Ini kisah Alina seorang wanita wanita introver dan sangat menyayangi ibunya. Pengkhianatan yang dilakukan ayahnya meninggalkan luka menganga di hatinya.
Luka yang belum sembuh itu semakin menjadi saat Reyhan Wijaya datang. Sosok yang keras kepala, egois, dan berhati dingin, telah menodai Alina tanpa sengaja. Reyhan meninggalkan kenangan menyakitkan lainnya untuk Alina hingga ia mesti tertatih merapikan hidupnya yang semakin porak-poranda.
Takdir keduanya membawa pada beragam pertanyaan, haruskah mereka bertahan atau saling meninggalkan?
Akankah hati dan cinta mereka saling membahagiakan atau malah menghancurkan?
Temukan jawabannya dengan membaca kisah mereka berdua.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ismi Sima Simi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sabar 2
Reyhan berangkat kerja dengan tidak semangat. Entah apa yang sudah menghancurkan moodnya sepagi ini. Reyhan memasuki perusahaan, setiap karyawan yang melihat memberikan salam dan menunduk hormat tapi tak ada satupun yang Reyhan jawab. Dia hanya berjalan dengan wajah datar tanpa ekspresi.
"Apa yang terjadi pada, Bos? sepertinya suasana hatinya sedang buruk," ucap salah seorang karyawan.
"Entahlah, mungkin dia salah makan pagi ini, atau kerasukan," jawab Sinta sambil cekikikan.
Alina yang baru saja datang dari kamar mandi menghampiri mereka."Heii kenapa kalian berkumpul disini?"
"Itu tuh su–eh! maksud gue Pak Reyhan mukanya belum disetrika," jawab Sinta yang hampir saja keceplosan.
"Ada masalah mungkin di perusahaan, udah yuk kerja aj," ajak Alina pada rekan-rekannya.
Alina memang seperti penengah untuk rekan-rekan kerjanya, setiap ada masalah Alina selalu bersikap lebih dewasa dan lebih tenang.
"Al ... Alina!" seorang karyawan wanita memanggil Alina dengan sedikit terburu-buru.
"Iya mbak, ada apa kok sampai lari-lari gitu?" tanya Alina heran.
"Itu Al, kamu dicariin pak Reyhan, disuruh ke ruangannya sekarang."
"Aku mbak? kenapa ya?" Alina menautkan kedua alisnya.
"Ya udah aku ke sana dulu mbak." Alina berjalan meninggalkan ruangannya.
tok–tok–tok!
Alina membuka pintu ruangan Reyhan, saat kakinya sudah masuk satu langkah diruangan itu pikiran kembali teringat kejadian yang menimpanya beberapa bulan yang lalu. Masih teringat dengan baik kejadian waktu itu di kepalanya, hatinya masih terasa sakit jika mengingat itu.
Reyhan melihat Alina masih diam mematung di depan pintu dengan tangan kanannya masih memegang erat gagang pintu, seolah enggan untuk memasuki ruangannya, itu membuat perasaan aneh tiba-tiba muncul dalam hati Reyhan.
"Masuklah!"
"Ada apa Pak Reyhan mencari saya?" tanya Alina sambil memainkan jari-jarinya dibawah seolah ingin meredakan rasa gugupnya.
"Apa kau tak ingat jika kau sudah menikah?"
Alina mengangkat kedua alisnya, sekarang dia tau kenapa dia dipanggil oleh atasannya itu.
"Saya hanya rindu Ibu saya, karena kemarin hari libur jadi saya putuskan untuk menginap disana dan langsung berangkat kerja dari sana setelah itu saya baru pulang," jelas Alina.
"Aku mengijinkanmu untuk menjalani kehidupan pribadimu sendiri, tapi bukan berarti kamu bisa berkeliaran diluar sesukamu."
"Baiklah, aku tidak akan melakukannya lagi, aku ingin mengabarimu tapi aku lupa aku tidak punya nomer mu. Aku ingin menelpon Mama untuk menanyakan nomer mu tapi aku takut menggangu Mama."
"Ya, kau memang pengganggu, dia baru saja mmengirimiku foto dan sekarang sedang sibuk mengurus acara fashion show Raisa, kau jangan menggangunya!" jawab Reyhan sambil melihat layar komputernya.
"Benarkah? bolehkah aku melihatnya aku ingin sekali melihat Raisa, mama bilang dia sangat cantik," tanya Alina antusias dan berjalan cepat ke arah Reyhan.
Reyhan menunjukkan foto-foto yang dikirim ibunya pada Alina, Alina memperhatikan setiap foto itu dengan antusias dan senyum manis, selalu dia tunjukkan setiap kali menggeser foto-foto itu.
Alina sangat rindu orang tua barunya, sejak acara makan malam itu orang tua Reyhan kembali ke Amerika untuk membantu Raisa menyiapkan acaranya. Mereka tidak ingin Raisa terlalu capek karena harus mengurus acaranya sendiri.
Reyhan memperhatikan Alina, dia begitu terpesona dengan senyum yang Alina tunjukkan. Tanpa dia sadari senyum indah turut mengembang di kedua sudut bibir Reyhan, hatinya terasa menghangat sudah lama dia tidak merasakan perasaan ini. Reyhan terus saja memandangi wajah Alina dengan lekat, matanya seolah sudah terpaku pada wajah Alina. Hingga akhirnya suara ketukan pintu membuyarkan konsentrasi mereka berdua, Alina yang masih sibuk dengan fotonya dengan cepat menjauh dari meja Reyhan.
Bersambung ....
************
Dalam hidup apapun yang terjadi jangan kamu sesali...
Hal yang baik adalah kenangan indah...
Dan hal yang buruk adalah pelajaran berharga.
Waktumu berharga jangan kau habiskan pada orang yang tak menghargainya, karena kamu tak akan pernah bisa mengembalikannya lagi...
Dalam cinta kamu tau dia orang yang tak tepat untuk hidupmu, ketika kamu merasa lebih sepi bahkan saat kamu sendiri...
Jika yang kamu cintai tak juga menyadari betapa berartinya dirimu, kamu harus belajar melupakannya. — unknown
dulu udah berjanji setelah Alin a mau kembali dan anaknya lahir, hanya akan membahagiakan istri dan anaknya, mereka berdua yg jadi prioritas.
sekarang... boro-boro, inget anak juga nggak!
coba istrimu yg ada diposisimu, makan sama laki-laki lain dari siang ampe sore? pasti ngamuk tuh.
laki-laki egois!
dua-duanya salah, tapi gak ada yg mau menyampaikan apa yg menjadi keinginannya, api gak bisa dilawan dengan api, jadinya kebakar.
Alina udah tau kerepotan tp gak mau menerima ide suami untuk dibantu baby sitter, Reyhan kecewa dengan penolakan istrinya yg katanya lelah, lebih memilih meninggalkan rumah dan mencari pelampiasan lain yaitu alkohol.
takutnya seperti sekarang dia ketemu dengan wanita lain yg bisa memberinya kenyamanan
setelah baca beberapa bab ternyata ceritanya bagus banget 👍😍
cerita ini benar-benar bagus, tak terduga dan pastinya beda dengan cerita-cerita lainnya😍👍