NovelToon NovelToon
DIKIRA MANDUL OLEH KELUARGA SUAMIKU

DIKIRA MANDUL OLEH KELUARGA SUAMIKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

Tujuh tahun tanpa anak, Sinta dicap mandul dan dipaksa melihat suaminya menikah lagi. Setelah dihina dan dibuang, ia pergi, bangkit, lalu bertemu CEO dingin yang pernah menyelamatkannya. Saat rahasia istri baru terbongkar, Sinta menggugat cerai dan menemukan cinta yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SURAT YANG KUKIRA SUDAH DIBAKAR

"Ibu bohong. Surat itu sudah dibakar di hari pernikahan saya. Ibu sendiri yang bilang."

Sinta mengucapkannya pelan, tapi tubuhnya sudah menegang dari ujung kepala sampai kaki. Di trotoar yang mulai panas oleh matahari pagi, suara klakson dan deru motor terdengar jauh, seperti berasal dari dunia lain.

"Aku bilang akan membakarnya," jawab Bu Retno. "Aku tidak bilang sudah."

"Itu sama saja."

"Tidak sama. Orang tua yang pintar tidak pernah membuang senjata yang masih bisa dipakai."

Tujuh tahun lalu. Sinta masih ingat ruangan itu: kantor notaris kecil berbau kertas lembap, kipas angin tua yang berderit, dan ayahnya terbaring di rumah sakit dengan tagihan yang tak sanggup ia bayar. Bu Retno datang membawa solusi, dan satu map berisi surat yang harus ditandatangani sebelum akad. *Cuma formalitas, Nak. Biar keluarga kami tenang.*

Ia menandatanganinya tanpa membaca sampai habis. Ayahnya butuh operasi, dan itu satu-satunya hal yang ada di kepalanya.

"Apa isinya sebenarnya?" tanya Sinta. "Saya mau dengar dari mulut Ibu."

"Kita tidak bicara di jalan."

"Di sini saja."

"Sinta." Bu Retno mengusap pelipisnya yang berdenyut. "Kalau kamu mau tahu, ikut aku. Satu jam. Tidak ada jebakan. Teman kamu itu boleh ikut, boleh merekam, aku tidak peduli."

Sinta menatapnya lama, mencari kebohongan di wajah tua itu. Yang ia temukan hanya keletihan, dan sesuatu yang lebih sulit dibaca: ketakutan yang tidak lagi disembunyikan.

"Tari!" panggilnya. Sahabatnya menoleh dari ujung trotoar. "Kita ke warung soto depan. Bawa ponselmu."

---

Warung soto itu sempit, lantainya licin oleh minyak dan lap basah. Mereka duduk di pojok paling belakang, jauh dari pintu. Bu Retno memesan teh tawar, Sinta dan Tari tidak memesan apa pun. Setelah pelayan pergi, Bu Retno merogoh tas kecilnya dan meletakkan selembar foto di meja, foto dokumen yang dicetak dari ponsel.

Sinta membacanya, dan darahnya naik ke kepala.

*Surat Pernyataan.* Di bawahnya tertera namanya, tanggal tujuh tahun lalu, dan tanda tangannya sendiri yang masih polos dan terburu-buru. Isinya berderet dalam huruf kecil yang rapat.

Pasal satu: ia melepaskan seluruh hak atas harta bersama jika pernikahan berakhir. Pasal dua: ia setuju bercerai tanpa tuntutan apa pun apabila dalam lima tahun tidak memiliki keturunan. Pasal tiga: ia tidak berhak menolak, menghalangi, atau mengajukan keberatan atas pernikahan kedua suaminya.

"Lima tahun," bisik Sinta. "Sudah lewat dua tahun."

"Ya."

"Jadi selama dua tahun ini..."

"Aku bisa menendangmu keluar kapan saja dengan selembar kertas ini, tanpa sepeser pun." Bu Retno menyesap tehnya. "Tapi aku menunggu. Karena aku tahu Damar tidak bisa, dan aku butuh waktu mengatur segalanya."

Tari mendesis pelan. "Ini perbudakan."

"Ini perjanjian," koreksi Bu Retno datar.

"Ditandatangani perempuan yang bapaknya sekarat." Sinta mengangkat wajah, dan matanya menyala dingin. "Itu bukan perjanjian, Bu. Itu pemerasan. Dan secara hukum, perjanjian yang ditandatangani di bawah tekanan bisa dibatalkan."

"Mungkin. Kalau kamu bisa membuktikan tekanannya."

"Saya punya saksi. Ayah saya, perawat rumah sakit, nota pembayaran..."

"Ayahmu sudah meninggal."

Kalimat itu menusuk ke dada Sinta seperti paku. Tapi ia tidak berkedip. Ia menatap Bu Retno dengan tatapan yang membuat perempuan tua itu, untuk pertama kali, mengalihkan pandangan lebih dulu.

"Benar. Beliau meninggal setahun setelah operasi itu, di rumah kontrakan kecil, karena saya tidak punya uang membeli obat lanjutan." Sinta berkata sangat pelan. "Dan waktu itu, Bu, saya datang ke rumah Ibu minta pinjaman. Ibu bilang apa?"

Bu Retno diam.

"Ibu bilang, 'Jatah bulananmu sudah cukup.' Padahal jatah itu cuma dua ratus ribu seminggu."

