Retna tak pernah menyangka rumah tangga yang mati-matian ia pertahankan akan berakhir dalam satu keputusan kejam: perceraian. Atas desakan suami dan ibu mertuanya, ia diusir dari rumah, seolah seluruh pengorbanan, cinta, dan tahun-tahun yang ia jalani bersama keluarga itu tak pernah berarti.
Dengan hati hancur, Retna bersumpah tak akan lagi percaya kepada laki-laki. Baginya, cinta hanyalah pintu menuju luka yang lebih dalam.
Namun, ketika ia memilih mengunci rapat hatinya, seorang pria asing justru hadir membawa kehangatan yang belum pernah ia rasakan. Pria yang dijulukinya “Mas Bule” itu memperlakukannya dengan tulus, penuh perhatian, dan kasih sayang—perlahan menggoyahkan sumpah yang selama ini ia pegang.
Di antara trauma masa lalu dan harapan yang mulai tumbuh, mampukah Retna kembali membuka hati? Ataukah pria asing itu benar-benar hadir sebagai penyembuh luka sekaligus jodoh yang selama ini diam-diam menunggunya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mitha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 - Pertemuan Pertama Di Bali
Perjalanan panjang itu akhirnya berakhir.
Begitu kendaraan yang ditumpangi Retna memasuki kawasan Bali, ia langsung menatap keluar jendela.
Pemandangan yang berbeda dari kampung halamannya perlahan memenuhi pandangan.
Pepohonan hijau.
Bangunan-bangunan dengan ornamen khas Bali.
Pura-pura kecil di depan rumah.
Hiasan janur yang bergoyang tertiup angin.
Semuanya terasa asing.
Namun untuk pertama kalinya setelah beberapa hari terakhir, Retna merasa dadanya sedikit lebih ringan.
Ia benar-benar sudah pergi.
Tidak ada lagi rumah yang menyimpan kenangan tentang Arman.
Tidak ada lagi tatapan orang-orang yang mengetahui kegagalan pernikahannya.
Di tempat ini, tidak ada seorang pun yang mengenalnya.
Retna bisa memulai semuanya dari awal.
Kendaraan akhirnya berhenti di sebuah tempat yang sudah dijanjikan Lilis.
Retna turun sambil menarik koper kecilnya.
Belum sempat ia melihat-lihat sekitar, seseorang berlari kecil menghampirinya.
“Retna!”
Retna langsung tersenyum.
“Lilis!”
Mereka berpelukan cukup lama.
Lilis kemudian memegang kedua bahu Retna dan memperhatikannya dari atas sampai bawah.
“Kamu kurusan.”
Retna tertawa kecil.
“Banyak pikiran.”
Lilis menghela napas.
“Aku tahu.”
Tatapan Lilis kemudian jatuh pada koper kecil yang dibawa Retna.
“Cuma itu?”
Retna mengangguk.
“Barang-barangku memang tidak banyak.”
“Ya ampun, Na.”
Lilis kembali memeluknya.
“Kamu benar-benar memulai hidup dari nol.”
Retna tersenyum tipis.
“Memang itu yang aku mau.”
Lilis tidak membahasnya lebih jauh.
Ia membantu membawa koper Retna menuju mobil.
“Sekarang kita ke rumah tempat kamu bekerja.”
Retna langsung terlihat gugup.
“Sekarang?”
“Iya.”
Retna menarik napas.
“Pemilik rumahnya sudah tahu aku datang?”
“Sudah. Aku sudah menjelaskan semuanya.”
“Dia orangnya bagaimana?”
Lilis berpikir sebentar.
“Baik.”
“Galak?”
“Sepertinya tidak.”
“Sepertinya?”
Lilis tertawa.
“Aku juga tidak terlalu sering bertemu dengannya.”
Retna menatap sahabatnya dengan curiga.
“Lilis.”
“Hm?”
“Jangan bilang kamu asal mencarikan pekerjaan untukku.”
“Ya enggak lah,masa iya aku mau menjerumuskan mu.Ck.”
