Alina Grace tumbuh sebagai putri keluarga Kalingga. Hidup dalam kemewahan, pendidikan terbaik, dan masa depan yang tampak sempurna.
Namun semua itu runtuh seketika begitu kebenaran terungkap.
Ia bukanlah anak kandung keluarga Kalingga
Tanpa belas kasihan, Alina dikembalikan ke desa asalnya, sebuah tempat yang seharusnya menjadi rumah, tetapi justru menyisakan kehampaan karena kedua orang tua kandungnya telah lama meninggal dunia.
Dari istana menuju ladang, dari kemewahan menuju kesunyian, Alina dipaksa memulai hidup dari nol.
Di tengah keterpurukan, sebuah Sistem Perdagangan Dunia Pararel terbangun dalam dirinya.
Sistem misterius yang menghubungkan berbagai dunia, membuka peluang dagang yang tak pernah dibayangkan manusia biasa.
Dengan kecerdasan, kerja keras, dan tekad yang ditempa penderitaan, Alina perlahan bangkit, mengubah hasil bumi desa menjadi komoditas bernilai luar biasa.
Dari gadis yang dibuang, ia menjelma menjadi pemain kunci dalam perdagangan lintas dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SiPemula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masalah Kepemilikan Ladang Dan Rumah Kayu
Saat sedang makan bersama Raka, sepasang mata jernih Alina tak sengaja menangkap sosok yang familiar, sosok itu adalah Raziel Kalingga, orang yang di masa lalu pernah dipanggilnya Kakak.
‘Ada urusan apa ia di tempat ini?’ batin Alina.
Tanpa sepengetahuan Raka. Alina terus mengawasi pergerakan Raziel, dimana pria itu masuk ke dalam mobil mewahnya lalu pergi menjauh dan menghilang.
Melihatnya pergi, entah kenapa Alina merasa lega.
Lega karena tak lagi perlu berurusan sama orang itu.
Tetapi ia penasaran kenapa tiba-tiba orang seperti itu muncul di dekat Desa tempat tinggalnya.
Ingin mencari tau tujuan Raziel, tapi Alina tak tau harus memulainya dari mana, apalagi pertemuan itu hanya sekedar ia yang melihat orang itu keluar dari mobil, beli minuman lalu pergi.
Sama sekali tidak ada petunjuk yang mengarah ke tujuan Raziel.
‘Tapi yang jelas ia datang bukan untukku!’ batinnya yakin.
Memilih melupakan sosok yang tak sengaja dilihatnya. Alina kembali fokus pada makanannya, dan cepat ia menghabiskan makanan yang memang tinggal sedikit, begitu juga dengan Raka yang tinggal sedikit lagi selesai makan.
[Ding!]
[Nona, ada orang-orang yang datang mengincar ladang dan rumah kayu milik Nona. Tetapi penduduk Desa berhasil menahan orang-orang itu!]
Mendengar itu seketika tubuh Alina menegang, dan rasanya ia harus cepat pulang ke Desa.
“Kak, sebentar lagi sepertinya hujan. Bagaimana kalau selesai makan kita langsung pulang ke Desa?” ajak Alina.
“Iya, sebaiknya kita langsung pulang ke Desa,” balas Raka.
Beberapa saat kemudian mereka benar-benar langsung pulang ke Desa, dimana Alina sudah bisa membawa motor barunya pulang, dan dengan lincah ia pengendarai motor di jalanan yang masih mulus, sebab aspal jalanan yang menuju desa masih sangat baru, belum lama ini selesai dikerjakan.
Raka yang mengemudikan mobil bak terbuka tua, ia sama sekali tidak bisa mengikuti Alina, sesekali ia khawatir melihat bagaimana gadis itu mengendarai motornya, sampai akhirnya ia benar-benar kehilangan jejak Alina yang sudah jauh pergi meninggalkannya.
“Entah kenapa aku merasa di sangat buru-buru!” ucap Raka, dan dia tidak bisa memacu mobilnya lebih cepat lagi, sebab itu bisa berdampak buruk pada mesin mobil yang bahkan lebih tua mesin mobilnya dibandingkan usia orangtuanya.
“Selesai hari ini, aku akan mengganti mobil ini dengan mobil bak terbuka keluaran terbaru!” ucapnya penuh tekad.
Sementara itu Alina yang mengendarai motornya. Tak sampai satu jam ia telah tiba di Desa yang begitu asri, tapi suasana hatinya saat ini jauh dari kata baik-baik saja.
Cepat ia mengarahkan motornya ke rumah, dimana Sistem menyampaikan orang-orang yang menginginkan ladang dan rumahnya sedang berdebat dengan penduduk Desa di tempat itu.
Tin.Tin!!!
Melihat orang-orang berkerumun di depan rumahnya, Alina membunyikan klakson motornya, membuat orang-orang segera menyingkir dari jalanan.
Penduduk Desa yang sudah hafal dengan sosok Alina. Meski saat ini gadis itu memakai helm tertutup rapat dan mengendarai motor, mereka tau kalau itu adalah Alina, dan membiarkannya memarkirkan motor di teras rumah kayu.
