang selalu lebih antusias berinteraksi dengan Sena sekarang. Entah dirinya harus merasa senang atau kesal.
“Hyung akan sibuk dengan dunianya sendiri,” katanya, menoleh pada Sena. “Sebaiknya kita ke unitku saja. Percuma kita di sini.”
Sena mengangguk. Dia membuntut di belakang Andy yang berjalan menuju pintu depan.
“Ada siapa di sana?” tanya Sena. Dia baru akan membungkuk untuk mengenakan kembali sepatunya, ketika suara seorang perempuan terdengar dari arah belakang.
“Astaga!” Sena berseru, tatkala menoleh dan menemukan seorang perempuan berambut hitam keluar dari salah satu kamar di unit apartemen itu. Sena mengenali perempuan itu. Dia adalah kekasih Jeremy. Foto dan wajah aslinya sama persis, jadi mudah sekali bagi Sena untuk mengidentifikasi bahwa mereka adalah orang yang sama.
“Kau Elara, kan?”
“Iya!” sahut Sena, dan perempuan tadi merespons dengan tepuk tangan meriah, tampak antusias.
“God! Terima kasih karena akhirnya ada gadis lain yang masuk ke circle ini,” ucapnya. “Perkenalkan, aku Joana, kekasih Jeremy.”
Perempuan itu memiliki rambut yang berkilau, bibir yang tebal dan tampak sehat, serta mata yang indah. Sesosok malaikat bagi Sena, sebab tidak akan mudah baginya menemui perempuan secantik Joana di sembarang tempat. Sena sampai hampir tidak berkedip saat menyaksikan Joana berjalan cepat ke arahnya, lalu memeluknya erat. Saat pelukannya dilepas, Sena melihat Joana menatap Andy dan tersenyum tidak enak.
“Maaf, Andy, tapi aku harus membawa Lara sebentar bersamaku,” katanya.
Andy terperangah, mulutnya menganga dan kedua tangannya jatuh lemas di samping tubuh. “Yang benar saja…” desahnya pelan.
Sebelum sempat protes lebih jauh, Joana sudah lebih dulu menggandeng tangan Sena, mengajaknya pergi ke kamar tempat tadi Joana pertama kali muncul. Ketika pintu terbuka, Sena menemukan Jeremy sedang rebahan di atas tempat tidur. Pria itu langsung bangun dan tersenyum begitu menyadari kehadirannya.
“Oh, hai, Lara. Aku tidak tahu kalau kau datang hari ini.”
“Hai, Jeremy,” Sena balas menyapa. “Ini agak di luar rencana, jadi … yah, aku bahkan tidak tahu akan berakhir di sini.” Dia melanjutkan, tertawa pelan.
Tadinya Sena memang tidak berniat datang ke unit ini. Dia dan Andy mulanya sepakat untuk bertemu di lain tempat, tapi karena Andy bilang dia sedang bersama dengan Taehee untuk mengobrolkan sesuatu, jadi Sena diarahkan untuk datang saja ke sini. Sena tidak menyangka akan bertemu dengan Jeremy dan kekasihnya juga hari ini.
Joana mendekat, dan berhenti di dekat tempat tidur. “Babe,” katanya.
“Apa?” tanya pria itu, menatap Joana bingung.
“Keluar. Aku ingin mengobrol dengan Lara.”
“Tapi ini kamarku.”
“Lalu?”
Jeremy tertawa pendek dan menggeleng, memutuskan mengalah pada kekasihnya dan segera bangkit. Dia berjalan keluar, memberikan waktu pada para gadis untuk menikmati waktu mereka.
Setelah Jeremy keluar, Joana menutup rapat pintu kamar dengan rapat, seakan tidak ingin siapa pun tiba-tiba masuk dan mengganggu. Kemudian, dia duduk bersila di atas tempat tidur, tampak santai seperti sudah terbiasa ada di sana.
“Kau tahu? Rasanya aneh saat pertama kali mendengar Andy berbicara tentang seorang gadis.” Joana memulai.
Sena mendengus, lalu tertawa geli. “Bisa dimengerti. Dia memang terlihat seperti seseorang yang tidak pandai berinteraksi dengan perempuan,” katanya.
Kadang-kadang, kalau melihat bagaimana Andy mudah sekali dibuat tersipu oleh gombalan para fans, Sena jadi merasa tergelitik. Padahal Andy bukan lagi bocah ingusan yang baru memasuki masa pubertas. Dia juga sudah berkecimpung di dunia hiburan untuk waktu yang cukup lama, sehingga pasti sudah kerap berinteraksi dengan ragam manusia—termasuk lawan jenis dengan berbagai karakter berbeda. Tapi Andy masih saja sering terlihat salah tingkah.
