Dalam semalam, video scandal yang tersebar membuat kehidupan sempurna Adara hancur. Karirnya, nama baiknya, bahkan tunangannya—semuanya dihancurkan dalam sekejap.
“Gila! Dia bercadar tapi pelacur?”
“Dia juga pelakor, tuh. Gundik suami orang.”
“Jangan lupa… dia juga tidur sama cowok lain meskipun sudah punya tunangan se-perfect Gus Rafka.”
“Murahan banget, ya! Sana sini mau!”
“Namanya juga pelacur!”
Cacian dan makian terus dilontarkan kepada Adara. Dalam sekejap citranya sebagai influencer muslimah bercadar, dengan karya-karya tulisnya yang menginspirasi itu menghilang.
Nama panggilannya berubah menjadi “Pelacur Bercadar”. Publik mengecamnya habis-habisan bahkan beberapa orang ingin memukulinya.
Namun di tengah semua kekacauan yang terjadi, seorang pria mengulurkan tangannya kepada Adara.
“Menikahlah denganku, Adara. Aku akan membantumu untuk memperbaiki nama baikmu. Setelah semuanya membaik—kamu bisa pergi meninggalkanku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadiaa Azarine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ingin Menjadi Dia
Perjalanan menuju rumah nenek Adara tidak begitu jauh. Mobil melaju memasuki area kompleks perumahan mewah, dengan pagar tinggi dan pohon-pohon besar yang memberikan kesan elegan namun hangat. Rafka menurunkan kaca untuk memastikan alamatnya sebelum masuk.
Rumah bertingkat dua itu lebih mirip villa klasik ketimbang rumah biasa. Bangunan itu berdiri dengan anggun di tengah hamparan rumput hijau yang rapi. Atapnya menjulang lebar, bertumpuk seperti payung-payung raksasa khas bangunan Jawa, namun dengan garis-garis modern yang tegas.
Di bawah cahaya matahari yang setia menyinari, tiang-tiang batu berwarna kelabu tampak seperti penjaga tua yang telah menyaksikan puluhan musim berlalu.
Bagian depannya terbuka dengan dinding kaca panjang dari ujung ke ujung, memantulkan bayangan pepohonan yang menari pelan ditiup angin.
Di sisi kiri bangunan, sebuah teras kecil menjorok keluar, terasa teduh, dikelilingi pot-pot tinggi dan tanaman tropis yang membuatnya terasa seperti sudut rahasia. Sementara di sisi kanan, struktur pavilionnya tampak seperti perpanjangan dari rumah utama—tempat yang ideal untuk minum teh sore atau sekadar memandangi pekarangan. Jalan menuju pintu dihiasi oleh susunan batu alam, yang rapi dan kokoh.
Mobil yang dikendarai Rafka berhenti di depan garasi. Seorang wanita paruh baya keluar bersama seorang pria sepuh. Di belakang mereka beberapa wanita muda berpakaian seragam mengikutinya sambil menunduk hormat.
“Ada maidnya?” gumam Junia saat menyadari bahwa rumah yang ia kunjungi bukanlah rumah keluarga biasa. Jadi siapa sebenarnya keluarga Junia ini?
Begitu pintu mobil terbuka, senyum besar langsung mengembang dari wajah wanita bersanggul rapi itu.
“Assalamu’alaikum cucu, Eyang! Akhirnya kalian dateng juga!” serunya.
“Wa’alaikumsalam, Eyang,” jawab Adara sambil mencium tangan sang nenek lalu memeluk erat wanita itu.
Setelahnya ia berpindah memeluk sang kakek. “Eyang kakung! Dara kangen!” serunya manja.
“Kangen-kangen tapi jarang main ke sini. Padahal sudah lama di Jakarta,” sahut Haris sebal. Meski begitu ia sangat senang melihat cucu kesayangannya itu. Ah, cucu satu-satunya.
Rafka menyusul. “Assalamu’alaikum, Eyang Putri, Eyang Kakung.” Ia menunduk sopan dan mencium tangan keduanya. Gestur sederhana itu membuat wajah kedua orang tua itu berbinar bangga.
“Alhamdulillah ya Allah… ganteng dan sopan!” ujar Eyang Putri dengan tawa ringan. “Masuk, masuk, ayo! Kapan lagi Eyang kedatangan calon cucu menantu!”