"Aku..."

"Saya tidak akan mengungkit-ungkit untuk menangis." Sinta menegakkan punggung. "Saya mengungkit karena saya mau Ibu mengerti satu hal. Surat ini bukan alat tawar-menawar yang bagus untuk orang yang mau minta tolong."

Bu Retno menutup mata sebentar, lalu membukanya lagi. Wajahnya lelah, tua, dan untuk sesaat tampak sangat kecil di atas kursi plastik itu.

"Kamu benar. Tapi kamu juga harus dengar sisi lain surat itu."

"Sisi lain?"

"Surat itu bukan hanya mengikatmu." Bu Retno menyodorkan lembar kedua foto itu. "Lihat bagian bawah. Saksi dan notarisnya."

Sinta menunduk. Di pojok kanan bawah ada dua tanda tangan dan satu cap. Nama notaris: *H. Santosa, S.H.* Dan saksi pertama, ditulis tangan dengan tinta biru: *dr. Hendra Santosa.*

"Pak Hendra bukan cuma dokter," bisik Tari. "Dia notaris juga?"

"Kakak kembarnya." Bu Retno menggeleng. "Pak Heru Santosa, notaris resmi. Hendra cuma jadi saksi. Tapi lihat tanggal pengesahan di cap itu."

Sinta menyipitkan mata, membaca angka kecil di bawah cap. Dahinya berkerut, lalu perlahan matanya melebar.

"Tanggal ini dua minggu setelah akad nikah saya."

"Tepat."

"Tapi saya menandatangani surat ini sebelum akad."

"Itulah masalahnya, Sinta." Bu Retno merendahkan suara. "Surat itu dibuat dengan tanggal mundur. Notaris itu mengesahkannya setelah kamu sudah sah menjadi istri Damar. Artinya dokumen ini cacat hukum. Dan lebih penting lagi..."

"...seseorang menyimpannya selama tujuh tahun dengan sengaja," Sinta menyelesaikan. "Menunggu waktu yang tepat."

"Ya. Dan aku bukan orang yang merencanakannya."

Hening panjang. Pelayan lewat membawa semangkuk soto untuk meja sebelah, aroma kaldu dan bawang goreng menyapu udara. Sinta mengatupkan rahangnya, menyusun potongan-potongan teka-teki yang semakin besar. Dua tahun lalu Pak Hendra menandatangani hasil lab Damar. Tujuh tahun lalu ia menjadi saksi surat pernyataan Sinta. Sekian puluh tahun menjadi sahabat Bu Retno. Dan sekarang ia memiliki Pak Wiryo di tangannya.

"Dia merencanakan ini sejak Damar belum menikah," ucap Sinta pelan. "Dia memilih saya, Bu. Bukan kebetulan."

"Aku yang mencarikanmu untuk Damar," bantah Bu Retno, tapi suaranya goyah.

"Siapa yang menyarankan nama saya pertama kali?"

Bu Retno membuka mulut, lalu menutupnya. Matanya melebar perlahan. Sinta bisa melihat ingatan itu berputar di kepala perempuan tua itu, percakapan tujuh tahun lalu di ruang tamu, secangkir teh, dan satu saran yang tampak sepele.

"Hendra," bisik Bu Retno. "Dia bilang ada gadis baik dari kampung yang butuh keluarga. Yatim hampir, tidak punya saudara, tidak punya siapa-siapa yang akan menuntut."

Tari menutup mulutnya dengan tangan. Sinta justru tersenyum, senyum paling dingin yang pernah ia pasang, dan itu membuat Bu Retno bergidik.

"Saya dipilih karena tidak punya siapa-siapa yang akan membela," kata Sinta. "Sempurna untuk dijadikan kambing hitam."

"Kambing hitam untuk apa?"

"Itu yang mau saya cari tahu." Sinta berdiri, menyambar foto dan memasukkannya ke tas. "Tari, kita pulang. Saya butuh pengacara. Hari ini juga."

"Tunggu." Bu Retno mencengkeram pergelangan tangannya, tidak kasar kali ini, tapi putus asa. "Kamu belum dengar semuanya."

"Saya sudah dengar cukup."

"Amplop aslinya. Surat itu, hasil lab, dan satu dokumen lagi. Aku menyimpannya di brankas kamar tidurku." Napasnya memburu. "Dan tadi malam, setelah kamu kabur ke kantor polisi, aku periksa brankas itu."

Sinta menahan napas. "Isinya masih ada?"

"Tidak."

"Hilang?"

"Hilang." Bu Retno menatapnya, matanya merah dan basah untuk pertama kalinya sejak Sinta mengenalnya. "Brankas itu tidak dibobol. Kuncinya utuh, kodenya tidak diganti. Seseorang membukanya dengan kombinasi yang benar."

"Siapa yang tahu kombinasinya?"

Bu Retno membuka mulut untuk menjawab, tapi tak ada suara yang keluar. Ia hanya menatap Sinta dengan wajah pucat, bibirnya bergetar, dan menjawab dengan bisikan yang nyaris tak terdengar.

"Cuma tiga orang, Sinta. Aku, almarhum suamiku... dan Melia. Karena dia calon menantuku, aku memberinya kodenya kemarin sore."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!