Kim Jane Soo gadis liar yang hendak dijual Paman tirinya berhasil kabur meski dengan luka di tubuhnya.
Ia berlari dan tidak sengaja melihat sebuah mobil milik CEO dari perusahaan TIG Entertaiment yang sangat berpengaruh di Asia, bernama Ji Ahn Yoo.
CEO dingin itu menyelamatkannya dan membawanya ke rumah sakit yang jauh dari tempat tinggalnya. Karena pertama berjumpa CEO itu jatuh cinta melihat Kim Jane Soo, ia menahan wanita ini dengan segala macam cara agar tetap berada di sampingnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maomao, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Keesokan harinya.
Tok- Tok- Tok!
Suara ketukan pintu samar-samar terdengar dari luar kamarku. Aku membuka pintu dengan langkah sempoyongan, mata yang masih kabur saat memandang, dan mulut yang terbuka karena menguap.
"Siapa yang mengetuk pintuku pagi-pagi buta seperti ini," gerutuku dengan suara berat karena masih mengantuk.
Ternyata Ahn Yoo yang mengetuk pintuku.
Apa yang dilakukannya? Kenapa dia membangunkanku masih pagi sekali.
"Ahn Yoo? Kenapa kamu membangunkanku?"
"Masakkan aku sandwich."
"Ha? Ini 'kan masih pagi sekali. Lihat jarum jam masih menunjuk angka 05.00 am. Apa kamu ini ayam, kenapa bangun cepat sekali," kataku yang masih setengah sadar.
""Kau ini kerbau 'yah? Kenapa bangun lama sekali," decaknya kesal.
"Aku masih sangat mengantuk, tadi malam aku tidur larut. Biarkan aku tidur beberapa menit lagi. Nanti ku masakkan," sambungku dengan nada mengantuk.
Dia mendorongku masuk ke dalam kamarku dan menarikku ke kamar mandi. Dia menyuruhku membasuh muka dan menyikat gigi.
"Cepat basuh mukamu, kalau tidak mau, aku yang akan membasuhnya."
Aku langsung membasuh mukaku dan menyuruhnya keluar karena aku ingin membuang air kecil.
"Ahn Yoo! Bisakah kamu keluar dulu, aku mau buang air kecil."
Dia menatapku beberapa saat baru kemudian dia keluar dari sini.
"Kenapa lagi dengan si gunung es itu? Aku harap ini adalah pertanda baik," gumamku sambil menyikat gigi dan meliriknya dari tempatku berdiri.
Setelah selesai menyikat gigi, aku keluar dari kamar mandi dan mencari keberadaan Ahn Yoo. Aku tidak melihatnya di sini. Jadi aku keluar untuk mencarinya, mana tahu dia sudah turun lebih dulu.
Benar saja, dia sudah ada di ruang makan dengan tangan disilangkan di dedepan dadanya.
"Kenapa kau lama sekali," Ahn Yoo mulai mengamuki ku.
"Maafkan aku," jawabku singkat dan langsung mengambil semua bahan di kulkas.
"Masak yang enak, aku tidak mau makan sampah kemarin lagi," gerutu Ahn Yoo.
"Kalau masakanku tidak enak, kenapa kamu masih menyuruhku, ********?" gerutuku dengan suara pelan.
"Apa kau sedang menggerutuiku?"
"Ha? Tidak, aku sedang bernyayi tadi," jawabku mencoba mengelak.
Setelah selesai memasak, aku menghantarkannya ke meja makan. Aku membagi sandwich ini ke piring kami masing-masing, dan langsung menyantapnya.
"Apa kamu sangat kelaparan sampi-sampai membangunkanku untuk memasak sampah ini," ejekku dengan cara pelan dan kalimat yang halus.
"Bukankah sudah kubilang untuk memasakkanku sarapan setiap pagi," timpalnya dengan wajah datar.
"Oohh ... tapi katamu masakanku tidak enak."
"Aku tidak pernah mengatakan itu. Tapi masakanmu sangat tidak enak," tukasnya memancing emosiku.
Untung saja aku sudah kebal dengan kata-katanya yang menyinggung ini. Jadi aku tidak perlu terpancing dan memarahinya kembali.
