Alena berdiri dengan gugup di depan cermin rias yang memantulkan wajahnya yang begitu cantik memukau. Gaun pengantin yang membalut tubuhnya menambah kecantikan gadis itu. Hari itu adalah hari pernikahannya dengan Reno, pria yang sudah 3 tahun menjalin cinta dengannya.
Namun, hari yang seharusnya menjadi hari paling bahagia itu hancur karena satu telepon dari calon suaminya.
“Alena… aku tidak bisa datang. Selena pingsan dalam perjalanan ke hotel. Kita tunda pernikahannya ya”
Wajah Alena mengeras, bukan satu dua kali hal ini terjadi, dia hafal betul seperti apa kakaknya itu. Bahkan kedua orang tuanya juga selalu memihak pada Selena.
Dengan wajah tegas, Alena berdiri di depan semua orang.
"Saya, Alena Bagaskara, menyatakan pernikahan antara saya dan Reno Sebastian dibatalkan!"
Aula pernikahan menjadi riuh, namun Alena tak peduli. Dia melangkah keluar bahkan mengabaikan ancaman dari kedua orang tuanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
.
"Tuan... ada masalah besar."
Tuan Gunawan menghembuskan nafas kasar. Baru beberapa menit menginjakkan kaki di perusahaan, sekretaris pribadinya sudah menyambut dengan wajah sepucat itu.
"Apa yang terjadi?" tanyanya tegas.
Sekretaris itu menelan ludah sebelum menjawab. "Ada beberapa mitra bisnis yang menelepon."
"Mitra bisnis?" ulang Tuan Gunawan. “Ada masalah apa? Kenapa mereka menghubungi?”
"Mereka mempertanyakan kondisi Bagaskara Group setelah berita batalnya pernikahan Nona Alena dengan Tuan Muda Reno Sebastian tersebar ke seluruh media."
Raut wajah Tuan Gunawan langsung berubah. Sama sekali tidak menyangka bahwa batalnya pernikahan Alena dan Reno akan berdampak sebesar itu.
"Semua orang melihat, selama ini hubungan Bagaskara Group dengan Sebastian Group semakin erat karena adanya rencana pernikahan tersebut. Sekarang mereka khawatir kerjasama kedua perusahaan juga akan ikut berakhir."
"Beberapa investor bahkan meminta penjelasan resmi mengenai posisi perusahaan kita,” lanjut sekretaris itu lagi.
Belum sempat Tuan Gunawan memberikan tanggapan, ponselnya yang ada dalam saku jas tiba-tiba berdering. Nama Tuan Dimas, salah satu mitra bisnis lama muncul di layar.
Tuan Gunawan segera mengangkat panggilan itu.
"Halo, tuan Dimas."
“Tuan Gunawan," suara di seberang terdengar serius. "Ada satu hal yang ingin saya pastikan."
“Iya, Tuan Dimas?"
"Apakah setelah ini hubungan kerja sama Bagaskara Group dengan Sebastian Group masih berjalan?"
"Tentu saja."
"Benarkah?"
Tuan Gunawan terdiam tidak bisa memberikan jawaban karena tiba-tiba dia sendiri juga merasa ragu.
"Kami kemarin menyaksikan sendiri pernikahan kedua pewaris keluarga batal. Terus terang, kami mulai khawatir. Sebagian besar proyek besar Bagaskara Group selama ini mendapat dukungan finansial maupun jaringan dari Sebastian Group. Kalau hubungan kedua keluarga retak, bagaimana proyek-proyek yang sedang berjalan? Kami harus memastikan investasi kami tetap aman."
Sambungan telepon diputus secara sepihak membuat Tuan Gunawan mengeraskan rahang. Namun, belum sempat ia menarik napas…
Panggilan berikutnya kembali masuk. Lalu berikutnya lagi. Dan lagi. Semuanya menanyakan hal yang sama. Apakah Sebastian Group masih akan mendukung Bagaskara Group? Apakah kerja sama kedua perusahaan akan berakhir? Apakah dana yang mereka tanamkan masih aman?
Suasana kantor yang sejak pagi sudah sibuk kini berubah menjadi tegang. Bahkan beberapa media bisnis mulai menunggu di depan gedung perusahaan untuk meminta pernyataan resmi.
Tuan Gunawan melangkah meninggalkan area lobi dengan wajah suram diikuti oleh Selena yang juga terlihat pucat.
Namun, kekacauan ternyata belum berhenti sampai di situ.
Sekitar satu jam kemudian, sekretaris mengetuk pintu ruang direktur utama dengan wajah yang jauh lebih panik.
"Tuan!"
"Apa lagi?" Tuan Gunawan mengangkat kepala dan menatap ke arah sekretarisnya dengan wajah gusar.
"Kepala Divisi Operasional meminta Tuan segera turun ke ruang rapat."
"Kenapa? Apalagi yang terjadi?"
"Terjadi masalah pada proyek pembangunan Kawasan Industri Sentosa."
“Apa? Bagaimana bisa?” Tuan Gunawan spontan berdiri. "Itu proyek yang akan ditandatangani minggu ini, bukan?" Tanya aja sambil berjalan cepat.
"Iya, Tuan,” jawab sekretaris yang berlari di belakangnya.
Selena yang kebetulan hendak masuk ke dalam ruangan Papanya dan melihat Papanya pergi diikuti oleh sekretaris segera menyusul di belakangnya.
"Kalau begitu kenapa?"
"Investor asing menolak menandatangani kontrak. Mereka menemukan beberapa poin yang harus direvisi. Masalahnya..." Sekretaris itu berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya yang tersengal karena harus berjalan cepat.
"Seluruh klausul negosiasi proyek itu hanya dipahami oleh Nona Alena."
Tuan Gunawan menghentikan langkahnya dan menatap ke arah sekretaris dengan kening mengernyit. "Maksudmu?"
"Selama ini seluruh perhitungan biaya operasional, strategi efisiensi, jadwal distribusi material, hingga klausul penalti dalam kontrak itu disusun langsung oleh Nona Alena. Kalau salah satu poin diubah tanpa perhitungannya, perusahaan bisa mengalami kerugian puluhan miliar rupiah."
Wajah Tuan Gunawan mulai menegang. Pria itu segera menoleh ke arah Selena.
"Selena."
"Iya, Pa?"
"Bukankah selama ini proyek itu kamu yang pegang?"
Selena mengangguk sambil tersenyum kaku. "Iya... tapi..."
"Kalau begitu ayo ikut Papa."
Ruang rapat utama sudah dipenuhi para direktur dan kepala divisi. Begitu Tuan Gunawan masuk, mereka semua langsung berdiri.
"Bagaimana situasinya?" tanya Tuan Gunawan.
Kepala Divisi Operasional segera menyerahkan beberapa berkas. "Tuan, pihak investor meminta perubahan skema distribusi dan jadwal pembayaran."
"Lalu kenapa? Ya sudah ikuti saja. Apanya yang sulit?"
"Kami tidak berani mengambil keputusan, karena semua simulasi perhitungan proyek selama ini semua dikerjakan oleh Nona Alena. File-nya memang di perusahaan, tetapi rumus perhitungannya hanya beliau yang memahami."
Ruangan mendadak sunyi.
Tuan Gunawan kembali menoleh kepada Selena. Selama ini kamu yang menangani semuanya, jadi kamu pasti tahu kan?”
"Pa…” Selena menatap papanya seraya menelan ludah. Keringat dingin mulai membanjiri pelipis gadis itu.
"Coba jelaskan,” perintah Tuan Gunawan dengan tegas.
Semua mata kini tertuju kepadanya.
Dengan tangan gemetar, Selena membuka berkas di hadapannya. Lembar demi lembar ia balik. Namun semakin lama wajahnya semakin pucat. Tangannya semakin gemetar.
"Selena?" panggil Tuan Gunawan. “Apa yang kamu tunggu? Cepat jelaskan!”
"Aku..."
"Jelaskan."
Selena menggigit bibir bawahnya.
"Aku belum bisa mengambil keputusan."
"Apa?"
"Aku... belum mempelajari seluruh perhitungan proyek ini."
Tuan Gunawan mengeraskan rahangnya. "Bukankah selama ini kamu selalu melaporkan perkembangan proyek ini kepada Papa?" tanyanya dengan suara geraman yang tertahan. Tidak ingin berteriak pada putrinya di hadapan semua orang. Namun tanpa sadar kedua tangan pria itu terkepal erat.
"Iya, Pa." Tubuh Selena gemetar melihat kemarahan papanya.
"Lalu kenapa sekarang kamu tidak tahu apa-apa?"
"Beberapa hari terakhir aku kan sakit, Pa." Selena buru-buru mencari alasan. "Aku belum sempat mempelajari seluruh dokumennya. Selama ini Alena yang lebih banyak mengerjakan bagian teknis."
Ucapan Selena membuat Tuan Gunawan jatuh terduduk di kursinya. Demikian juga dengan beberapa kepala divisi saling berpandangan.
"Maaf, Tuan.” Salah seorang manajer senior akhirnya memberanikan diri berbicara. Tuan Gunawan menoleh cepat ke arahnya.
"Sejujurnya... sejak awal memang Nona Alena yang menangani seluruh operasional proyek ini. Beliau juga yang melakukan negosiasi dengan investor melalui konferensi daring hampir setiap malam. Sedangkan Nona Selena biasanya baru akan hadir saat rapat final atau presentasi."
Wajah Tuan Gunawan membeku mendengar ucapan manajer senior itu.
Selama ini yang ia tahu diantara kedua putrinya yang memiliki kontribusi terbesar pada perusahaan adalah Selena. Sama sekali tidak menyangka bahwa Alena yang selama ini ia anggap hanya bekerja di balik meja, ternyata adalah orang yang menjaga seluruh roda operasional perusahaan tetap berjalan. Sementara putri yang selalu ia banggakan, bahkan tidak mampu mengambil satu keputusan ketika keadaan benar-benar genting.
si bos cemburu tuh.... 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