Lilis terkekeh.
“Tenang saja. Dia orang baik. Aku sudah mengenalnya melalui temanku.”
Retna mengangguk meski kegugupannya belum hilang.
Tidak lama kemudian, mobil mereka memasuki sebuah kawasan yang jauh lebih tenang.
Retna mulai memperhatikan rumah-rumah di sepanjang jalan.
Ketika mobil berhenti, matanya langsung membesar.
Rumah itu sangat indah.
Bukan rumah mewah bergaya modern seperti yang biasa ia lihat di kota.
Rumah tersebut justru memiliki nuansa Bali yang kuat.
Gerbang batu dengan ukiran tradisional berdiri kokoh di bagian depan.
Di dalamnya terdapat halaman luas dengan pepohonan rindang.
Beberapa patung khas Bali menghiasi sudut halaman.
Atap bangunan utama terlihat sederhana, tetapi sangat elegan.
Retna turun dari mobil sambil menatap sekeliling.
“Ini rumahnya?”
Lilis mengangguk.
“Iya.”
Retna menelan ludah.
“Besar sekali.”
“Makanya pekerjaannya lumayan.”
Retna langsung menatap Lilis.
“Lumayan?”
“Ya... dibandingkan bekerja di tempat lain.”
Retna mengangguk.
Ia mencoba menenangkan dirinya.
Bagaimanapun juga, ia datang ke Bali untuk bekerja.
Bukan untuk mencari kemewahan.
Lilis berjalan lebih dulu menuju pintu utama.
Retna mengikuti dari belakang sambil membawa tas tangannya.
Begitu sampai di teras, Lilis mengetuk pintu.
Tok... tok... tok...
Tidak lama kemudian, pintu terbuka.
Dan seorang pria berdiri di sana.
Retna langsung terdiam.
Pria itu tinggi.
Rambutnya berwarna cokelat terang dan sedikit berantakan, tetapi justru membuat penampilannya terlihat santai.
Kulitnya terang.
Matanya berwarna biru keabu-abuan.
Ia mengenakan kaus polos berwarna putih dengan celana pendek berwarna hitam gelap.
Tidak terlihat seperti seseorang yang tinggal di rumah sebesar itu.
Retna tanpa sadar memandanginya beberapa detik terlalu lama.
Lilis menyenggol lengannya.
“Retna.”
Retna tersentak.
“Oh.”
Ia langsung menundukkan kepala.
“Sorry.”
Pria itu tersenyum.
“Hi.”
Retna semakin gugup.
Ia mengingat apa yang dikatakan Lilis.
Seorang warga asing.
Berarti bahasa Inggris.
Ia harus bicara bahasa Inggris.
Dengan percaya diri yang dibuat-buat, Retna tersenyum.
“Hello, Sir.”
Pria itu mengangkat alis.
Retna semakin gugup.
“My name is Retna. I... I am here for work.”
Pria itu masih tersenyum.
Retna melanjutkan dengan bahasa Inggris yang sangat sederhana.
“I can clean the house. I can cook. I can...”
Ia berhenti sejenak karena lupa kata berikutnya.
“...do many things.”
Lilis langsung menahan tawa.
Pria itu justru tertawa kecil.
Bukan menertawakan dengan kasar.
Lebih seperti seseorang yang merasa lucu melihat kepolosan orang di depannya.
Retna semakin salah tingkah.
“I mean... I can work hard.”
Pria itu mengangguk.
“I know.”
Retna terdiam.
Ia merasa bahasa Inggris pria itu sangat lancar.
Tentu saja.
Dia bule.
Retna menarik napas.
Kemudian pria itu berkata,
“Capek perjalanan?”
Retna membeku.
Matanya membulat.
“Hah?”
Pria itu mengulang dengan santai.
“Capek perjalanan?”
Retna menatap Lilis.
Lilis sudah tersenyum lebar.
Retna kembali menatap pria di depannya.
“Mister... bisa bahasa Indonesia?”