"Nanti setelah pulang bekerja, aku akan mengajakmu ke danau, jadi bersiaplah. Aku tidak mau menunggu lama," jelasnya kepadaku, tidak disangka dia juga mau mengajakku keluar. Mungkin dia kasihan melihatku karena terlalu lama di rumah saja, tidak pernah refresing.
"Benarkah? Wahhh ... aku tidak sabar," sahutku kegirangan mendengar ajakannya.
***
Waktu sangat lama berjalan, padahal aku sudah tidak sabar menunggu Ahn Yoo pulang bekerja dan membawaku ke danau. Membayangkannya saja aku sudah sangat bahagia, apalagi langsung ke sana. Mungkin aku bisa rileks dan merehatkan pikiranku sejenak.
Setelah jam 04.00 pm, aku mandi dan mengganti pakaian ku dengan pakaian yang bagus. Aku juga hari ini berdandan, padahal aku tidak biasa melakukannya.
Aku menunggu Ahn Yoo datang di bawah, tepatnya di ruang tamu. Agar ketika dia memanggilku, aku lebih cepat menghampirinya dan bisa langsung berangkat.
"Jane? Kamu hari ini rapi sekali? Kamu mau kemana?" Bu San tampak heran melihat ku yang hari ini tampak berbeda dari hari sebelumnya.
"Benarkah? Aku tidak ingin pergi kemana-mana Bu San," Kataku pura-pura terkejut.
"Uhmm, baiklah. Lalu apa yang kamu lakukan di sini? Seperti sedang menunggu seseorang," lanjut Bu San yang sudah paham denganku.
"Ha? Aku hanya merasa bosan saja Bu San, jadi aku datang ke sini," aku mencoba untuk tidak memberitahu Bu San kalau aku dan Ahn Yoo akan pergi bersama ke danau.
Tapi anehnya sampai sekarang Ahn Yoo belum pulang juga. Hari sudah mulai gelap, tapi dia tidak muncul-muncul. Atau dia sedang lembur, jadi dia akan membatalkan rencana kami hari ini.
Kring- Kring- Kring!
Suara telepon rumah berbunyi, Bu San kemudian mengangkatnya.
"Halo, ini siapa," terdengar suara Bu San yang baru saja mengangkat telepon.
"Owh ... baiklah Tn. Ji, saya harap Nn. Shin baik-baik saja," sambung Bu San seperti menyahut dari telepon.
Aku mendengar Bu San sedang bertelepon dengan Ahn Yoo. Dengan tergesa-gesa, aku mendekati Bu San dan menanyakan apa yang terjadi.
"Bu San, siapa yang menelpon tadi?"
"Itu Tn. Ji, katanya malam ini tidak bisa pulang karena ada urusan mendadak," sahut Bu San.
"Urusan? Urusan apa Bu San?"
"Nn. Shin kabur dari rumahnya sudah tiga hari, kabarnya dia datang ke sini dari rumahnya untuk menjumpai Tn. Ji," lanjut Bu San menjelaskan kepadaku.
"Nn. Shin ? Siapa dia, Bu San?" Tanyaku keheranan.
"Dia adalah putri dari teman Almarhum Ibu Tn. Ji, dulu Ibu Tn. Ji dan Ibu Nn. Shin sangat dekat, mereka bersahabat. Jadi, Ibu Tn. Ji sangat menyayangi Nn. Shin, bahkan menganggapnya anak sendiri. Mereka juga sempat menjodohkan Tn. Ji dan Nn. Shin ketika masih kecil."
"Owh ... jadi Nn. Shin adalah teman kecil Ahn Yoo?"
"Iya Jane, sampai mereka belajar di universitas yang sama."
"Owh ... jadi begitu, ngomong-ngomong apa nama depan Nn. Shin itu, Bu San?"
"Shin Hyun In, itu nama lengkapnya. Dia wanita yang kuat, sampai jauh-jauh mengejar Tn. Ji," timpal Bu San.
"Ck ... itu bukan kuat, tapi genit," decakku dengan suara pelan.
Mungkin Shin Hyun In sangat berharga sekali bagi Ahn Yoo, sampai-sampai dia tidak pulang ke rumah dan mengejar Ahn Yoo ke sini.
