follow Ig @rii.ena
Bastian melotot membaca surat yang ada di tangannya, surat cinta yang di terimanya dari anak perempuan berusia dua belas tahun, surat cinta.
" Cih."
Ucapnya jijik.
Bastian melemparkan begitu saja kertas merah jambu itu dilantai, lalu dengan menggunakan sapu dan sekop sampah, Bastian membuangnya ke dalam tong sampah.
Sepuluh tahun setelahnya, Malam setelah mereka menikah, Bastian baru tahu jika perempuan yang baru dinikahinya adalah bocah yang pernah menulis surat cinta padanya.
Apakah Bastian akan menceraikan Istrinya malam itu juga atau Bastian tetap melanjutkan pernikahan itu, secara Bastian sudah tiga kali gagal menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Aku sudah ready
Karena terlalu bahagia jadi orang kaya baru, menurut Amel, padahal biasa saja. Amel lupa jika dia sudah bersuami.
Jalan-jalan ke Mal hingga sore menjelang petang baru mereka keluar dari Mal.
Menyetop taksi di depan Mal, Amel latah ikut masuk, duduk didepan lagi, apa dikiranya Bastian yang jadi sopirnya.
" Om, jadi beli mobil kan ? "
" Hitung - hitung di rumah dulu Mel, mana yang penting, merenovasi rumah dan menambah kamar untuk Alif atau beli mobil.
Alif bentar lagi gede, Om gak mau waktu Om dan Tante Widuri diganggu oleh penjahat kecil ini "
Sembari melirik Alif yang berada dalam gendongannya.
" Sembarangan, anak sendiri di bilang penjahat "
Tante Widuri memukul lengan suaminya.
" Iyalah Dek, dia suka rewel kalau Abang mulai.... "
Om Joko terkekeh ketika melihat Amel menutup kedua telinga Carla dengan kedua telapak tangan.
Bocah TK itu diam menyimak pembicaraan orang tua dan Tantenya.
" Mobil aja Om, kalau jalan-jalan gini, kan enak, gak harus menunggu taksi, bisa langsung cuss "
" Ah enggak lah Mel, enak'kan rumah aja dulu, Om dan Tante Widuri kan gak setiap waktu jalan-jalan. Lagian Mel, pakai motor itu mesra, bisa pegang pinggang, kalau bicara bisa bisik-bisik, dan nempel-nempel, gak kaya' kamu sama Bastian "
Mendengar kata Bastian, Amel baru sadar.
" Astagfirullah...stop, stop Pak ! "
Pengemudi taksi segera menepikan mobilnya di tepi jalan.
" Kenapa Mel ? "
Tante Widuri dan Om Joko kompak bertanya.
" Om kok enggak ngingetin aku harus pulang, sudah jam berapa nih "
Amel buru-buru turun.
" Lho, Om kira Bastian akan menjemput kamu dirumah, makannya Om acuh saja "
Om Joko berucap tanpa merasa bersalah.
" Semula memang gitu Om, tapi aku yang nolak, ya sudah Om, Tante, aku pergi, eh pulang, da da "
" Da da, bukannya Assalamualaikum, baru juga jadi orang kaya "
Om Joko menggerutu.
Amel segera menutup pintu depan, jadi gak kedengeran.
...******...
" Pak, bisa kencengan dikit gak ? "
Teriak Amel ke Pak Sopir pengemudi ojek.
" Ini sudah kencang Mbak, lagi pula motor saya kan cuma motor bebek bukan kuda terbang "
Ada saja alasannya.
Samar-samar Amel bisa mendengar suara murotal Al-Qur'an yang terdengar lewat pengeras suara dari mesjid yang berada di tepi jalan yang mereka lewati.
" Pak, buruan dong, terbang atau apalah, ini demi hidup dan mati saya, Pak, mana sebentar lagi magrib lagi "
Amel semakin cemas.
..." Seandainya saya punya sayap Mbak, sudah saya bawa terbang mbaknya, tapi bukan pulang ke rumah Mbak, melainkan ke planet Pluto, mumpung belum ramai, palingan cuma ada kita berdua "...
Hadeuh, si Abangnya ikutan ngaco.
Amel menatap wajah si abang ojek, gile, ternyata abangnya ganteng, seusia Anwar, kaya artis pemeran sinetron ikatan love, siapa itu ? Arya Sakura ?
Ah, tahu siabangnya ganteng, gak harus buru-buru, nikmati saja dulu pemandangan indah ini, apalagi di senja hari, bersama cowok ganteng, gak penting artis atau enggak, mirip-mirip juga gak apa apa.
Toh sama gantengnya, sama manusianya, cuma nasib saja yang beda.
Makannya juga sama, sama-sama makan nasi.
Hati-hati Mel, jika senja hari masih di jalan sangat tidak baik dan dilarang, apalagi anak kecil kaya' kamu, Mel, eh.
