NovelToon NovelToon
Wanita Mantan Narapidana Vol 2

Wanita Mantan Narapidana Vol 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Single Mom / Janda / Chicklit / Showbiz / Mengubah Takdir
Popularitas:19.2k
Nilai: 5
Nama Author: moon

Sangat di sarankan untuk membaca kisah sebelumnya, Wanita Mantan Narapidana Vol 1.

Setelah 20 tahun mendekam di balik jeruji tahanan, Lembayung Senja akhirnya bisa menghirup udara kebebasan di luar penjara.

Tapi, waktu yang berlalu, masa yang telah lama berganti, masih meninggalkan bekas luka yang begitu dalam di hati Ayu.

Hingga dendamnya pun kian membara, tekadnya semakin kuat untuk menghancurkan dua orang yang membuatnya terkurung selama 20 tahun lamanya.

Berhasilkah Lembayung Senja membalaskan sakit hatinya?

Lantas bagaimana hubungannya dengan Biru putranya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari Kebebasan

#1

Ayu tak bisa memejamkan mata, padahal hari yang paling ia nantikan akan tiba. Esok adalah hari kebebasannya, dimana tak ada lagi pihak yang bisa menghalangi langkahnya. 

Beberapa kali Ayu berguling ke kiri dan ke kanan, namun, kedua matanya tak jua bisa terpejam. Debaran jantungnya terasa begitu kencang, mengalahkan kencangnya auman sang raja singa. 

Entah ini semangat? rasa tak sabar? atau mungkin perasaan takut? Yang jelas semua rasa itu seolah bersatu padu, hingga mempengaruhi psikis Ayu saat ini. 

Mbak Nik tiba-tiba membuka mata, dan heran melihat Ayu tengah gelisah sambil duduk memeluk lututnya. “Kau tak bisa tidur, kah?” 

Ayu menolehkan wajah ke sisi kiri, “Hmm, aku pun tak tahu kenapa, Mbak.” 

Perlahan Mbak Nik berusaha bangkit dan duduk, wanita itu mengusap punggung tangan Ayu, “Aku paham perasaanmu, jangankan kau yang sudah 20 tahun. Aku yang baru beberapa tahun saja, sulit membayangkan bagaimana perubahan dunia kelak bila aku keluar dari sini.”

Nafas Ayu berhembus pelan, kemudian ia menyandarkan punggungnya yang mulai terasa pegal. 

“Kau benak, Mbak. Mungkin aku belum sepenuhnya siap dengan perubahan dunia di luar sana. Aku pun masih memikirkan bagaimana stigma orang-orang? Bagaimana perasaan anakku nanti? Dan apakah aku sudah siap bertahan di tengah semua itu? Entahlah.” 

“Yakin saja, cukup dengan keyakinan, dan jangan lupa tawakal pada sang pemilik hidup.” 

Ayu membalas genggaman tangan Mbak Nik, “Iya, Mbak. Bismillah.” 

“Nah, begitu, dong.” 

•••

Sepasang pakaian telah melekat di badan, menggantikan pakaian khas seorang  narapidana yang membalut tubuhnya selama 20 tahun. 

Kini status itu akan Ayu tanggalkan, ada lega, ada haru, tak sabar, tapi juga rasa takut. 

Klek! 

Pintu lemari besi Ayu buka, suaranya sungguh khas, dan akrab di telinga wanita berusia awal 40 tahunan tersebut. Kini ruangan berbentuk bujur sangkar itu telah kosong, meninggalkan aroma deterjen pakaian yang selama ini menguar dari dalamnya. 

Ayu menatap ruangan itu dengan sendu, menangis haru, tapi juga ada rasa berat meninggalkan rekan-rekan satu sel yang selama ini datang silih berganti. Mereka pun merasakan hal yang sama dengan Ayu, pernah ada tawa, pernah juga ada tangis, dan juga jerit ketakutan. 

Namun, seiring berjalannya waktu, semua hal itu mampu menjadi penguat. 

“Mbak Ayu, selamat, ya. Karena sudah bebas, kami pasti kehilangan, Mbak Ayu.” 

“Di luar sana nanti, jangan lupakan kami, ya?”