"Oh ya, Bu San. Rumah Hyun In ada dimana?" Aku menanyai Bu San yang baru saja berjalan meninggalkan ku.
"Rumah Nn. Shin ada di Kota Sanghai, sangat jauh dari Agra. Itu sebabnya Tn. Ji khawatir tentang keberadaan Nn. Shin."
"Dia dari Cina? Kenapa dia nekat sekali? Dia sungguh mencintai Ahn Yoo, sampai mengejarnya ke sini."
"Kamu benar Jane, dia memang sangat mencintai Tn. Ji, tapi sampai sekarang belum ada balasan dari Tn. Ji," timpal Bu San yang tampak senang menggosipi Hyun In.
Rasanya aku sedikit cemburu dengan Hyun In, dia mendapatkan perhatian dari Ahn Yoo. Meskipun harus nekat begitu, tapi dia jelas bisa mendekati Ahn Yoo. Aku pikir Ibu Ahn Yoo sangat menyayangi Hyun In, sampai nama belakang meraka sama, memakai In, Sane In dan Hyun In.
Padahal hari ini aku sangat berharap Ahn Yoo membawaku ke danau, tapi karena Hyun In menghilang, dia dengan mudahnya melupakan ajakannya. Mungkin Ahn Yoo sangat khawatir sampai dia melupakan ajakannya tadi pagi. Aku sedikit kecewa karena Ahn Yoo tidak mengingat janjinya padaku. Karena sudah terlanjur begini, aku terpaksa mengganti pakaianku dan menunggu hari esok datang.
Aku melewatkan makan malam hari ini, aku tidak berselera untuk itu. Bahkan perutku saja menolak untuk makan, mungkin karena aku sedikit kecewa karena Ahn Yoo. Seharusnya aku tidak perlu terlalu berharap dengan ajakan Ahn Yoo tadi pagi, agar aku tidak terlalu kecewa. Padahal Bu San sudah mengajakku untuk makan, tapi aku menolak dan mengatakan kalau aku sedang diet hari ini.
***
Pagi ini aku bangun sangat awal, ingin memasak tapi Ahn Yoo tidak ada. Aku sudah terbiasa makan sandwich berdua dengannya, jadi kalau tiba-tiba dia tidak ada, aku jadi tidak terlalu bersemangat.
Akhirnya aku memutuskan untuk lari pagi di dekat komplek perumahan Ahn Yoo. Hitung-hitung menghilangkan suntuk selama ini. Otak ku juga perlu istirahat, sudah banyak sekali masalah yang kuhadapi beberapa waktu terakhir. Mulai dari paman tiri yang akan menjualku, sampai pemabuk yang ingin menjadikanku wanita penghiburnya.
Setelah berlari cukup lama dan merasa sudah lelah, aku berniat pulang ke rumah Ahn Yoo. Saat berada di simpang jalan, aku melihat Lee Kang Joon sedang membeli sesuatu di super market. Kemudian aku memanggilnya dan menghampirinya.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanyaku yang terengah-engah karena berlari dari tadi.
"Kim Jane Soo? Aku sedang membeli buah untuk karyawanku," jawab Kang Joo dengan senyum lebar di bibirnya.
"Wah ... kamu ini tipe boss yang perhatian. Kamu peduli sekali dengan karyawanmu, biasanya orang berkuasa sepertimu tidak akan menghiraukan karyawannya," pujiku kepada Kang Joon.
"Hahahahah ... aku ini 'kan orangnya baik dan manis," sahutnya bangga.
"Cih ... kamu sekali dipuji malah menjadi-jadi," lanjutku mencoba bergurau.
Aku pergi mengambil minuman di freezer toko ini, dan langsung memberikannya kepada kasir.
"Aku memesan ini," kataku kepada wanita di kasir dan mengambil uang di saku ku.
Kemudian Kang Joon membayarkan minumanku saat aku sedang mengambil uang di saku celanaku.
"Hey ... kenapa kamu membayarnya. Itukan minumanku?"
"Tidak masalah, sekalian saja dengan belanjaanku," sahut Kang Joon.
"Masalahnya aku tidak mau, aku masih mampu membayar ini," lanjutku dengan tangan menunjuk minuman itu.
"Jangan tersinggung, aku hanya berniat baik. Lagi pula anggap saja ini permintaan maaf dariku karena sudah menarik tanganmu di depan restaurant."
