"Kamu akan Ayah jodohkan dengan Bian menggantikan Salsa. Daripada kamu di rumah cuma coret-coret kertas nggak jelas, mending ngurusin anaknya tukang kebun itu." ucap Ayah dari seorang gadis yang tengah melukis di sebuah art paper.
"Baik," jawab gadis bernama Aluna Savira Velove itu tanpa perlawanan.
Aluna harus menikah dengan kekasih dari anak tiri Ayah kandungnya. Status calon suami Salsa yang hanya bekerja di kebun buah dan sayuran terbesar di desa itu, membuat perempuan itu menolak saat diajak menikah. Apalagi laki-laki itu juga seorang duda dengan dua anak yang sangat nakal.
Bisa kah Aluna menaklukkan dua anak dari sang duda? Mampu kah dia menjalani pernikahan tanpa cinta dengan sang duda?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sesak
Urusan di KUA telah selesai. Pernikahan Aluna dan Bian telah sah secara agama juga negara. Aluna begitu bersyukur mendapatkan Bian sebagai suami. Walaupun ekonominya mungkin kurang dibandingkan keluarganya, tapi bersama Bian lebih mudah bagi dirinya. Hidup yang biasanya terasa sepi, berubah karena Bian dan keluarganya tampak senang dengan kehadiran Aluna. Mereka menganggap bahwa Aluna adalah seorang manusia. Walaupun Reyhan dan Elova belum bisa menerima dia sepenuhnya. Tapi Aluna sama sekali tak masalah.
Ehemm...
"Aluna, boleh Ayah bicara berdua sama kamu? Ada hal penting yang harus Ayah sampaikan," tanya Ayah Riko setelah menyelesaikan urusannya di dalam KUA.
"Mas Bian, boleh aku bicara dengan Ayahku?" tanya Aluna pada suaminya yang berdiri di sampingnya. Menurut Aluna, sekarang semua yang akan dia lakukan harus meminta ijin terlebih dahulu pada Bian.
"Bawa Lopa. Jadi satpam ini nanti Lopa," seru Elova tiba-tiba.
"Ini bukan omongan yang boleh didengarkan oleh anak kecil. Jadi Ayah harap kamu tidak membawanya pergi bersama kita. Lagian kita juga cuma sebentar kok," ucap Ayah Riko menolak kehadiran Elova. Baginya, Elova ini adalah bocah cilik yang sangat merepotkan.
"Lopa sudah besal. Sama botol susu aja besalan badan Lopa kok," seru Elova memberikan alasan.
Lepas, Papa.
Bian pun mempersilahkan Aluna berbicara dengan Ayah Riko. Walaupun tak suka dengan Ayah Riko, tapi Aluna tetap lah anaknya. Dia akan mengawasi Aluna dari jarak cukup dekat agar Ayah Riko tidak menyakitinya. Dengan melihat kondisi Aluna saat dibawa ke pertemuan keluarga kemarin saja, Bian sudah tahu bagaimana Ayah Riko bersikap pada perempuan itu. Bian menggendong Elova agar tidak ikut dengan Aluna. Walaupun Elova sempat memberontak dan terus mengibaskan rambutnya yang keriting pada wajah Bian. Aluna segera pergi bersama Ayah Riko ke sebuah taman samping gedung KUA.
"Biar Tante sama Kakek itu. Dia itu Ayahnya Tante Aluna lho," bisik Bian pada Elova.
"Papa halus hati-hati, dia jahat. Aulanya kalau dekat-dekat sama dia itu langsung panas melinding disco," ucap Elova dengan celotehannya.
"Ada-ada saja sih kamu, Lova." Bian sampai menggelengkan kepalanya mendengar apa yang diucapkan oleh Elova tentang Ayah Riko. Walaupun benar setiap kali Ayah Riko datang, suasana jadi aneh dan tegang.
"Kita awasi di balik pohon itu," ajaknya pada Elova.
Elova menganggukkan kepalanya mengerti. Bian segera membawa Elova untuk duduk di belakang pohon besar. Mereka sama sekali tak terlihat oleh Ayah Riko dan Aluna. Sedangkan Papa Kio memilih untuk duduk di depan KUA setelah mengantarkan Ustadz dan para saksi saat akan pulang. Namun beberapa kali Papa Kio tertawa pelan melihat tingkah Bian dan Elova yang sudah seperti detektif. Keduanya saling memperingatkan untuk tidak berbicara karena khawatir akan ketahuan.
"Amira, Tora... Anakmu bahagia dengan orangtua barunya. Suatu saat nanti, Bian dan Luna pasti akan segera meminta Elova menemui kalian di rumah baru kalian." gumam Papa Kio yang begitu terharu dengan perkembangan Elova. Bahkan Reyhan pun sangat menyayangi Elova.
"Kalian tidak perlu khawatirkan Lova di sini. Dia banyak yang sayang," lanjutnya.