Junia ikut turun setelah sempat ragu. Ia menunduk sopan dan ikut memberi salam. “Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumsalam.” Nenek meliriknya sekilas lalu tersenyum hangat. “Ini teman Adara, ya? Pakai cadar juga. Eyang taunya yang enggak pakai cadar itu.”
“Oh Ayumi lagi ada kerjaan di luar negeri, Eyang. Ini teman baru Adara, Namanya Junia,” jelas Adara.
“Teman baru, ya? Ayo sini masuk, Nak.” Eyang Ratna merangkul Junia memasuki rumah seolah gadis itu bukan tamu asing.
Interior rumah itu terasa seperti perpaduan antara tradisi Jawa yang kental dan modernitas yang rapi. Dinding-dinding penuh lukisan kaligrafi serta foto-foto keluarga. Rak-rak penuh buku tentang sejarah Islam, bahasa Arab, dan biografi ulama ternama. Aroma kayu jati dan teh melati memenuhi ruangan.
Junia memandangi semuanya seperti anak kecil yang baru pertama kali masuk museum. Di sudut ruangan terdapat piano tua dan foto Adara kecil sedang duduk bermain di depannya, dengan pita besar di rambutnya.
“Silakan duduk, Rafka dan temannya,” ujar Eyang Haris sembari menuangkan teh.
Rafka dan Mufasa duduk di hadapan Eyang Haris. Sementara Adara dan Junia duduk di sofa lain bersama Eyang Ratna.
“Maaf Rafka baru bisa berkunjung sekarang. Padahal Rafka sudah tunangan sama Adara selama 6 tahun,” ucap Rafka.
“Nggak apa-apa, Nak. Eyang paham kesibukan kalian semua,” jawab Eyang Haris.
“Bagaimana dengan persiapan pernikahan kalian? Kapan tanggal resmi diumumkan? Eyang belum dapat kabar apa-apa, tuh,” tanya Eyang Ratna beruntun.
“Rencananya tahun depan, Eyang. Tanggalnya masih belum ditentukan, kok,” jelas Adara.
“Lama sekali? Kalau bisa dipercepat lah. Adara sudah umur 23 tahun juga. Sudah dewasa, bukan anak remaja lagi. Nggak bagus menunda pernikahan, lho.” Eyang Ratna mulai menasehati.
Adara sudah kebal mendengar ucapan Eyang Putrinya yang selalu meminta ia buru-buru menikah. Takut nanti malah pertunangan batal lah, takut terlalu lama nanti jadi perawan tua lah. Yah, begitulah pemikiran orang-orang tua itu.
“Eyang… Adara butuh mempersiapkan diri dengan matang sebelum memulai rumah tangga. Adara harus mempersiapkan mentalnya yang akan menjadi istri dan seorang ibu.” Rafka angkat bicara. “Rafka pun sama. Kami baru lulus kuliah beberapa bulan yang lalu. Masih mau bernapas dulu sebelum memulai kehidupan yangs serius. Rafka juga masih butuh banyak persiapan untuk menjadi suami yang baik untuk Adara. Juga untuk menjadi ayah yang baik untuk calon anak kami nantinya.”
“Sudahlah. Jangan terlalu didesak anak-anak itu. Jaman sekarang berbeda dengan jaman dahulu. Semua yang diawali dengan terburu-buru juga tidak akan baik.” Eyang Haris menasihati istrinya.
“Eyang cuma mau segera punya cicit. Siapa nanti yang akan mewarisi harta peninggal Eyang Kakungmu?” wanita itu tertawa.
Adara menghela napas berat. “Lagian Eyang Kartadirja sama Opa dan Oma Dinata cuma punya anak satu doang sih? Terus cucunya juga cuma satu!”
“Adara pusing karena warisannya banyak tuh, Eyang. Boleh lah angkat Mufasa jadi cucu Eyang juga!” sahut Mufasa ngasal.
Eyang Ratna dan Eyang Haris tertawa mendengar ucapan Mufasa.
“Nggak perlu ngangkat beban baru, Eyang. Nanti Rafka sama Adara buat cicit 12 untuk Eyang,” ucap Rafka.
Mereka semua tertawa mendengar ucapan Rafka. Sementara Adara sudah malu setengah mati. Rafka memang selalu berbicara ngasal!
“Tidak tidak! Kasian cucu saya!” Eyang Haris menolak cepat.
Obrolan berlanjut dengan hangat. sementara Adara lebih banyak mendengarkan sambil sesekali mengoreksi detail kecil.