“Jaga diri Mbak Ayu, semoga apa yang Mbak Ayu cita-citakan, akan segera terwujud.” 

Begitulah salam perpisahan Ayu dengan rekan-rekan satu sel nya, begitu pula dengan rekan yang lainnya. Semua orang yang Ayu kenal baik, nampak ikut larut dalam suasana haru. 

“Yu, tunggu aku, ya?” pinta Ratna yang tinggal menanti beberapa bulan sebelum bebas. “Aku janji akan ada di sisi kau, melihat kau membalas wanita yang telah menghancurkan rumah tangga kau, serta membuat kau terkurung di neraka dunia ini.” 

Ayu mengangguk, “Hmm, aku tunggu, beritahu yang lain untuk mencariku selepas mereka bebas nanti. Aku ingin membantu kalian kembali berdiri dengan kepala tegak dan bangga.” 

Ayu dan Ratna saling berpelukan erat untuk sesaat, hingga sang waktu jua yang melerai pelukan mereka. 

Para opsir pun memeluk Ayu dengan hangat, sebagai bentuk salam perpisahan, tak ada yang lebih bahagia, selain bisa mengantar kepergian Ayu dari tempat yang telah menyandera kebebasan Ayu. 

Untuk terakhir kalinya, Ayu mengusap air matanya di tempat ini, ia melambaikan tangan, sambil melangkah semakin dekat menuju pintu keluar tahanan, bersama para napi lain yang juga bebas pada hari ini. 

Klang! 

Krieeet! 

Suara decitan pintu gerbang nyaring terdengar, satu persatu napi keluar dari pintu berbentuk persegi panjang tersebut. Ada yang seorang diri, ada juga yang disambut kerabat serta handai taulan. 

Sementara Ayu, rupanya kejutan sudah menantinya. Sosok wanita cantik, anggun dan bersahaja, kini berdiri menanti kebebasan Ayu. 

Senyum di wajah Giana mengembang, wanita itu merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, menghampiri Ayu dan memeluknya erat. 

“Selamat, selamat untuk kebebasanmu, dan aku bangga padamu. Karena kau sudah menjadi wanita hebat, walau kedua kaki dan tanganmu terkunci di balik jeruji, namun, mereka tak bisa mematikan kreativitas mu.”

Tak ayal lagi, bisikan Giana membuat Ayu menangis keras, di dalam tadi, Ayu berusaha menahan tangisnya. Sebisa mungkin ia menampakkan tawa bahagia, karena hatinya memang sedang berbunga indah. 

Tapi di hadapan Giana, Ayu tak bisa lagi berpura-pura tegar. Wanita itu luruh dalam tangis haru. 

“Ayo, lanjutkan saja tangismu di mobil, kita harus bergegas sebelum senja datang.” 

Seorang pria yang kini wajahnya telah berubah, nampak membukakan pintu untuk Ayu dan Giana. 

“Ma— har—” sapa Ayu sedikit ragu. 

“Apa kabar, Yu.” 

“Kau—”

“Mahar adalah orang kepercayaanku sejak dulu, kini ia juga yang menjadi wakilku di Pabrik tekstil keluargaku.” 

Berkat kecemerlangan Giana, kini usaha jual beli berbagai macam kain milik Tuan Syamsir Huda, telah berkembang menjadi pabrik tekstil skala nasional. Bahkan kain-kain yang dihasilkan Huda Tex terkenal karena kualitas serta mutunya, hingga mereka mampu bersaing di pasar global. 

Mahar mengulurkan tangannya, namun raut wajahnya nampak mendung, “Maaf, ya. Karena dulu aku tak bisa membantu ketika kamu dalam kesulitan.” 

Ayu tersenyum tipis, “Sudah, jangan lagi membahas masa lalu. Begitu kata Bu Giana,” kelakar Ayu. 

“Kan, apa ku bilang, kawan kau, nih, sudah dewasa, bukan lagi wanita lugu dan malu-malu seperti dulu.” 

Mahar ikut tersipu, semburat merah muda muncul menghiasi di kedua pipinya. Apakah perasaannya pada Ayu masih tertanam? Entahlah. 