Bahwa ketika malam menjelang, bersamaan dengan datangnya kegelapan, setan akan mulai mencari tempat tinggal. Bahkan sebagian setan juga takut dengan setan lain yang memiliki kekuatan lebih besar.
Pada waktu maghrib, penglihatan terkadang kurang tajam dengan adanya fatamorgana yang disebabkan oleh banyaknya tumpang tindih atau interferensi antara dua atau lebih gelombang.
" Astagfirullah "
Amel mengusap wajahnya dengan telapak tangan, wajah tampan Abang ojek hanyalah godaan, yang dirumah jauh lebih tampan, halal lagi.
" Abang, cepetan ! "
Amel sudah mulai mau menangis, antara takut dengan jin dan sebangsanya, juga takut Bastian marah.
Dia tidak berani mengecek ponselnya.
Karena jika tahu, Bastian menghubungi dirinya, Amel akan semakin cemas.
Tepat Adzan Magrib berkumandang, Amel sampai di depan pintu rumah.
" Assalamualaikum "
Suara Amel pelan.
" Waalaikumussalam "
Bastian langsung membalikan badannya tanpa melihat ke arah Amel.
" Maaf, Mas, aku ...."
" Cepatlah mandi ! "
Terdengar tegas suara Bastian, Amel jadi mengkerut. Segera Amel berlari dan menghilang di balik pintu kamar mandi.
Setelah sholat dan mengaji, Amel mendekati Bastian yang duduk diam menatapnya.
" Tadi pergi sama Om Joko dan Tante Widuri, jadi...."
" Lupa pulang atau lupa kalau sudah punya suami ? Bukankah tadi padi sudah Mas pesan agar jangan lama-lama ?
Sebelum Ashar Mas sudah sampai di rumah, berharap pulang dari kampus, kamu sudah berada di rumah menunggu Mas, tapi apa ? Kamu bahkan pulang Magrib-magrib.
Ini hari pertama Mas kembali ke kampus setelah libur seminggu, dan hari pertama juga Mas ingin merasakan di sambut istri, kamu menghancurkan mimpi Mas, Mel ? "
Bastian kalau sudah ngomel panjangnya sudah seperti cerpen saja.
Amel diam, percuma menjawab, yang ada nanti bakalan kena omel lagi.
" Maaf ! "
" Suamimu ini belum makan dari siang, bisakah kamu siapkan makan malam ? Atau kamu yang Mas makan, sudah boleh kan ? "
Bastian menatap Amel dengan tatapan yang sulit diartikan.
Glek.
Amel menelan salivanya.
Dia kan belum masak.
" Mas, Maaf, aku...."
Bastian menghela napas panjang.
" Terserah kamu Mel, mau pesan atau apa, kalau menunggu kamu masak, Mas keburu pingsan karena kesal "
Bastian membaringkan tubuhnya diatas ranjang dengan tatapan menerawang menatap langit-langit kamar.
Amel segera keluar kamar dan mulai memesan beberapa macam makanan dari sebuah restoran yang lumayan, mumpung kaya.
Jangan kasih tahu Bastian kalau kamu kaya Mel, ntar di utangi lho, hihihi.
Setelah setengah jam, makanan yang Amel pesan sudah sampai dan Amel hidangkan diatas meja.
" Mas, makan yuk ! Ntar malam Mas boleh makan aku, aku sudah ready "
Amel mengedipkan matanya genit.
Bastian sudah hendak tertawa ngakak, tapi dibatalkan, kan mode marah.
Bastian beranjak pelan mengikuti langkah kaki Amel dari belakang.
Bastian menatap hidangan diatas meja dengan dahi berkerut dalam.
Tidak biasanya Amel menyediakan berbagai macam jenis makanan, bukankah dia sendiri yang mengatakan mau berhemat dan gak boleh boros-boros ? Diluar sana banyak yang susah karena enggak ada yang mau dimakan.
" Hari ini Om Joko transaksi penjualan rumah orang tuanya Mas, Nenek aku juga, jadi tadi menemani Om Joko dan Tante Widuri jalan-jalan ke Mal, makanya aku terlambat pulang "
Amel menjelaskan tanpa di minta setelah melihat reaksi Bastian melihat hidangan mewah di atas meja.
" Oh "
Bastian menganggukkan kepalanya, mulai menggeser kursi makan.
" Anggap saja, malam ini aku yang mentraktir suamiku, sekali-kali merasakan punya uang banyak. "
Bastian hanya tersenyum tipis.
" Oke, terimakasih atas traktirannya "
Bastian jadi bersemangat, semangat karena di traktir, semangat juga mau belah duren.
" Kalau besok, aku mentraktir Anwar, boleh gak ? "
Bastian melotot, Amel nyengir.
...*******...
...🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵...