Alya Kirana menerima Arga Pratama sebagai suaminya dengan harapan membangun rumah tangga yang bahagia. Namun, dia tidak pernah tahu bahwa sebelum menikah dengannya, Arga telah lebih dahulu memiliki seorang istri bernama Nadira Permata. Di antara rahasia yang disembunyikan, janji yang tak kunjung ditepati, dan cinta yang terbagi, Alya dihadapkan pada kenyataan pahit yang tak pernah dia bayangkan. Dia tidak ingin menjadi musuh bagi perempuan lain. Namun, apakah itu berarti dia harus mengorbankan kebahagiaannya sendiri? Sementara Arga berusaha mempertahankan dua pernikahannya, seorang pria dari masa lalu Alya kembali hadir membawa perasaan yang tak pernah benar-benar padam. Ketika cinta terasa manis di awal, siapa yang harus menanggung pahitnya di akhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nittagiu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pikiran yang Tertinggal
Sejak tiba di perusahaan, Arga berusaha berkonsentrasi pada pekerjaannya. Beberapa dokumen harus diperiksa, rapat dengan jajaran direksi sudah menunggu, dan ada sejumlah keputusan yang membutuhkan persetujuannya.
Namun, di sela-sela kesibukan itu, pikirannya berkali-kali kembali pada percakapannya dengan Alya pagi tadi. Ia masih ingat bagaimana istrinya mengatakan bahwa dirinya tidak ingin terlibat dalam kebohongan yang dibuat Arga sendiri. Alya tidak marah, tidak menuntut penjelasan, dan tidak berusaha menghalanginya menemui Nadira.
Seharusnya sikap itu membuatnya lega. Alya tidak mempersulit keadaan ataupun menuntut sesuatu darinya. Namun, justru ketenangan perempuan itu yang membuat Arga merasa aneh.
Menjelang sore, setelah menyelesaikan pekerjaan yang mendesak, Arga mengambil ponselnya. Ia membuka percakapan dengan Alya, lalu mengetik sebuah pesan.
Mas pulang kerja langsung ke apartemen Mbak Nadira, ya.
Tidak lama kemudian, balasan Alya muncul.
Iya, Mas. Hati-hati di jalan.
Arga membaca pesan itu beberapa saat. Hanya itu jawaban istrinya?
Tidak ada pertanyaan kapan ia akan pulang. Tidak ada komentar mengenai keputusannya menghabiskan malam di apartemen Nadira. Alya bahkan tidak menanyakan apakah ia akan makan malam di sana.
Arga mengunci layar ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku. Ia tidak tahu jawaban seperti apa yang sebenarnya diharapkannya. Bukankah selama ini ia selalu berusaha menghindari pertanyaan yang tidak ingin dijawabnya? Lalu, mengapa sekarang ia justru merasa ada sesuatu yang kurang dari balasan singkat Alya?
Arga mengembuskan napas pelan sebelum kembali memusatkan perhatian pada pekerjaannya. Ia tidak ingin memikirkan hal yang menurutnya sepele.
Sayangnya, sampai perjalanan menuju apartemen Nadira dimulai, pikirannya masih sesekali kembali pada percakapan tersebut.
⸻
Begitu pintu apartemen terbuka, Nadira langsung menyambut Arga dengan wajah cerah. Perempuan itu mengenakan piyama selutut dan segera menghampiri laki-laki yang sudah beberapa hari tidak ditemuinya.
“Mas!”
Nadira memeluk Arga erat, seolah ingin mengganti waktu yang mereka lewatkan bersama. Arga membalas pelukan itu sambil mengusap punggungnya dengan lembut.
“Akhirnya pulang juga,” keluh Nadira manja. “Aku sudah kangen sekali.”
“Aku juga kangen kamu.”
Nadira mendongak dengan senyum lebar. Setelah membantu Arga meletakkan tas kerjanya, ia menggandeng tangan laki-laki itu menuju ruang tengah.
Sejak tadi, Nadira terus bercerita tentang hal-hal kecil yang terjadi selama Arga tidak ada. Ia mengeluhkan makanan yang harus dinikmatinya sendirian, acara televisi yang terasa membosankan, hingga malam-malam panjang yang harus dilewatinya tanpa kehadiran Arga.
Arga mendengarkan sambil sesekali menanggapi. Ia masih menyayangi Nadira, dan ia memahami mengapa perempuan itu begitu merindukannya. Selama ini, Nadira sudah menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Namun, malam itu perhatiannya tidak sepenuhnya tertuju kepada perempuan di sampingnya. Beberapa kali Arga terdiam cukup lama sampai Nadira harus mengulang perkataannya. Bahkan ketika Nadira menanyakan sesuatu, ia sempat menjawab seadanya sebelum menyadari bahwa jawabannya tidak sesuai dengan pertanyaan yang diajukan.