"Maaf tuan ini belanjaan anda, jumlah bayarannya seperti yang tertera di sini," timpal kasir wanita.
Kemudian Kang Joon memberikan kartu kredit miliknya untuk membayar belanjaannya dan minumanku. Setelah itu, kami pergi meninggalkan super market ini.
"Jane Soo, biar aku antarkan kamu pulang," Kang Joon mengajakku.
"Tidak perlu, aku masih ingin berlari. Lagi pula rumahku tidak jauh lagi," aku mencoba menolak ajakan Kang Joon.
"Wah ... kamu langsung menolak ajakanku, padahal banyak sekali wanita yang antri menungguku mengajak mereka," sambungnya dengan bangga.
"Kalau begitu, pergilah dengan wanita-wanita itu. Aku sedang tidak ingin, jadi jangan memaksaku."
"Kamu tampak seperti sedang merajuk, apa kamu cemburu, 'yah?" Kang Joon mulai menggodaku dan membuatku tertawa.
"Enak saja, aku tidak berminat cemburu dengan wanita yang mengantri untukmu," sambungku dengan ketus.
"Kenapa hari ini kamu sensitif sekali, kamu sedang menstruasi, 'yah?"
"Hey ... kamu ... kamu ini tidak bersopan sekali. Aku hanya kesal melihatmu."
"Maaf-maaf, aku hanya bercanda. Tapi kapan aku membuatmu kesal?"
"Kamu menyamakanku dengan wanita kurang kerjaan yang memuja-mujamu," tukasku dengan mata sinis.
"Owh ... jadi itu sebabnya. Baiklah aku tidak akan mengulanginya. Aku berjanji padamu," Kang Joon tersenyum dan mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya bersamaan.
Lee Kang Joon memang selalu bisa mengubah suasana. Dia bisa membuat orang yang awalnya tidak suka padanya menjadi suka. Tapi terkecuali Ahn Yoo, dia tetap membenci Kang Joon, meskipun Kang Joon adalah laki-laki yang cukup manis.
"Oke, kali ini aku memaafkanmu tapi lain kali aku tidak akan mengampunimu lagi," jawabku yang masih berpura-pura kesal melihatnya.
"Tapi kamu sudah memaafkan ku, 'kan?" Bujuk Kang Joon kepadaku.
"Hmmm ... tidak," jawabku mencoba mempermainkannya.
"Kenapa? Aku akan mengikutimu kalau tidak memaafkanku."
"Benarkah? Ya sudah, ikuti saja aku. Biar wanita di luar sana cemburu denganku," timpalku tidak acuh.
"Kamu yang suruh, jadi jangan salahkan aku membuntutimu kemana pun kamu pergi," Kang Joon seperti sedang meledekku.
"Hahahahahah ... pergilah bekerja, nanti kamu terlambat lagi. Lagi pula karyawanmu sudah tidak sabar menunggu buah dari boss yang katanya baik dan manis ini," aku tersenyum dan menyuruhnya masuk ke dalam mobil miliknya.
"Apa kamu sedang menggodaku?"
"Astaga, kamu pergilah. Lain kali kalau ada waktu kita berbincang-bincang lagi," sambungku dengan nada cerewet.
"Iya, kalau begitu aku pergi dulu, 'yah. Dan aku akan menagih janjimu untuk berbincang-bincang padaku."
"Iya, ngomong-ngomong terima kasih minumannya."
Dia masuk ke dalam mobil dan membunyikan klakson padaku. Dia sangat manis, jauh beda dengan Ahn Yoo yang dingin. Dia juga perhatian sekali, Kang Joon tidak pernah merendahkanku meskipun aku tidak seperti wanita cantik gemulai di luar sana.
**Bersambung ...
UNTUK READERS TERHORMAT,
AUTHOR SANGAT MEMBUTUHKAN DUKUNGAN KALIAN. LIKE, KOMEN, VOTE DAN TAMBAHKAN FAVORIT NOVEL INI, DAN TERUS IKUTI CERITANYA YAHHH!😚🌻
Terimakasih🍃😉**
Next ya, ditunggu kelanjutannya.
salam dari TMA
hadir dari imagine& writter