“Adara itu cucu tunggal dari keluarga Kartadirja, Nak. Jadi mohon dijaga ya. Dia bukan cuma anaknya Marisa… dia satu-satunya bunga di keluarga ini.”
Rafka tersenyum tipis. “Rafka akan selalu menjaga Adara, Eyang. Karena Adara sendiri juga bunga terindah dalam hidup Rafka.”
Wajah Adara kembali memanas mendengar ucapan Rafka. Ternyata keputusannya menerima Rafka 6 tahun yang lalu itu benar-benar tepat.
Sementara Junia hanya terdiam mendengar ucapan Rafka. Entah kenapa kalimat itu menusuk tepat di dalam dada Junia. Ia membayangkan seandainya ada seseorang yang bicara begitu tentang dirinya. Seandainya ia punya kakek yang menatapnya dengan bangga. Seandainya ia punya keluarga yang memikirkan masa depan seperti itu untuk dirinya.
Tapi ia hanya punya dunia gelap yang ia jalani sendirian.
“Jun,” Panggilan Adara menyadarkan Junia dari lamunannya. “Ikut aku ke atas, aku mau tunjukin kamar aku di rumah ini.”
Junia mengangguk cepat, hampir senang mendapat alasan untuk keluar dari ruang tamu itu. Keduanya berjalan menaiki tangga kayu menuju lantai dua. Setiap langkah terasa semakin asing bagi Junia.
Sampai akhirnya Adara membuka pintu salah satu kamar. Ukurannya sedang, namun rapi dan indah. Ada rak buku tebal tentang bahasa Arab, buku tafsir, dan novel terjemahan Timur Tengah. Kasurnya putih bersih dengan selimut lembut. Di meja kerja terdapat foto Adara kecil bersama kakek dan neneknya.
“Kamu pernah tinggal di sini?” tanya Junia.
“Iya sebelum Mama sama Papa punya rumah di Bogor,” jawab Adara.
Junia berjalan menyentuh rak buku. Jari-jarinya menyentuh beberapa judul asing. Ia tidak berani menarik satu pun. Semuanya terlalu bersih. Terlalu terawat. Terlalu… tidak layak untuk gadis kotor seperti dirinya.
“Kamu cucu satu-satunya?” tanya Junia.
Adara menghela napas kasar. “Iya di keluarga Mamaku, aku cucu satu-satunya. Di keluarga Papaku juga aku cucu satu-satunya. Jadi ekspektasi mereka ke aku gede banget. Mereka sama-sama maunya bisnis keluarga di urus sama aku,” keluh Adara.
“Tapi aku memilih nolak. Karena kalau aku pilih satu, yang satunya bakal cemburu. Jadi mendingan aku tolak dan buat bisnis sendiri.” Adara tersenyum tipis.
“Oh…” Junia mengangguk sambil menelan ludah. Matanya tiba-tiba terasa panas. “Berarti kamu disayang banget ya.”
Adara terkekeh lembut, tidak menyadari luka yang bersembunyi di balik kalimat itu. “Ya begitulah. Tapi terlalu dimanjakan juga nggak bagus untuk pertumbuhan anak. Makanya Papa mamaku bawa aku pindah dari sini.”
“Berarti Papa sama Mama kamu anak tunggal, ya?” tanya Junia lagi.
“Iya. Mereka anak tunggal. Dan aku juga anak tunggal,” jawab Adara.
Junia hanya tersenyum tipis. Semakin dia melihat hidup Adara, semakin jelas jurang yang memisahkan mereka. Adara hidup di dunia yang memberinya perlindungan, harta, martabat, dan kebahagiaan. Sementara ia… jauh berbeda.
“Kamu kenapa?” tanya Adara ketika melihat tatapan Junia yang mendadak kosong.
“Nggak apa-apa.” Junia menggeleng cepat. “Cuma… tempat ini cantik banget.”
Adara tersenyum bangga. “Eyang yang bikin semuanya. Eyang Kakung masih ada keturunan bangsawan, kalau Eyang Putri sebenarnya orang Minang. Eyang Kakung dulu pengusaha waktu muda, sekarang usahanya di urus orang kepercayaannya.”
Junia mengangguk. Bisakah ia menikmati kehidupan Adara sekali saja?
“Ayo turun lagi,” ajak Adara. “Aku udah laper banget!”
Junia mengangguk lalu mengikuti langkah Adara.
***
Bersambung…
Khan sudah ada clue, Tattoo Mawar.
episode pertama bagus, bikin penasaran.
semoga selanjutnya makin bagus.