Pria itu mengangguk.
“Bisa sedikit.”
“Sedikit?”
Pria itu tersenyum.
“Ya, lumayan.”
Retna merasa wajahnya panas.
Tadi ia sudah berusaha keras berbicara bahasa Inggris.
Bahkan hampir membuat lidahnya keseleo.
Padahal ternyata pria di depannya bisa berbicara bahasa Indonesia.
Lilis akhirnya tertawa.
“Aku kan belum sempat bilang.”
Retna melotot.
“Kenapa tidak bilang dari tadi?”
“Lucu melihat kamu panik.”
“Lilis!”
Pria itu kembali tertawa kecil.
Retna semakin malu.
“Maaf,” katanya pelan kepada pria itu.
“Tidak apa-apa.”
Pria tersebut kemudian mengulurkan tangan.
“Saya Nathan.”
Retna melihat tangan itu beberapa detik sebelum akhirnya menyambutnya.
“Saya Retna,mister.”
Nathan tersenyum.
“Senang bertemu kamu.”
“Senang bertemu... juga.”
Retna cepat-cepat melepaskan tangannya.
Nathan kemudian mempersilakan mereka masuk.
Begitu memasuki rumah, Retna kembali dibuat kagum.
Bagian dalam rumah tersebut tidak kalah indah.
Perabotannya sederhana, tetapi terlihat mahal.
Ada sofa besar menghadap halaman.
Beberapa lukisan menghiasi dinding.
Jendela-jendela besar membuat cahaya matahari masuk dengan bebas.
Retna berdiri sambil memperhatikan semuanya.
“Rumahnya besar sekali,” gumamnya.
Nathan yang mendengar ucapan itu tersenyum.
“Kalau besar, berarti banyak yang harus dibersihkan.”
Retna langsung menoleh.
“Betul.”
Nathan tertawa.
“Jangan khawatir. Kamu tidak harus mengerjakan semuanya sendirian sekaligus.”
Retna mengangguk.
Lilis kemudian menjelaskan beberapa hal mengenai pekerjaan Retna.
Retna akan membantu membersihkan rumah, mencuci pakaian, menyiapkan makanan sederhana, serta beberapa pekerjaan rumah tangga lainnya.
Ada kamar kecil khusus untuknya di bagian belakang rumah.
Retna sedikit lega.
Setidaknya ia memiliki tempat tinggal.
“Kalau kamu merasa tidak cocok, bilang saja,” ujar Nathan.
Retna menggeleng.
“Tidak. Saya cocok,mister.”
“Kamu belum mulai.”
Retna tersenyum kecil.
“Yang penting saya mau mencoba.”
Nathan memperhatikan Retna sejenak.
Ada sesuatu dalam sorot mata perempuan itu yang membuatnya merasa bahwa Retna sedang berusaha keras menyembunyikan sesuatu.
Namun ia tidak bertanya.
Tidak semua orang ingin menceritakan masa lalunya kepada orang asing.
“Kalau begitu, selamat datang.”
Retna mengangguk.
“Terima kasih.”
Lilis menepuk pundaknya.
“Nah, kamu sudah punya tempat.”
Retna tersenyum.
Untuk pertama kalinya setelah meninggalkan rumahnya, ia merasa mungkin keputusannya untuk pergi tidak sepenuhnya salah.
Ia belum tahu seperti apa hari-hari yang akan dijalaninya di rumah ini.
Ia juga belum tahu bahwa pria bernama Nathan itu akan menjadi seseorang yang sangat penting dalam hidupnya.
Untuk sekarang, Retna hanya ingin bekerja.
Mengumpulkan uang.
Menyembuhkan dirinya sendiri.
Dan belajar hidup tanpa bergantung kepada siapa pun.
Namun tanpa Retna sadari, pertemuan sederhana di siang itu telah menjadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Sesuatu yang kelak akan membuat Retna kembali mempertanyakan satu hal yang selama ini sudah ia putuskan.
Apakah benar semua laki-laki harus dijauhi?