Kisah ini menceritakan tentang kisah seorang gadis desa yang gaptek dan dalam keadaan mendesak dia dipaksa menikah dengan CEO muda Arga Mahendra, seorang pengusaha muda yang tengah mencari istri sebagai jaminan kesehatan neneknya.
Mereka terpaksa menikah,disatu sisi Arga membutuhkan istri atas keinginan terahir neneknya dan disisi lain safa terpaksa harus mengorbankan masa mudanya demi mendapatkan uang karna ibunya terlilit hutang pada rentenir dan dia juga butuh biaya untuk berobat.
akankah cinta mereka bersemi diatas kertas kontrak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Atha Diyuta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 Hujan lebat
Langit Jakarta yang biasanya sudah terang, pagi itu gelap gulita. Awan hitamnya terlihat tebal menggantung rendah di atas gedung-gedung pencakar langit. Angin bertiup kencang membuat jendela kaca penthouse bergetar pelan.
_DUAR!_
Petir menyambar keras, suaranya menggelegar sampai terasa di dalam kamar.
Safa yang masih meringkuk di dalam selimut tebal langsung terbangun dengan jantung berdegup kencang. Semalam mereka tidur bergandengan tangan, dan sampai pagi ini tangan mereka masih bertautan di tengah ranjang. Posisi Safa masih miring menghadap Arga, selimut tebal masih menutupi tubuh sampai dagu.
Namun Arga susah lebih dulu terbangun. Dia duduk bersandar di headboard dengan HP di tangan, kemejanya sedikit kusut. Sejak jam 5 pagi dia sudah bangun karena suara hujan, tapi dia tidak tega membangunkan Safa yang tidur pulas dengan wajah polosnya.
"Hujannya deras banget ya Mas?" kata Safa dengan suara serak khas baru bangun tidur, matanya masih setengah terpejam.
Arga mengangguk sambil menatap jendela besar yang basah oleh air hujan. "Iya. Dari jam 5 subuh. Petirnya juga keras. Makanya saya tidak jadi ke kantor hari ini."
Safa langsung duduk tegak, matanya membelalak. "Hah? Mas bolos ngantor lagi?"
Kata "lagi" itu membuat Arga sedikit tersinggung tapi juga salah tingkah. "Bukan bolos. Kantor saya liburkan. Hujan begini, jalanan pasti banjir. Lagian..." Arga melirik Safa sekilas. "Lagian kalau saya ke kantor, kamu sendirian di rumah pas hujan petir begini pasti takut."
Safa terdiam, hatinya terasa hangat. Mas Arganya yang kaku itu ternyata bolos kantor karena khawatir meninggalkannya sendiri. Padahal Safa memang paling takut petir sejak kecil.Saat didesa setiap kali ada hujan dan petir menyambar, dia selalu bersembunyi di balik selimut ibunya.
"Mas baik banget..." gumam Safa pelan.
"Apanya yang baik? Saya cuma nggak mau kamu berisik,nanti nangis terus ganggu saya kerja apa lagi kalau nenek sampai tau." dusta Arga gengsi.
Arga kembali naik keatas tempat tidur
Safa tersenyum, lalu kembali meringkuk di dalam selimut karena udara pagi itu dingin sekali. AC masih menyala dengan suhu 18 derajat ditambah hawa hujan, membuat kamar terasa seperti di dalam kulkas.
"Mas, dingin ya..." kata Safa sambil menarik selimut sampai hidungnya.
Arga melihat Safa yang meringkuk seperti kucing kedinginan itu, tanpa sadar menarik selimut lebih banyak ke arah Safa. "Makanya jangan tendang-tendang selimutnya terus."
Mereka berdua kembali berbaring, masih dalam posisi miring berhadapan, bergandengan tangan, menatap hujan deras di luar jendela. Suasana pagi itu tenang, syahdu, hanya suara hujan yang jatuh berderai di kaca.
Sampai...
_DUARRR! BRAKKK!_
Petir super keras menyambar tepat di atas gedung mereka. Kilatannya putih menyilaukan masuk melalui jendela, diikuti suara ledakan yang menggelegar. Bersamaan dengan itu...
_CTEK!_
Lampu kamar mati. Lampu tidur mati. AC mati. Seluruh penthouse gelap gulita. Listrik mati total karena petir.
"AAAA!" Safa menjerit kaget, refleks tubuhnya bergerak lebih cepat dari otaknya.
Dalam sepersekian detik, Safa langsung melompat dari posisinya dan memeluk Arga erat-erat. Wajahnya terbenam di dada bidang Arga, kedua tangannya melingkar di pinggang Arga, tubuhnya gemetar ketakutan. Bau parfum Arga yang maskulin langsung menyergap hidungnya.
Arga yang juga kaget tapi dengan sigap langsung memeluk balik Safa. Satu tangannya memeluk punggung Safa, satu tangannya lagi mengelus kepala Safa yang masih memakai hijab tidur.
"Shhh... nggak apa-apa, nggak apa-apa. Cuma mati lampu. Jangan takut, Petirnya sudah lewat," bisik Arga pelan di dekat telinga Safa, suaranya lembut sekali, jauh berbeda dari Arga yang biasanya galak.
Safa masih gemetar dalam pelukan Arga. "Mas... aku takut petir... dari kecil aku sangat takut mendengar suara petir.."