Joana mengangguk kecil. “Karena kau adalah teman masa kecilnya, jadi dia tidak kelihatan canggung saat membicarakan soal dirimu, ya.”
“Benar.”
“Menakjubkan,” gumam Joana, hampir tidak tertangkap oleh telinga Sena.
Sena menaikkan sebelah alisnya. “Apanya?”
“Fakta bahwa kalian berteman sejak kecil,” kata Joana.
Sena manggut-manggut dengan bibir terbuka membentuk huruf O.
“Tapi,” kata Joana lagi. Masih dengan posisi bersila, dia menggeser sudut pandangnya hingga penuh menghadap Sena. “Kenapa Andy bisa bertahan selama ini, ya?”
“Memangnya kenapa?” tanya Sena, kembali dibuat bingung.
“Maksudku…” Joana memindai Sena dari atas sampai bawah. Tatapannya serius, seolah ini adalah misi yang sangat penting. “Kau sangat hot! Aku heran kenapa Andy bisa bertahan selama ini, hanya untuk tetap menjadi temanmu. Kenapa pria itu tidak menjadikanmu kekasih, coba?” lanjutnya dengan semangat yang menggebu-gebu begitu tatapannya kembali bertemu dengan mata Sena.
“Oh, lihatlah siapa yang berbicara,” Sena melenguh pendek, bola matanya berotasi. “Saat pertama kali Jeremy menunjukkan fotomu, aku langsung kepikiran membeli cincin nikah untuk melamarmu,” cetusnya. “Maksudku, kau jauh jauhhhh sekali lebih hot, sehingga membuat aku yang straight ini bahkan jatuh hati!” pungkasnya. Dia sungguh-sungguh mengatakannya. Joana sangat cantik, seperti malaikat—dia sudah bilang tadi.
Mendengar pujian itu, Joana tersenyum miring. “Kalau begitu, lupakan soal para pria itu. Belikan aku cincin, mari kita menikah,” guraunya.
“Deal!” Sena berseru, dan mereka terbahak.
“Tapi serius, pasti ada sesuatu di antara kau dan Andy, kan?” tanya Joana, seketika membuat Sena tertawa.
"Tidak. Percaya atau tidak, tapi kami memang hanya teman." Ketika Joana baru membuka mulut untuk bicara lagi, Sena cepat-cepat memotong. "Aku tahu ini terdengar seperti alasan, tapi itulah kenyataannya."
Joana menghela napas, membetulkan posisi duduknya agar lebih rileks. "Ya ... baiklah, jika memang begitu yang kau katakan. Mungkin aku hanya merasa aneh melihat Andy sangat nyaman di dekatmu."
Sena tertawa dan mengangguk. Situasi antara dirinya dan Andy memang unik. Apalagi pertemuan mereka kembali setelah sekian lama, terjadi dengan cara yang tak terduga. Ditambah Andy yang tidak pernah terlihat dekat dengan gadis mana pun, tiba-tiba sangat sering membawanya pergi bertemu teman-temannya, wajar ketika mereka kini memikirkan hal tersebut.
Dalam beberapa menit setelahnya, obrolan mereka berlanjut. Joana bertanya tentang masa kecil Sena dan Andy, sementara Sena mengimbangi dengan bertanya juga tentang Jeremy. Dari bagaimana Joana menjawab pertanyaannya, jelas dirasakan oleh Sena bahwa gadis itu memang sangat mencintai Jeremy.
Ketika mereka masih asyik mengobrol, pintu kamar terbuka dan mereka kompak menolehkan kepala.
"Joana, boleh aku ambil Lara lagi? Semua orang merebutnya dariku hari ini," kata Andy seraya terkekeh pelan.
Joana melirik Sena dan tersenyum miring. "Tentu saja boleh," jawabnya lalu turun dari kasur.
Sena ikut bangkit dan hendak berjalan menuju Andy, tapi Joana menghentikan langkahnya.
"Beri aku nomormu. Kita harus mengobrol lebih banyak lain kali."
"Tentu!" Sena segera memberikan nomornya pada Joana, dan menerima nomor gadis itu sebagai gantinya. Lalu dia berjalan keluar menyusul Andy.
Jeremy, sang pemilik kamar yang sempat terusir, melihat keluarganya Andy dan Sena sebagai pertanda bahwa dia bisa kembali ke kamarnya. Maka dia tersenyum lebar, mengucapkan selamat tinggal pada keduanya, dan gegas masuk. Terdengar suara kunci diputar setelah pintu kamar ditutup, membuat Sena tertawa.
"Kalau mereka sudah mengunci pintu, itu artinya kita harus segera pergi dari sini."
Andy mengangguk, tawanya terdengar renyah. Mereka pun pergi ke pintu depan, gegas mengenakan sepatu, dan bersiap untuk pergi ke asrama Andy.
Bersambung....