***
"Apa yang ingin Ayah bicarakan denganku?" tanya Aluna pada Ayah Riko yang berdiri tak jauh darinya.
Tatapan Aluna lurus ke depan dengan pandangan yang kosong. Aluna tak bisa melihat apapun, tapi merasakan bahwa Ayah Riko sedang tegang dan bingung. Ini adalah untuk pertama kalinya Ayah Riko mau berbicara dengannya di tempat publik. Biasanya Ayah Riko akan mencari tempat tersembunyi untuk berbicara dengannya. Terutama setelah Ibu kandungnya meninggal. Berulangkali Ayah Riko menghela nafasnya kasar untuk mengurangi rasa gugupnya.
"Ini tentang adat dan budaya saat pernikahan," ucap Ayah Riko tiba-tiba.
"Adat? Budaya? Bagaimana maksudnya?" tanya Aluna sambil mengernyitkan dahinya pelan.
"Dalam budaya kita, ada istilah kata tukonan. Pihak laki-laki memberikan uang kepada keluarga perempuan untuk membeli gadis yang dinikahinya. Ini bukan berarti Ayah menjualmu, tapi sebagai tanda jasa kalau Ayah sudah merawatmu." ucap Ayah Riko dengan nada suara bergetar.
"Ayah yang memintaku untuk menggantikan Salsa. Memangnya kapan Ayah merawatku? Dari sebelum buta, aku merawat diriku sendiri. Bahkan aku menggunakan uang hasil menjual lukisan demi bisa makan. Lalu setelah aku buta, ditempatkan di sebuah bangunan yang lebih cocok untuk kandang ayam. Ayah membuangku di sana dengan diberi makanan basi atau sisa kemarin. Lalu biaya jasa perawatan mana yang Ayah ingin klaim?" tanya Aluna dengan nada suara seraknya.
"Basi? Sisa kemarin? Nggak lho, orang Ayah meminta ART untuk kasih kamu makanan setiap harinya kok." ucap Ayah Riko dengan nada gugup. Dia sama sekali tidak tahu makanan seperti apa yang diberikan oleh ART di rumahnya. Jadi bingung harus mengatakan apa.
"Iya, makanan yang setiap hari diberikan pada Aluna itu sudah basi atau sisa kemarin. Jika bukan karena Bibi Tari yang menggunakan uang gajinya untuk membelikanku makanan layak, mungkin Aluna sudah busung lapar atau mati." teriak Aluna dengan air mata yang langsung mengalir pada kedua pipinya.
Aluna mencoba menahan rasa sesak dalam hatinya saat diperlakukan tidak adil oleh Ayah kandungnya sendiri. Padahal Salsa yang notabene adalah anak tiri Ayah Riko, begitu diperhatikan. Setelah menikah dengan Mama Maya, Ayah Riko langsung berubah. Dia tak menyangka kalau Ayahnya bisa sekejam ini padanya. Rasanya Aluna ingin memaki di hadapan Ayah Riko agar sadar dengan perbuatannya. Namun Aluna sedang tidak punya tenaga.
"Lalu sekarang Ayah ingin meminta uang jasa perawatan Aluna kepada keluarga Mas Bian? Gila..." teriaknya lagi.
"Ayah ingin tahu mengapa Aluna menerima pernikahan ini dengan Mas Bian? Karena Aluna ingin keluar dari rumah yang sudah seperti neraka itu," lanjutnya.
Ayah Riko terdiam mendengar teriakan Aluna. Pantas saja kemarin saat diminta untuk menggantikan Salsa, Aluna langsung menyetujui. Ternyata Aluna mempunyai rencana untuk ingin segera pergi dari rumah itu. Aluna sama sekali tidak memikirkan hidupnya nanti setelah keluar dari rumah saat itu. Dia masih punya simpanan uang dari hasil penjualan lukisannya. Sehingga yang dipikirkannya saat itu adalah segera pergi dari rumah Ayahnya.
"Percuma juga Aluna teriak kaya orang kesetanan begini. Ayah juga tidak akan pernah mau mengerti," ucapnya sambil meraup wajahnya dengan kasar.
"Mengenai uang, Aluna tidak akan pernah meminta keluarga Mas Bian untuk memberikannya. Justru Aluna yang berhutang budi pada keluarga Mas Bian karena menyelamatkanku keluar dari neraka itu. Saya permisi," lanjutnya yang kemudian pergi dari dekat Ayah Riko.
"Aluna, bukan begitu maksud Ayah. Ini kan ju..."
Tak...
Arrgh...
Sialan...
Siapa yang melempar kaleng minuman ini pada kepalaku,
Hihihihi...
bagus bagus, biar mereka malu tuh🤣
apalagi captionnya menyebutkan makanan basi, pasti mereka bakalan dihujat itu🤣🤣