“Kamu kenapa, sih?” Suara Nadira membuat Arga tersadar. Perempuan itu kini duduk menghadapnya dengan alis sedikit berkerut.
“Hm? Kenapa memangnya?”
“Dari tadi kamu melamun terus.” Nadira menyentuh lengannya. “Kita baru ketemu setelah beberapa hari kamu nggak pulang. Aku sudah kangen sekali, tetapi kamu malah sibuk memikirkan sesuatu.”
Arga mengusap wajahnya sebentar, lalu berusaha tersenyum. “Maaf. Aku cuma sedikit capek.”
“Apa pekerjaan di kantor belum selesai?”
“Masih ada beberapa hal yang harus aku urus.”
Nadira memperhatikan wajahnya sejenak. Ia ingin bertanya lebih jauh, tetapi tidak menemukan sesuatu yang cukup jelas untuk membuatnya curiga. Akhirnya, ia memilih mendekat dan menyandarkan kepala di bahu Arga.
“Kalau memang banyak pekerjaan, kamu istirahat dulu. Tapi jangan sampai aku ditinggal selama itu lagi, ya. Aku nggak suka sendirian terlalu lama.”
Arga mengusap rambutnya. “Iya. Aku usahakan.”
Nadira tersenyum lega. Ia tidak membutuhkan banyak hal malam itu. Baginya, bisa kembali menghabiskan waktu bersama Arga sudah cukup untuk mengobati kerinduannya.
Sementara itu, Arga justru merasa semakin tidak tenang. Ia tidak ingin merusak kebahagiaan Nadira dengan pikiran yang bahkan belum bisa dipahaminya sendiri. Perempuan itu tidak mengetahui bahwa Arga telah menikah dengan Alya. Nadira juga tidak tahu bahwa di tempat lain ada seorang perempuan yang secara sah menyandang status sebagai istrinya.
Arga sadar, semakin lama ia menyembunyikan kenyataan tersebut, semakin besar pula masalah yang mungkin harus dihadapinya kelak.
Namun, ia belum sanggup membayangkan apa yang akan terjadi jika Nadira mengetahui semuanya. Ia tidak ingin kehilangan perempuan yang dicintainya, tetapi ia juga tidak bisa terus berpura-pura bahwa pernikahannya dengan Alya tidak pernah terjadi.
Malam itu, Arga tetap berusaha menemani Nadira seperti biasanya. Ia mendengarkan cerita perempuan itu, menanggapi keluhannya, dan memberikan perhatian yang selama beberapa hari terakhir tidak sempat ia berikan.
Akan tetapi, sesekali pikirannya kembali pada satu hal yang sebenarnya sederhana. Alya mengetahui ke mana ia pergi. Alya juga tahu siapa yang akan ditemuinya. Namun, perempuan itu tidak meminta apa-apa darinya. Arga tidak tahu mengapa hal itu terus mengganggunya.
⸻
Di apartemennya sendiri, Alya sudah menyelesaikan seluruh kegiatannya. Setelah makan malam dan menunaikan salat Isya, ia menghabiskan waktu dengan membaca buku di sofa.
Sesekali ia berhenti untuk meregangkan tubuh, kemudian kembali membaca sampai merasa cukup lelah. Tidak ada pesan yang ditunggunya. Ia juga tidak merasa perlu menghubungi Arga untuk menanyakan kegiatannya di apartemen Nadira.
Arga sudah mengatakan ke mana ia pergi, dan Alya sudah menjawab sebagaimana mestinya. Baginya, persoalan itu selesai.
Alya memahami bahwa Arga memiliki kehidupan yang tidak sepenuhnya bisa ia kendalikan. Ia juga tidak berniat memaksakan perasaan yang memang belum tumbuh di antara mereka. Selama Arga tidak mengganggu ketenangannya dan tetap menghormati batas yang sudah mereka sepakati, Alya memilih menjalani hari-harinya seperti biasa.
Setelah meletakkan buku di meja, ia bersiap tidur. Malam itu, Alya tidak merasa kesepian ataupun marah karena suaminya tidak pulang. Ia hanya ingin beristirahat agar bisa menjalani aktivitas esok hari dengan baik.
Namun, tanpa disadari Alya, justru ketenangannya itulah yang mulai mengusik pikiran Arga. Dan tentu saja, itu bukan urusan Alya 😜