NovelToon NovelToon
Bersinar Lah Bersama Matahari

Bersinar Lah Bersama Matahari

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Mengubah Takdir / Menjadi Pengusaha
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mbak Ainun

Penasaran dengan ceritanya yuk langsung aja kita baca

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 31: Bayang-Bayang di Puncak

BAB 31: Bayang-Bayang di Puncak

Januari 2026 seharusnya menjadi bulan yang tenang, namun bagi Nayla, puncak gunung ternyata adalah tempat dengan angin paling kencang. Setelah menaklukkan pasar Eropa di angka tiga puluh ribu kata kemarin, ia kini menyadari bahwa mempertahankan takdir jauh lebih sulit daripada mengubahnya. Pabrik Matahari Terbit kini beroperasi dua puluh empat jam penuh, namun di balik kemegahan panel surya dan mesin otomatis itu, sebuah ancaman baru mulai muncul: Kelelahan Jiwa.

Nayla berdiri di depan dinding kaca kantornya, memperhatikan ribuan kardus yang siap dikirim ke berbagai penjuru dunia. Namun, sorot matanya tidak lagi seberbinar dulu. Ketenaran global menjadikannya sasaran empuk bagi mereka yang ingin mengambil keuntungan instan.

"Nay, ada masalah di bagian logistik domestik," ujar Ranti, masuk ke ruangan dengan wajah yang tampak sepuluh tahun lebih tua. "Beberapa agen lama kita di daerah mulai protes. Mereka merasa kita terlalu menganakemaskan pasar ekspor sampai stok untuk mereka sering terlambat. Beberapa dari mereka bahkan mengancam akan beralih ke kompetitor kalau kita tidak segera menambah kuota."

Nayla memijat pelipisnya. Inilah dilema pertumbuhan. Di satu sisi, ia punya tanggung jawab kontrak internasional di Dubai dan Rotterdam, namun di sisi lain, ia tidak ingin melupakan para agen kecil yang membantunya saat ia masih jualan keliling.

"Kita tidak bisa membelah diri, Ran. Mesin kita sudah bekerja maksimal," sahut Nayla pelan. "Apa kita harus membangun pabrik kedua?"

"Membangun pabrik kedua butuh waktu, Nay. Sementara pasar tidak bisa menunggu," jawab Ranti.

Di tengah tekanan itu, muncul masalah lain. Ketenaran Nayla membuat keluarganya menjadi sorotan media gosip. Maya, adiknya, kini mulai terpengaruh gaya hidup mewah yang tidak sehat di kota besar. Ia sering bolos kuliah dan lebih banyak menghabiskan waktu di pesta-pesta selebritas, menggunakan nama besar Nayla untuk mendapatkan akses.

"Mbak, kenapa sih Mbak selalu mengatur pengeluaranku?" bentak Maya saat Nayla mencoba menegurnya malam itu di rumah. "Kita sudah kaya raya! Semua teman-temanku punya mobil mewah, sedangkan aku masih harus lapor setiap mau beli tas baru!"

Nayla menatap adiknya dengan rasa sedih yang mendalam. "Maya, uang ini bukan untuk foya-foya. Uang ini adalah keringat Ibu-ibu di pabrik. Kamu lupa bagaimana kita dulu makan satu bungkus mi instan dibagi tiga?"

"Itu dulu! Sekarang beda!" Maya membanting pintu kamarnya, meninggalkan Nayla dalam keheningan yang menyakitkan.

Nayla menyadari bahwa sinar matahari yang ia pancarkan memang menghangatkan dunia, tapi di saat yang sama, ia mulai membakar orang-orang terdekatnya. Ia merasa gagal menjaga keseimbangan antara bisnis dan keluarga.

Keesokan harinya, Nayla memutuskan untuk melakukan sesuatu yang tidak terduga. Ia meninggalkan kantornya, melepas kemeja mahalnya, dan kembali mengenakan apron hitam lamanya. Ia turun ke lantai produksi, berdiri di samping Mak Sumi dan Ibu-ibu lainnya. Ia mulai membantu memilah daun jeruk secara manual.

"Mbak Nay... kenapa turun ke sini? Kan sudah ada mesin," ujar salah satu pekerja heran.

"Nayla rindu bau daun jeruk, Mak," jawab Nayla sambil tersenyum tulus. "Nayla rindu rasa saat tangan kita masih berbau cabai, bukan cuma berbau tinta dokumen."

Berada di tengah-tengah karyawannya selama beberapa jam ternyata menjadi terapi bagi Nayla. Ia mendengarkan cerita mereka, tawa mereka, dan keluh kesah mereka. Dari sana, Nayla mendapatkan ide cemerlang. Ia tidak butuh pabrik kedua yang besar dan dingin di kawasan industri. Ia akan meluncurkan program "Dapur Satelit Matahari".

Ia akan memberikan modal dan lisensi kepada kelompok-kelompok Ibu-ibu di berbagai desa untuk menjadi pusat produksi skala kecil yang terstandarisasi. Dengan begitu, ia bisa memenuhi permintaan domestik tanpa membebani pabrik utama, sekaligus memberdayakan lebih banyak orang di pelosok negeri.

"Ini bukan cuma soal ekspansi, Ranti," jelas Nayla saat kembali ke kantor. "Ini soal mengembalikan cahaya matahari ke desa-desa. Kita akan buat ekosistem di mana setiap desa punya 'matahari' kecilnya sendiri."

"Di puncak gunung, bayangan kita memang terlihat lebih panjang, tapi itu bukan berarti kita menjadi lebih besar. Bayangan itu hanyalah pengingat bahwa ada bagian dari diri kita yang tidak terkena cahaya. Hari ini saya belajar bahwa kesuksesan yang sesungguhnya bukan saat kita bisa membeli segalanya, tapi saat kita tidak kehilangan jati diri kita di tengah segalanya. Saya akan membawa matahari kembali ke tanah, ke tangan-tangan jujur di desa-desa. Karena matahari yang paling indah adalah matahari yang sinarnya merata, bukan yang hanya menyinari satu menara tinggi."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!