Alina sendiri~, begitu ia memarkirkan motornya, ia segera mengarahkan pandangan ke arah orang-orang yang diyakininya memiliki niatan tidak baik, tapi ia seketika itu juga dibuat terkejut melihat keberadaan sosok yang sebelumnya sempat terlihat olehnya.
‘Dia ada disini. Jadi besar kemungkinan orang-orang ini bagian dari keluarga Kalingga!’ batin Alina yakin.
Dia yang dimaksud Alina adalah Raziel, pria yang saat ini menatap dingin ke arahnya, dan seperti biasa, sikap arogan pria itu begitu jelas terlihat.
[Ding!]
[Terdeteksi dokumen palsu di tangan pria bernama Raziel, sementara dokumen aslinya berasal di tangan Nona.]
[Jika Nona ingin, Sistem bisa menghancurkan dokumen palsu di tangan pria itu!]
“Kalau begitu tolong hancurkan dokumen itu sampai tak berbentuk!” ucap Alina yang hanya didengar oleh Sistem.
Beberapa saat kemudian~
[Ding!]
[Dokumen palsu telah berhasil dihancurkan.]
[Poin Sistem -10]
‘Ternyata bantuan itu tidak gratis,’ batin Alina.
[Nona, di dunia ini tidak ada yang gratis!]
“Kamu benar, Sistem.”
Membuka helmnya, Alina tenang berjalan ke sisi Pak Leman, sosok Kepala Desa yang kebetulan ada di depan rumahnya, berkumpul bersama para penduduk menahan orang-orang yang ingin mengambil alih rumah dan ladang miliknya.
“Pak Leman, ini sebenarnya ada apa?” tanya Alina tenang.
“Jadi begini, mereka ini tiba-tiba datang dan mengatakan kalau ladang dan rumah kamu telah berpindah kepemilikan ke tangan mereka, dan mereka terus mengatakan kalau memiliki barang bukti kepemilikan yang sah!” jelas Pak Leman.
“Apa Bapak dan yang lainnya melihat sendiri barang bukti yang mereka miliki?” tanya Alina yang cepat dibalas gelengan kelala oleh semua orang, dan setelahnya cepat pandangan Alina tertuju pada Raziel yang baru selesai menghubungi seseorang, tapi begitu panggilan telepon berakhir dan pandangannya tertuju pada Alina, dari sorot matanya tampak jelas sebuah keterkejutan yang nyata.
Melihat semuanya, Alina masih tetap tenang, bahkan dengan santainya ia membuka suara, “Ternyata Tuan Raziel,” ucapnya.
“Jadi, kamu yang menempati tanpa izin ladang dan rumah kayu milikku?!” tuduh Raziel begitu percaya diri.
“Oh, apa benar rumah dan ladang ini milik Tuan?” Tenang Alina bertanya.
“Tentu saja semua ini milikku, dan aku membawa serta seluruh buktinya!” teriak Raziel keras.
“Kalau begitu, tunjukkan bukti-bukti itu pada kami semua, karena kebetulan bukti kepemilikan tempat ini aku juga memilikinya!” ujar Alina sangat tenang.
Melihat sikap tenang Alina, Raziel sebenarnya merasa kesal, apalagi begitu mendengar mantan adiknya itu memiliki bukti kepemilikan yang seharusnya ada di tangannya.
‘Jelas-jelas bukti itu ada di tanganku, jadi bagaimana mungkin dia memilikinya?!’ batinnya, dan karena ingin cepat menyelesaikan permasalahan, ia langsung saja mengeluarkan barang bukti yang dimilikinya, tapi saat ia ingin mengeluarkan benda itu, tiba-tiba berkas di dalam tasnya berubah menjadi lembaran kertas kosong, padahal sebelum berangkat ke Desa, semua sudah ia pastikan, dan tidak ada satupun barang bukti yang tertinggal.
“Ada apa ini? Kenapa semua tiba-tiba berubah menjadi kertas kosong?"
Raziel terus mencari bukti yang dimilikinya, bahkan ia menggeledah seluruh isi mobilnya.
Tetapi meski sudah mencari ke berbagai sudut mobil, ia gagal menemukan apa yang sedang dicarinya, membuatnya terjebak di situasi antara bingung, marah, dan malu.
Pada saat seperti ini, terlintas sebuah pikiran yang tidak masuk akal, yaitu pikiran dimana ia yakin kalau barang bukti sudah diambil oleh Alina, tetapi ia sendiri bingung bagaimana cara wanita itu mengambil barang bukti darinya, sementara ia baru datang, dan bahkan sejak tadi tas yang berisikan barang bukti selalu berada dalam dekapan tangannya.
Di sisi lain. Alina yang sudah mengetahui kebenarannya, ia tersenyum remeh melihat bagaimana Raziel mengacak-acak mobilnya, mencari sesuatu yang telah menghilang.
‘Cari saja sampai lebaran monyet, dan apa yang kau cari tak akan pernah ketemu!’ batin Alina sembari menunjukkan senyuman penuh kepuasan.