Mobil mewah Giana melaju, Ayu tak bisa menghentikan kekagumannya pada banyaknya bangunan tinggi menjulang yang kini berjajar di sepanjang jalanan ibu kota. Mall-mall berbaris rapi, toko, perumahan juga taman kota, memanjakan mata, serta membuat jalanan lebih terarah. 

Perjalanan selama dua jam berlangsung singkat karena Ayu mengisinya dengan obrolan hangat bersama Giana dan Mahar. 

Hingga ketika hari menjelang senja, mereka pun tiba di desa Ayu, kampung halaman yang ingin Ayu datangi setelah ia menyelesaikan masa tahanannya. 

Rumah Karmila dan Ismail adalah tujuan utamanya, rumah yang kini telah berubah walau tak banyak, karena Ismail memilih hidup yang bersahaja, tanpa perlu memamerkan harta yang mereka punya. 

“Assalamualaikum—” ucap Ayu dengan suara syahdu dan bergetar. Telah lama tak bersua, namun Ayu merasa teramat dekat dengan dua orang yang amat sangat berjasa dalam kehidupannya selama 20 tahun terakhir. 

“Waalaikumsalam,” jawab Karmila, wanita itu berlari dan menangis haru ketika memeluk sang kakak ipar. “Alhamdulillah, Kakak sudah bebas. Walau terkesan tak tahu malu, tapi aku mohon maafkan Bang Restu, ya, Kak.” 

“Buat apa kau minta maaf, sudah sepantasnya dia yang membusuk di penjara!” 

Suara itu begitu lantang, sarat akan kemarahan kendati 20 tahun telah berlalu. Tapi luka karena kehilangan anak tersayang, tetap membekas dan tak akan mungkin bisa hilang.

1
Nar Sih
moga aja bnr klau biru dan miranda saudara satu ayah biar mereka ngk pcran
Reni
weeee mbak Jani makin lengket sama mas Jono
Rahmawati
semakin seru ini, lanjutttt
MomRea
kenapa gak langsung kena OTT saja Gunawan dan antek-anteknya 😡
MomRea
jgn jgn si Miranda adik kandung Biru lain ibu ?
Esther Lestari
tidak bisa dibiarkan karena Miranda dan Biru satu ayah, begitukah Anjani
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
nah kan beneran udah tua tuh 🤣🤣
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
yakin dia putrimu 🤭
Meliandriyani Sumardi
nah kan...ini nih tanda nya kalau biru sama miranda sebenarnya saudara satu ayah....😄anjani bisa ngelak tapi pasti fakta berbicara🤣🤣 lanjut kak
Agus Tina
Semakin penasaran ...
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
waduh ketahuan nih😒
Cindy
lanjut
Eva Karmita
kecewa banget sama sikap Biru berasa kayak Malin Kundang... kenapa Ngada sopan"nya sama ibunya 😩 biar bagaimanapun Ayu tetaplah ibu kandungnya biar di cuci seluas air laut an Ayu tetaplah ibu kandungnya Biru
kayaknya Biru sudah lupa dengan ajaran" bapak Ismail sama mamak Karmila tentang sopan santun dgn yg lebih tua 🥺😤 .., apa mungkin si Biru nurut sikapnya kayak neneknya yang sikapnya kayak Mak lampir 😏
Esther Lestari
Tian sepertinya berbahaya ini buat Ayu dan Biru. Punya rencana apa kamu Tian.

Biru mendekati Miranda dan sekarang magang di firma Gunawan, mungkin sambil menyelidiki Gunawan
Reni
biru sengaja ya sedikit menjauh dari mama ayu dia bertindak sendiri aduhhhh sayang ketahuan Tian 🤧
Reni
biru g secerah namamu kau bikin kelabu ayu lagi dan lagi pola pikirmu melukai mamamu miris
Nar Sih
semoga biru bisa memberi kejutan pada mama ayu dgb segaja msuk firma hukum punya si gunawan
Siti Siti Saadah
asyyyyyyiiiiiikkkkk
Rahmawati
hmmm apa biru sengaja deketin Miranda biar bisa mencari bukti bukti ttg kebusukan gunawan ya
Rahmawati
kok gedeg ya sama biru😡
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!