"Iya, saya tahu. Saya di sini. Jangan takut," kata Arga sambil mengeratkan pelukannya.
Pelukan itu berlangsung cukup lama. Di dalam kegelapan kamar yang hanya diterangi cahaya kilat dari luar jendela, mereka berdua berpelukan erat di atas ranjang. Detak jantung Safa yang kencang karena takut perlahan mulai berdetak kencang karena alasan lain. Dia sadar, dia sedang berada di dalam pelukan suaminya, dada bidang yang kemarin hanya dia intip dari balik jari, sekarang wajahnya menempel di sana.
Safa tersadar, wajahnya langsung panas.
Dengan panik, Safa berusaha melepaskan pelukannya. "Eh... ma-maaf Mas... aku... aku nggak sengaja... aku lepas ya..."
Safa mendorong pelan dada Arga untuk melepaskan diri. Tapi...
Arga mencegahnya.
Tangan Arga yang besar menahan punggung Safa agar tidak menjauh. Genggamannya erat tapi tidak kasar, hangat dan menenangkan.
"Jangan," kata Arga pelan, suaranya berat dan serak di dalam kegelapan.
Safa membeku. "Jangan apa Mas?"
"Jangan dilepas," jawab Arga. "Tetap di sini. Di pelukan saya. Sampai lampunya nyala."
Jantung Safa rasanya mau copot. Apa maksud Mas Arga? Monolog Safa dalam hati.
"Ta-tapi Mas... nggak enak... nanti Mas risih..." Safa berbisik, tangannya masih menempel di dada Arga, tidak berani mendorong lagi tapi juga tidak berani memeluk balik.
"Siapa bilang saya risih?" Arga menghela napas. Dalam kegelapan, dia memberanikan diri untuk berkata jujur. "Safa, saya lebih risih kalau membiarkan kamu kedinginan dan ketakutan sendirian di ujung ranjang sana. Di sini saja. Biar saya yang jagain kamu."
Kalimat itu,kalimat itu membuat air mata Safa hampir menetes. Bukan karena takut petir lagi, tapi karena terharu.
Safa akhirnya menyerah, dia tidak melepaskan pelukannya lagi. Malah, perlahan dia memeluk balik pinggang Arga dengan lebih erat, wajahnya kembali terbenam di dada Arga yang hangat.
"Iya Mas..." jawab Safa pelan.
Arga tersenyum dalam kegelapan. Dia memeluk Safa lebih erat lagi, dagunya menyentuh ubun-ubun Safa. Satu tangannya mengelus punggung Safa pelan untuk menenangkannya, satu tangannya lagi masih menggenggam tangan Safa.
Hujan masih deras di luar, petir masih sesekali menyambar, tapi di dalam kamar yang gelap gulita itu, mereka berdua merasa hangat. Sangat hangat. Tidak ada lagi jarak 30 cm, tidak ada lagi canggung. Hanya ada dua orang yang saling membutuhkan kehangatan.
Setelah beberapa menit hening dalam pelukan, petir sudah mulai reda, hanya sisa gerimis kecil diluar sana.
Arga perlahan mengangkat dagu Safa dengan jarinya. Dalam kegelapan yang hanya dibantu cahaya samar dari luar jendela, Arga bisa melihat mata bulat Safa yang berkaca-kaca menatapnya.
"Safa," panggil Arga pelan.
"Ya Mas?"
"Terima kasih ya sudah mau dipeluk."
Safa mengangguk malu. "Terima kasih juga Mas sudah mau meluk aku..."
Arga menatap wajah polos Safa yang begitu dekat. Wajah yang selama satu bulan ini dia lihat setiap hari, tapi baru hari ini dia berani menatap sedekat ini. Hidungnya, bibirnya, matanya yang selalu jujur.
Tanpa pikir panjang, untuk pertama kalinya setelah satu bulan menikah kontrak, Arga menundukkan kepalanya pelan.
Dan mengecup kening Safa dengan lembut.
_CUP._
Kecupan hangat, singkat, tapi bermakna dalam. Bukan kecupan nafsu, tapi kecupan penjagaan, kecupan kasih sayang, kecupan seorang suami yang akhirnya mengakui rasa sayangnya.
Safa membeku total. Matanya membelalak, napasnya tertahan. Keningnya terasa hangat bekas kecupan Arga.
Arga sendiri setelah mencium kening itu langsung salah tingkah setengah mati, wajahnya merah padam meski tidak terlihat dalam gelap.
"Itu... itu biar kamu nggak takut lagi," kilah Arga cepat mencari alasan, suaranya terdengar gugup. "Di desa saya, kalau anak kecil takut petir memang harus dicium keningnya biar tenang." dustanya.
Safa yang masih membeku, perlahan menyentuh keningnya yang baru dicium. Lalu dengan suara super pelan dia berkata, " biar tenang.. boleh diulang lagi nggak Mas? Aku masih takut..."
Arga terdiam dua detik, lalu tertawa kecil. Tawa bahagia yang tulus.
"Boleh. selama kamu masih takut saya akan ulang terus sampai rasa takut kamu itu hilang.
Dan di pagi yang hujan deras, mati lampu, dan penuh petir itu, Arga kembali mencium kening Safa untuk kedua kalinya, lebih lama dari yang pertama.
Di luar hujan deras, di dalam kamar dua hati yang saling sayang akhirnya menemukan tempat pulang yang sebenarnya.
Bersambung